
"Memang kayak gitu lah, itokku itu. Harus sabar-sabarlah, Edak!" papar Melva menenangkan.
"Udah cukup sabar aku, udah berpuluh-puluh tahun hidup bersama dia tapi tidak kunjung berubah!" racau Rosma.
"Mungkin nanti di masa tuanya dia baru akan berubah," ucap Melva.
"Bisa jadi sih. Eh, lagi ngapain, Edak? Malah curhat aku panjang lebar, nanti mengganggu kegiatan, Edak pula," kilah Rosma.
"Lagi masak aku, Edak nggak sibuk-sibuk kali kok. Memang karena aku yang menghubungi, Edak karena penasaran bagaimana kabar keluarga di sana!" pungkas Melva.
"Loh, kok sama kita sedang masak," tambah Rosma.
"Haha ... untuk makan malam kan, Dak! Jadi harus disiapkan!" kekeh Melva.
"Yaudahlah, Edak nanti kita lanjutkan lagi. Biar aku merapihkan rumah dulu sambil menunggu masakanku jadi," ucap Rosma mengakhiri pembicaraan itu.
"Iya, Edak jangan khawatir soal penipu itu. Nanti akan segera ditangani sama si Defan. Biar cepat dicarinya penipu. Udahlah, ya sehat-sehatlah di sana!" lanjut Melva.
Sambungan telepon pun diakhiri, keduanya kembali sibuk melaksanakan rutinitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
****
"Oke, untuk hari ini sebagai acara inti kita adalah makan-makan yang sudah saya pesankan menu paling istimewa di restoran ini untuk kalian semua. Nantinya juga akan ada yang mengiringi acara kita, pengisi suara yakni Carol, pacarku!" teriak Jefri dengan semangat.
Dira dan temannya tampak antusias untuk memulai acara. Para pelayan mulai menyajikan makanan, makanan pembuka dihidangkan adalah pangsit dengan kuahnya, aromanya saja sudah mengugah selera.
Ditambahkan dengan makanan utama dan dessert, seluruh sajian makanan itu tampak mewah dan menggiurkan.
__ADS_1
Saat acara makan-makan berlangsung, ada rasa iri yang menggeluti hati Shinta. Lagi-lagi, sahabatnya yang sudah memiliki kekayaan berlebih malah mendapatkan pasangan kekasih yang juga setara dengannya.
Hal itu membuat Shinta merasa rendah diri. Sebab, ia yang menginginkan pria kaya raya justru tak kunjung mendapatkan pria yang diidamkan. Malah ia terjebak pada pria miskin yang berpura-pura kaya meski itupun masih prediksi.
Kini, kedua sahabatnya sudah memiliki pasangan, hanya tinggal dirinya dan Jenny yang masih berpetualang mencari sosok pria yang diidamkan. Sementara Jenny, tidak mau ambil pusing yang berkaitan dengan pasangan karena masa kuliah saja sudah menyita pikiran. Sehingga dia tidak ada waktu untuk mencari pasangan.
Sedangkan, Shinta justru bersikukuh tetap ingin mencari seorang pasangan meskipun jadwal kuliahnya sangat padat. Dia berharap hingga semester satu berakhir, dirinya sudah mendapatkan pasangan sesuai dengan kriterianya. Tidak termasuk untuk Diki, karena pria itu sudah membuatnya saat kencan pertama merasa ilfeel.
****
"Ayo, Def kita pulang!" ajak Desman setelah membubarkan perkumpulan di aula kantor.
Ia juga bergegas ingin mengikuti jejak anak buahnya.
"Pak, aku mau ada acara lagi sama istri dan teman-temannya. Bapak, pulang saja duluan ajak Niar," jawab Defan.
Hingga saat ini, Niar masih berusaha menyembunyikan status itu. Terlebih, masa magang Niar pun masih berlangsung cukup lama. Dia baru beberapa bulan mengikuti magang di perusahaan S.N.G Lawfirm.
Saat ini, Niar masih sibuk menyelesaikan tugas-tugas yang diserahkan oleh atasannya. Banyak pelajaran yang ditemukan oleh Niar, yang tidak ia dapatkan semasa kuliah maupun saat pendidikan untuk menjadi seorang pengacara.
