
"Tenang, jangan ribut!" kecam Tika memperingatkan.
*hening
Seketika kelas menjadi senyap, Angga masih berdiri di depan, menatap senior.
"Udah kan, bang, kak?" tanya Angga, menunggu aba-aba sampai senior menyuruhnya kembali ke tempat.
"Iya, udah sana kau duduk lagi," titah Gamal.
****
Di ruang jurusan hukum, Shinta tengah bergosip dengan temannya. Dandanan hari ini, sama seperti kemarin, masih menor dan aneh.
Seniornya—Panja, masih menjadi bahan gosip terhangat di dalam kelas.
Pria tampan, tinggi, gagah, dan cuek itu sudah ditargetkan oleh Shinta untuk menjadi incaran. Pengungkapan perasaan Shinta kemarin, meski hanya sekedar candaan, tetapi tetap terus teringat dibenak Shinta.
"Shin, apa kau bisa mendapatkan bang panja?" ucap teman sekelas Shinta—Rina.
"Tenang kau! Hari ini, aku coba mengungkapkan perasaan dihari kedua. Semoga saja responnya berbeda sama kemarin, nggak sekedar tatapan datar!" sahut Shinta, terlalu percaya diri.
"Hmm ... bukannya itu iseng-iseng doang," celetuk temannya yang lain—Santa.
"Iseng doang kok tapi kalau diterima betulan, manfaatkan saja. Itung-itung belajar pacaran!" imbuh Shinta, terkekeh sendiri.
"Diterima apa?" kata Panja, berdiri tepat dibelakang Shinta.
Panja bersama kedua temannya baru saja tiba di ruang kelas jurusan hukum. Mereka akan memulai kegiatan ospek dihari kedua. Sama dengan jurusan kedokteran, jurusan hukum akan menindaklanjuti ospek di dalam ruangan.
"Eh, abang!" kekeh Shinta, lalu segera duduk di kursi.
Ia bersama dua teman lainnya membubarkan diri, saat semua senior sudah masuk ke dalam ruangan.
"Aduh ... malu kali, dengar nggak kalau dia yang lagi dibicarakan!" gumam Shinta, menepuk-nepuk kepalanya karena kebodohan yang telah dilakukan.
"Pagi!" kata Panja memberi salam.
"Pagi kak!" jawab maba kompak.
__ADS_1
"Untuk hari ini, ospek kita laksanakan di dalam ruang kelas. Yang keberatan boleh keluar, saya persilahkan!" tegas Panja, memberi kesan berkharisma pada mahasiswi yang ada di dalam kelas.
"Ada yang mau keluar?" tanya Senior lain—Janu.
Seluruh mahasiswa terdiam, tidak ada yang berani bersuara.
"Oke, kalau gitu kita lanjut ospek hari ini. Agar semuanya bisa beradaptasi, kita adakan game!" jelas Senior—Nanda.
"Game apa, bang?" sahut Shinta, mulai mencari perhatian.
"Game rantai!" jelas Panja.
"Uhhh," sorak seluruh maba antusias.
"Oke, kita mulai, bentuk lingkaran, semua saling genggam tangan. Tapi, kita singkirin dulu meja belajarnya, ayo bantu!" titah Panja, menyontohkan pemindahan meja agar ke sisi ruangan.
Setelah semua meja tersingkirkan, Panja menjelaskan peraturan permainan. Pengadaan game sengaja dilakukan agar mahasiswa baru saling mengenal bahkan lebih dekat satu sama lain.
"Peraturannya, orang pertama yang terpilih sampai nyanyian berakhir, akan mengenalkan diri dengan menyebutkan nama, asal dan cita-cita. Siapa yang salah menyebutkan nama, akan dihukum, menari di depan kelas!" beber Panja.
"Woooo!" Teriakan maba mulai memeriahkan ruangan, para mahasiswa semangat mengatur strategi agar tak salah saat menyebutkan nama.
"Bila lagu berakhir, maka ditangan tepukan yang berhenti, orang itu langsung cepat menyebutkan semua yang diminta!" tandas Panja.
Hingga lagu berakhir, ternyata tepukan terhenti tepat di tangan Panja lagi. "Nama saya Panja, Asal Dolok Sanggul, Cita-cita jadi pengacara!" ucap Panja dengan cepat, sehingga anak-anak lain menatap sangat serius.
"Wow!" sahut Shinta sedikit berteriak, memuji pria yang disukainya.
