Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pemandangan


__ADS_3

"Apa sih! Nggak jelas kali," gerutu Defan.


Ia bergegas mengambil baju tidur di dalam lemari. Mengambil sebuah piyama untuk dikenakan malam ini. Setelah memakainya dengan sempurna, ia duduk di tepian ranjang.


Tak sabar rasanya Defan menantikan malam yang sangat mendebarkan. Malam dimana penantian selama hampir dua tahun terakhir. Hasrat sebagai seorang suami yang terus ia tahan.


Glek!


Defan menelan shaliva saat seorang wanita berdiri dibalik pintu kamar mandi mengenakan lingerie cantik dan polos. Wanitanya tampak sederhana tetapi sangat menyejukkan pandangannya.


"Di–Dira?" Defan membelalakkan matanya serasa tak percaya dengan pemandangan saat ini.


Ia lalu mengucek kedua bola mata, memastikan pemandangan itu nyata.


"Iya bang! Aku sudah siap!" jawab Dira lembut.


Degupan jantung Defan berpacu sangat cepat. Shalivanya terus saja memenuhi pangkal tenggorokan. Rasanya tak disangka, ia bisa menyerang istrinya tanpa penolakan.

__ADS_1


Bahkan, Dira sendiri yang menyodorkan tubuh indah yang ada di pandangannya saat ini. Dira sangat cantik, leher jenjangnya terekspose lantaran rambut panjangnya ia gulung membentuk sanggul keatas.


Aura wajahnya pun terlihat berbeda ketika ia sudah siap memadu kasih dengan pariban yang dulu sempat ia benci.


"Sini duduk." Defan menepuk ranjang disebelah, pandangannya penuh rasa haru. Bukan ia sangat bahagia, ternyata istrinya sudah menyiapkan diri secara sempurna.


Dira berjalan gontai menghampiri pria yang 10 tahun lebih tua darinya. Mendekati perlahan demi perlahan. Sampai akhirnya ia duduk di sebelah suami tampan yang tak sabar ingin mempersiapkan malam pertama mereka.


"Dari mana kau dapatkan baju ini?" tanya Defan sumringah.


Pria itu begitu lega ketika melihat sang istri sudah mengerti kemauan dirinya. Ia menatap lekat wanita yang sedang duduk di samping dirinya.


Cantik dan menggoda, kata itu tepat menyiratkan wanitanya saat ini. "Terus kita ngapain lagi nih bang?" tutur Dira polos.


Yaelah, Dir? Pake nanya pulak kau🤣


Gazzzz! ayo gas! Author aja udah ga sabar apalagi suamimu!!

__ADS_1


"Ngapain, ya? Abang juga bingung!" Defan menggaruk tengkuknya meski tidak gatal lantaran gelapan. Entah dimulai dari mana, Defan sendiri pun bingung.


"Bang, matiin aja, ya, lampunya? Biar nggak keliatan sama readers?" kata Dira melayangkan senyum lebar.


"Percuma, Dir ... mereka kan baca bukan lihat!" sungut Defan.


"Yaudah, ayo, bang! Jangan lama-lama dong! Readers nanti kecewa, udah nggak tahan mereka!! Udah sampai 100 bab masih belum anu-anu," singgung Dira mode merajuk.


"Iya sabar, abang juga bingung mulai dari mana! Huh, author tolongin dong??"


"Heh malah ngobrol lagi kelen dua! Cepat lanjutkan! Biar tangan othoor aja yang gerak. Jangan banyak cincong kelen," cibir Author.


Eitssss! Udah ah ngobrolnya, kok malah ngawur ... Ngulur waktu ya? 🤣


Dengan posisi berhadapan, Defan mulai meraih tengkuk Dira. Satu tangan memegang tengkuknya, lalu ia mendaratkan sebuah ciuman hangat. Mencium perlahan demi perlahan.


Keduanya sama-sama polos, hanya mencoba-coba bermodalkan tontonan film, bacaan novel, dan pengetahuan dari goggle. Dira mengikuti gerakan mulut suaminya. Kedua tangan Dira hanya menggenggam sprei ranjang dengan erat ketika menikmati alur permainan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2