Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Tahan satu minggu


__ADS_3

"Nunggu Dira, ya, Bang? Hehe!" kekeh Angga, menyengir kuda saat bertatapan dengan Defan.


Angga dari kejauhan sudah menangkap wajah Defan yang celingak-celinguk mencari jejak sang istri. Dengan polos, Angga pun mendekati pria yang tinggal satu gedung dengan dirinya.


Ia sengaja ingin meledek pria itu, sebab Angga sendiri curiga dengan hubungan yang terjalin antara Defan dan Dira.


Defan terdiam, menatap Angga seraya mendelik. "Iya!" jawab Defan singkat.


"Hehe, Dira tadi masih di kelas, bang! Sebenarnya abang sama Dira itu hubungannya apa? Nggak mungkin kakak adek, wajahnya aja beda!" seloroh Angga, menyengir kuda.


"Kenapa rupanya?" Defan mencebikkan bibir lantara kesal melihat Angga terlalu penasaran.


"Ya, kepo aja, bang! Hehe," ungkap Angga, menatap seraya terkekeh sendiri.


"Ah, bukan urusanmu itu!" tutur Defan, memalingkan wajah, mencari sosok istrinya tetapi pandangannya dihalangi oleh Angga.


*****


Dira berjalan dengan ketiga sahabatnya, sampai di gerbang kampus, mereka berempat berpisah. Carol, Jenny dan Shinta menuju parkiran karena sekaligus menumpang pada Carol.


Sementara, Dira berlari ke depan, ia melihat mobil Defan terparkir di pinggir jalan. "Heh, Ngga, ngapain kau?" ucap Dira, mengagetkan Angga saat itu juga karena menepuk punggung Angga tiba-tiba.


"Astaga! Bikin jantung orang mau copot!" lirih Angga seraya mengelus dada.


"Kau ngapain di sini?" cecar Dira, matanya menatap penuh selidik.


"Hm ... nyapa abang tetanggaku!" balas Angga, tersenyum tipis.


"Dah, sana pergi kau! Parkiran di sana! Bukan di sini!" usir Dira, menatap sinis.


"Santai dong!" Angga bergegas pergi, setelah menepuk pundak Dira dengan keras.


"Aaau!" pekik Dira, merasa kesakitan.


"Eh, memanglah kawanmu itu." Defan hendak membuka pintu mobil tapi dicegah oleh Dira.


"Udah biarin aja, bang!" ucap Dira, berjalan memutari mobil, masuk ke kursi penumpang disebelah suaminya.


Di perjalanan pulang, Dira penasaran apa yang membuat Angga sampai harus mendatangi suaminya. Ia sesekali menoleh pada sang suami tetapi malu untuk menanyakan persoalan itu.


Disisi lain, Defan pun tak menyinggung persoalan tersebut. Ia santai saja menyetir, menatap jalanan kota yang cukup pada padat sore itu.


"Bang?" panggil Dira, menatap lekat suaminya.


"Apa, sayang?" Defan melirik sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke jalanan.


"Tadi si Angga ngapain samperin, abang?" tanya Dira, mengerutkan kening.

__ADS_1


"Nanya tentang kita!"


"Hah? Maksudnya apa?" Dira justru bertanya balik pada suaminya.


"Tentang hubungan kita, dia penasaran katanya!" sahut Defan, memutar stir saat mengitari jalanan di depan.


"Terus, abang udah ngaku?" Dira menundukkan kepala merasa tak enak melontarkan pertanyaan tersebut.


"Emang sampai kapan kau merahasiakan pernikahan kita? Lagian wajar di umur segitu memiliki suami!" desah Defan, menghembuskan nafas kasar.


"Hmm ... bukan gitu maksudku, bang! Cuma nggak enak aja sama Angga. Apalagi kami sekelas," tutur Dira.


"Yaudah, terserahmu!" tandas Defan, merasa kecewa lantaran status rumah tangga mereka terus ditutupi.


*****


Di belakang, Angga justru mengekori Defan dan Dira. Namun, arah perjalanan itu tidak asing baginya. Seperti jalan menunju kondominium miliknya.


"Apa mungkin mereka suami istri? Atau berpacaran terus kumpul kebo?" guman Angga, seraya fokus menyetir.


Sebenarnya, tidak masalah baginya, apapun hubungan Dira beserta laki-laki yang menjadi tetangganya. Hanya saja, Angga cukup penasaran. Ia juga tidak tertarik pada Dira.


***


"Bang, kayaknya si Angga ngikutin kita, lihat ke belakang deh, itu bukannya mobil dia?" celetuk Dira, tak sengaja melihat mobil Angga melalui spion mobil.