"Sttt... mulai lagi, ya!" titah Panja, memulai permainan.
Kali ini, lagu "Pelangi" mulai dinyanyikan. Namun, lagu itu terhenti ditepukan tangan Shinta. Semua anak menyoraki Shinta, perempuan yang memang dianggap sebagai si caper.
Entah mengapa, bisa-bisanya lagu berhenti di tangan dia. Momen yang tepat, setelah Panja, kini Shinta harus memperkenalkan diri.
"Saya Shinta, asal Medan, cita-cita jadi guru!"
"Salah jurusan oi!" teriak seorang maba.
"Yah, namanya cita-cita boleh apa saja," celetuk Panja, seolah membela Shinta.
__ADS_1
*****
Di ruang kelas jurusan arsitektur, seluruh maba sudah dipandu untuk berpindah ke lapangan sekolah. Pagi itu, Carol sangat tak bersemangat. Para seniornya seakan-akan memberikan pendidikan militer pada anak baru dijurusannya.
Hari pertama kemarin, begitu melelahkan bagi Carol. Hari ini, kakinya merasa pegal bukan kepalang dampak berkeliling lapangan sebanyak 10 kali. Mau jalan saja terasa sakit, apalagi harus melakukan kegiatan fisik di lapangan kampus.
Jefri, Judika dan Gembi, sudah berjalan di depan, diekori oleh seluruh maba. Dengan malas, Carol mengikuti jejak ketiga seniornya.
Entah apalagi hari ini yang akan dilakukan para senior untuk memberikan tugas pada maba selama ospek kedua.
"Kau, yang paling belakang, cepat jalanmu! Jangan kayak jalan bebek!" tegur Jefri.
Yang dimaksud Jefri tak lain ada Carol. Perempuan itu sudah ditandai oleh Jefri, akan terus menjadi bulan-bulanannya selama ospek. Meski di hari pertama, Jefri sempat mengalah karena dibantah oleh Carol.
"Selow sih," sungut Carol lirih, ia memang kesal pada Jefri. Pelaku utama yang membuat kakinya merasa pegal-pegal.
"Semua duduk!" titah Gembi, memulai persiapan ospek di tengah lapangan meski terik matahari menyengat.
"Untuk hari ini, kita lanjutkan ospek pengenalan kampus. Kalian akan mengikuti 'game kursi panas' nantinya siapa yang tidak dapat tempat, akan diberikan hukuman sesuai perintah senior," jelas Jefri dengan tegas.
"Hah?" Carol terpaku mendengar penjelasan seniornya, entah hukuman apalagi yang akan diberikan pada orang yang bisa dikatakan menjadi sasaran para senior.
"Apa? Mau protes lagi?" cecar Jefri.
Carol hanya menggeleng, tidak ingin memperkeruh suasana.
"Jud, Gem, siapkan kursinya, kita mulai dari lima orang dulu. Yang bersedia maju ke depan," tentang Jefri, mengedarkan pandangan, menatap anak-anak sukarela menjadi umpan pertama.
Judika dan Gembi menyusun hanya empat kursi untuk lima orang peserta. Satu kursi sengaja disingkirkan lantaran itulah yang akan menjadi target yang mendapat hukuman. Siapa yang gagal mendapatkan kursi, akan berakhir mendapat hukuman dari Jefri dan dua temannya.
Baru tiga orang yang berani maju, alhasil Jefri menunjuk Carol dan Grite untuk maju ke depan. Dengan malas, Carol berjalan memenuhi panggilan Jefri.
Permainan dimulai, Jefri memutar musik 'balonku ada lima' saat musik berakhir, peserta akan berebut mendapatkan kursi.
"Oke, kalau musik habis, langsung cari kursi kosong, yang nggak dapat akan dihukum karena lambat bergerak!" tambah Jefri.
Carol yang merasa sakit di kaki sudah pesimis untuk mendapatkan posisi kursi kosong. Anak-anak lain masih fokus mendengarkan lantunan lagu anak-anak tersebut.
Carol juga menyiapkan ancang-ancang agar bisa berlari kencang. Namun, usahanya sia-sia. Sialnya, saat musik berhenti, Carol kalah telak dari keempat teman sekelasnya.
__ADS_1
"Sial!" umpat Carol, menghentakkan kakinya ke tanah lantaran kesal tidak mendapatkan kursi.
Jefri tersenyum penuh kemenangan saat melihat Carol adalah orang yang kurang beruntung.