Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
si caper


__ADS_3

Dulu, saat Dira masih tinggal di rumah mertuanya, ia memang sering melihat Anggi sangat sibuk belajar. Bahkan, bisa dikatakan kalau perempuan itu sangat maniak belajar demi mendapatkan nilai tertinggi.


Tak hanya Anggi, Defan dan Niar memiliki sifat yang sama. Mereka sangat gila untuk mendapatkan nilai tertinggi. Tak heran, jika keluarga Defan memang dicap sebagai satu keluarga yang dianugerahi kepintaran yang luar biasa.


Bahkan, cita-cita mereka semua sama. Ingin mengikuti jejak sang bapak, sebagai pengacara terkenal dengan penghasilan terbesar.


***


"Jadi dia kuliah jurusan apa?" cecar Carol, penasaran dengan pilihan Anggi.


"Jurusannya sama kayak si Shinta."


"Oh, hukum? Loh, jadi semua keluarganya kuliah hukum dong?" Carol semakin serius membicarakan tentang keluarga suami Dira, obrolan itu cukup menarik baginya.


Dira hanya mengangguk, lalu mengedarkan pandangan sekitar. Dilihatnya, orang-orang yang sedari tadi yang melintas mulai menghilang.


Yang ada di kantin kampus kebanyakan justru mahasiswa lama yang sudah memakai almamater kampus.


"Eh, lihat tuh, maba-maba yang sibuk di kantin udah bepergian semua. Apa sudah dipanggil kumpul ke lapangan?" ucap Dira, mengedarkan pandangan sekali lagi, diekori oleh ketiga sahabatnya.


"Iya, ya! Kalau kita telat, bisa dikasih hukuman nanti. Ayo kita ke lapangan juga!" imbuh Shinta, beruntung polesan make-up menornya sudah selesai.


Keempat wanita itu langsung berdiri, melangkah gontai menuju lapangan kampus. Banyak maba yang sudah berbaris, sesuai dengan fakultasnya masing-masing.


Dira dan Jenny mengambil posisi, berlari cepat untuk bergabung ke jurusan kedokteran. Kemudian, Shinta juga berlari, langsung nyelip ke barisan pada anak-anak jurusan hukum. Terakhir, Carol yang berjalan santai justru tak takut berdiri dibarisan paling terakhir. Ia cuek saja ikut bergabung dengan anak-anak di jurusan arsitektur.


Masing-masing senior di setiap jurusan mulai mengambil alih. Senior di jurusan kedokteran, sudah memisahkan maba dari kumpulan maba yang ada di lapangan. Mereka meminta maba berjalan ke belakang kampus.


Sementara, maba di jurusan hukum, mereka tetap bertahan di tengah lapangan. Sama halnya dengan maba jurusan arsitektur, mereka hanya menyingkir ke pinggiran lapangan agar tidak terlalu panas.


Pengenalan kampus dimulai, para senior mulai memperkenalkan diri masing-masing. Salah satu senior Carol—Jefri sudah menargetkan maba yang berdiri paling belakang.


"Hey, itu maba, yang berdiri paling belakang, maju ke depan!" teriak Jefri, menunjuk ke arah Carol.

__ADS_1


Carol hanya celingak-celinguk, menatap teman sebelah karena ia tak mengira dirinyalah yang ditargetkan oleh sang senior.


"Kau! Iya, kau! Ngapain kau malah lirik kanan-kiri," tandas Jefri.


Carol sontak menunjuk dirinya sendiri, lalu Jefri mengangguk. Alhasil, mau tidak mau, ia segera berjalan ke depan, maba lain hanya menatap tajam ke arahnya seraya deg-degan, kala menunggu giliran mereka menjadi santapan para senior.


"Kenapa, bang?" ucap Carol, polos saat berhadapan dengan Jefri.


"Kau tadi telat, kan?" cecar Jefri, menyeringai saat menatap wajah polos itu.


"Nggak telat kok bang," bantah Carol, seraya memutar telapak tangan berkali-kali.


"Ah, masa? Udah kupantau kau dari tadi! Memangnya kau nggak dengar pengumuman? Kumpul dilapangan selama 5 menit ditunggu para senior. Yang telat dikasih hukuman," tegurnya lagi.


"Enggak! Aku nggak dengar, bang!" Carol tertunduk, semakin yakin kalau Jefri menargetkan orang yang tepat dengan pengakuannya.


