
Dosen memberikan setumpuk bahan untuk persiapan kuis. Alhasil, Carol pun harus menguasai dan menghafalkan pelajaran yang telah diberikan. Penjelasan dosen pun selesai lantaran jadwal kuliah telah berakhir.
****
Shinta baru saja keluar kelas. Ia menemui gebetan karena sudah janjian untuk hangout bersama. Saat di perpus beberapa pekan lalu, ia sempat bertukar nomor ponsel.
Hari ini, mereka janjian untuk pergi bersama. Diki Mahendra bertemu dengan Shinta di perparkiran kampus. Bahkan, Shinta terkejut melihat mobil mewah yang dikendarai oleh Diki, semakin yakin rasanya Shinta untuk menjadikan Diki seorang pacar.
"Jadi kita mau ke mana? tanya Sinta, duduk di jok mobil, menyandarkan kepala dengan santai, lalu menghirup udara khas dari dalam mobil mewah itu, mobil jeep keluaran terbaru.
"Ngemall mau nggak?" tanya Diki, menatap lekat wajah Shinta, sebelum ia menyalakan mesin mobil.
Shinta pun mengangguk, tak lama mereka pergi meninggalkan kampus karena merasa penat dengan kesibukan kuliah.
*****
Pekerjaan makalah kelompok, Dira dan teman-temannya sudah rampung, memang berkat mereka bertiga yang saling bahu-membahu membuat pekerjaan semakin cepat selesai.
Semua bahan telah dikumpulkan menjadi satu di dalam sebuah flash disk untuk di print di fotokopian depan kampus.
"Woi, siapa yang mau ngeprint ini?" tanya Dira, menatap kedua temannya secara bergantian.
"Aku aja lah," jawab Angga cepat.
"Ah, nggak percaya aku," seloroh Jenny, sedikit mencebikkan bibirnya karena tak yakin dengan pria itu.
"Bagaimana kalau kita berdua, sekalian pulang bareng," tawar Dira pada sahabatnya.
"Ih ... kelen ini masa nggak percaya sama aku," keluh Angga.
"Tenang kau, Angga. Nanti dua hari lagi kita kumpulkan makalah ini. Pokoknya ini udah selesai semua jadi tinggal dibentuk dalam makalah aja, paling kata abang-abang printnya besok udah bisa diambil," kata Dira menjelaskan.
Kesepakatan pun terjadi, akhirnya Dira, Angga dan Jenny membubarkan diri. Jenny bersama Dira bergegas pergi ke fotokopian terdekat, sedangkan Angga, tiba-tiba ponselnya bergetar. Nampak sebuah pesan baru saja masuk ke dalam ponsel itu.
__ADS_1
Dosen Maudy
Jalan Polonia xxx
Pesan itu tertanda dari seorang dosen cantik yang kini sudah menjadi pacarnya, rasa deg-degan merebak di dada Angga. Baru kali ini ia akan mendatangi rumah seorang perempuan. Bahkan ia merasa takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Kenapa sih, Bu Maudy ini terlalu agresif apa karena dia sudah terlalu dewasa? Dibandingkan dengan umurku yang masih muda ini," gumam Angga seraya berjalan gontai menuju perpakiran.
Dengan berat hati, Angga melangkahkan kakinya ke parkiran kampus, ia masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang ada di sana di sana. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, lalu mengarahkan mobil itu sesuai dengan alamat yang ditujukan pada pesan di ponselnya.
***
"Ada apa, Bang?" ujar Carol, saat berada di belakang Jefri yang tengah menunggu kehadirannya tepat di depan halaman kampus.
"Eh, udah datang, sini duduk dulu," titah Jefri, menepuk kursi di samping.
Jefri mengajak dan memberikan tempat untuk Carol, sebuah tempat duduk yang disediakan oleh pihak kampus. Carol hanya memicingkan mata, menatap penuh curiga pada pria itu.
Namun, degup jantung yang berpacu cepat membuatnya merasa aneh. Apalagi saat pria itu mendekatinya bahkan menyosor dirinya. Jefri mencondongkan tubuh padahal ia ingin membersihkan sebuah daun yang berada di pucuk kepala Carol.
