Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
jogetnya harus hot


__ADS_3

"Ayo kak! Biar seru!" tandas Dira tak mau mengalah. Dira menatap tajam wajah Dania yang sedang terdiam kaku duduk diatas sofa.


Di depan, Shinta dan Jenny berjoget penuh kegirangan. Carol pun memegang tangan Defan lalu mengajaknya menari. "Ayo bang nyawer!" celetuk Carol menunjuk ke arah Jenny.


Mau tidak mau, Defan mengeluarkan dompetnya sambil bergoyang kecil sekaligus mengayunkan tamborinnya. Semua langsung bersorak ketika melihat lembaran merah diayunkan oleh Defan dengan tangan sebelahnya yang tidak memegangi tamborin.


"Woooooo," teriak Jenny dengan micnya, semua ikut heboh terkecuali Dania. Jenny terus melantunkan lagunya hingga bait terakhir.


"Ayo dong, bang Defan jogetnya harus hot," teriak Jenny lagi dengan suara berteriak dengan micnya.


Ku hamil duluan, sudah tiga bulan


Gara-gara pacaran tidurnya berduaan


Ku hamil duluan, sudah tiga bulan


Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan


O-ow, aku hamil duluan


O-ow, sudah tiga bulan


Defan berjoget, tangan satu memegang dua lembaran merah, sedangkan tangan satunya lagi memegang tamborinnya. Ia menyodorkan dua lembaran merah itu pada Jenny. Alhasil semua jadi bertepuk tangan termasuk Dira. Namun, tidak untuk satu wanita yang masih menggerutu di tempatnya.


Sampai Jenny menyanyikan bait terakhirnya pun Dania masih terdiam, menggerutu seorang diri. Akhirnya, lagu itu berakhir. bersamaan dengan jam penyewaan ruangan pun berakhir.


Layarnya hanya menanyangkan ucapan terimakasih. Pertanda sesi karokean mereka telah berakhir.


"Yaaaaahhh," keluh keempat gadis itu bersamaan.


"Baru juga satu lagu bang, kok udah habis aja nih," celetuk Dira menatap tajam suaminya. Artinya sudah dua jam suaminya itu bersama Dania di dalam tempat karokean.


"Ya, udah habis mau gimana lagi," jawab Defan datar.


"Ayo pulang Def," sambar Dania beranjak dari kursinya.


Semua wanita di dalam itu langsung menoleh ke arah Dania. Menatap Dania dengan tajam.

__ADS_1


"Tidak semudah itu ferguso!!" batin Dira.


"Eh bentar ... di ruangan kami tadi masih ada sisa berapa jam lagi tuh?" celetuk Dira mengingatkan teman-temannya. Lagipula tas mereka juga masih ada di ruangan 22 tadi, belum ikut berpindah dengan orangnya.


"Oh iya ... kayanya setengah jam lagi deh," sahut Jenny antusias.


"Yaudah sana kalian lanjut aja. Aku sama Defan mau pulang," kata Dania dengan ketusnya.


"Oh ... ini tidak bisa dibiarkan." Jenny tampak berpikir dan melamun, memikirkan cara lain agar mereka tetap bersama Defan dan Dania.


"Yaudah ayo kita pulang. Kami nebeng ya bang," ucap Jenny mengerling agar Defan memperbolehkan mereka ikut di mobil suami sahabatnya.


"Iya." Tanpa pikir panjang, Defan pun menjawab pertanyaan itu dengan lugas.


Sementara Carol dan Shinta masih kebingungan apa maksud dari Jenny. Carol sendiri membawa mobilnya.


"Yaudah, tunggu disini bentar bang! Aku sama kawan-kawanku mau ambil tas dulu," ucap Jenny menarik ketiga tangan sahabatnya menuju ruangan sebelah.


"Carol kau nggak apa-apa kan pulang sendiri?" tanya Jenny menatap lekat sahabatnya itu.


"Yaudah kau pulang sendiri ya. Dir, kau langsung serobot nanti duduk di sebelah suamimu. Aku sama Shinta nebeng sama kalian, biarkan Dania ditengah-tengah kami." Jenny pun menyisihkan anak rambutnya ke arah kuping dengan bangga. Idenya sangat cemerlang menurutnya.


"Terus apalagi," jawab Dira masih kebingungan.


