
Selama 60 menit pelajaran berlangsung, para siswa tampak tenang mendengarkan penjelasan guru mereka.
"Anak-anak sekian dulu pelajaran hari ini! Jangan lupa kerjakan PRnya. Sampai ketemu lagi minggu depan." Guru berjalan meninggalkan ruangan sekolah.
****
Sementara Defan sudah tiba di rumah Shaira sejak 40 menit yang lalu. Ia sudah membawa seluruh perlengkapan kameranya untuk merekam pengakuan Shaira.
"Halo adik Shaira, apa kamu ingat saya?" ujar Defan setelah duduk tenang di ruang tamu di rumah keluarga Shaira.
Shaira tampak seperti orang linglung. Tidak ada respon darinya. Tatapannya kosong. Ia bahkan takut pada Defan yang sedang menunggu jawabannya.
Defan berbisik pada ayah Shaira mempertanyakan kondisi anak itu. "Pak, kenapa kondisinya makin drop? Apa kalian tidak membawanya ke psikiater?" cecar Defan yang merasa aneh dengan sikap Shaira.
"Kami tidak punya uang untuk membawanya kesana pak. Terakhir kali saat menelepon pak pengacara, kondisinya sudah membaik. Tapi setelah itu, kondisinya memburuk lagi. Sama saya saja dia takut pak!" lirih Ayah Shaira tertunduk.
"Bawa saja ke psikiater pak. Nanti biaya pengobatannya saya tangani. Mohon maaf sekali, pembicaraan kita minggu lalu ternyata tidak terekam. Maksud saya hari ini datang adalah untuk meminta pengakuan adik Shaira lagi sekaligus mengecek kondisinya," ungkap Defan terus terang.
"Sepertinya itu tidak bisa bapak lakukan lantaran Shaira melupakan semua kejadian hari itu. Mungkin itu salah satu cara agar dia tidak teringat lagi pada pria itu." Ayah Shaira pun sebenarnya tak mau mengingat kejadian keji yang menimpa anaknya.
"Bagaimana ini pak? Besok sidangnya sudah berjalan. Sementara bukti terakhir yang saya perlukan tidak ada." Defan semakin pusing karena ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan saat ini.
"Coba bapak ajak bicara saja. Mungkin dia bisa merespon," kata pria itu.
Defan mulai lagi melontarkan kata-kata manisnya untuk membujuk Shaira. Sudah setengah jam ia berada di sana tapi Shaira tak kunjung membuka suaranya.
Defan semakin pesimis bahkan hampir menyerah. Ia beranjak dari kursinya berjalan ke depan rumah Shaira, menyugar rambutnya dari depan ke belakang untuk merilekskan pikirannya yang kian merasa frustasi.
Shaira masih termenung, diam bak patung di pangkuan ibunya. Padahal ibunya juga turut membujuk agar Shaira mau membuka suaranya. Namun, hal itu sia-sia, Shaira justru merasa takut dengan kehadiran pengacaranya.
Setelah merasa tenang, Defan kembali duduk di ruang tamu. Ia mengambil keputusan untuk mengantarkan Shaira ke psikiater.
"Pak." Defan memanggil Ayah Shaira untuk mengajaknya bicara.
__ADS_1
Pria itu mendekati Defan yang tampak frustasi. "Kenapa pak?" Pria itu menatap lekat wajah Defan meski ekspresinya pun begitu lesu.
"Kita ke psikiater sekarang! Bapak tidak perlu memikirkan biayanya. Kita tidak bisa begini terus. Kondisi Shaira sudah sangat memprihatinkan," sesal Defan.
Pria itu mengangguk menyetujui permintaan Defan. Ia juga merasa kasihan pada putri semata wayang mereka. Mental anaknya lebih utama dibandingkan uang yang harus ia cari.
Defan menggiring keluarga Shaira keluar dari rumah. Ia membukakan pintu mobilnya lalu mempersilahkan Shaira dan ibunya di kursi penumpang. Sementara ayah Shaira duduk disamping Defan.
Ia menginjakkan gas mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang. Satu rumah sakit pilihannya yang tak jauh dari rumah Shaira.
Ibunda Shaira membopong anaknya itu, mendekapnya dalam gendongannya. Menggendong hingga tiba di depan ruangan dokter.
Saat Defan melakukan pendaftaran, tidak ada antrian pasien lain untuk menemui psikiater tersebut. Alhasil, mereka dipersilahkan langsung masuk ke ruangan.
