Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
lapangan kosong


__ADS_3

Angga tahu kalau dosennya sengaja melepaskan satu kancing kemeja agar wanita itu bisa menggodanya. Saat Angga melirik ke bagian dada itu, memang sempat membuat matanya mendelik tiada henti, matanya sangat terpukau dengan belahan dada yang sangat montok hingga bentuk dada yang sangat bulat.


Tanpa banyak bicara, Angga melajukan mobil sesuai arah apartemen Maudy. Ia tak mau mengajak dosennya itu ke kondominium miliknya, sebab itu akan memberi kesempatan pada Maudy untuk melakukan hal-hal yang sangat tidak menyenangkan pada diri Angga.


"Kita mau ke mana?" cecar Maudy, karena ia melihat jalan yang sering dilintasi.


Sebenarnya ia ingin menuju rumah milik Angga apalagi melihat mobil mewah Angga yang dikendarai, hingga berkali-kali terpampang jelas diparkiran kampus. Matanya seakan tak berhenti berkedip saat dirinya mengetahui kalau Angga adalah anak orang kaya.


"Ya, mau ke apartemen ibu lah. Emang mau ke mana lagi?" kilah Angga sembari melirik dosen cantiknya.


"Kenapa nggak ke rumahmu aja sih?" sosor Maudy, menatap dengan mata berbinar.


"Kan sudah saya bilang kalau rumah saya itu di permukiman padat, tidak mungkin ibu datang ke rumah saya, lalu dilihat oleh tetangga yang lain. Bisa-bisa kita kena grebek massa, kemudian diseret untuk berkeliling kampung, Ih ... ngeri, apa Ibu mau?" sahut Angga menakut-nakuti.


"Masa sih!" balas Maudy, tetap saja tak percaya dengan omongan kekasihnya.


Maudy sangat penasaran dengan tempat tinggal Angga yang sebenarnya. Ia mengira kalau tempat tinggal itu adalah komplek perumahan mahal dan mewah sama seperti mobil mobil miliknya saat ini.


"Serius, Bu! Nggak mungkin lah kita ke rumah saya, di sana rumahnya kecil-kecil dan padat, udah gitu kumuh pula," tambah Angga mendramatisir.


"Mana mungkin kau tinggal di rumah yang kumuh tapi mobilmu semewah ini," ketus Maudy, dengan menyilangkan kedua tangan di dada.


"Saya serius, Bu ini bukan mobil saya tapi mobil juragan saya yang boleh dipinjamkan untuk berangkat ke kampus," kilah Angga, dengan berbagai inisiatif untuk alasan yang dibuat pada sang dosen.


"Kau ini pandai meracau, mana mungkin seorang pesuruh bisa berkuliah di Jurusan Kedokteran yang biayanya sangat mahal dan fantastis!" tampik Maudy, semakin kesal sehingga Angga pun menoleh dan menginjakkan rem dengan cepat.


Untung saja, Maudy sudah dilengkapi pengaman dengan seat belt sehingga kepalanya hanya maju ke depan sedangkan tubuhnya disanggah oleh belt saat mendapat serangan rem dadakan.


"Ibu jangan aneh-aneh deh, nggak baik kalau melakukan hal aneh-aneh apalagi mau mencoba menerobos ke rumah saya!" Angga memperingati wanita itu agar tidak terlalu agresif sebagai seorang perempuan.

__ADS_1


"Maksudnya, saya hanya ingin tahu tempat tinggalmu yang sebenarnya. Kan kita sekarang sudah resmi berpacaran. Apa susahnya sih memberitahukan pada pacar sendiri," sesal Maudy.


****


Sore itu, Defan menjemput mertuanya di depan pabrik. Ia sengaja mengajak untuk berangkat bersama dengan mengendarai mobil. Oleh karena itu, Defan meminta pada mertuanya untuk tidak membawa motor dan tetap memarkirkan kendaraan di pabrik tersebut.


Setelah itu, keduanya pun pergi menuju perkantoran milik preman yang diperintah oleh Defan untuk mencari seorang penipu.