"Udah gitu aja, biar si Dania merasa resah. Jalan-jalan berdua sama suamimu jadi gagal deh karena ada kita," terang Jenny.


Semua teman-temannya itu mengangguk, mengikuti arahan Jenny. Kemudian, mereka mengambil tas mereka yang ada di dalam ruangan 22.


Lalu, kembali lagi ke ruangan 21. Defan dan Dania tampak sedang menunggu kehadiran mereka.


"Ayo bang," ucap Dira berjalan beriringan di samping suaminya. Defan pun membiarkan Dania berjalan mengekorinya, posisinya paling belakang karena Dira dan teman-temannya sudah lebih dulu mengikuti langkah Defan.


Sesampainya di perpakiran. Mereka berpamitan pada Carol. "Hati-hati ya Carol! Sampai ketemu besok di sekolah," kata Dira sembari melambaikan tangannya. Diikuti oleh Shinta dan Jenny melambaikan tangan mereka.


Defan pun membuka kunci mobilnya. Dania yang awalnya ingin duduk di sebelah Defan cukup tahu diri karena disaat yang bersamaan ada istrinya juga. Tapi ia tetap mencoba untuk duduk di samping suami Dira.


"Ayo masuk!" tandas Dira menyerobot posisi Dania yang tadinya ingin menarik handel pintu mobilnya di kursi sebelah Defan.

__ADS_1


Lalu, Jenny pun langsung masuk di belakang. Dia duduk di pinggir dekat jendela mobil. Sementara Dania masih berdiri, ia berharap duduk paling pinggir juga. Namun, tiba-tiba Shinta mendorongnya masuk ke dalam.


Alhasil, Dania duduk tepat ditengah, diapit oleh Jenny dan Shinta. "Bang antar kak Dania dulu ya," desak Dira tanpa basa-basi. Defan pun mengangguk saja, menuruti keinginan istrinya.


Dania tak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya diam menatap ke arah depan. "Yah, sayang kali ya, tadi kita masih ada setengah jam lagi loh," sesal Jenny mengingat waktu karaoke mereka belum habis.


"Ho'oh! Lumayan padahal ya," balas Shinta.


"Kapan-kapan lagi kan bisa. Maklum ada yang pengen cepat-cepat pulang," sindir Dira to the point.


Dania memang sengaja mengajak pulang. Ia merasa terusik karena kehadiran keempat wanita remaja yang mengganggu quality timenya bersama Defan.


Terlebih, Dania merasa diasingkan oleh keempat wanita itu saat di ruang karaoke. Defan pun jadi cuek dengannya.


"Sial! Ngapain sih anak-anak ABG ini suka ganggu orang," gumam Dania merasa kesal.


"Kak Dania, kalau karokean lagi ajak-ajak kita dong! Jangan bang Defan aja yang diajak," tutur Jenny menoleh ke arah Dania.


"Gimana caranya ngajak kalian," sahut Dania polos. Ia saja tidak memiliki nomor kontak Dira dan teman-temannya.


"Tinggal bilang aja sama bang Defan kok susah. Nanti bang Defan bilang ke Dira," balas Shinta dengan sinis.


"Iya ... nanti kapan-kapan kita karokean bersama. Itupun kalau jadi," ucap Dania seraya melemparkan senyum kecutnya.


Rasanya semakin panas lama-lama berada diantara Dira dan teman-temannya. "Def, turunin aku disini ajalah," kelit Dania merasa tak nyaman.


"Jangan bang! Antar aja sampai rumahnya," sambung Dira dengan sinis.


Suasana pun kian menegang, Defan tak bisa menyanggah permintaan istrinya. Lebih baik ia menolak kemauan Dania daripada harus menolak kemauan Dira.


Selama 15 menit perjalanan, mereka tiba di depan rumah Dania. Pandangan Dira tampak remeh dan sinis terhadap Dania yang begitu dekat dengan suaminya.


"Makasih ya Def," pamit Dania mengulas senyum lebar dibibirnya seraya melambaikan tangannya.


"Hati-hati ya!" tambah Dania lagi. Ia sengaja belum masuk ke dalam rumah sampai mobil Defan melaju.


Tak ada jawaban dari Defan. Tatapannya pun tampak sangat datar. Senyuman Dania bahkan tak ia balas. Dania hanya berpamitan pada Defan, tidak dengan Dira maupun teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2