
"Kenapa lihat-lihat terus?" sindir Defan setelah menciduk istrinya yang terus memandangi wajah tampannya.
"Ck Siapa yang lihat abang. Pede amat sih," decak Dira sebal melihat raut wajah suaminya yang sok kegantengan itu.
"Lah buktinya tadi kau terus natap wajahku. Apa wajahku kotor?" Defan memegangi wajahnya, mencari sesuatu yang aneh tetapi wajah itu terlihat tak ada masalah sedikitpun.
Dira semakin malas menyahuti suaminya yang kian bawel. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan pria itu, menyandarkan tubuhnya ke jok kursinya. Kepalanya pun ia sandarkan, menengadah keatas. Lalu memilih memejamkan kedua matanya.
"Ihhh ditanya kok malah tidur," omel Defan yang ikut mengarahkan wajahnya kehadap depan, duduk bersandar sembari menatap layar ponselnya dengan fokus.
Sesekali ia pijit pelipisnya karena merasa lelah fokus menatap ponsel. Padahal ia merasa sudah lama membahas materi didalam ponselnya, tetapi mengapa perjalanan itu tak sampai-sampai?
"Pak masih lama ya?" tanya Defan menatap wajah sopir mereka.
"Iya pak, macet jalanan. Tidur saja dulu," kata sopir tersebut.
"Heem yaudah kalau sudah sampai kabari ya pak," pintanya seraya memejamkan kedua matanya yang terasa berat.
Sebelum menyipitkan matanya, ia menoleh pandangannya pada Dira. Gadis itu ternyata sudah masuk ke dunia mimpinya, memakai earphone ditelinganya.
Apa nggak sakit itu telinganya! Musik sekencang itu, padahal melalui earphone tapi sampai kedengaran kesini.
Defan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku wanita itu. Dia melepaskan headset tersebut dari telinga Dira. Lalu mematikan musiknya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, barulah ia duduk bersandar, memejamkan kedua matanya dengan tenang. Hanya membutuhkan lima menit saja, Defan sudah terlelap sempurna. Suara ngoroknya pun mulai muncul.
Defan memang tak susah untuk tidur, dimanapun bisa ia lakukan. Terlebih saat pekerjaannya menumpuk, justru ia sering kekurangan waktu tidurnya.
Oleh karena itu, saat bekerja jika merasa sangat lelah, sewaktu-waktu ia bisa saja tertidur walau hanya menyandarkan kepalanya di kursi kantornya.
Defan tertidur, tak lama Dira malah terbangun. Pikirannya langsung menuntut untuk mencari earphone yang ia kenakan tadi.
Dipegang telinganya, tetapi earphone itu tidak ada.
Aneh, tadikan aku tidur pakai earphone. Kok ngilang?
Earphone tws yang ia gunakan selalu dibawa kemanapun ia pergi. Meski ia tak lagi memakai tasnya, tapi earphone itu selalu ia kantongi didalam saku.
Dimana sih? Apa abang yang simpan? Mana dia tidur lagi! Jangan sampai hilang dong!
Ia bergumam seorang diri. Menyorot kemacetan yang ada didepan mobil mereka.
"Kok nggak sampai-sampai pak," lontar Dira kebingungan, padahal ia merasa sudah tidur sangat lama.
"Macet bu. Sebentar lagi sampai kok," imbuh sopir saat sedang fokus mengatasi kemacetan didepan mereka.
Dira kembali termenung diperjalanannya. Tak berselang lama, mereka tiba ditempat wisata Bedugul. Tepatnya di Pura Ulun Danau Beratan.
__ADS_1
"Bang! Bangun. Sudah sampai nih." Dira menoel lengan suaminya dengan kencang. Hal itu lantas membangunkan Defan dari tidur nyenyaknya.
"Oh udah sampai," ucap Defan seraya mengucek kedua matanya yang masih sembab.
Dia melihat daerah sekitar, banyak wisatawan yang sudah ada disana. Mereka sampai sudah sangat siang, tepatnya jam 12 siang, perjalanan bahkan melebihi dari dua jam karena melalui kemacetan.
"Nih." Defan menyodorkan sesuatu dalam genggamannya. Dira tampak bingung, apa yang diberikan suaminya itu hanya kepalan tangannya saja.
"Apa tuh bang?" tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ambil aja," sahut Defan tak banyak bicara, seraya keluar dari mobil mendekati Dira yang sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Oh sama abang rupanya," tutur Dira menyengir. Ia akhirnya menemukan airphone yang dicarinya tadi.
"Hmmmm." Defan berlalu, mencari pintu masuk ke wisata tersebut.
"Ayo! Buruan," teriak Defan.
