Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
yuhu Bali


__ADS_3

"Kenapa kau menatapku begitu sinis?" tegur Defan dengan dinginnya, ia tak suka ditatap tajam oleh gadis kecil seperti Dira seolah sedang menantangnya.


Dira mencondongkan tubuhnya sambil membisikkan sesuatu ke telinga paribannya itu. "Walau aku miskin, sekarang aku jadi istrimu," bisiknya membuat bulu roma Defan bergidik ngeri.


Cup!


Satu kecupan dari Dira dibibir suaminya tiba-tiba mendarat. Dira gadis kecil yang sudah menjadi istrinya itu mulai nakal, sengaja ia menggoda Defan untuk memberikan pelajaran karena telah mencibir tentang keluarga miskinnya.


"Kena kau!" batin Dira sengaja membuat perangkap kecil pada Defan agar tak lagi mengatainya apalagi menyangkut tentang keluarganya membuat dirinya semakin jengkel.


"Apa sih! Ngapain pula kau cium-cium aku," ketus Defan sambil mengusap bekas bibir Dira, ia berjalan cepat karena mukanya memerah padam karena sangat malu mendapat ciuman hangat dari gadis kecil itu.


Dengan buru-buru ia berjalan, memeriksa ponselnya untuk mengecek pesan dari travel yang sudah dipesan oleh kedua orangtuanya.


"Pak saya menunggu didepan Bandara, menggunakan baju kemeja merah dan jeans biru."


Pesan dari sopir travel dibaca oleh Defan. Dengan buru-buru Defan keluar dari gate tanpa memerdulikan istrinya. Ia sengaja membiarkan Dira mengikutinya dari belakang, karena rasa kesalnya telah dipermainkan oleh Dira Tampubolon.


Dira melangkahkan kakinya, mengejar Defan. Ekspresinya sudah berubah, kini ia tak marah lagi dengan Defan. Ekspresi riangnya kembali, dia melupakan persoalan tadi dengan cepat.


"Ayo bang! Dira udah nggak sabar mau ke hotel," ucapnya dengan riang membuat Defan semakin menggelengkan kepalanya.


"Bukannya anak itu tadi marah? Kenapa sekarang dia malah jadi riang dan semangat lagi," Defan semakin bingung dengan sikap Dira yang suka berubah-ubah seperti bunglon. Entah apa yang akan dia lakukan kedepannya, jika anak kecil itu mencoba menggodanya lagi.


Defan dan Dira masih menunggu barang bagasi mereka. Sudah hampir sejam lebih, bagasi mereka tak juga diturunkan.


"Hemmmp kok lama kali sih," keluh Defan ingin cepat-cepat keluar dari bandara. Ia ingin sekali merebahkan dirinya diatas ranjang, karena rasa lelah yang menyerangnya saat ini. Perjalanan mereka yang singkat cukup membuatnya jet lag.


Begitu dengan Dira, dia mulai bosan menunggu kedatangan koper mereka yang disimpan dibagasi.


Defan mulai mengurut-urut kepalanya, karena rasa pusing dan lelah yang ia rasakan saat ini. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, koper-koper milik penumpang mulai mengitari orang-orang yang telah menunggu dari tadi.


Setiap koper yang lewat dilihat agar tak kelewatan. Defan dari jauh sudah menangkap koper miliknya tadi. Koper itu sudah diincarnya untuk segera diambil.


"Ayo keluar," ajak Defan sambil mengangkat koper dari troli yang memutar. Ia mulai mendorong koper menuju luar bandara.


"Bang kita naik taksi online saja," Dira memberikan sarannya karena tidak tahu sudah ada yang menjemput mereka sejak pesawatnya mendarat.


"Udah ada travel yang nunggu," ketus Defan dengan jalan cepatnya, langkah kakinya yang lebar karena kaki jenjangnya tak mampu diikuti oleh Dira hingga membuatnya lelah sendiri.


"Abang tungguin dong," pinta Dira sembari berteriak kecil tak ingin menjadi pusat perhatian didalam bandara.


Sayang Defan sengaja tak memerdulikannya. Ia memberikan hukuman atas kecupan kecil dibibir suaminya tadi.


"Anak kecil ini menggodaku terus! Awas nanti malam kau lari," kecam Defan mengancang-ancang persiapan honeymoonnya di malam pertama.


