
"Pokoknya, sekarang kita harus hati-hati. Karena kau belum hamil, jadi bebas kok mau ngapain aja! Asal hati-hati, Yang!" pinta Defan, mengulas senyum lebar di wajah.
"Iya, abang! Aku pasti hati-hati kok! Jadi rencana liburan ke mana saja? Bukan ke tempat yang sudah kita datangin, kan?" tanya Dira, mengalungkan satu tangan di pinggang suaminya seraya menatap keindahan Danau.
"Enggak dong! Banyak tempat wisata yang belum kita kunjungi loh, pokoknya istimewa," jawab Defan, menyambar bibir tipis istrinya, melayangkan satu kecupan hangat.
Dira tampak berpikir, rupanya sang suami sudah memiliki rencana yang matang untuk kali ini. Ia juga bersemangat, apalagi baru kali ini merasakan liburan bersama keluarga besar.
Kapal fery berlabuh, semua penumpang turun. Termasuk keluarga Dira dan Defan. Mereka kembali lagi ke dalam bus, melanjutkan perjalanan menuju vila yang sudah dipesankan oleh Defan.
Perjalanan hanya memakan waktu tempuh selama 20 menit, keluarga besar Tampubolon sudah berada di Desa Tuktuk Siadong. Desa itu terkenal berada di tengah-tengah Danau Toba.
Bahkan, disebut sebagai pulau di atas Danau. Dira dan Defan menyaksikan keindahan danau toba dari sisi vila. Semua keluarga telah berada di vila termewah yang ada di desa itu.
"Semuanya berkumpul!" titah Opung Matua, saat semua sudah berada di dalam vila.
Opung Matua yang sudah memasuki usia senja, tatkala ingin menikmati liburannya. Bahkan,!8- penasaran dengan persiapan liburan kali ini. Sudah memasuki tengah hari, Defan sudah meminta pihak vila agar menyiapkan makanan siang.
"Jadi ke mana kita liburan yang sisa setengah hari ini, Def?" tanya Opung Matua, duduk di ruang tamu yang luas dan megah.
Defan mengeluarkan kertas, di mana sudah terjadwal rencana liburan mereka. Tak hanya itu, Defan juga sudah menyiapkan tour guide untuk liburan kali ini. Namun, tour guide itu hanya merinci tempat-tempat liburan yang belum pernah dikunjungi.
"Bentar, Pung!" Defan ke luar vila, dua orang pemuda dengan rahang yang tegas menampilkan khas wajah orang batak. Saat berbicara pun, terdengar logat khas orang asli daerah sana.
"Siang, pak! Ada yang perlu kami bantu?" tanya seorang pemuda.
"Bang, opung saya menanyakan jadwal tour hari ini. Abang bisa dijelaskan?" pinta Defan, bergegas mengajak dua pemuda masuk ke dalam vila.
Sejak kedatangan keluarga Tampubolon, dua pemuda itu sudah menunggu di vila. Mereka menunggu seluruh keluarga bersiap-siap untuk berlibur.
"Selamat siang, opung, namboru, amangboru!" sapa pemuda tersebut.
__ADS_1
"Kami berdua tour guide yang akan mendampingi keluarga Tampubolon. Hari ini, setelah selesai makan siang, semuanya bisa menikmati liburan bisa bermain kano, jetski, water bikes, banana boat, memancing ataupun sekedar berenang di danau," lanjut pemuda itu.
"Oh, jadi kita bebas mau menikmati permainan apapun?" tanya Opung Matua.
"Iya, Opung! Kami sudah sewakan semua alat permainan yang tersedia. Keluarga tinggal memainkan saja. Turun dari vila ini, kita sudah bisa menikmati berbagai aktivitas tersebut."
"Okelah! Kalau buat saya yang sudah tua ini, apa pantas main jetski?" canda Opung Matua.
"Bisa saja, pung! Kalau opung masih kuat mengarungi danau, tenaga juga kuat untuk melawan ombak saat menaiki jetski itu, kenapa tidak? Tapi saya sarankan opung sebaiknya memancing," kilah pemuda itu.
"Haha! Saya mengerti, lagi pula saya tidak berniat untuk menaiki jetski. Siapkanlah pemancingan untuk saya," tandas Opung Matua.
