Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Telur dadar


__ADS_3

Dalam sekali hentakan penyatuan sudah berlangsung. Keduanya menikmati malam intim yang sempurna dengan aliran air yang terus mengguyur tubuh.


"Shittt!" gumam Defan, saat puncak kenikmatan itu akan memuncar memenuhi rahim Dira.


Dira tak henti-henti merintih dengan desahaan saat menikmati penyatuan tersebut. Hingga akhirnya, keduanya merasakan puncak kenikmatan bersama-sama.


Usai melakukan hubungan suami istri yang intim di dalam kamar mandi, kaki keduanya bergetar serasa tak kuat menahan pijakan. Entah berapa lama mereka menikmati momen kebersamaan di dalam kamar mandi.


Keduanya keluar dengan tubuh yang melemas tetapi merasakan kepuasan tersendiri. Apalagi Defan, ia tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil mendapatkan jatah malam ini.


Usai mandi, mereka merebahkan diri di atas ranjang. Namun Dira terserang rasa lapar yang luar biasa. Sebab, mereka makan saat sore tadi, alhasil ia mengatakan kepada suaminya kalau ingin makan malam bersama.


"Abang, aku lapar sekali. Apakah ada yang bisa dimakan? Emangnya, Abang juga tidak merasakan rasa lapar sepertiku?" tanya Dira, saat ia menatap lekat wajah suaminya yang merasa kelelahan.


Defan pun membalas tatapan wajahnya, seketika ia memikirkan apa yang harus dimakan untuk menghilangkan rasa lapar istrinya saat ini.


"Yang, sepertinya ada mie instan di dalam lemari. Apa kau mau makan mie instan?"


Dira menggelengkan kepala, ia tidak nafsu untuk memakan mie instan. Namun, yang ada di dalam pikirannya justru ia ingin merasakan masakan suaminya untuk pertama kali, masakan yang istimewa selain mie instan.


"Apa Abang bisa memasak? Ingin sekali rasanya memakan masakan yang tidak biasa!" tandas Dira.


"Abang, cuma bisa masak mie instan, Yang! Nggak bisa masak yang lain tapi ada satu masakan yang pernah diajarkan Mama padaku. Apa kau ingin mencobanya?" Defan memeluk tubuh istrinya sehingga mengikis jarak diantara mereka berdua.


"Boleh aja, Bang tapi apa yang bisa Abang masak?" Dira sembari memikirkan perkataan itu, larut dalam pikirannya sendiri.


"Hmm ... sepertinya aku belum bisa mengungkapkannya, masih menjadi rahasia! Aku ke dapur dulu ya," pamit Defan, melepaskan pelukan, berlalu pergi.


"Bang, tunggu aku ikut!" Dira pun segera berlari mengejar kepergian suaminya setelah beranjak dari atas ranjang.

__ADS_1


BRUK!


Tubuh Dira terjatuh saat bertabrakan dengan punggung suaminya karena berlari begitu kencang. Alhasil dia pun merasakan sakit di kedua lututnya.


"Aw!" pekik Dira kesakitan, memegangi kedua lututnya.


"Kenapa, Yang? Ada yang sakit? Lagian kau tiba-tiba menabrakku!" sesal Defan membantu istrinya segera bangkit saat terduduk di atas lantai.


"Untung aja nggak luka, Bang! Kakiku cuma nyeri dikit dan memar karena kepentok lantai, jadi Abang mau masak apa nih? aku udah kelaparan sekali?" ujar Dira, mengelus lututnya yang memerah.


"Ada deh, rahasia! Tunggu aja di kursi makan, duduk sana," titah Defan saat mendekati area tempat memasak, kemudian ia beralih ke kulkas untuk mengambil beberapa butir telur:


Dira semakin penasaran sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh suaminya, masakan apa yang menjadi keahlian pria itu hingga ia merahasiakan masakannya.


Oleh karena itu, Dira menunggu dengan sabar, ia melirik sekali-sekali pria yang sangat telaten tengah mengocok telur di dalam mangkok.


"Udah matang belum, bang? aku sangat tidak sabar, aku ingin segera memakannya! Penasaran makanan apa sih itu, cepatlah!" tandas Dira seraya mengedarkan pandangan, netranya tak lepas dari punggung pria itu.


Sreng ... Sreng ...


