Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
gedung beraksen tradisional


__ADS_3

"Loh, abang udah pulang?" sambar Dira saat melihat sosok suaminya muncul dari balik pintu.


"Gimana? Kau udah sehat? Ada yang sakit nggak?" Defan mengecek suhu tubuh di dahi Dira dengan telapak tangannya.


Tiba-tiba ia merengkuh pinggang Dira, lalu mencium bibir tipis itu dengan cepat. Ketiga sahabat Dira yang menyaksikan sontak langsung bersorak.


"Cieeeeee!!" kata ketiga sahabat Dira dengan kompak.


Defan langsung melepaskan ciuman itu. Ekspresinya berubah menjadi kikuk dan kaku.


"Kok nggak bilang ada mereka di sana," lirih Defan tertunduk malu.


"Abang, sih! Main nyosor-nyosor aja." Dira mencubit perut bawah suaminya, lalu segera mengambil alih barang bawaan Defan, meletakkan di dalam kamar.


Sementara, Defan masih menghampiri tiga perempuan remaja yang sedang asik menonton kedatangan pria itu. Defan menjabat tangan ketiga remaja sebagai sapaan dan sambutan menjadi tamu di rumah mereka.


"Bang, kok cepat pulang?" kata Dira, yang berjalan dari kamar menuju ruang keluarga.


"Abang, pulang untuk siapa lagi? Ya, karena kau, abang khawatir. Tadi pagi katanya nggak enak badan," sahut Defan, duduk di tepian sofa, jaraknya cukup jauh dengan ketiga teman Dira.


"Emang tadi pagi dia sempat sakit, bang. Tapi setelah aku pijitin, ya Tuhan, makannya langsung kayak kesetanan dan porsinya untuk orang sekampung," tandas Carol mendramatisir.


"Hah? Sekampung?" Defan mengingat-ingat lagi kebiasaan sang istri.


"Iya, bang, ikan bakar sepanjang lengan kita aja habis sama dia sendiri," imbuh Carol, disambar tawa terbahak-bahak dari Jenny dan Shinta.


"Ah, kan bagi dua tadi kita, Rol, jangan lebay kau," timpal Dira, sebenarnya dia agak malu pada Jenny dan Shinta.


"Udah nggak heran abang, kalau soal makan sebanyak itu. Udah beberapa hari ini kok, dia kayak gitu," jelas Defan.


"Tadinya, kalau Dira masih sakit, abang mau cancel acara jalan-jalan besok," tambah Defan, menoleh pada Dira.

__ADS_1


Dira langsung menggeleng saat dilihat oleh pria itu. "Ja–janganlah, bang! Mereka bertiga udah di sini kok! Masa tiba-tiba di cancel. Aku sehat loh sekarang. Nih nggak lihat." Dira berputar agar tubuhnya terlihat jelas, kondisinya pun baik-baik saja.


"Kan, tadinya abang bilang! Jadi kalian bertiga udah siap mau liburan?" cecar Defan, menatap tajam ke tiga wanita yang duduk bersebelahan, menghadap Defan.


"Siap dong!" tegas ketiga wanita itu sangat kompak.


"Oke, kalau begitu kalian istirahat dulu. Silahkan pakai kamar yang kosong. Ehm ... Dir, udah kau bersihkan kamar kosong itu?" Defan sesekali melirik ke dua kamar kosong.


"Belum, bang! Nanti aku bersihkan." Dira melangkah gontai ke kamar, mengambil satu sprei baru untuk dipasangkan di ranjang.


"Kelen satu kamar aja, ya, we? Malas aku kalau dua kamar, lagian nanti satu orang misah," ucap Dira yang diangguki sebagai tanda persetujuan dari ketiga sahabatnya.


Dira langsung menuju kamar kosong, membersihkan kamar itu agar tak ada debu. Sementara, Defan berpamitan pada ketiga teman Dira.


"Yaudah, kalau gitu abang ke kamar dulu. Kalian anggap saja rumah sendiri. Jangan sungkan mau melakukan apapun," pesan Defan, kemudian ia berlalu begitu saja, meninggalkan tiga gadis yang masih bersantai di ruang tamu.


Carol, Jenny dan Shinta langsung membawa barang mereka ke kamar yang sedang dibersihkan oleh Dira. Meletakkan barang-barang itu di sudut ruangan. Tak hanya itu, ketiga wanita itu ikut membantu tuan rumah dalam menyiapkan kamar yang akan mereka tinggali.


