
Baru saja Dira dan Defan beranjak dari kursinya mau kembali ke kamar, tiba-tiba saja Melva dan Desman datang dengan berpakaian yang sudah rapih juga.
Dira menjadi makin malu, karena hanya dirinya dan Defan yang belum mandi tapi sudah sarapan lebih dulu. "Loh mau kemana?" tanya Melva menarik kursi makannya sambil tersenyum melihat Dira.
"Mau ke kamar namboru," balas Dira dengan lembut.
"Jangan kau panggil lagi aku namboru! Panggil aku inang, kalau amangborumu panggil amang! Kan kau sudah menjadi menantu kami," jelas Melva tak terima dengan panggilan Dira saat ini.
"Ah iya inang, Dira lupa," kekeh Dira.
"Kok udah ke kamar? Memangnya kau sudah sarapan?" tanya Melva.
"Sudah inang. Dari jam lima pagi aku sama bang Defan disini, Dira kelaparan karena kebangun jam empat inang," kata Dira menjelaskan.
"Oh bagaimana kondisimu sekarang? Apa badannya sakit? Kemarin pingsan karena kelelahan ya?"
"Iyah inang sepertinya begitu. Maaf ya inang aku jadi nggak bisa ikut acara dialap jual," lirih Dira dengan lembut.
Dira dan Melva memang sudah seakrab itu dari dulu, Melva adalah salah satu namborunya yang paling baik. Kakak kandung bapaknya Dira, yang selalu memperhatikan Dira bahkan sering mengajaknya mengobrol.
Melva sudah mengincar Dira sejak lama untuk dijadikan mantunya. Tak heran ia melakukan pendekatan pada Dira sejak semasa ia kecil. Apalagi sifat Melva tidak seperti kebanyakan perempuan batak, yang keras dan cerewet.
Melva sangat lembut, meskipun kalau sedang bicara tetap menonjolkan khas bataknya. Suaranya besar apalagi tawanya bisa memenuhi sesisi ruangan. Tidak jauh beda dengan keluarganya yang lain termasuk bapak Dira sendiri.
"Iyah nggak apa-apa sayang! Yasudah kau boleh ke kamarmu, segera mandi ya! Ada yang akan kita bicarakan. Nanti kumpul di ruang tamu," balas Melva yang sekarang fokus pada sarapannya sambil mempersiapkan sarapan untuk suaminya.
Defan dan Dira beranjak meninggalkan meja makan, keluarga Defan yang sudah rapih pagi-pagi sudah sibuk sarapan. Tidak ada suara mulut yang terbuka, hanya ada suara sendok dan piring yang beradu.
Dikeluarga itu sudah memiliki kebiasaan, sebelum sarapan harus sudah rapih dan bersih. Tidak ada yang boleh melewatkan sarapan kecuali jika sedang terburu-buru karena suatu hal.
Bangun pagi adalah satu keharusan bagi keluarga mereka dan itu menjadi salah satu aturan bagi keluarga mereka, aturan lainnya juga harus dilakukan seperti jika sudah duduk dikursi makan, tidak ada yang boleh mengobrol sampai menyelesaikan santapan makannya.
Aturan itu sendiri belum diketahui Dira, karena ia baru semalam tinggal di rumah itu. Tapi melihat pagi ini, semuanya sudah rapih dan bersih membuatnya semakin bertanya-tanya.
Dira duduk diatas ranjang, belum bersiap untuk mandi. Dia bingung akan memakai baju siapa setelah mandi nanti. Tidak mungkin memakai baju punya iparnya, karena sudah pasti tidak akan diizinkan.
Akhirnya Dira memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Defan yang sedang merebahkan diri bersantai disamping Dira sedang asik memainkan ponselnya.
Sambil mengecek-ecek file yang ada diponsel tersebut. File pekerjaan yang biasa ia simpan dalam bentuk PDF, agar saat berada diluar kantor bisa ia pelajari.
"Bang!" panggil Dira sambil menatap wajah Defan.
Tapi Defan tak kunjung berpaling menatap wajah Dira. Ia masih sibuk membaca file yang ada diponselnya. Defan menunggu lanjutan perkataan Dira, dengan sengaja ia tak menyahut panggilannya tadi.
__ADS_1
"Bang!" rengek Dira yang ingin wajahnya diperhatikan saat berbicara dengannya.
"Ada apa sih," ucap Defan dingin dan ketus. Dira dianggapnya terlalu manja, harus diperhatikan sekali.
"Lihat aku dulu! Aku mau bicara," rengeknya lagi.
Defan beralih menatap wajah Dira dengan datar. Sambil menaikkan alisnya sebelah menunggu perkataan Dira selanjutnya.
"Bang, setiap pagi harus sudah rapih ya sebelum sarapan? Aku lihat namboru, amangboru sama eda-edaku kok sudah serapih itu pagi-pagi. Sudah mandi maksudku," tanyanya.
Defan mengangguk mengiyakan lalu berlanjut menatap ponselnya.
"Bang!" panggil Dira sinis. Ia semakin kesal karena Defan tidak menanggapinya. Bahkan tidak mengajarkan apa saja yang harus dilakukan di dalam rumah ini.
Sambil terus menatap ponselnya, Defan meminta agar Dira bergegas mandi, mengingat pesan mamanya ada yang mau dibicarakan setelah selesai sarapan tadi.
"Buruan sana mandi! Jangan ngoceh terus. Mama nungguin di ruang tamu," ketusnya tanpa menatap wajah Dira.
"Bang! Aku mau tanya lagi! Aku belum beres nanya loh," ucap Dira semakin kesal.