Namun, Jefri tetap mendekat, lalu menghempaskan daun yang ada di kepala Carol. Tak lama, ia juga mengacak-acak rambut Carol, lalu tersenyum manis pada perempuan itu.
"Aku cuma mau membersihkan daun ini aja kok," ungkap Jefri.
"Ingat waktu Abang cuman 10 menit, saya mau pulang!" tukas Carol dengan bahasa formal.
Jefri tampak merogoh tas, mengambilkan sesuatu yang ada di dalam sana. Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah, kotak itu biasanya digunakan untuk menyimpan perhiasan.
Kemudian, Jefri menyodorkan kotak itu pada Carol, perempuan itu mengerutkan kening lantaran tak mengerti apa tujuan seniornya memberikan kotak perhiasan itu.
Menurutnya, pasti ada sesuatu yang berharga di dalam sana. "Apa ini?" tanya Carol, menunjuk kotak yang masih dipegang oleh Jefri.
"Bukalah," ucap Jefri.
__ADS_1
Niatan Jefri untuk mengajak Carol berpacaran tidak seperti pikiran wanita-wanita yang akan meneriakkan kata cinta di depan seluruh mahasiswa lainnya.
Menurut Jefri, tindakan seperti itu justru hanya membuat Carol malu di depan umum, hubungannya malah akan berakhir tragis yakni ditolak mentah-mentah oleh juniornya.
Kali ini, Jefri melakukan secara elegan, ia mengungkapkan perasaan hanya saat berdua saja dengan Carol walaupun tempatnya cuma sekedar di depan kampus.
Carol mengambil sebuah kotak itu, lalu membukanya. Betapa terkejutnya Carol, saat mendapati sebuah cincin dengan permata yang indah dan berkilau.
Cincin itu sangat cantik, membuat Carol sangat ingin memakainya. "Ini untuk apa?" imbuh Carol seraya menghentakkan tangannya dengan cincin yang digenggam.
"Jadilah pacarku!" ujar Jefri to the point.
"Hah .... yang benar saja? Kan saya sudah bilang sejak awal kalau saya ini ingin fokus kuliah, tidak ingin berpacaran!" kecam Carol, menolak dengan tegas.
"Aku janji tidak akan mengganggu waktu kuliahmu, yang terpenting kita berdekatan dulu dan mengenal satu sama lain," seloroh Jefri, menatap penuh harap.
Carol seakan-akan luluh dengan perkataan pria itu. Lantas dia ingin mencoba berhubungan dengan seorang laki-laki seperti Jefri. Tidak hanya tampan tetapi Jefri juga memiliki sifat yang baik dan perhatian.
"Aku nggak bisa menerima ini!" ujar Carol, menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau terus menolakku?" kata Jefri dengan lirih.
"Aku takut berpacaran," ungkap Carol.
Jefri mengulurkan tangan, lalu meraih tangan Carol, menggenggam dengan lembut dan menatap lekat wanita itu. Satu tangan lainnya, meremat dagu Carol dengan lembut, agar perempuan itu bisa menatapnya.
"Cobalah!" bisik Jefri, dengan tatapan binar yang sangat menggoda.
Saat semua itu dilakukan pada Carol, perempuan itu merasakan degupan jantung yang kencang. Jantungnya berpacu sangat cepat, hingga ia khawatir kalau suara itu sampai ke gendang telinga Jefri.
Tak hanya itu, wajah Carol pun memerah saat ia mendapatkan perlakuan manis seperti ini. Dengan cepat, Carol menghempaskan tangan Jefri yang berada di dagu.
"A–aku nggak bisa," kata Carol terbata-bata.
__ADS_1
"Tolonglah, sekali Ini saja. Kau adalah perempuan pertama yang aku sukai," ungkap Jefri pasrah.
Niat Carol ingin beranjak dari tempat itu pun ia urungkan saat mendengar kata-kata Jefri. Ternyata, mereka sama-sama belum pernah merasakan pacaran. Dan impian Carol adalah ingin mendapatkan laki-laki yang sama sepertinya, belum pernah mengecap rasa pacaran. Sepertinya, berpacaran tidak semenakutkan yang dipikirkan oleh Carol.