Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
aktivitas pagi


__ADS_3

Disclaimer!


Khusus pembaca dewasa 18+


Yang tidak suka adegan ranjang, langsung skip aja ya!!


Defan terbangun saat sesuatu yang kenyal menyentuh dada bidangnya. Lagi-lagi, gairahnya meningkat saat tubuh istrinya itu terus maju, mengikis jarak diantara mereka berdua.


Bahkan, tak ada jarak tersisa, Defan langsung menunduk, menatap ke arah sang pemilik benda kenyal itu. "Pagi, sayang," sapa Defan dengan mata memicing.


"Pagi, suamiku," balas Dira, melayangkan satu kecupan lagi di bibir pria yang sudah membuka matanya dengan lebar.


Dira hanya tersenyum, saat suaminya melihat dengan tatapan aneh. Ia langsung paham dengan maksud keinginan pria itu.


Bahkan, Dira malah bergelayut manja pada dada bidang kekar seraya mengelus dada yang penuh pesona tersebut.


"Mulai lagi deh," celetuk Defan, ia mengecup pucuk kepala Dira.


Kecupan itu malah membuat tangan Dira semakin nakal. Dira langsung menggerayangi tubuh kekar itu, mencoba lebih genit dari tadi malam.


"Argghhh," pekik Defan saat sesuatu di bawah sana telah mengeras dan mulai menukik tajam.


"Kenapa, suami?" tanya Dira, menengadahkan kepala agar dapat membalas tatapan mata elang sang suami.


"Berani kau, ya! Mempermainkan, abang." Defan menggelitik Dira sampai ia kewalahan.


"Abang, ampun... please berhenti hahahha!" teriak Dira, rasa geli itu tak tertahankan, pinggulnya serasa bergetar.


Akhirnya, Defan pun merengkuh tubuh ramping itu. Memeluknya dengan lembut karena merasa tak tega sang istri kelelahan tertawa.


Tak lama kemudian, Defan memposisikan tubuhnya berada di atas tubuh Dira. Mengungkung tubuh ramping itu, matanya mulai liar meminta agar wanita itu bergegas melepaskan seluruh pakaian di tubuh.


"Jangan, ah! Abang, kan harus kerja." Dira menyilangkan dada, menghalau agar pria itu tak memaksa melepaskan baju yang ia pakai.


"Kerjanya nanti aja, mau kerja yang ini dulu." Defan mengecup area leher jenjang Dira.


Berada di atas tubuh Dira, pesona Defan sangat memikat. Wajah tampan, dengan garis wajah yang tegas sudah membuat Dira semakin jatuh cinta.

__ADS_1


Tak hanya itu, meski mereka baru bangun tidur, aroma tubuh Defan pun tak berubah. Masih tetap segar memancarkan wangi yang luar biasa khas pria itu.


Defan mulai melayangkan cumbuan di sekujur tubuh Dira. Pagi itu, aktivitas mereka mulai dibuka dengan adegan ranjang, aktivitas layaknya suami istri yang sedang hangat-hangatnya bercinta.


Dira bahkan semakin kecanduan dengan sentuhan yang diberikan oleh suaminya. Seperti adanya magnet pada tubuh mereka berdua, seolah-olah ingin lengket terus.


"Ayo, sekarang nggak pakai lama, ya, sayang! Jangan ada drama aneh-aneh, waktunya nggak banyak," ujar Defan memperingati, menunjuk ke arah jam yang menempel di dinding.


"Langsung gas, bang!" titah Dira tanpa malu-malu.


"Oke!" Defan langsung menyerbu tubuh molek itu.


Pemanasan pun sangat diperlukan agar gairah mereka terus memuncak. Defan bahkan menciumi bibir Dira dengan sangat rakus.


Wanita itu sampai kewalahan memuaskan hawa nafsu suaminya sendiri. Bahkan, Dira sampai mendorong tubuh Defan agar bisa sedikit mengambil nafas dari sela hidung saat Defan terus meluma*t dan menjelajahi rongga mulutnya di dalam kungkungannya.


Tangannya yang nakal pun menggerayangi seluruh tubuh dari ujung kaki hingga ujung kepala Dira.


Tak lupa, ia juga menciumi bagian paha, perut, hingga dada. Menyisakan bekas cinta di area dada dan leher jenjang sang istri. Semua yang dilakukan oleh pria itupun membuat bulu Dira meremang.


Dira juga mengikuti permainan panas yang diciptakan oleh Defan. Kali ini, Dira tak tinggal diam. Tangannya dan mulutnya ikut semakin nakal.


