
"Udah bangun, Dir?" Defan mendongak, menatap wanitanya penuh haru, lalu mengambil tangan Dira yang ada dipucuk kepalanya.
"Ada apa sih, bang?" ucap Dira, yang masih tak tahu apa yang telah terjadi padanya.
"Perutnya masih sakit?" tanya Defan, masih sangat khawatir.
Dira menggelengkan kepala. Lalu, melirik ke arah perut. "Udah nggak sakit, diapain sama dokter perutku, bang?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Ehmm ... sebenarnya ada sesuatu yang terjadi tapi abang takut kau jadi syok ataupun trauma." Defan tertunduk dengan wajah lesu jika mengingat jabang bayi mereka telah tiada.
"Aku nggak apa-apa kok! Ceritakan aja! Tubuhku juga sehat-sehat aja!" papar Dira, menelisik setiap bagian tubuhnya.
"Jangan kaget kalau abang kasih tahu. Tapi kau udah sehat, kan?" Defan kembali memastikan kondisi sang istri.
Dira mengangguk dengan mantap, wajahnya menampilkan raut wajah yang datar. Menanti apa yang akan diucapkan dari mulut pria itu. "Ayo, bang! Katakanlah!" desak Dira, menarik tangan suaminya, menggenggam dengan erat di atas pangkuan.
"Abang, sedih mau cerita dari mana," ucap Defan, mengulur waktu.
"Ada apa sih, bang?" Dira semakin penasaran pada tingkah sang suami. Seolah-olah enggan mengatakan apa yang hendak keluar dari mulutnya.
Air mata Defan bahkan lolos dari pelupuk mata. Dira yang melihat itu semakin menatap dengan nanar dan rasa curiga.
"Abang, kok malah diam?" cecar Dira, tak sabaran.
Defan mengaitkan jari jemarinya dengan milik Dira. Mengeratkan kaitan tersebut, sebelum menceritakan apa yang baru saja terjadi.
"Maaf!" lirihnya dengan tertunduk.
Dira yang mendengar ucapan Defan dengan racauan yang tidak jelas semakin jengkel. Ia semakin menggerutu agar Defan segera menjelaskan apa yang ingin dikatakan.
"Buruan, bang! Jangan ulur-ulur waktu," sesalnya.
Defan mengeratkan genggaman, lalu ia menceritakan semua yang terjadi. Menatap wajah Dira penuh haru, hingga buliran bening terus terjatuh dari sudut mata.
"Kau keguguran, Dir! Dokter baru saja melakukan kuretase. Mengangkat janin yang seharusnya menjadi anak kita."
"Hah?" Dira terkejut bukan kepalang, bak disambar petir disiang bolong.
Tatapan matanya tak bisa berbohong. Kedua bola mata itu telah berkaca-kaca, air mata pun mulai menghujani pipinya.
__ADS_1
"Abang, serius? Aku hamil?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Iya." Defan merengkuh tubuh sang istri, memeluknya dengan erat.
Dira hanya bersandar pada bahu Defan, tak terasa buliran bening telah membanjiri wajahnya. "Jadi selama ini, aku hamil?" lirihnya dengan suara parau yang semakin terisak.
Ketiga wanita yang masih tertidur, tiba-tiba terbangun. Mereka mendengar suara tangisan yang sahut-menyahut.
Sahabat Dira langsung mendekat, mengelilingi Defan dan Dira. Entah apa yang terjadi, mereka pun penasaran, hanya diam memperhatian dua sejoli yang tengah terisak-isak.
"Ada apa?" bisik Jenny, penasaran dengan apa yang terjadi.
Shinta dan Carol kompak mengangkat bahu, menandakan mereka juga tak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan.
Defan mengendurkan pelukan, ia tahu ketiga teman Dira yang menunggu ikut khawatir. Pria itu memberi ruang pada Dira dan ketiga sahabatnya untuk berbicara.
"Kenapa, Dir?" cecar Jenny, semakin penasaran apa yang ditangisi oleh pasutri itu.
Defan keluar dari ruangan, mencari dokter untuk mempertanyakan kondisi Dira apakah sudah bisa kembali pulang atau tidak.
Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu langsung disambut oleh seorang perawat yang membukakan pintu ruangan.
"Saya ingin bicara dengan dokter yang menangani istri saya tadi." Defan berdiri di ambang batas pintu menunggu jawaban perawat tersebut.
