
Defan baru saja memotong kue dan tumpeng yang telah diserahkan oleh Juni dan Dania, lalu potongan pertama ia serahkan kepada bos besar di perusahaan itu sekaligus sebagai bapaknya sendiri.
Kemudian, untuk potongan kedua, Defan menyerahkan kepada Juni sebagai asistennya yang selalu bekerja keras untuk kemenangan semua kasus yang ditangani.
Di sisi lain, Dania justru menggerutu setelah ia merasa tersingkir karena Defan lebih memilih untuk mengutamakan Juni.
"Sial! Kenapa sih selalu sih Juni yang diutamakan," sungut Dania dengan tatapan sinis, menggerutu seorang diri.
Namun, tidak ada yang memperdulikan Dania. Sementara Defan tetap saja sibuk membagikan kue untuk potongan ketiga. Kali ini, Defan pun menyerahkan kepada pengacara lain yakni bos adiknya—Dante karena ia adalah teman dekat Defan di S.N.G Lawfirm.
Niar juga ikut dalam pertemuan besar yang dihadiri seluruh karyawan. Baru kali ini, sang Bapak menyelenggarakan acara kemenangan besar-besaran padahal Dante, bos Niat juga sudah beberapa kali memenangkan kasus besar tapi tidak pernah mendapatkan penghargaan seperti itu.
Mata Niar juga tertuju pada Dania yang berharap akan diberikan potongan ketiga. Namun ternyata Dania lagi-lagi tak mendapatkan jatah karena bos Niar lah yang menjadi orang yang mendapatkan jatah tersebut.
"Kasihan Kak Dania, sudah nggak dianggap lagi sebagai sahabatnya Bang Defan!" lirih Niar, menyorot wajah Dania yang ditekuk dengan mulut yang cemberut karena terus saja menggerutu.
Dengan pasrah, Dania pun akhirnya menerima kue dari Defan, meski entah potongan ke berapa. Ia sendiri pun tidak tahu karena sudah banyak yang mendapatkan potongan kue lebih dulu dibandingkan Dania.
Acara kemenangan itu berlangsung cukup lama dan meriah. Bahkan hingga melewati jam pulang kerja tapi semua karyawan tampak bersorak dan semangat untuk mengikutinya, lantaran dengan sisa waktu yang ada, mereka tidak perlu capek-capek bekerja lagi.
Sudah sejam lebih acara perayaan kemenangan Defan berlalu. Oleh karena itu, karyawan pun sudah mulai membubarkan diri atas perintah bos besar mereka karena acara hampir selesai.
"Kalian semua kalau mau pulang, boleh langsung pulang saja!" kata Desman, setelah ia mengambil sebuah mic, lalu mengumumkan di depan seluruh karyawan.
Riuh tepuk tangan mengakhiri acara penyambutan kemenangan itu. Tak sedikit pengacara yang mencibir Defan lantaran perayaan kemenangan itu hanya tertuju pada dirinya.
Selama ini, tidak ada perayaan kemenangan besar-besaran meskipun untuk kasus yang sangat berat.
__ADS_1
"Aah ... dia itu karena anak bos aja makanya dibikin acara besar-besaran begini padahal kasus sepele!" bisik salah seorang pengacara yang tidak menyukai Defan.
"Emang dia anak bos?" sahut Pengacara yang baru bekerja di firma hukum naungan Desman.
"Lah, masa kau baru tahu! Mana ada acara besar-besaran seperti ini untuk kita!" timpal Pengacara tadi.
"Ya, pantas aja lah ada acara begini karena ternyata dia anak bos. Lucu, baru kali ini aku melihat bos besar kita mengadakan acara perayaan kayak gini!" timpal Pengacara baru.
Keduanya asyik menggosip dan menyindir Defan yang merasa diistimewakan di perusahaan itu. Apalagi, Defan adalah penerus S.N.G Lawfirm makanya banyak yang tidak menyukainya.
Padahal nyatanya, Defan memiliki kemampuan yang kompeten dibandingkan dengan pengacara lainnya. Dia memang ahli menangani setiap kasus yang dibawah penganannya.
*****
Hari ini, Rosma tampak sibuk memasak untuk makan malam keluarga. Namun, pikirannya lagi-lagi tersita dengan penipu yang sudah menjerat suaminya.
