Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Teman SD


__ADS_3

"Nggaklah, boru! Mama udah bosan tinggal di sini! Mau pulang aja mama, biarlah kau belajar sendiri, ingat bersosialisasi, perbanyak pergaulan asal jangan pergaulan bebas!" timpal Melva, mencium kening anak siapudan tersebut.


"Iya, ma! Tenang sajalah, mama! Sering-sering telepon aku biar nggak kesepian aku di sini!" jelas Anggi, lalu merengkuh tubuh sang mama, keduanya berpelukan erat, dan melepaskan kembali pelukan itu.


*****


Defan dan Dira sudah menghabiskan dessert yang berada di atas meja. Diakhiri dengan menghabiskan sampanye yang masih tersisa. Sampanye di dalam botol benar-benar tandas, Dira pelaku utama yang menghabiskan minuman alkohol tersebut.


Tubuh Dira tak lagi seimbang, kepalanya pusing bukan kepalang. Defan hanya meneguk dua gelas sampanye, selebihnh Dira yang menghabiskan.


Karena keduanya sudah meneguk alkohol, Defan memanggil supir pengganti. Ia tak mau celaka karena keegoisan yang memaksakan diri untuk menyetir. Lebih baik memastikan keselamatan, terlebih masa depan masih menantinya.


"Yang, bangun!" titah Defan, saat berdiri menghampiri sang istri, ingin mengajak pulang perempuan itu, sebab supir pengganti sudah tiba di lobi hotel.


Dira yang bertengger di atas meja, matanya terasa berat, begitu juga dengan kepalanya seperti tertimpa batu besar untuk kali pertama. Dengan suara parau, ia menjawab perkataan Defan tanpa membuka mata sama sekali.


"Hmmm." Dira hanya berdehem, lalu kembali pulas di atas meja.


"Yang, buruan! Sudah malam loh, istirahat di rumah!" ucap Defan, lalu mengangkat tubuh istrinya, merangkul untuk menopang tubuh Dira.


"Apa sih, bang!" racau Dira, saat tak sadarkan diri, masih memejamkan mata sangat erat.


Defan hanya memboyong tubuh istrinya. Ia tahu kalau Dira tak akan bisa sepenuhnya sadar. Dia sudah teler karena menghabiskan sampanye lebih dari setengah botol.


"Malam, pak, saya supir pengganti yang bapak minta. Disediakan pihak hotel," imbuh seorang pria, menengadahkan tangan agar kunci mobil segera diserahkan, sejak dari kejauhan, pria itu sudah menatap Defan dengan sengit.


Defan percaya, sebab pria itu mengenakan seragam hotel. Pria itu sangat rapih, berdandan seperti pelayan pada umumnya. Oleh karena itu, Defan menyerahkan kunci mobil, lalu masuk setelah memindahkan tubuh istrinya duduk di kursi penumpang.


Ia pun ikut duduk bersama Dira di belakang. Sementara, sang supir mulai menyalakan mesin, melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Sayangnya, lantaran Defan juga terserang pusing, ia tak mengenali wajah sopir tersebut. Matanya tak fokus menatap wajah sopir, hanya mengamati penampilannya semata.


Sang sopir melirik melalui broadway mirror, memandang sepasang suami istri dengan tajam. Laki-laki itu ternyata teman semasa ditingkat SD.


Ia merasa Defan terlalu sombong sehingga pura-pura tak mengenalnya. Oleh karena itu, sang sopir sengaja melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.


Dira yang sudah tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada sang suami. Saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Defan seketika sadar. Tubuhnya terombang-ambing ke kanan dan ke kiri.


"Pak, pelan-pelan saja!" tegur Defan, seraya membulatkan bola mata, menatap wajah sang supir melalui pantulan broadway mirror.


Ia mengucek bola mata, memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Pria itu, teman SD, yang dulunya sangat akrab dengannya.


Entah mengapa, Defan malah lalai bahkan tak mengenali sahabat karibnya yang telah lama kehilangan kontak.


Laju mobil masih sangat kencang, Defan menegur sekali lagi. Namun, kali ini ia mengubah nama panggilan tersebut agar temannya itu terkejut.


"Bro Gabriel! Lama nggak jumpa, pelankan laju mobilnya!" protes Defan lagi, Gabriel mengerem secara mendadak.