"Silahkan masuk, pak," katanya mempersilahkan setelah mendapat persetujuan dari dokter kandungan yang masih beristirahat sejenak usai melakukan operasi kecil.
"Ada apa, Pak Defan?" tanya Dokter ramah, melebarkan senyuman.
"Silahkan duduk," lanjutnya lagi.
Defan duduk, lalu langsung menanyakan kondisi Dira. "Maaf, Dok, apa istri saya bisa langsung pulang hari ini? Sebenarnya kami hanya berlibur ke sini, bukan warga yang tinggal di daerah ini."
"Oh begitu, kondisi bu dira baik-baik saja tinggal istirahat pemulihan. Bisa langsung pulang kalau fisiknya sudah kuat. Tapi untuk kedepannya, bu dira tidak boleh melakukan pekerjaan berat, ya, pak! Karena baru selesai dioperasi, rahimnya belum pulih," sahut Dokter panjang lebar.
"Baiklah, Dok! Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih sudah merawat istri saya." Defan menunduk, kemudian meninggalkan ruangan dokter kandungan tersebut.
*****
__ADS_1
Di dalam kamar, ketiga wanita remaja telah menangis, meratapi keadaan Dira yang baru saja keguguran.
"Hikss ... hikss ... ternyata aku hamil! Dan selama ini aku nggak tahu," beber Dira menangis tersedu-sedu.
Carol membantu mengusapkan air mata Dira yang semakin banjir. Dua helai tisu ia usapkan perlahan secara bergantian ke pipi kiri dan pipi kanan.
Sementara, Shinta membantu menepuk-nepuk punggung Dira, dengan maksud menenangkan wanita itu.
"Sabar, Dir! Semua yang terjadi pasti ada alasannya. Kau yang tabah, ya! Aku yakin, bayi itu sudah tenang di atas sana!" ujar Jenny, dengan kata-kata bijak cukup meneduhkan.
"Iya, Dir, kami juga baru tahu kau hamil pas dokter periksa keadaanmu. Kami sendiri terkejut dan baru menyadari kenapa kau beberapa hari ini berubah." Carol terus saja mengusapkan tisu ke pipi Dira.
"Jadi aku harus gimana, we? Coba aja aku dengarkan omongan bang defan, semua ini nggak akan terjadi. Aku nggak akan kehilangan anakku!" sesalnya masih terisak-isak.
"Yaudah, nanti tinggal bikin lagi," celetuk Shinta terkekeh untuk mencairkan suasana.
"Hush!" timpal Jenny memperingati.
"Bikinnya susah tahu, Shin," seloroh Dira yang akhirnya ikut terkekeh.
"Eh, kok jadi malah ketawa kelen! Orang lagi sedih malah dibecandain," imbuh Carol.
Suasana yang tadinya sedih, sedikit mencair karena gurauan Shinta. Namun, kesedihan mendalam masih tersirat di wajah Dira.
Impian mertuanya ingin segera menimang cucu sudah sirna akibat kelalaian dan keegoisannya sendiri.
"Gimana ini, we! Apa yang harus kubilang sama mertuaku! Bisa-bisa aku di marahi," ungkap Dira yang kepikiran pada permintaan mertuanya.
Padahal, ia sudah mampu memenuhi permintaan itu. Namun, semua gagal karena yang terjadi hari ini.
******
Di loket pembayaran, Defan menuntaskan pembayaran administrasi perawatan Dira. Ia bersyukur, mendapatkan klinik kecil tetapi dengan penanganan yang cepat dan tepat.
Bahkan, Dira bisa diperbolehkan pulang hari itu juga. Ia sempat pesimis kalau Dira harus mendapatkan perawatan intensif dan diminta harus rawat inap di klinik tersebut.
Beruntungnya, Dokter yang menangani sangat kompeten. Dira bahkan bisa diperbolehkan pulang dengan persyaratan bahwa Dira harus beristiraha full serta tak boleh melakukan pekerjaan berat.
Setelah melakukan pembayaran, Defan langsung kembali ke ruangan. Ia menatap ruangan dengan hawa yang masih menyedihkan.
__ADS_1
Enggan rasanya berlama-lama di sana. Sebab, mengingatkan terus pada kejadian perginya jabang bayi mereka yang masih berusia hampir 4 minggu.
"Ayo, kita pulang!" tandas Defan saat memasuki ruangan.