Carol menyapu, Jenny membantu memasang sprei dari sisi berseberangan, Shinta memasukkan barang-barang mereka ke lemari yang ada di sana.


"Hooo ... kau iri, kan?" tampik Shinta, yang sebenarnya ia juga iri dengan kehidupan Dira yang berubah derastis.


"Halah, siapa sih yang nggak iri? Kau aja pasti iri hahaha," teriak Jenny dengan tawa yang besar.


"Iya sih, aku juga iri." Shinta terkekeh geli.


"Kok bisa bang defan berubah kali, Dir? Kok jadi perhatian dan mesra? Bukannya dulu dingin kali orangnya, kau aja terus ngejek dia," lanjut Carol.


"Iya, apa jampe-jampemu? Kok bisa cowok kayak gitu berubah." Jenny menatap penuh selidik.


Dari tadi, Dira hanya terdiam mendengarkan ocehan ketiga wanita itu. Akhirnya, ia pun menjawab pertanyaan dari ketiga sahabatnya.

__ADS_1


"Jujur, aku sendiri nggak tahu loh we, semua berjalan gitu aja. Sikap bang defan juga berubah dengan seiring waktu yang berjalan. Atau mungkin karena dia juga sudah menyentuhku, suami mana yang nggak jatuh cinta saat mereka sering berdua, bahkan sudah melakukan hal yang intim." Dira terkekeh saat mengingat moment pertama kali mereka berdua saling bersentuhan.


"Iya, ya! Bisa juga dua orang yang dijodohkan akhirnya saling mencintai. Nggak nyangka kali aku, bahkan cintanya sangat-sangat berlebihan," sambar Shinta.


"Berlebihan gimana, Shin?" tanya Jenny, sedikit termenung memikirkan perkataan Shinta.


"Berlebihan lah, buktinya dia nggak sadar cium istrinya di depan kita. Terus khawatir kayak tadi sampai pulang cepat, perhatiannya juga gimana, ya ...?" Shinta masih memikirkan ucapannya.


"Ya, itu biasalah kalau dilakukan suami istri, gimana sih kau!" protes Dira.


Mereka baru saja merapihkan kamar, keempat wanita itu mencoba pembaringan di atas ranjang. Menatap langit-langit, larut dalam pikiran masing-masing.


"Pokoknya kau beruntunglah, Dir, dapat suami kayak bang defan." Jenny tersenyum tipis, menatap langit-langit kamar.


"Iya, betul itu, jangan pernah kau kecewakan laki-laki sebaik itu," timpal Shinta.


"Aku juga nanti mau nyari suami kayak bang defan lah," seloroh Carol.


"Iya, aku juga mau. Cowok dingin-dingin menghangatkan, ya nggak?" tutur Shinta.


"Ho'oh, betul kali! Yang dingin-dingin akhirnya bucin kali," tambah Jenny.


"Udahlah itu, terus yang kelen bicarakan soal bang defan! Oh, ya, aku belum pesan vila loh, pakai aplikasi aja bisa kan?" ujar Dira, menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Coba buka hpmu! Dari aplikasi aja, udah banyak kok penginapan di Toba sana yang bisa dipesan melalui online," sambung Carol.


Dira langsung mengambil ponsel yang ada di saku, sebelum ia membersihkan kamar, ponsel itu sempat ia kantongi. Lalu, membuka satu aplikasi khusus pemesanan hotel maupun vila.


Satu vila sangat cocok untuk menampung lima orang seperti mereka. Tersedia dua kamar dengan ranjang king size, konsep vila yang ditawarkan cukup unik, bahkan sangat dekat dengan tempat wisata.


"Eh, lihat ini, kayaknya cocok ini untuk kita." Dira menyodorkan ponsel pada tiga sahabatnya, memperlihatkan vila bernama Samosir Vila Resort, gedung beraksen tradisional dipadukan arsitektur khas Samosir seolah menandai villa ini sebagai refleksi dari akomodasi yang khas sekaligus bercorak lokal.

__ADS_1


"Iya, iya, cocok nih. Pesan yang ada dua kamarnya," tandas Carol.


"Ada ini dua kamar, langsung kupesan ajalah ya! Daripada nanti habis," kata Dira.


__ADS_2