Sebelumnya, saat menunggu di depan pabrik, Defan menghubungi istrinya, memastikan kalau perempuan itu pulang dengan kondisi yang baik.


"Halo, Yang kau sudah di mana?" tanya Defan saat sambungan telepon itu sudah diterima.


"Halo, Abang aku lagi di jalan naik ojek online." Dira berteriak agar suaranya terdengar oleh sang suami.


Usaha Dira tidak sia-sia berbicara dengan sekuat tenaga karena Defan bisa mendengar suara Dira dengan jelas. Untuk itu, ia pun memberi kabar bahwa akan segera berangkat menemui penipu keluarga istrinya.


***


Sebelumnya, Dira dan Jenny sepakat untuk menaiki ojek online, keduanya pun berpisah tepat di depan kampus. Dira sengaja memesankan dua ojek online sekaligus untuk Jenny dan dirinya sehingga Jenny tidak perlu memanggil supir ojek online yang lain.


Sebenarnya, Dira ingin mengajak Jenny ke rumah karena sang suami masih sibuk di luar kantor, tetapi ia merasa tidak enak kalau Jenny terus-terusan harus menuruti keinginannya. Oleh karena itu, dia pun terpaksa pulang sendiri ke rumah.


Setelah sampai di rumah, Dira langsung membersihkan diri karena sudah seharian sangat lelah kuliah. Ia pun menghempaskan tubuh di atas ranjang setelah memakai piyama terbaik miliknya.


Saat itu, Dira bersantai sejenak sembari menunggu kedatangan suaminya yang masih sibuk pergi bersama sang bapak menemui seorang penipu. Dira masih merasakan harap-harap cemas dan khawatir kalau uang mereka tidak bisa kembali.


Dengan rasa khawatir, rasanya Dira ingin menghubungi suaminya untuk menanyakan bagaimana hasil pertemuan dengan penipu tersebut serta hasil akhir tentang uang yang berhasil dirampas dari keluarganya.


Namun, ia mengurungkan niatnya karena khawatir akan mengganggu pertemuan yang sangat dinanti-nanti oleh sang bapak.

__ADS_1


****


Drt ... drt ...


"Halo, Pak lagi di mana?" tanya Rosma saat suaminya menghubungi.


Saat itu, sudah mulai petang tetapi ia tidak menemukan wajah suaminya yang pulang ke rumah. Bahkan Sahat tidak mengabari kalau ternyata harus pergi bersama menantunya untuk menemui penipu yang sedang mereka cari.


"Halo, Mak aku lagi di jalan ini sama Hela kita, mau menemui penipu itu," jelas Sahat dengan lantang.


Sebab, dia merasa yakin kalau uang itu akan kembali ke tangannya.


"Oh ... jadi udah ketemu penipu itu?" sambung Rosma, penuh harap sekaligus merasa senang setelah mendengar kabar baik dari suaminya.


"Iya, sudah ketemu dia, hela yang bantu, dalam satu hari langsung diseret dia ke sini," balas Sahat.


"Hati-hati Bapak di jalan, semoga aja uang kita bisa kembali," harap Rosma, lalu memutus sambungan telepon tersebut.


****


Defan memarkirkan mobil dengan sembarangan karena lapangan itu tampak luas. Ternyata Rudy juga sudah menyambutnya di depan perkantoran yang hanya terlihat lapangan kosong.


Rudy tahu bahwa Defan tidak akan bisa menyusuri gedung yang ada di bawah tanah karena sebenarnya itu hanya terlihat seperti lapangan kosong. Hanya terlihat sebuah pintu kecil untuk mengarah ke anak tangga dari dalam tanah.


"Hai, Pak Defan lama kita nggak berjumpa," sapa Rudy, dengan merangkul pundak Defan seperti keakraban seorang teman yang lama baru bertemu.


"Iya, Abang udah lama kita nggak jumpa, terakhir pas saya menangani kasus Abang lah," papar Deran, seraya berjalan dalam rangkulan Rudy.


"Oh, ya kenalin, Bang ini mertua saya!" Defan menunjuk mertuanya yang berada disisi sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2