
Terlebih, sudah beberapa tahun ia tak mendengar kabar Gabriel. Sebenarnya, Defan ingin berbincang lebih lama tetapi situasi tidak memungkinkan.
Defan menghempaskan tubuh Dira di atas ranjang setelah tiba di dalam rumah. Nafasnya terengah-engah setelah membopong tubuh sang istri. Tubuh ramping itu tidak terlalu berat tetapi membuatnya sedikit mengeluarkan tenaga hingga berkeringat.
Dira tertidur pulas mengenakan pakaian dress. Sementara Defan masuk ke kamar mandi, membasuh wajah seraya bercermin. Setelah mengganti baju, Defan membantu menghapus make-up yang masih terpoles di wajah Dira serta menggantikan dress dengan piyama.
****
Dira baru terbangun, kepalanya terasa berat dan memusingkan. Saat melihat jam di dinding, Dira terpekik lantaran jam masuk kampus kelewatan 10 menit.
"Sial." Dira berlari sekencang-kencangnya ke dalam kamar mandi, segera membilas wajah dan badan, dalam beberapa menit ia sudah keluar dari kamar mandi.
Sementara, suaminya masih tertidur pulas. Sialnya lagi, hari ini Dira mendapat hukuman di ospek terakhir, jika ia terlambat maka hukuman semakin berat.
Sembari memakai seragam putih hitam, Dira berteriak-teriak membangunkan suaminya. "Abang, bangun! Udah terlambat aku," gerutu Dira tergesa-gesa mempersiapkan penampilannya.
Defan membuka mata yang terasa berat. Ia melebarkan pelupuk mata, netranya menatap jam di dinding. Defan langsung terjungkit saat melihat jam jadwal keberangkatan istrinya kuliah sudah terlewat.
"Yang, cepat! nggak ada waktu lagi, abang 2 menit sudah cukup mandinya!" imbuh Defan, terenggal-enggal berlari menuju kamar mandi.
Dalam 10 menit, Defan dan Dira sudah berada di dalam mobil. Pria itu bergegas melajukan mobil, rasa pusing menghilang karena sejak terbangun sudah tergesa-gesa untuk berangkat.
"Bang, maaf! Tadi malam kayaknya aku mabuk!" ucap Dira, mengerucutkan bibir seksi itu.
Defan hanya menoleh, lalu tersenyum. Ia ingin mencium bibir yang manyun tersebut. "Bukan kayaknya, sayang! Tapi memang mabuk! Apa kau ingat apa yang terjadi semalam?" racau Defan, mulai menggoda sang istri, berniat ingin menjahili.
Saat-saat genting seperti sekarang, Defan malah mengajak istrinya bercanda. Ia tak mau istrinya khawatir meski sudah terlambat masuk di hari ospek terakhir.
Mendengar perkataan sang suami, Dira hanya menggeleng seraya menunduk. Namun, ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam, meski tidak berhasil juga.
"Apa yang terjadi bang? Apa aku meracau? Atau bertingkah aneh seperti di film-film?" cecar Dira, menatap lekat sang suami tapi hanya dijawab gelengan oleh suaminya.
Setelah terdiam sejenak, Defan lalu mengucapkan kata-kata yang berada di luar nalar Dira. "Apa kau nggak terasa kemarin? Tubuhmu aku sentuh?" ujar Defan, mengerlingkan mata.
__ADS_1
"Hah? Masa sih? Aku nggak merasa ada apa-apa! Lagian aku masih nifas loh," tampik Dira, sembari mengingat-ingat kejadian tadi malam.
*****
Anggi berlari-lari menuju fakultas hukum. Tanpa sengaja, ia menabrak seorang laki-laki yang membawa tumpukan berkas yang dibentuk menjadi laporan. Pria muda, berkacamata, sisiran rambut yang rapi tapi mengesankan kegantengan yang luar biasa.
Walaupun berkacamata, pria itu tidak nampak culun, malah semakin keren di mata perempuan. "Maaf, pak!" ucap Anggi, menunduk berkali-kali meminta maaf.
Namun, karena ia terburu-buru hendak masuk ke ruang jurusan maba hukum, akhirnya Anggi berlari tanpa pamit pada pria itu. Pria itu sedikit mendelik ketika melihat kecantikan dan kepolosan Anggi.