Psikiater itu mulai melakukan pengecekan pada Shaira. Mulai dari kondisi pandangannya, suaranya hingga gerak-geriknya.
"Dok, saya butuh pengakuan dari anak itu. Dan itu sangat diperlukan untuk sidang saya besok. Karena pengakuan itu adalah bukti yang paling penting." Defan menatap serius wajah sang dokter.
"Tapi apakah bisa hari ini?" desak Defan sembari melihat jam ditangannya. Beruntung masih jam 11 siang mereka tiba di psikiater.
"Saya akan berusaha dulu pak. Saya akan ajak ngobrol berdua dengan anak itu." Psikater itu berlalu menghampiri Shaira.
"Mohon maaf bu. Saya harus bicara berdua dulu dengan Shaira." Psikiater itu membungkuk agar diperbolehkan membawa Shaira ke sebuah ruangan.
Ibu Shaira mengangguk lemah, ia melepaskan tubuh mungil itu dari pangkuannya dan mendorongnya menghampiri psikiater.
"Ikut tante dulu ya adik kecil." Psikater itu menggandeng tangan Shaira dengan lembut. Ia melangkah kecil diekori oleh Shaira menuju ruangan tertutup.
Didalam sana, psikiater mulai memberikan arahan pada Shaira. Ia mengajak ngobrol gadis kecil itu, mengarahkan tatapannya agar mulai melihat sekitarnya. Tatapan yang tampak kosong itu mulai sirna.
Dari dalam ruangan itu terlihat ibunya, ayahnya serta pengacaranya yang menunggu dengan penuh harap. "Adik kenal mereka siapa?" Psikater itu menunjuk ketiga orang yang menunggunya penuh harap dan cemas.
Shaira mengangguk kecil setelah menangkap perkataan psikater. "Coba disebutkan dik," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Itu ibu, yang itu ayah. Dan satu lagi ehmmm." Shaira terdiam masih meneliti pria itu.
"Apa Shaira kenal?" celetuk Psikater.
Shaira menggeleng kecil seraya tertunduk. Ia tak ingat wajah lelaki yang ikut menunggunya bersama kedua orang tuanya.
"Baiklah dik nggak apa-apa. Sekarang kita mengingat-ingat kejadian yang dulu ya? Apa adik pernah merasakan kejadian yang menakutkan?" timpal psikater itu penuh nada lembut.
Shaira mengangguk kecil, seketika ekspresinya berubah. Tubuhnya gemetar bila mengingat kejadian getir yang pernah menimpanya.
"Hikss... Hikss..." Shaira mulai menangis. Bulir bening berjatuhan membahasi pipi mungilnya.
Sepertinya Shaira sudah mulai mengingat lagi kejadian itu. Beruntung psikater itu sudah menyetting kamera dan merekam semua percakapannya dengan Shaira.
Kamera didalam ruangan itu bahkan ada dua. Satu milik psikater dan satu lagi milik Defan. Mereka berdua sudah merencanakan hal itu demi kebaikan Shaira.
"Tenang sayang." Psikiater mulai menyeka pipi Shaira yang basah dengan sebuah tisu.
"Shaira mau cerita?" lontarnya lagi penuh dengan nada lembut.
Shaira mengangguk, ia sudah merasa tenang disisi psikiater tersebut. "Tapi Shaira takut," lirihnya masih tersedu-sedu.
"Nggak apa-apa sayang. Kalau Shaira cerita tentang kejadian yang menakutkan itu, kita bisa memberikan hukuman berat pada pelakunya." Psikiater itu mengangguk penuh keyakinan. Menatap lekat manik mata indah milik Shaira sehingga memberikannya ketenangan.
Tak lama kemudian, Shaira mulai menceritakan kejadian itu secara detail. Ia mengingat setiap inci perlakuan paman bejadnya. Tak ada satupun yang terlupa dalam ingatannya.
Selama setengah jam psikater terus mengajak ngobrol Shaira sampai semua topik pembicaraan yang Defan inginkan berakhir.
"Adik Shaira harus dirawat dulu disini ya! Nanti ibu dan ayah menemani." Psikiater itu mulai mematikan kameranya serta merapihkannya. Dari mulai berbicara dengan Shaira, kamera itu terus menyala, berdiri tegap dengan penyanggah tripodnya.
Kini Shaira mulai merasa tenang. Setelah semua ketakutan dan apa yang ada didalam hatinya terpendam lama, baru kali ini ia bisa meluapkannya.
"Terimakasih tante," ucap Shaira dengan wajah polosnya. Tangisnya tak lagi pecah.
__ADS_1