
"Kau sendiri kayak mana di sana? Udah ada rupanya jodohmu makanya kau tanya-tanya soal jodohku di sini," timpal Niar, tak mau kalah.
"Nggak ada, belum kupikirkan itu semua, yang kupikirkan sekarang bagaimana caranya bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen di sini," jawab Anggi seraya menggaruk-garuk tengkuknya.
"Ah, masa adikku yang secantik ini belum ada yang mau menempel sama dia," ledek Niar.
Andai saja keduanya berada di jarak yang dekat, tentu saja Niar sudah menoyor kepala Anggi dengan keras, sebab dia sangat suka menjahili adik kesayangannyanitu. Apalagi, Anggi sering bertingkah menyebalkaj hingga membantah kata-katanya. Oleh karena itu Niar sangat tak suka pada adik bungsunya jika suka melawan dan membantah apapun yang diucapkannya. Namun, jika ada orang yang berani menyakiti adik perempuannya, dia akan maju paling depan.
Setelah menyelesaikan perdebatan dengan Niar, kini ponsel itu sudah berada di tangan Melva, kemudian ia pun menyerahkan pada Dira agar memberikan kesempatan kepada Anggi dan Dira untuk berbincang-bincang sejenak.
"Halo, Eda gimana kabarnya? Terus kuliahnya bagaimana?" sosor Anggi dengan berbagai pertanyaan.
"Sehat, Eda kuliahku biasa saja, bagaimana denganmu?" sahut Dira.
"Sehat juga, Eda tapi, ya gitulah terlalu banyak tugas yang menumpuk di sini. Bedalah kayaknya sama kuliah di sana, gimana kuliah, Eda enak-enak aja kan?" seloroh Anggi.
"Sama aja kok, aku juga merasa pusing dengan kuliahku. Entahlah apa aku mampu bisa sampai wisuda atau enggak." Dira sedikit merendah diri pada iparnya.
"Jangan gitu lah, Eda sia-sia lah udah belajar capek-capek malah nggak lulus pula," hardik Anggi.
"Iya, makanya kita harus sama-sama semangat biar bisa sama-sama lulus," papar Dira.
"Iya, jadi gimana udah ada calon ponakan untuk kami?" kata Anggi, iseng-iseng bertanya.
Dira sempat terdiam tapi ia langsung menjawab dengan jujur dan apa adanya. Tak ada satupun yang ditutup-tutupin apalagi saat ini ia tengah berbicara dengan iparnya sendiri bahkan disaksikan oleh seluruh keluarga.
"Belum ada loh, Eda aku juga masih menunggu. Kapan kira-kira dikasih," sela Dira seraya tampak berpikir.
"Ya, sabar sabarlahh, Eda makanya harus usaha terus biar cepat dikasih," kekeh Anggi, merasa sok tahu.
__ADS_1
"Yang penting doakan sajalah dari sana biar nanti kalau Eda pulang dari sana tiba-tiba sudah punya ponakan," imbuh Dira, semakin frustasi terus didesak tentang anak.
"Iya dong, harus! amasa selama beberapa waktu aku di sini, masih belum punya ponakan juga," ucap Anggi dengan terus terang.
Dira bak tersambar petir mendengar perkataan iparnya, ada rasa getir yang menggeluti hati tapi ia tetap menyembunyikan perasaan tersebut. Entah kenapa kata-kata dari Anggi membuatnya merasa tersakiti. Padahal adik suaminya hanya berucap asal.
"Yaudahlah, Eda sehat-sehat di sana, kalau gitu bicara lagi aja sama Inang." Dira menyudahi pembicaraan itu, lalu ia memberikan ponsel pada mertuanya setelah Anggi menjawab perkataannya.
"Ya, Eda dah sampai ketemu kalau aku nanti pulang, ya!" jawab Anggi, saat mengulum senyum lebar dikedua sudut bibir.
Ponsel yang berada di tangan Dira, baru saja ingin diserahkan kepada mertuanya tetapi sudah direbut oleh Defan karena ia ingin juga menyapa adik bungsunya tersebut.
"Oi, Anggi udah ada calonmu di sana?" kata Defan, sontak membuat Anggi terkejut saat kemunculan wajah Abangnya yang secara tiba-tiba terlihat di layar ponsel.