Bahkan, Anggi tak menyadari kalau pria yang ia tabrak adalah seorang dosen di kampus. Pria bernama—Jaki Ananda, padahal sangat populer di mata mahasiswanya.
Dosen killer tampan, sering memberikan tumpukan tugas. Hari ini, ia baru saja membawa tugas-tugas anak jurusan hukum satu tingkat diatas Anggi.
Huhh ...
Dasar bocah tidak punya sopan santun!
Jaki pun penasaran, bahkan ingin mencoba mencari tahu. Namun, pikirannya buyar seketika saat seluruh laporan sudah berada di tumpukan tangannya.
Ia kembali fokus untuk memberi penilaian pada laporan yang diserahkan pagi itu. Jaki meminta mahasiswa mengumpulkan laporan saat jam kelasnya tiba.
Setelah menerima laporan, ia menitipkan tugas lagi kepada seluruh mahasiswa. Kemudian, berlalu pergi dengan alasan ingin member nilai laporan.
Tok .. Tok ...
Anggi mengetok pintu kelas, di mana seluruh siswa tengah mendengarkan penjelasan para senior. Seketika, senior yang membimbing maba di jurusan Anggi menoleh semua, menatap dengan datar.
"Kenapa terlambat?" cecar seorang senior.
"Maaf, kak, tadi di jalan macet. Angkot yang saya tumpangi juga mogok," jawabnya dengan nafas terengah-engah.
"Yaudah, buruan masuk!" Karena alasan yang diberikan Anggi masuk akal, senior pun tak memberikan hukuman pada Anggi.
__ADS_1
30 menit yang lalu ...
Anggi terjebak macet di jalanan ibu kota. Padahal ia sudah berangkat sejak pagi tapi kemacetan di sana tak bisa dihindari. Setelah melalui kemacetan yang panjang, kurang dari 1 meter, angkot yang Anggi tumpangi mogok.
Dirinya menunggu hingga 10 menit berlalu tapi tidak ada angkot yang melintas. Bahkan, taksi saja pun tidak lewat.
"Pak, kenapa jalan ini sepi?" protes Anggi, mengedarkan pandangan mencari angkutan umum yang dapat ditumpangi menuju kampus.
"Iya, neng. Sebenarnya ini jalan pintas, jarang ada angkot atau taksi yang lewat. Jalanannya juga sepi! Bentar, ya, neng! Saya coba benerin angkotnya dulu." Supir angkot dibantu oleh penumpang lain, mencoba memperbaiki mesin yang memanas.
Setelah 20 menit berlalu, mesin angkot berhasil nyala. Seluruh penumpang kembali masuk ke dalam angkot. Kemudian diantarkan oleh sang sopir hingga ke tujuan masing-masing.
****
Defan hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Dira. Tak terasa, mereka juga telah tiba di depan kampus. Dira buru-buru mencium tangan suaminya dan berpamitan.
Gerbang kampus masih terbuka lebar, mahasiswa banyak yang berlalu lalang. Namun, Dira berlari-lari menyusuri lorong serta ruangan.
Saat di depan pintu jurusan hukum, Dira menarik dan mengeluarkan nafas. Menormalkan hembusan nafas tersebut. Setelah tenang, ia mengetuk pintu sehingga langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga seniornya.
"Kenapa terlambat?" cecar Gamal, menatap sengit wajah Dira.
Seluruh maba ikut menatap, termasuk Jenny dan Angga. Jenny tampak mengasihani sahabatnya, sementara Angga hanya tersenyum tipis saat Dira dicecar pertanyaan oleh senior.
Dira masih memikirkan jawaban yang tepat. Tidak mungkin ia mengaku dengan jujur kalau bangun kesiangan karena meminum alkohol apalagi makan malam dengan suaminya. Bisa-bisa harinya semakin sial dan diberikan hukuman yang sangat berat.
Entah terhubung atau tidak, jawaban Dira sama seperti Anggi. Dira beralibi bahwa angkutan umum yang ia tumpangi mogok.
"Maaf, bang, angkot yang saya tumpangi mogok!" Dira melirik Jenny yang tampak syok mendengar alasan Dira.
Bahkan, sahabatnya itu berkomat-kamit sendiri merutukki alasan yang tak masuk akal.
"Ah, yang benar kau! Jangan bohong!" timpal Gamal, menatap dengan sinis.
__ADS_1