Defan tak bersuara terus menatap ponselnya. Tiba-tiba Dira mendekat, menarik ponsel yang ada ditangan Defan dan meletakkannya diatas ranjang.
Sambil duduk, Dira memegang wajah Defan dengan kedua tangannya agar fokus menatapnya saat bicara. Defan terdiam dan pipinya memerah karena malu. Lagi-lagi Dira berhasil membuatnya tak berdaya.
Defan mengangguk dengan tatapan datarnya, karena tangan Dira tak kunjung ia lepaskan dari wajahnya. Kemudin Defan menyingkirkan tangan itu dengan arogan. Menghempaskan tangan Dira dari wajah tampannya.
"Oh sorry bang! Aku gituin karena abang dari tadi nggak nengok aku," sinisnya.
"Aku mau tanya, tadi malam siapa yang gantiin baju aku? Terus kalau aku mandi, aku harus pakai baju siapa? Aku nggak bawa barang aku kesini! Terus tas aku yang kemarin aku bawa kemana?" tanyanya membrudul membuat Defan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dira sangat rewel dan bawel, sangat pantas untuk diperlakukan dengan dingin menurut Defan. Terlalu banyak bicara membuatnya semakin pusing.
"Anak kecil ini banyak maunya!" gumam Defan dengan kesal.
Ia berdiri mengambil tas didalam lemari, tas yang disimpannya tadi malam. Tas sekolah milik Dira. Keluar rumah pun Dira membawa tas sekolahnya bukan memakai tas fashion biasa.
"Nih tasmu," Defan melemparkan tas milik Dira keatas ranjangnya. Ia kembali lagi mengingat-ingat pertanyaan dari Dira setelah melempar tasnya.
"Apalagi tadi pertanyaanmu?" tanyanya ketus.
"Yang ganti baju aku tadi malam siapa? Terus aku harus pakai baju siapa setelah mandi!" ucap Dira.
"Oh itu. Ayo ikut aku," ucap Defan santai. Berjalan kearah kamarnya yang berada dilantai dua.
__ADS_1
Kamar mewah yang luasnya sama dengan rumah Dira. Dira terkejut melihat seisi kamar yang sangat rapih, bersih, dan tertata. Ia juga terpukau dengan lemari buku yang besar ditata dengan buku-buku besar milik Defan, layaknya perpustakaan umum.
Defan memang gila membaca, tak heran diusia mudanya, ia sudah sukses menjadi seorang pengacara. Didalam rak buku tidak hanya buku pengetahuan saja, tetapi banyak komik favorit Defan.
Defan ternyata sangat menyukai anime. Dira berjalan melintasi rak buku yang besar sambil melihat-lihat isi rak, terdiri dari buku apa saja. Dia takjub dengan waktu Defan yang sibuk bekerja, ia masih menyempatkan membaca buku sebanyak itu, bahka diselipin dengan bacaan komiknya.
Dira menarik salah satu komik yang ada di depannya. Komik one piece yang seriesnya sangat lengkap dan ditata berurut agar tidak ada yang terlewat.
"Jangan sentuh itu! Kembalikan ke tempatnya," ketus Defan tak ingin salah satu komiknya hilang atau tersusun tidak sesuai urutannya.
"Iya bang iya," keluh Dira sambil meletakkan kembali buku pada posisinya. Memastikan urutannya sesuai dengan posisi tadi.
"Lebay banget sih ini orang, barangnya nggak bisa disentuh! Dasar laki-laki tua belagu," batin Dira sambil terkekeh.
Defan membuka salah satu lemarinya. Lemari jati berpintu delapan miliknya yang sengaja dicat berwarna putih agar lebih minimalis.
Dia membuka dua pintu yang berada di satu sisi lemari, didalamnya banyak sekali baju perempuan. Semuanya baru, baju itu sangat cocok untuk ukuran tubuh Dira.
"Itu bajumu," tunjuknya menggunakan jari telunjuk mengarah ke isi lemari yang penuh dengan isi baju barunya.
"Hah? Kok sebanyak itu?" tanya Dira bingung. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal karena kebingungan.
"Iya! Mama yang beli untukmu," tuturnya.
Dira mendekati lemari, melihat seisi lemari. Banyak baju bagus semua didalamnya, meski beberapa baju tidak sesuai keinginannya, tapi bisa ia gunakan untuk di rumah maupun berpergian.
"Oh mungkin ini alasan kenapa dia mengajakku berbelanja waktu itu. Supaya dia tahu ukuranku sepertinya!" batin Dira sambil tersenyum.
"Bang pertanyaanku yang pertama belum dijawab loh?" tambah Dira membalikkan tubuhnya memandang wajah Defan menunggu jawaban.
"Apalagi? Yang mana?" ketus Defan.
"Jangan ketus kalau bicara sama istrinya bang," balas Dira dengan lembut membuat Defan kaku dan kikuk.
"Yang mana?" tegasnya lagi, ia melupakan satu pertanyaan yang sejak awal ditanyakan oleh Dira. Pertanyaan yang sebenarnya membuatnya canggung tak berkutik. Hingga saat ini ia sering membayangkan kemolekan tubuh istri kecilnya itu. Gadis kecil berusia tujuh belas tahun.
"Siapa yang ganti bajuku semalam?" tanya Dira dengan keras.
"Oh! Aku,"
Balasan singkat Defan dengan ekspresi datarnya membuat Dira jengkel. Seketika ia menyilangkan tangannya didepan dadanya. Ia sangat malu, wajahnya merah padam. Rasa kesalnya pada Defan meningkat.
"Apa? Jadi abang udah lihat apa yang ada didalam sini?" tanya Dira ketus dengan posisi tangan masih menyilangkan dadanya.
__ADS_1