Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pelayanan maksimal


__ADS_3

Disclaimer!


Ada adegan dewasa 21+


Yang tidak suka, skip saja ya!!


Defan menatap penuh kecurigaan lantaran dira tiba-tiba mematikan sambungan telepon. Namun, tatapannya dibalas dengan tatapan hangat serta senyuman lebar, membuat Defan seketika bangkit gairahnya.


"Kenapa senyum-senyum penuh godaan gitu?" desah Defan, mengelus rambut istrinya yang sedikit menutupi wajah, lalu menguraikan ke belakang agar tak lagi menutupi.


"Nggak apa-apa, kok abang belum mandi?" tanya Dira, mangalungkan sebuah tangannya pada sisi perut sang suami.


"Nungguin kau!" ucap Defan dengan suara bariton nan menggoda.


Dira hanya menatap tanpa membalas lagi ucapan tersebut. Ia menatap kedua manik suaminya, lalu memeluk tubuhnya dengan erat.


"Mau mandi bareng nggak?" tawar Defan, menaik turunkan alisnya dengan wajah yang gembira.


"Nggak ah! Malas, capek, pengen tidur!" tandas Dira, menutup wajahnya di dada sang suami.


"Ih ... jorok!" gerutu Defan, mendorong tubuh istrinya, sontak eratan tubuh itu mengendur.


"Biarin aja sih!" sahut Dira cuek.


Defan beranjak dari kasur, tiba-tiba saja ia menggendong tubuh istrinya dengan posisi tubuh Dira yang menyamping. Dira terkejut, ia mengalungkan kedua tangan ke leher suaminya agar tidak terjatuh.


"Mau ngapain sih, Bang?" Dira terus memberontak, ia tahu niat suaminya adalah memandikan tubuhnya yang apek karena berada di luar seharian.


"Mau mandiin istriku!" jawab Defan, berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam kamar mandi.


Tiba di kamar mandi, Defan menurunkan Dira tepat di dalam ruang shower, Defan membantu istrinya melepaskan semua baju yang menempel di tubuh sang istri. Perlahan-lahan, ia melucuti semua baju, celana hingga **********.


"Abang, aku bisa sendiri kok!" gerutu Dira, menghentak-hentakkan kakinya lantaran kesal dipaksa mandi bersama.


"Bisa sendiri tapi disuruh mandi nggak mau!" hardik Defan, lalu mengerlingkan mata penuh godaan memberi kode pada istrinya.


"Apaan?" tanya Dira polos, tak mengerti maksud suaminya.


"Gantian dong!" pinta Defan, dengan tatapan penuh binar.


Dira yang tak mengerti maksud suaminya hanya terdiam tanpa berbalut kain sehelai pun. Ia hanya menatap suaminya yang masih lengkap menggunakan setelan kemeja.

__ADS_1


"Gantian apanya?" kata Dira, mendekatkan tubuhnya ke hadapan tubuh suaminya.


"Gantian bukain baju aku!" kekeh Defan malu-malu.


"Ih ... apaan sih, udah kayak anak kecil!" sahut Dira, menggelitik perut suaminya.


"Abang, serius!" Defan menatap dengan datar, lalu membentangkan kedua tangannya agar Dira melepaskan kemeja dari tubuh gagahnya.


"Beneran mau dilepasin bajunya? Abang, sengaja, menggoda-goda aku!" ledek Dira, mulai membuka kancing kemeja satu-persatu.


"Iya, dong! Udah lama enggak begituan!" ucap Defan frontal dan to the point.


"Ih, baru kemarin kok pas liburan. Beberapa hari yang lalu, ya?" Dira pura-pura mengingat moment malam keintimann keduanya saat liburan bersama keluarga besar.


"Ah, itu kan udah lama! Sekarang belum lagi," timpal Defan, mencuri satu ciuman di bibir Dira, saat perempuan itu menghempaskan kemeja yang ada ditubuh suaminya.


Dada bidang Defan terekspose dengan sempurna, belum lagi perutnya yang seperti roti sobek membuat Dira seketika larut dalam pemandangan yang memabukkan itu.


"Kok diam?" tanya Defan, menundukkan sedikit kepalanya, menatap pucuk kepala Dira yang terdiam melihat tubuhnya yang sangat erotis.


Glek ...


Dira menelan shalivanya tanpa sadar. Bahkan, ia mulai tergiur dengan pemandangan dihadapannya.


Tangannya dengan lihai membuka sleting dan kancing pengait celana bahan suaminya. Dalam waktu singkat, ia menghempaskan celana itu dengan mendorongnya ke bawah.


