Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
merasa dihargai


__ADS_3

"Saya nggak papa kok, Bu. Hanya mobil saja kok yang rusak. Kalau begitu saya pamit dulu." Pria itu bahkan mengulurkan tangan, lalu mencium punggung tangan Melva dengan santun, dan akhirnya berlalu pergi.


"Baiklah, hati-hati di jalan," tandas Melva.


"Ma, jadi gimana nih kerusakan mobil bapak? Bisa-bisa aku diamuknya," keluh Niar, menatap mobilnya yang juga penyok karena tabrakan tersebut.


"Entahlah, kau urus aja itu. Mama nggak mau ambil pusing. Kalau gitu, Mama lanjut ke Pajak dulu. Kau ingat, ladenin anak itu kalau dia minta ganti rugi. Anak sopan kayak tadi kok dicecar," sindir Melva, memasuki mobil, meninggalkan Niar yang masih kebingungan dengan nasib mobil sang bapak.


"Astaga, mamaku ini malah ga pro sama anaknya sendiri! Harus ku apakan mobil ini? Bentuknya udah rusak, bisa dilibas sama bapak aku!" kata Niar dengan lirih, sedikit mendramatisir perkataannya.


Tanpa memberi kabar pada bosnya, Niar pun segera ke bengkel untuk memperbaiki mobil sang Bapak agar tidak mendapatkan amukan


Setelah sampai di bengkel, baru ia berniat untuk menghubungi bosnya dan mengabari tentang kecelakaan terjadi sehingga bisa meminta izin agar bisa membolos bekerja hanya untuk hari ini.


****


Ketika pelajaran mata kuliah selesai, semua mahasiswa keluar, tinggal lah di dalam ruangan hanya seorang dosen cantik dan Angga.


Angga yang hendak keluar, terburu-buru berlari. Namun, diwaktu bersamaan, ia malah menabrak tubuh dosesnya.


Brugh!!


Pria itu bergegas meminta maaf agar tak mendapatkan hukuman. Justru, sang dosen malah meliriknya dengan tatapan aneh sembari menelisik penampilan Angga.


"Maaf, Bu! Maaf, saya nggak sengaja," kata Angga seraya menunduk berkali-kali untuk menyampaikan permintaan maaf.


Dosen itu tersenyum dengan tatapan yang cukup genit, mengisyaratkan bahwa ada yang menarik perhatiannya. Sementara, Angga meliriknya dengan aneh seraya bertanya-tanya.


"Kenapa nih dosen, kok malah senyum-senyum sendiri," gumam Angga, menatap dosennya dengan curiga.


"Ehm ... siapa namamu?" tanya dosen cantik itu, membuyarkan Angga dalam lamunannya.


"Saya Angga, Bu yang duduk paling pojok di paling belakang," sahutnya.


"Oh ... saya minta nomor ponselmu," ketus dosen Maudy.


Angga yang khawatir akan mendapatkan hukuman karena sudah menabrak tubuh dosennya. Dengan pasrah ia memberikan nomor ponsel, hal berbeda dirasakan oleh Maudy yang memiliki niatan lain.

__ADS_1


Tentu saja Maudy langsung terpikat pada Angga saat pertama kali bertemu. Cinta pandangan pertama itulah kata yang tepat untuk menyematkan apa yang dirasakan oleh Maudy. Dosen muda yang cantik itu bisa terpikat oleh ketampanan Angga karena tipikal prianya adalah laki-laki berondong yang tampan.


Walaupun usia mereka terpaut cukup jauh yaitu 5 tahun jaraknya. Namun, Maudy yang jomblo justru ingin merasakan sensasi berpacaran dengan mahasiswanya sendiri.


Maudy bergegas menghubungi nomor telepon yang diberikan oleh Angga sehingga nomornya akan muncul di layar ponsel mahasiswanya.


"Jangan lupa save nomor ibu kalau kau tidak mau terjadi apa-apa," ancam Maudy.


"I–iya, Bu," jawab Angga terbata-bata karena merasa ketakutan pada dosen cantik itu.


Maudy segera pergi meninggalkan Angga. Ia pura-pura memalingkan wajah meskipun sebenarnya sekali-kali melirik dan menatap wajah tampan yang tak bisa lepas dari pandangannya.