"****, akhirnya kau sadar juga, Def!" ucap Gabriel, lalu menepuk pundak sahabatnya.


"Kau ke mana aja? Hilang kontak, tidak punya media sosial, sekarang malah jadi seorang supir?" lontar Defan, mencubit pundak teman SD, yang dulu sangat akrab dengannya.


"Ah, kimbeklah kau! Jadi karena aku seorang supir, kau pura-pura nggak mengenaliku, ya?" canda Gabriel, lalu mereka berdua terkekeh bersama.


"Bukan itu, aku agak mabuk tadi. Kenalkan, perempuan yang di samping adalah istriku tapi dia lagi nggak sadar, mabuk karena pertama kali minum alkohol," beber Defan, menekankan kata-katanya.


"Oh, jadi gadis ini istrimu. Lucu ya, kau suka anak kecil, macam pedopil," ledek Gabriel, menyamankan duduknya, kembali menghadap depan agar bisa melanjutkan perjalanan.


"Haha! Bisa aja kau bro!" tampik Defan, tertawa kecil.

__ADS_1


Mereka berdua memang kerap saling meledek. Apapun gurauan keduanya, hanya dianggap sebagai candaan. Meski dengan mengucap kata-kata menyakitkan atau kasar sekalipun, keduanya sudah terbiasa untuk gurauan tersebut.


"Jadi ke mana tujuan kita nih, bro?" tanya Gabriel, melirik melalui broadway mirror. Sebenarnya ia sudah mengetahui melalui hotel di mana tempat ia bekerja tapi Gabriel memastikan kembali.


Defan menjawab, tujuan mereka langsung ke kondominium satu-satunya yang ada di pusat kota medan. Hanya perlu menempuh selama 10 menit, Gabriel akan selesai mengantarkan pasangan suami istri tersebut.


Tak berselang lama, Gabriel memarkirkan mobil mewah audi milik Defan di lantai basment. Ia sangat takjub melihat kesuksesan Defan, bisa tinggal di tempat mewah seperti ini.


"Kau kerja apa, Def?" tanya Gabriel, saat keluar dari dalam mobil, Defan memapah istrinya yang sudah tak sadarkan diri. Seketika, Gabriel pun mencuri-curi pandang, ingin melihat wajah istri sahabatnya.


"Ehm ... aku pengacara, mainlah ke kantorku!" Defan merogoh dompet di saku belakang, memberikan sebuah kartu nama untuk Gabriel.


"Waw! Hebat kau, ya! Lama nggak dengar kabarmu, udah jadi orang sukses aja! Pura-pura lupa pula samaku!" cerocos Gabriel, mengibaskan kartu nama yang diberikan di depan wajah Defan.


"Kau yang nggak tahu kemana lari! Susah menemukanmu! Ilang-ilangan aja kerjamu kayak waktu SD!" hardik Defan, menepuk pundak Gabriel dengan keras.


Mereka berdua tertawa bersama, mengenang masa indah semasa kecil. Walaupun terpisah beberapa tahun lamanya, untung saja Defan dan Gabriel masih saling mengenali wajah sahabatnya masing-masing.


"Dulu aku ada masalah, bro! Kawin lari sama anak orang tapi sekarang pernikahan kami sudah direstui kok!" balas Gabriel, menjelaskan permasalahannya mengapa bisa menghilang dari pergumulan alumni tersebut.


"Oalaaah! Jadi dulu kau tinggal di mana?" sahut Defan, mengerjapkan mata yang mulai terasa berat.


"Hmm ... di kampunglah! Panjang ceritanya, bro! Kapan-kapanlah kita kumpul, aku masih jam kerja, harus balik ke hotel lagi," ungkap Gabriel, tersenyum lebar.


Defan pun mengangguk, ia juga merasa lelah setelah membopong tubuh istrinya sejak keluar dari mobil.


"Perlu bantuan?" tawar Gabriel, lantaran melihat sahabatnya kesusahan mengangkat tubuh sang istri.


"Enggak! Kau pulang saja!" usir Defan, tersenyum dengan ramah.

__ADS_1


"Baiklah! Kapan-kapan aku akan menghubungimu, bro! Sampai jumpa!" Gabriel keluar dari basement, langsung menemukan lobi di depan, meninggalkan Defan dan sang istri menuju lift.


Mereka berdua saling melambai, tak menyangka Defan bisa bertemu teman seangkatan di tingkat SD.


__ADS_2