Meski ia sudah berjanji untuk tidak menghamili Dira, gadis kecil tujuh belas tahun itu. Tapi perjanjian mereka tak membuatnya kehabisan akal. Jika Dira menggodanya lagi, siap saja kesuciannya akan segera terenggut.


Defan sudah memikirkan matang-matang jika Dira menaikkan hasratnya sebagai seorang laki-laki, nantinya ia akan mempersiapkan alat kontrasepsi yang berbentuk karet untuk mencegah kehamilannya. Bahkan ia sudah berniat akan membelinya di minimarket terdekat.

__ADS_1


Hahahaha


Tawa kemenangan dalam batin Defan membuat dirinya semakin percaya diri akan menyentuh gadis kecil tersebut.


"Awas kau kalau berani menciumku lagi!" lirih Defan pelan.


Defan dan Dira akhirnya keluar dari Bandara. Dengan cepat Defan sudah mengenali sopir travel yang disewa oleh mamanya lantaran sang sopir sengaja membawa papan nama bertuliskan Defan & Dira.


"Mau mampir makan dulu pak?" sang sopir menawarkan karena sudah melewati jam makan siang. Perjalanan Dira dan Defan yang singkat cukup menghabiskan waktu mereka. Defan melirik jam tangannya, saat itu sudah jam tiga sore.


"Langsung ke hotel saja pak," perintah Defan singkat.


"Emang abang nggak lapar ya? Dira lapar kali bang," keluh Dira karena dia baru ingat belum makan siang daritadi. Ia hanya ngemil snack pemberian suaminya.


"Makan di Hotel aja nanti," cetus Defan karena sangat ingin beristirahat. Dira mengangguk kecil mengikuti keinginan suaminya.


Beruntung jarak dari bandara ke hotel mereka tidak terlalu jauh. Dira melihat-lihat sekitarnya, pulau dewata idaman semua orang.


"Yuhuuu!! Akhirnya aku ke Bali juga," batin Dira sambil tersenyum tipis memperhatikan jalanan sekitarnya.


Ia melihat gedung-gedung berupa hotel serta beberapa tempat usaha yang ada dipinggiran jalan.


"Silahkan pak sudah sampai," ucap supir setelah membukakan pintu mobilnya.


Defan menundukkan kepalanya sebagai ucapan terimakasihnya. Baru saja ia masuk ke dalam hotel tersebut, supir membuka suaranya meminta agar Defan dan Dira bersiap-siap segera untuk ke pantai terdekat.


"Pak langsung siap-siap ya! Jadwal kita hari ini ke-"


"Maaf pak! Untuk hari ini saya dan istri mau di hotel saja. Karena capek perjalanan tadi. Besok baru kita mulai tournya," kata Defan meninggalkan supir sambil mendorong-dorong koper miliknya ke arah lobi hotel.


"Bang kenapa sih di hotel doang? kan seru kalau kita ke pantai?" pekik Dira sambil menatap Defan dengan tatapan menyelidik karena ia takut jika hanya berduaan saja di dalam kamar hotel akan mengundang orang ketiga alias setan untuk saling menggoda. Selain itu, ia juga sangat mengharapkan untuk berkeliling di Kota Bali meskipun masih merasa jet lag.


Defan mendekati Dira seraya berkata "Hari ini adalah waktu untuk kita berdua," Defan sengaja menggoda Dira karena ingin membalaskan dendamnya yang berulangkali di permainkan oleh wanitanya.


"Waktu untuk kita berdua?" Dira tak mengerti apa maksud perkataan suaminya. Namun ia cuek saja menunggu Defan chek in di hotel yang sudah dibooking oleh mertuanya. Dengan riangnya ia mengikuti langkah kaki Defan menaiki lift yang bergerak ke lantai tiga di hotel bintang lima.


"Yuhuu Bali!! Bali! Bali!!" seru Dira dengan riang. Defan hanya menatap tingkah aneh Dira yang begitu ke kanakan.


"Bang, Dira lapar kali loh," rengek Dira karena merasakan lapar berat, bahkah suara grok grok telah terngiang sedaritadi dari dalam perutnya.


"Iya bentar lagi sampai di kamar langsung pesan makanan," jawabnya santai sambil berjalan keluar dari lift. Ia mencari nomor kamar sesuai nomor kunci berbentuk kartu yang diberikan oleh resepsionis hotel.


"Bang serius ini kamar kita? wow besar kali," ucap Dira bersemangat karena tak menyangka kamar yang dipesan oleh mertuanya adalah president suite di hotel bintang lima tersebut.