"Hmm ... iya juga!" sahut Dira, kepalanya manggut-manggut.


"Mau makan apa buat malam? Biar sekalian beli, mumpung masih diluar!" ujar Defan, menoleh istrinya yang terus menatap mobil Angga.


"Hmm, apa aja deh!" sahut Dira datar.


"Yang jelas dong, yang! Udah nggak usah lihatin kawanmu itu! Cuekin aja!" ketus Defan.


Dira langsung mengalihkan pandangan, suasana menjadi tegang bila suaminya menunjukkan kemarahan.


"Mampir aja ke restoran yang dekat rumah kita, bang! Pesan di sana," imbuh Dira, bernada lemah lembut agar suaminya luluh.


Tanpa suara, Defan memberhentikan mobil di parkiran resto, sesuai permintaan istrinya. Bahkan, ia hanya duduk, tak mau keluar.


"Kau aja yang pesan!" kata Defan dengan dingin.


Dira pun keluar begitu saja, tanpa bertanya pada suaminya menu yang akan dipesankan. Di dalam resto, ia memesan ayam goreng, udang goreng, serta sayuran untuk makan malam.


Melihat Defan yang mermakir mobil di restoran, Angga tetap melaju menuju kondominium. Ia tak ingin ketahuan bila terus mengikuti pasangan suami istri tersebut.


Ceklek

__ADS_1


Dira membuka pintu, membawa beberapa kantong plastik. Aroma makanan merebak ke seluruh mobil Defan. Pria itu pun mendengus, menghirup aroma sedap yang ada di dalam bungkusan.


Tanpa bicara, Defan langsung melajukan mobil, memasuki lantai basement kondominium. Raut wajahnya datar, meski sebenarnya dia sedikit kecewa pada istrinya yang menyembunyikan status pernikahan.


"Bang, merajuk?" lirih Dira, mengaitkan tangannya pada jemari Defan, setelah mereka keluar dari mobil.


"Engga!" sahut Defan dengan dingin.


"Tapi kok beda, ya?" ucap Dira, melingkarkan tangan ke pinggang suaminya.


"Beda apanya sih?" jawab Defan dengan ketus.


"Ya, hawa-hawanya seperti kita baru pertama jadi suami istri. Kayak gitulah sikap abang!" tandas Dira.


Defan akhirnya tersadar, langsung mencium pucuk kepala istrinya. Ia tidak ingin dicap sebagai suami dingin.


"Tuh, kalau beda nggak bakal abang cium!" kilah Defan, merengkuh pinggang sang istri saat keduanya masuk ke dalam lift.


"Ooo!" Setelah berada di dalam lift, Dira mencium pipi Defan dengan cepat.


"Jangan merajuk lagi dong, suami!" kata Dira, bernada gemas.


"Hmmm," dehem Defan.


Setelah tiba di dalam rumah, Defan langsung menggendong Dira. Perasaan kesal itu tidak luruh sepenuhnya. Namun, ia melampiaskan kekesalannya dengan menggendong seraya mencumbu istrinya dengan mesra.


"Ih, abang! Kebiasaan deh!" tampik Dira, yang terus mendapatkan serangan cumbuan dari sang suami.


"Udah bisa belum?" tanya Defan, saat menghentikan aksinya, menatap lekat manik indah sang istri.


"Ck! Belum loh!" decak Dira, menunjukkan cengiran.


"Yaahh!!" sesal Defan, mengusap wajah istrinya.


"Sabar, ya!" Dira mencium bibir sang suami sebagai permintaan maaf.


Akhirnya, dengan terpaksa Defan menurunkan tubuh Dira. Ia berjalan gontai sembari menyugar rambut, terpaksa keinginan untuk berhubungan suami istri ditahan kembali.


"Kok lama sih, yang?" celetuk Defan, memeluk istrinya dari belakang, saat meletakkan makanan di meja makan.


Keduanya langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri setelah seharian berada di luar rumah.


"Yah, namanya juga nifas, bang! Sabar ajalah! Tahan satu minggu lagi," bisik Dira, mengerlingkan mata.


"Masalahnya abang udah nggak kuat! Terlantar selama satu bulan!" ucap Defan mendramatisir keadaan karena merasa frustasi.


"Sudah, sabar aja. Ayo, mandi, mau nggak?" tawar Dira, sebab suaminya malah rebahan di atas ranjang.

__ADS_1


"Mau dong!" sahut Defan antusias, seketika berjingkat dari ranjang, mengekori istrinya seperti seorang anak kecil yang tengah melompat-lompat kegirangan.


__ADS_2