Rosma sangat menyayangkan tindakan itu, terlebih uang yang di raup juga sangat besar. "Aku harus menyampaikan ini sama helaku biar dia langsung turun tangan menangani untuk mencari penipu itu," ucap Rosma, dengan keyakinan teguh agar penipu itu segera ditangkap.
Tiba-tiba ponsel Rosma bergetar, ponsel jadul itu memunculkan nada dering dengan suara yang besar, sehingga menyita perhatian Rosma.
Terlihat di sana ada satu panggilan dari besannya yakni Melva. Ia langsung bergegas menjawab telepon itu agar Melva tidak menunggu untuk waktu yang lama.
"Halo, Eda ada apa?" ujar Rosma melalui sambungan telepon.
"Apa kabarmu, dak! Udah nggak pernah lagi kudengar kabarmu," sahut Melva, yang juga tengah sibuk memasak sama seperti yang dilakukan oleh Rosma.
"Kabar buruklah, dak susah kalau mau diceritakan!" sesal Rosma seraya sibuk menyelesaikan masakan untuk makan malam keluarga.
__ADS_1
"Emang apa yang terjadi?" kata Melva, masih penasaran dengan cerita Rosma yang sengaja ditutup-tutupi.
"Yaudah, aku mau curhat samamu, Dak! Sebenarnya susah kali diceritakan tapi apa boleh buat. Jadi gini, itomu sudah bikin susah keluarga," timpal Rosma, tak lagi menyembunyikan persoalan itu, lebih baik meluapkan pada besannya, sebab Melva adalah kakak kandung dari suaminya.
"Ada apa rupanya, Dak? Siapa tahu bisa kubantu!" hardik Melva, makin penasaran.
"Jadi, bapak si Dira habis tertipu dari seorang rekan kerjanya. Dia menghabiskan sisa tabungan kami, ada kira-kira 100 juta lah. Nah, uang itu ternyata di bawa oleh si penipu dengan dalih kalau bapak si Dira bakal mendapatkan keuntungan 3 kali lipat. Tapi setelah menginvestasikan uangnya, temannya itu malah menghilang!" ucap Rosma, panjang lebar.
"Astaga, kapan kejadiannya itu, Dak?" tampik Melva.
"Barulah minggu ini, Dak. Aku pun baru tahu beberapa hari yang lalu," sesal Rosma.
"Oalah ... jadi sudah kalian laporkan tentang penipu itu? Biar segera ditangkap oleh Polisi," kata Rosma.
"Belum, Dak!" Karena pembicaraan semakin serius, akhirnya Rosma memilih duduk di kursi makan.
Ia pun tampak fokus menyelesaikan curhatannya pada sang besan. Siapa tahu sang besan bisa membantunya dalam menangkap penipu tersebut.
Sembari curhat, Rosma juga masih menunggu masakannya yang belum matang, butuh waktu hingga gulai ayam yang ada di wajan sampai terasa empuk dan matang dengan sempurna.
"Laporkankan lah, Dak! Biar ditangani penipu itu, setidaknya dia ditangkap polisi dulu, dicari keberadaannya kalau memang dia kabur. Atau nanti kubilang sama Bapaknya si Defan, biar dibantunya untuk mencari penipu itu," tutur Melva, dengan kesal karena besannya tertimpa masalah.
"Iyalah, Edak tapi kurasa, Amangbao itu sedang sibuk. Padahal kemarin sudah ku ceritakan juga sama si Dira, supaya dibantu sama hela itu. Tapi sampai sekarang mereka juga nggak datang ke sini, nggak ada menemui kami!" keluh Rosma.
"Oh, iya, si Defan juga pintar itu mencari penipu kayak gitu. Banyak kenalannya di kantor polisi sana!" sergah Melva.
"Iya, Dak maka itulah, mungkin belum ada waktunya Hela itu untuk mengurus-ngurus hal seperti ini atau mungkin memang lagi sibuk bekerja aja!" ungkap Rosma.
__ADS_1
"Baiklah, nanti akan kusampaikan pada Defan biar cepat ditindaknya cari si penipu itu, kesal kali aku mendengarnya!" berang Melva.
"Edak aja yang dengar ceritanya kesal, apalagi aku yang mengalaminya. Aduh, kesalnya sampai ke ubun-ubun!" beber Rosma.