*****


Selain itu, dalam dua minggu, Defan berhasil memenangkan dua kasus, diantaranya kasus KDRT dan kasus pencemaran nama baik melalui UU ITE.


Hari ini, Defan sibuk fokus mengurus kasus korupsi yang ditangani. Ia mendampingi klien yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) melakukan tindak pidana korupsi.


Seorang pejabat kelas bawah, tertangkap basah melakukan transaksi diluar kegiatannya sebagai aparatur sipil negara. Defan yang mewakilin kliennya, terlalu dipusingkan dengan bukti milyaran uang yang berhasil disita oleh KPK.


Namun, pejabat tersebut hanya minta agar diringankan hukumannya. Terutama untuk masa penjara, dia tidak ingin terlalu lama. Sebab, transaksi itu dia lakukan atas perintah atasannya bukan kemauan sendiri.


"Jun, mana keterangan tersangka kasus korupsi ini?" tanya Defan, setelah memeriksa berkas yang ia miliki, hasil keterangan tersangka ternyata tidak menyatu dalam berkas.


"Oh ... iya pak, sebentar saya ambilkan!" Juni bergegas mencari laci yang ada di ruang kerja mereka. Beberapa lembaran kertas itu sengaja dipisahkan.


"Ini, pak!" Juni memberikan lembaran kertas yang ia pegang, Defan langsung mengambilnya.


Setelah membaca keterangan tersangka, ia mengerti mengapa kasus itu memberatkan kliennya. Sebab, tidak ada bukti langsung mengarah kepada atasan yang menyuruh kliennya untuk melakukan tindakan tersebut.

__ADS_1


Huftt


Defan membuang nafas kasar, sembari menyandarkan kepala ke kursi kerjanya. Namun, satu cara untuk membongkar praktek kasus korupsi itu adalah membeberkan secara langsung siapa saja yang terlibat di dalamnya.


*****


Dira dan Jenny mengikuti ospek yang tidak terlalu seru. Anak-anak kedokteran terlalu formal, hanya melakukan kegiatan perkenalan satu-persatu, berkeliling pada pengenalan ruang-ruang kampus, dan hanya melakukan kuis biasa.


Bahkan, tidak ada yang istimewa bagi mereka. Kegiatan itu terlalu monoton untuk maba seperti Jenny dan Dira yang suka mencari-cari keributan dan lainnya.


"Jen, kok nggak seru ospek kita! Nggak kayak anak-anak lain. Kau lihat sana, mereka adakan game sama seniornya. Terus hukumannya juga lucu-lucu." Dira menunjuk ke Fakultas Hukum, di mana Shinta berada.


"Entahlah! Karena kita anak kedokteran, mungkin memang kegiatannya nggak seru. Gitu-gitu aja, soalnya kita lebih ke sifatnya ahli dibidang pembelajaran!" ucap Jenny, sok bijak.


"Akh, elah!! Lebay kali kau, sekali-sekali keluar dari zona itulah! Senior kita pun kaku kali, udah kayak suamiku pas pertama kali kami menikah. Sikapnya kaku," ledek Dira, memperaktekkan wajah datar dan dingin.


"Haha! Ada-ada aja kau! Ya, kau proteslah langsung sama senior kita."


Dira dan Jenny terganggu karena salah satu senior memperhatikan mereka. "Heh, kelen dua ngapain berisik di situ? Nggak lihat yang lain tenang?" tegur Senior tersebut.


"Hehe, maaf, bang!" jawab Jenny, dengan cepat.


*****


Disisi lain, Shinta dengan hebohnya sudah akrab dengan maba satu jurusannya. Bahkan, ia berhasil mencari perhatian pada senior-senior yang mengospek mereka hari ini.


Setiap senior meminta perwakilan maba, ia selalu maju satu langkah lebih dulu sehingga sudah dikenal oleh para seniornya.


Bahkan, disuruh bernyanyi, berjalan jongkok, serta mengungkapkan rasa suka pada seorang senior pun mau saja dilakukan oleh Shinta. Tanpa malu-malu, ia menyatakan rasa suka pada seniornya yang tertampan di fakultas itu.


Semua maba berteriak, meledek diri Shinta yang terlalu terang-terangan.


"Woooo! Dasar si caper alias suka cari perhatian," umpat seorang maba yang tidak suka dengan kelakuan Shinta.

__ADS_1


__ADS_2