"Biasa aja kali!" sindir Defan sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya yang empuk.


Dira sampai lupa dengan rasa laparnya, ia berkeliling di kamar. Tidak hanya ranjang, bahkan ada ruang tamu dengan sofa yang besar, dapur dilengkapi meja makannya, hingga kamar mandi yang sangat besar, bahkan Dira menerka-nerka harga satu kamar hotel itu menghabiskan uang hingga berpuluh-puluh juta.


Dira sangat terpukau dengan seisi ruangan tersebut. "Yuhuuu!! Bali Bali Bali," seru Dira dengan semangat.

__ADS_1


Defan memesan beberapa makanan tanpa bertanya pada Dira. Ia menelepon pihak restoran hotel dan menyebutkan semua makanan yang ada di buku menu hotel.


Tidak sampai setengah jam, seorang pelayan berseragam hotel mengetuk pintu untuk mengantarkan makanan.


Tok.. Tok...


Defan langsung membukakan pintu mempersilahkan pramusaji meletakkan makanan diatas meja makannya. Ia juga memberikan tip kepada pelayan sebagai bentuk rasa terimakasihnya.


"Selamat menikmati tuan!" pamit pelayan sembari membukukkan badannya sebagai ucapan rasa terimakasihnya.


"Dira makan dulu! Katanya tadi lapar," perintah Defan langsung dituruti oleh Dira. Ia melihat meja makan yang terisi penuh.


"Apa-apaan ini bang? kok banyak kali makanannya, emangnya yang makan se-RT," ketus Dira lagi-lagi tak menyukai sifat Defan yang suka menghambur-hamburkan uang.


"Sssttt!! Berisik! Makan aja semaumu," ketusnya kembali menghempaskan tubuhnya diatas kasur.


Dira menyatap berbagai makanan mewah yang disajikan di meja makan mereka. "Ah gila nih si tua bangka. Makanan sebanyak ini besok kali habisnya," cibir Dira kesal karena ia makan seorang diri tanpa ditemani paribannya.


"Bang?" panggilan Dira tak didengarkan oleh Defan.


"Abang!!!" teriak Dira membangunkan Defan yang ternyata telah terlelap tidur saat rebahan sebentar diatas ranjang.


"Apa sih! Ganggu kali," ketus Defan dengan suara paraunya karena baru saja terbangun dari tidurnya.


"Abang nggak makan?" Dira menawarkan Defan, karena daritadi Defan belum mengisi perutnya.


"Nanti aja!"


Defan kembali memejamkan matanya untuk melanjutkan istirahatnya karena rasa jet lag yang masih ia rasakan.


Tapi karena Dira khawatir, kebetulan ia juga sudah selesai makan. Ia menghampiri Defan. Menawarkan makanan yang banyak dipesan oleh suaminya.


Dira duduk disamping tubuh Defan, mendekatkan kepalanya ke depan wajah Defan sambil menyorot wajah suaminya dengan tajam. Memperhatikan wajahnya dari dekat.


"Bang! Makan aja sekarang! Makannya banyak kali pun abang pesan," kata Dira sambil mengoyangkan lengan paribannya.


Defan tidak tahu kalau Dira sedang menatapnya dengan tajam menunggu jawabannya.


"Bang!" teriaknya lagi memekakkan telinga Defan. Ia sangat terganggu dengan omelan anak kecil yang ada didepannya saat ini.


"Aku bilang nanti ya nanti!" ketus Defan yang mengangkat badannya setengah seraya membuka pelupuk matanya. Ia sangat terkejut dengan Dira yang sudah berada didepan matanya karena Dira tak sempat menghindari gerakan Defan yang begitu cepat.


"Kau ini! Sengaja ya menggodaku terus?" teriak Defan yang sengaja menyodorkan wajahnya semakin dekat ke arah wajah Dira.


Seketika suasana menjadi canggung, bahkan Dira tak berani bergerak dari posisinya. Ia ketakutan akan disentuh oleh Defan, padahal berkali-kali Dira berbuat semaunya menyentuh bibir Defan dengan sengaja.


"Apakah sekarang momen pembalasan?" batin Defan terus meronta-ronta untuk menyentuh Dira dengan kesempatan yang ada didepan matanya.


HAI HAI!!

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, & VOTENYA YA TEMAN-TEMAN.


*THANKYOUUU**😍😍*


__ADS_2