Waktu magang itu benar-benar menjadikan kinerja Niar maksimal. Bahkan, kerja lapangan menjadikannya memiliki mental yang kuat. Sehingga nantinya, dia bisa menjadi seorang pengacara seperti bapak dan abangnya yang sudah sangat sukses sekarang ini.
****
Desman pun akhirnya pergi meninggalkan Defan, berjalan gontai menuju perparkiran bersama Dania. Namun keduanya berpisah saat Desman dijemput oleh supirnya.
"Hati-hati, Pak!" ucap Dania, lalu malah menunggu kedatangan Defan di lobby kantor , sampai pria itu benar-benar muncul.
__ADS_1
Tak berselang lama, Defan segera berjalan keluar dari kantor itu bersama Juni. Entah untuk kegiatan kantor, Defan selalu di dampingi oleh sang asisten. Padahal, saat ini Defan hendak pulang, tapi kenapa keduanya sering bersama-sama.
Setelah tiba di Lobby kantor bersama Juni, Dania langsung berdiri. Netranya menatap wajah Defan dan Juni. Tak berselangan lama, ia langsung menghampiri Defan untuk meluapkan kemarahan.
"Kau kenapa sih, Def? Udah nggak nganggap aku sebagai sahabat lagi, ya!" celetuk Dania karena merasa kesal dengan sahabatnya. Beberapa orang yang masih berada di lobby memerhatikan keributan itu.
"Sejak lama kan sudah aku bilang, kalau istriku tidak menyukaimu! Jadi aku berusaha menjauhimu. Aku juga menjaga perasaannya agar tidak ada yang merasa tersakiti," ungkap Defan, dengan raut wajah yang datar.
"Astaga, semudah itu kau memutus hubungan persahabatan kita. Padahal aku yang mengenalmu lebih dulu dan sudah bersahabat denganmu sejak kita duduk di masa SMP!" bentak Dania, meluapkan semua unek-uneknya.
"Kau seharusnya mengerti, Dan! Keadaannya sekarang sudah berbeda. Ketika kau sudah memiliki pasangan jika dibandingkan dengan sahabatmu, tentunya kau akan mengutamakan pasanganmu. Karena dialah yang akan menjadi teman hingga akhir masa tuamu! Jadi apapun yang dipinta oleh pasanganmu, harus kau turuti!" beber Defan, memperjelas persoalan itu agar Dania tak mempermasalahkannya lagi.
Perdebatan keduanya hanya didengarkan oleh Juni. Dia tak berani menyanggah perdebatan sengit itu. Hingga akhirnya, Juni memilih berpamitan pada Defan agar tak dikait-kaitkan dengan masalah yang tengah dipersoalkan oleh Dania.
"Maaf, Pak! Saya izin pergi duluan. Mau pulang dulu," pamit Juni, seraya meninggalkan keduanya, setelah Defan mengangguk mengizinkannya untuk pergi.
"Def, aku mengerti dengan statusmu yang sudah menjadi seorang suami tapi kan bisa kau batasi antara persahabatan dengan pasanganmu. Anggaplah aku memang masih menjadi sahabatmu mungkin jarak kita sudah cukup jauh tapi setidaknya kau harus menghargaiku!" protes Dania.
"Menghargai apa lagi?" tanya Defan, tak mengerti mengenai persoalan yang terus dipeributkan oleh Dania.
"Contohnya seperti tadi di depan orang banyak, kau malah tidak menganggapku ada. Padahal aku sudah lama bekerja bersama-sama denganmu. Seperti kue itu misalnya, kau malah dahulukan orang lain ketimbang aku yang sudah lama menjadi sahabatmu dan rekan kerjamu!" serang Dania.
"Ck! Yaampun, Dania masalah sepele seperti itu saja kau protes!" decak Defan seraya mencibir sekaligus menggeleng-geleng kan kepala.
"Lah, itu kan penting bagiku, Def. Aku merasa seperti tidak dianggap lagi sebagai temanmu!" sanggah Dania.
"Sudahlah, Dan fokus saja untuk bekerja, tidak perlu mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu. Aku permisi dulu karena aku ingin menemui istriku!" Defan pun berlalu begitu saja karena ia merasa pusing jika terus berkelit dengan Dania.
__ADS_1