Tak berselang lama, pelayan vila sudah berbondong-bondong membawa prasmanan makanan untuk disajikan pada makan siang. Berbagai makanan khas orang batak, terlihat menggiurkan.
Seluruh keluarga besar menikmati sajian makanan yang dihidangkan oleh pihak vila. "Paten kau, ya, Def! Semua kau siapkan dengan matang. Makanan enak, vila yang nyaman, pakai tour guide pula!" puji Opung Matua.
"Iyalah, pung! Demi kenyamanan keluarga."
Melva juga menikmati santapan siang itu. Sudah lama rasanya tidak menyentuh makanan khas orang batak.
Satu minggu yang lalu ...
Di Bandara, Desman bersama anak dan menantunya menunggu kepulangan Melva dari Jakarta. Pesawat yang dinaiki Melva akan landing lima menit lagi.
Beruntung, ia hanya membawa satu koper kecil yang disimpan di dalam kabin. Oleh karena itu, Melva tak perlu menunggu lama untuk barang-barang bawaan yang harus di simpan di bagasi pesawat.
Siang itu, di hari minggu, Melva sudah turun dari pesawat. Ia bahkan tak sabar bertemu suami dan anaknya.
Kebetulan, Dira dan Defan menginap hingga hari minggu, lantaran Desman memberikan kabar kalau sang mama pulang dari Jakarta, alhasil mereka ikut untuk menjemput kepulangan wanita bertubuh gempal itu.
"Mam!!" teriak Defan, saat menunggu di ruang tunggu kedatangan penumpang domestik.
__ADS_1
Defan melambaikan tangan, saat wajah Melva terlihat begitu sumringah melihat keluarganya telah menunggu.
"Apa kabar? Rindu kali mama!" ujar Melva, sembari memeluk anaknya, kemudian menepuk punggung Defan dengan lembut.
"Baik, mam! Betah mama di sana? Udah jadi orang Jakarte lah mama!" ledek Defan, saat melonggarkan pelukan erat sang mama.
"Ah, kau! Cuma dua minggu di sana mama! Bagaimana bisa jadi orang Jakarta!" tampik Melva, lalu meraih tubuh ramping menantunya dan memeluk dengan erat.
"Udah sehat kau kan, Dir?" tanya Melva, memastikan keadaan menantunya setelah ditinggalkan dua minggu terakhir.
"Udah, Inang! Berkat Inang yang bantu aku masa pemulihan waktu itu," jawab Dira, mengelus punggung mertuanya, lalu pelukan itu pun melonggar setelah mendengar celetukan lelaki tua yang sempat terabaikan.
"Kok jadi bapak yang dilupakan, ma!" sindir Desman, bergeleng-geleng kepala.
Semua yang ada di sana pun malah menertawainya.
"Haha! Peluk dulu bapak itu, mam! Udah rindu kali dia!" timpal Defan, menatap lekat sang bapak yang berekepresi datar.
Melva menghampiri suaminya. Memeluk dan memberikan kecupan di pipi. Walau sudah tua, keduanya tak malu mempertontonkan kemesraan di depan anak dan menantunya.
Keluarga itu pun langsung pulang ke rumah. Diantarkan oleh sopir pribadi Desman. Hanya Niar yang tidak ikut menjemput, sebab ia memiliki banyak pekerjaan yang dihandel di rumah.
Flashback Off!
Selama seminggu terakhir, Melva hanya menikmati makanan biasa. Dengan rasa lelah di tubuh, ia tak mau menyempatkan diri untuk memasak makanan yang telah lama diidamkan.
Baru kali ini, saat berlibur, banyak tersaji makanan khas batak yang nikmat dan menggiurkan.
"Ini baru makanan orang batak!" gumam Melva.
Waktu makan siang berakhir, seluruh keluarga diajak keluar. Tanpa mengendarai bus, semua pergi ke tepi danau.
__ADS_1
Sudah ada jetski yang terparkir, bahkan ada juga banana boat untuk dinikmati dengan seluruh keluarga. Area pemancingan juga tersendiri, tidak terlalu jauh dari arena permainan tersebut.
Opung Matua bersama para anak lelaki serta hela-helanya memilih untuk memancing. Sedangkan para pahopu opung matua menikmati wahana banana boat, water bikes, dan lainnya.