Dira langsung bergegas berlari, menghampiri suaminya. Setelah melalui pintu masuk, mereka menyusuri pura unik yang seolah-olah terapung didalam danau.
Dira terpukau dengan pemandangan sekitarnya. Dia belum pernah melihat pemandangan alam yang indah dikawasan tersebut bahkan dengan bangunan Pura yang unik yang berdiri megah disisi Danau Beratan.
"Bang keren banget puranya!" Dira terpukau melihat pura berdiri sangat tinggi ditengah danau.
"Ayo foto bang." Dira menarik suaminya agar posisi mereka berdekatan.
Satu.. Dua... Tiga...
Cekrek Cekrek Cekrek
"Bang, aku lapar," rengek Dira karena perutnya terasa perih.
"Yaudah ayo cari makanan disekitar sini. Nggak mau kesana?" tanyanya menawarkan untuk menaiki perahu menuju pura tersebut.
"Nanti aja. Dira lapar kali," rengeknya lagi bernada manja.
"Yaudah. Ayo keluar lagi," cetus Defan seraya berjalan kembali keluar pura.
Mereka mencari tempat makan yang tak jauh dari pintu masuk pura tersebut. Setelah mengisi perut, keduanya masuk kembali kedalam pura.
Kawasan Bedugul yang sejuk membuat keduanya menikmati suasana disiang itu. Anehnya, suasana sejuk bahkan berkabut padahaal saat itu masih siang hari, meski ada matahari tetapi tidak terlalu terik, pemandangan semakin lengkap dengan adanya taman yang indah, menjadikan Dira dan Defan semakin betah untuk berlama-lama tinggal disana menikmati pemandangannya.
"Bang ayo naik perahu, keliling danau," ajak Dira yang ingin menikmati suasana sejuk diatas danau.
"Iya." Defan menuruti apapun keinginan istri kecilnya.
Defan melakukan pembayaran untuk satu perahu yang mereka berdua naiki. Bahkan supir perahu itu juga menawarkan untuk memoto mereka berdua.
__ADS_1
"Pak, bu, mau foto langsung cetak? Backgroundnya sangat bagusloh," tawar supir perahu itu.
"Boleh." Defan menerima tawaran itu dengan santai.
Mereka berdua mulai bergaya.
Cekrek Cekrek Cekrek
Banyak foto berhasil dijepret oleh supir yang menjadi fotografer dadakan tersebut. Tetapi foto tampak biasa saja, tidak ada yang istimewa. Gaya Defan sangat kaku, sedangkan Dira bergaya sangat heboh.
Tidak ada keakraban bahkan kemesraan layaknya suami istri.
"Yang mesra dong gayanya pak, bu. Sekali lagi kita coba ya!" Supir itu mengarahkan agar Defan dan Dira bergaya lagi.
Defan masih bergaya kikuk. Membuat sang supir perahu sekaligus sebagai fotograper mereka menjadi geram.
"Coba duduknya deketan." Supir itu mengarahkan dengan kedua tangannya.
"Rangkul istrinya," teriak supirnya lagi.
Defan merangkul Dira dengan lembut. Namun ekspresinya masih datar, berwajah dingin.
"Senyum ya pak. Kaya ibunya tuh, senyum manis," perintah supir tersebut.
Defan mengangguk patuh, ia sematkan lengkungan lebar dibibirnya.
Oke! Satu.. Dua.. Tiga..
Jepret Jepret
Beberapa foto yang cukup mesra tersimpan dikamera fotografer tersebut.
"Silahkan dipilih pak, foto yang mana mau diprint." Supir itu memberikan kamera miliknya pada Defan.
Defan mengecek foto tersebut, Dira sesekali ikut melihat fotonya. "Ih ekspresi abang sama semua," keluh Dira berwajah masam.
Kebiasaan Defan tidak pernah berubah, saat berfoto tidak pernah tersenyum. Membuat Dira malas untuk foto bersama suaminya itu.
Sampai pada akhirnya difoto terakhir, foto dimana mereka terlihat begitu mesra. Defan merengkuh Dira, merangkulnya dengan lembut. Senyumnya merekah seperti sangat bahagia berada didekat istrinya.
"Yang itu aja bang! Bagus!" Dira menunjuk satu yang sedang diamati oleh pria itu.
"Heem bagus juga ya," tandas Defan.
"Iya bang, udah itu aja," titah Dira antusias.
Defan mengambalikan kamera itu, disana masih terlihat satu foto terakhir yang mereka pilih.
__ADS_1
"Itu saja pak." Defan tersenyum tipis pada fotografer dadakan itu.
Tak berselang lama, foto itu sudah berhasil ia cetak dengan printer bawaannya. Kemudian memberikannya pada Defan selembar foto. Setelah 15 menit mengitari danau, mereka kembali ke daratan.