****


Di kantin kampus, keempat wanita sedang bergurau entah apa yang dibicarakan oleh mereka. Semuanya asik tertawa dan larut dalam pembicaraan masing-masing.


Saat di tengah-tengah perbincangan, Dira mengingat tentang uang yang ditransfernya pada sang mamak.


"Eh ... bentar, we! Aku mau nelpon suamiku dulu, ada yang harus aku omongin," ucap Dira meminta izin pada teman-temannya untuk segera menyingkir dari tempat keramaian itu.


"Ada yang perlu aku bicarakan sama Bang Defan. Kelen lanjut aja ngobrol. Aku tinggal bentar."


"Oke, jangan lama-lama. Dir, kau mau makan apa? Biar sekalian ku pesankan," timpal Jenny.


"Samakan aja sama pesananmu." Dira berjalan ke sudut ruangan di sisi kantin, di mana ada sebuah kursi dan area itu tampak sepi.


****


Drrt... drt ...


Ponsel Defan bergetar, tak lama ia menerima panggilan telepon. Setelah menatap layar ponsel cukup lama, ternyata istrinya lah yang menghubungi.


"Halo, Sayang ada apa?" ujar Defan melalui sambungan telepon.


"Abang, maaf aku baru sempat menghubungi karena tadi buru-buru ada kelas, bahkan aku hampir terlambat. Sekarang aku mau menyampaikan sesuatu," ucap Dira seraya merasakan deg-degan saat ingin mengungkapkan tentang uang dan persoalan yang terjadi di keluarganya.


"Oh ... sesuatu apa, Yang? kata Defan, pura-pura tak tahu apa yang terjadi tapi ia merasa lega saat sang istri mau mengakui apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena belum meminta izin pada Abang. Sebenarnya aku tadi pagi mengirimkan uang untuk mamakku sebesar 10 juta karena ada kebutuhan mendesak." Dira mengedarkan pandangan, memastikan tak ada yang mendengar percakapannya.


"Oh ... Abang udah tahu sih dari notifikasi di ponsel, memang ada uang yang keluar dari rekening untuk ditransfer," jelas Defan.


"Emang ada notifikasinya di ponsel, Abang?" Dira tak menyangka kalau ternyata transaksi apapun yang dikakukannya pasti diketahui oleh sang suami.


"Ya, semua transaksi yang kau lakukan terkirim melalui pesan di ponsel Abang."


"Astaga!" gumam Dira merutuki kebodohannya karena ia sering berbuat semaunya tanpa meminta izin suaminya lebih dulu.


"Yang? Ayang?" tanya Defan, saat tak mendengar suara istrinya yang asik melamun sendiri di sana.


"Iya, Bang aku masih di sini kok."


"Uangnya untuk kebutuhan mendesak apa?" cecar Defan.


"Bapakku habis ketipu sama kawannya, Bang. Uang 100 juta hilang kayak gitu aja karena diiming-imingi dapat keuntungan investasi 3 kali lipat," terang Dira panjang lebar.


"Loh kok bisa ditipu? Emangnya amang nggak tahu sekarang lagi marak persoalan investasi abal-abal?"


"Aku juga bingung! Apakah Abang bisa bantu persoalan ini dan mencari penipunya?" tanya Dira.


"Kalau gitu Abang harus bicara dulu sama Amang biar bisa mencari tahu dan menyelidiki persoalan itu."


"Abang nggak marah kan uangnya dipakai 10 juta? Aku minta maaf karena memang kedua orang tuaku sedang mengalami kesulitan, tabungannya semua sudah habis," ungkap Dira, merasa sungkan pada suaminya sendiri.


"Nggak apa-apa, Sayang. Yang penting kau menyampaikannya padaku, jadi aku merasa dihargai."


"Syukurlah, aku sudah takut Abang akan memarahiku," sesal dira.


"Aku nggak akan marah selama uang itu jelas alurnya ke mana. Apalagi benar-benar dibutuhkan. Lagian Abang kerja hanya untukmu," sahut Defan.


"Ya, udah kalau gitu Abang lanjut lagi kerjanya. Makasih suamiku sudah mengizinkan aku untuk memakai uang itu," tandas Dira, merasa lega karena semua sudah tersampaikan.


"Ya, Sayang. Love you," kata Defan mengakhiri pembicaraan itu.


"Love you too."

__ADS_1


__ADS_2