Bunyi suara wajan terus saja memenuhi ruangan, ia memainkan sutil dengan keahlian tangannya. Satu telur dadar yang besar dan tebal siap disajikan, Defan segera membawa ke meja makan, lalu ia mengambilkan dua piring nasi untuk menemani makan malam mereka berdua.


"Wow," kata Dira, memuji masakan suaminya yang terlihat menggiurkan.


Telur dadar yang mengkilat dengan warna kecoklatan membuat air liurnya seketika tumpah riah. Oleh karena itu, ia segera menyambar sebuah piring yang sudah dibawakan oleh suaminya berisi nasi hangat.


"Makanlah," ucap Defan, menyuruh istrinya segera menyantap masakan khas yang diajarkan oleh sang mama.


Telur dadar itu sering sekali dibuat karena ia sangat menyukai telur dadar buatan mamanya. Sejak duduk di bangku SMA, Defan minta diajarkan memasak telur dadar agar saat mamanya tidak berada di rumah, ia bisa memasak sendiri dan menyantapnya selagi hangat.

__ADS_1


Dengan lahap, Dira menyantap makanan yang dibuatkan khusus oleh suaminya. Telor dadar itu terasa nikmat di lidah, bahkan perutnya seketika kenyang setelah menghabiskan setengah bagian telor dadar tersebut.


"Mantap, Bang!" Dira mengacungkan kedua jempolnya, memuji kehebatan suaminya yang berhasil memuaskan serta mengenyangkan perutnya saat lapar menyerang di malam hari.


Defan hanya terkekeh kecil, ia juga menyantap makanan yang tersisa. Sejak awal dia membiarkan Dira untuk melahap makanan yang ia buat sendiri khusus untuk istrinya meskipun sebenarnya ingin bersama-sama menyantap makanan itu.


Tetapi, ia ingin melihat respon Dira setelah menghabiskan sebagian telur dadar yang tersaji. Ternyata usahanya tidak sia-sia, masakannya sangat disukai. Ia tersenyum penuh bangga karena sudah memberikan makanan terbaik yang sangat nikmat malam ini.


"Makasih, bang," ucap Dira, setelah merasa perutnya membuncit.


Dira menyandarkan tubuhnya di kursi makan, lalu tiba-tiba menyondongkan tubuhnya, kemudian mencium bibir suaminya seketika meski pria itu tengah mengunyah makanannya. Pria itu pun hanya tersenyum menikmati ungkapan rasa terima kasih istrinya.


"Dari mana sih, Abang belajar masak telur dadar seenak itu?" Dira menatap lekat suaminya.


"Aku belajar dari mama, Yang! Mantap kan masakannya? Gimana, kau pasti ketagihan, kan?" cecar Defan, tersenyum penuh dengan rasa bangga.


Dira pun menjawab dengan anggukan kecil seraya tersenyum dengan lebar. Ia tak menyangka bisa menikmati masakan hasil dari tangan suaminya sendiri.


"Telur dadar yang enak," ungkap Dira.


Usai menyantap makan malam keduanya langsung kembali lagi masuk ke dalam kamar. Dira dan Defan menghempaskan tubuh di atas ranjang.


Mereka saling menatap dengan tidur menyamping. "Yang, besok ada berapa jadwal mata kuliah?" tanya Defan, mencari-cari topik pembahasan untuk malam ini.


Namun, ucapan suaminya justru mengingatkan di Dira untuk hal lain. Ia teringat tentang tugas kelompok yang belum sempat dikerjakan bersama kedua temannya yaitu Jenny dan Angga.


Belum ada kesepakatan diantara mereka kapan akan mengerjakan tugas kelompok itu. "Astaga, aku baru ingat kalau ada tugas yang belum kami kerjakan." Dira menepuk jidatnya dengan spontan tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Tugas apa?" tanya Defan, Dira pun terdiam sejenak.

__ADS_1


Namun, mulutnya segera menjawab dengan cepat. "Bang, aku ada tugas kelompok sama tetangga yang tinggal di atas rumah kita. Dikondominium ini, si Angga, dia satu kelas lagi denganku di fakultas kedokteran. Apa boleh jika kamu mengerjakan di rumahnya? Karena kami sudah sepakat untuk kerja kelompok di rumah dia," ungkap Dira, meminta izin pada suaminya.


__ADS_2