"Mulai, ya!" Defan memberikan aba-aba, saat benda miliknya ingin menerobos masuk ke tempat yang paling dia idamkan.


Tak berselang lama, tubuh Dira mengikuti alur permainan sang suami. Menggerakkan tubuh ke atas dan ke bawah, sesuai tempo tubuh pria itu, saat milik suaminya itu sudah menukik sempurna ke dalam miliknya.


Penyatuan pagi terasa istimewa bagi keduanya. Baru kali ini, keduanya berhubungan di pagi hari. Sensasinya sangat berbeda dengan persiapan di malam hari.


Kejadian mendadak rupanya lebih nikmat. Tanpa ada persiapan terlebih dahulu sehingga mendebarkan bagi keduanya.


Cup


Satu kecupan mendarat di bibir gadis kecil itu, setelah Defan mengeluarkan rasa puncak kenikmatan di akhir permainan. Dira yang juga ikut merasakan puncak kenikmatan itu pun tersenyum penuh bangga.


Hah!


Akhirnya, Dira dan Defan bisa bernafas lega. Penyatuan mereka berakhir dengan rasa nikmat yang tak bisa terungkapkan.

__ADS_1


"Mandi, yuk," bisik Defan dengan manja, mengajak wanitanya untuk mandi bersama.


"Hmm ... mulai lagi lah, abang!" Defan menatap penuh curiga, takut akan diterkam lagi untuk kesekian kalinya saat di kamar mandi.


"Serius, kali ini mandinya benar-benar," timpal Defan seraya tersenyum tipis.


"Betul, ya, bang? Awas kalau macam-macam! Aku capek kali," imbuh Dira, tubuhnya serasa remuk setelah melayani pria itu sejak malam hingga ke pagi hari.


"Iya, serius!" Defan mengangkat tubuh milik istrinya, menggendong dengan kedua tangan. Mengenyampingkan tubuh Dira, di depan tubuhnya, ia mengangkat dengan pelan-pelan agar tidak terjatuh.


Bahkan, mereka berdua tak perduli saat keduanya ke kamar mandi tanpa memakai sehelai benang pun.


"Makasih, ya! Pagi-pagi nggak nolak abang. Kalau gini kan, mood abang pun jadi bagus terus," terang Defan tertawa penuh kemenangan.


"Hmmm ... aku heran, emang abang nggak capek? Aku jujur, capek kali loh. Badanku remuk semua." Dira merema*s bahu yang terasa pegal dalam gendongan suaminya.


"Abang, sih nggak capek sama sekali. Sampai 10 kali sehari pun, abang sanggup hehe," canda Defan dengan lawak garingnya.


"Gila, abang! Masa 10 kali? Bisa mati berdiri aku," seloroh Dira, memicingkan mata, menatap tajam ke arah pria itu.


"Hehe canda, sayang." Defan menurunkan Dira dari gendongan setelah mereka tiba di bawah shower pemandian.


"Makasih, ya, suamiku," tutur Dira, tubuhnya telah berdiri tegap di bawah pancuran shower bersama Defan.


Keduanya mandi dengan semangat, Defan membantu menggosok punggung istrinya. Dira pun melakukan hal yang sama, ia bergantian menggosok punggung tubuh kekar lelaki itu.


"Kalau tiap pagi kayak gini, abang senang deh!" celetuk Defan tiba-tiba.


"Hmmm, itu sih maunya, abang! Aku nggak mau ah, capek pagi-pagi harus mandi. Maunya lanjut tidur," balas Dira.


Mereka membasuh tubuh, berbagi air yang mengalir dari bawah pancuran shower tersebut. Defan pun membantu Dira berkeramas, menggosok-gosok kepala sang istri penuh kelembutan.


"Mau sarapan apa, sayang?" ujar Defan setelah mereka berdua memakai pakaian masing-masing.


Defan telah memakai kemeja dan celana bahan, sedangkan jas masih berada di atas ranjang. Sementara itu, Dira memakai baju kasual, hendak menemani sang suami berangkat kerja, sekaligus membeli sarapan untuk pagi itu.


"Aku ingin lontong medan, bang!" kata Dira, mengerlingkan mata.

__ADS_1


"Yaudah, ayo, buruan! Biar abang juga nggak terlambat kerja." Defan berjalan gontai, menenteng jas dan tas kerja. Diekori oleh Dira yang membawah tas kecil.


__ADS_2