"Halah, Abang ini bikin aku terkejut aja!" gerutu Anggi, lalu terkekeh sendiri melihat kelakuan Abangnya yang spontan membuatnya tertawa.
"Kok malah ketawa kau, aku nanya malah dijawab dengan cekikikanmu kayak begu," canda Defan, dengan mata memicing.
"Nggak ada lho, Bang mana sempat aku cari pacar di sini," ungkap Anggi.
"Nggak sempat pula makanya kau jangan terlalu sibuk belajar jadi lupa kau untuk pacaran," sosor Defan, meledek adik kecilnya itu.
"Itulah yang kudahulukan karena susah kali kulihat di sini masa perkuliahan, pokoknya terlalu memusingkan," desah Anggi, membuang nafas kasar yang terasa berat.
"Karena sok sibuk aja kau, makanya serasa memusingkan, apalagi terlalu maniak belajar alhasil semua mata kuliah haruskah kuasai," racau Defan, karena ia mengetahui sifat adik bungsunya itu terlalu sangat suka belajar.
"Itu kan juga karena turunan dari bapak juga, kayak Abang dulu kam kayak gitu, waktu kuliah buktinya Abang nggak pernah pacaran!" serang Anggi tak mau kalah.
"Udahlah, pokoknya nanti kalau kau libur pulang ke sini, bawa calon mau, ya!" desak Defan sembari memberikan ponsel itu dengan cepat ke tangan sang mama.
__ADS_1
Namun, Melva malah memberikan ponsel itu pada suaminya karena Anggi sangat enggan untuk berbicara langsung dengan sang Bapak. Entah kenapa dia merasa bingung topik apa yang akan dibicarakan pada bapaknya tersebut.
"Lah kok malah muka Bapak pula yang muncul," batin Anggi, sebenarnya ia tak ingin mengobrol lama dengan sang Bapak.
"Halo, boru jadi kayak mana kata Abangmu tadi, memang benar sudah ada jodohmu di sana?" cecar Dean, karena sudah kehabisan pembicaraan, ia mengembalikan topik tersebut .
"Nggak ada lho, Pak aku masih single dan masih fokus kuliah. Doakan aja biar cepat tuntas dulu kuliahku, baru nanti aku akan sibuk mencari jodoh. Lagian masih ada kak Niar kok yang belum nikah, ngapain aku sibuk mencari jodoh," sesal Anggi panjang lebar.
"Kalau si Niar janganlah kau harapkan, udah tahu kau dia kayak mana orangnya!" jawab Desman apa adanya.
"Kalian lucu, kak Niar lebih tua dariku kenapa malah aku yang lebih dicecar terus!" protes Anggi, menatap sengit sang bapak walau hanya melalui ponsel.
Desman hanya terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepala, lalu ia menyerahkan ponsel itu lagi pada istrinya. Hingga akhirnya Melva melanjutkan pembicaraannya pada putri bungsunya.
"Iya, Boru makanya kau carilah pendampingmu di sana, nanti kalau liburan semester pulang kau ke sini, bawa dia biar nggak rewel kali muncung orang ini," kekeh Melva, membuat semua orang terdiam kaku.
"Iya, nanti kucari pun yang banyak biar nggak repot kali kalian mengurus itu," racau Anggi dengan kesal.
"Oh, ya! Ada acara apa kalian tuh di sana kok kumpul-kumpul malam ini?" tanya Anggi penasaran.
"Nggak ada acara apa-apa kok, cuma kami mau kumpul aja lagian udah lama kami nggak makan-makan bersama seperti ini," sahut Melva.
"Oh ... enaklah kalian makan enak terus kalau aku di sini terus-terusan makan mie instan!"
"Eh, makanya kau jangan terlalu pelit sama dirimu sendiri, beli makanan enak di sana dan habiskan uang bapakmu," celetuk Niar setengah berteriak.
"Hahaha ... ada-ada aja kakak ini, uang kuliah di sini aja terlalu mahal setengah mampus, apalagi mau makan enak makin bikin Bapak mampus kali di sana," kekeg Anggi.
"Boru, nggak usah kau pikirkan soal uang, kalau mau makan enak makan aja di sana. Habiskan uang, kalau kurang minta lagi!" jawab Desman ikut juga berteriak karena ia terus saja mendengarkan obrolan anak dan istrinya.
__ADS_1