Defan hanya mengangkat kaki untuk melepaskan celana yang berada dilingkaran kakinya. Kemudian, Defan juga meminta agar Dira membukakan dalaman yang masih menutupi area kepunyaannya yang sudah sangat menonjol.


"Satu lagi!" ucap Defan, senyum-senyum sendiri melihat tingkah Dira yang kebingungan sekaligus menahan hasratnya.


"Abang, kan bisa sendiri!" sungut Dira, merasa frustasi dengan tubuh gagah yang terekspose dengan sempurna hingga membuat gairahnya kian meningkat.


"Nggak bisa!" tandas Defan cuek, lalu menyondongkan senjatanya ke depan sehingga terlihat lebih menonjol.


"Aish!" decak Dira, melepaskan celana itu perlahan-lahan.


Saat tubuhnya hampir terjongkok membuka dalaman suaminya, sesuatu yang menonjol sudah berada di depan matanya tanpa penutup apapun.


"Sial!" umpat Dira dalam hati.


Ia tak lagi bisa menahan pemandangan cuma-cuma yang berada di depan pelupuk mata. Dengan cepat, ia menghempaskan dalaman suaminya hingga tak tahu terlempar ke mana.

__ADS_1


"Mau coba sesuatu yang asik?" tawar Defan, dengan senyum devil yang mengintai.


"Apa?" tanya Dira, sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ini!" Defan menunjuk ke arah bawah, sesuatu yang menonjol itu sudah sangat sempurna membesar.


"Maksudnya?" Dira semakin tak mengerti maksud suaminya.


"Cobain deh, abang juga penasaran! Pake itu!" Defan sekarang menunjuk bibir istrinya, dengan tatapan yang nakal.


"Hah? Maksudnya ini dimasukin ke situ?" tanya Dira, merasa terkejut dengan permintaan suaminya seraya menunjuk bibir dan benda yang menonjol milik suaminya.


Defan pun mengangguk dengan kepercayaan diri yang penuh. Sementara Dira, membayangkan saja sudah membuatnya mual.


"Enggak ah, jijik!" timpal Dira, membuat Defan seketika kecewa.


"Kok jijik sih, punya suami sendiri juga. Coba aja, kalau nggak kuat, yaudah distop!" papar Defan, masih mencoba membujuk rayu istrinya untuk melakukan oralseks.


"Ih, nggak mau! Membayangkan saja mual! Huek ..." rintih Dira, memajukan mulutnya seolah-olah hendak memuntahkan sesuatu.


"Kita coba aja, penasaran doang kok, rasanya bagaimana!" bujuk Defan lagi tanpa henti, sebelum keinginannya terpenuhi.


"Iya, tapi bentar aja, ya!" imbuh Dira, melakukan sesuai permintaan suaminya.


Baru sekali sesapan, Dira bahkan sudah tak sanggup melakukannya. Milik suaminya sangat besar dan panjang, hingga tak muat masuk ke mulut yang kecil itu.


"Nggak mau lagi!" desah Dira, setelah mulutnya terlepas dari belenggu benda panjang yang tumpul itu.


Padahal, Defan baru menikmati sesapan istrinya dalam sekali dorongan. Benda itu terasa basah dan nikmat.


"Yaudah, gaya lain deh!" tandas Defan, mencoba imajinasi **** yang memutar di kepalanya.


Dira hanya pasrah dan manut dengan ucapan suaminya. "Ada-ada saja suamiku!" batin Dira, seraya mengekori suaminya yang berdiri di atas shower.


Air hangat dinyalakan, buliran air sudah membasahi kepala Defan. Dira pun menghampiri, memeluk suaminya yang asik bermain air di bawah pancuran shower tersebut.


"Jadi, gimana?" tutur Dira, karena suaminya malah sibuk memandikan tubuhnya.


Defan tiba-tiba menyerang Dira yang berdiri di depannya. Ia memasukkan benda asing itu dalam sekali hentakkan dengan merundukkan kaki dan tubuhnya.


Malam penyatuan berlangsung dibawah guyuran shower yang terus mengaliri air. Bahkan, Defan meminta agar Dira membelakangi tubuhnya saat permainan pertama tak kunjung memuaskan hawa nafsunya.

__ADS_1


Dira pun menurut saja demi memberikan pelayanan maksimal pada suaminya. Defan kembali memasukkan benda miliknya yang sudah mengeras lantaran tak kuat lagi menahan gairahnya.


__ADS_2