
Preman itu memang memiliki anak buah yang banyak, tidak hanya di pulau Sumatera saja tetapi di seluruh penjuru negeri ini. Dia memiliki jaringan yang luas terhadap preman-pemain yang tergabung dalam jaringan mereka.
Oleh karena itu, persoalan untuk mencari seorang adalah hal yang sangat mudah baginya bagaikan menjentikkan jari.
"Okelah, Bang kalau gitu makasih banyak sudah bantu aku. Mudah-mudahan orang itu cepat ketemu karena yang paling penting adalah uang yang ditipu harusnya masih tetap ada agar bisa dikembalikan kepada mertuaku," papar Defan pada sang preman.
"Aman-aman itu, Pak! Nanti akan saya cari tahu dan pastikan uang itu akan kembali. Kalau tidak, dia akan babak belur," sergah preman itu.
Bukan hal yang sulit bagi seorang preman untuk menakut-nakuti orang yang akan tertangkap olehnya. Apalagi kasus penipuan yang menjerat orang banyak hanya untuk kesenangan pribadi, membuat sang preman geram dan tak segan-segan menyakiti pelaku itu.
Tak berselang lama, setelah sambungan telepon berakhir, preman itu mendapatkan pesan yang berisi foto serta biodata yang dikirimkan oleh Defan melalui pesan. Dalam hitungan detik, ia langsung mengerahkan pasukan setelah mengirimkan ke setiap grup chat di watsapp agar seluruh anggotanya menerina kabar perintahnya.
Sang Preman bernama Rudy, memerintahkan pada anak buahnya agar mencari orang itu sekaligus mengamankan hasil uang penipuan yang dijeratnya dari orang-orang.
Bos Rudy
Cari orang ini di seluruh pulau Sumatera atau buat kalian yang tinggal di daerah lain juga harus mencari dia, jaga-jaga siapa tahu memang dia sudah keluar dari pulau ini. Dan pesan dari saya kalau dia harus dibawa ke depan wajah saya dengan kondisi hidup-hidup dengan membawa semua uang yang hasil tipuannya!
Semua anak buahnya menjawab dengan kompak pesan dari sang bos.
"Siap, Bos!"
Sementara, Rudy sebagai ketua preman yang paling ditakuti justru berleha-leha menunggu kabar dari anak buahnya. Dia hanya memerintah saja.
Disisi lain, karena Rudy memiliki hutang budi pada Defan, ia pun sangat manut pada pengacara itu, bahkan kabar apapun langsung selalu disampaikan pada pengacara tersebut.
***
"Untunglah aku punya kenalan preman di Kota Medan ini, apalagi dia memiliki jaringan yang kuat di seluruh negeri ini," gumam Defan saat larut dalam pikirannya.
__ADS_1
Tak lama, Defan kembali membuka satu persatu berkas yang berada di meja kerja, banyak kasus yang menantinya hingga ia harus menuntaskan membaca beberapa kasus yang harus ditangani dalam waktu dekat.
Defan semakin larut dalam kesibukan untuk menangani pekerjaannya. Sama halnya dengan Juni, juga tampak sibuk mengolah semua berkas serta mendata perkara-perkara yang akan mereka tekan tangani.
***
Dira baru saja mengantarkan sang Mamak sampai ke depan rumah. Akhirnya dia berpamitan untuk berangkat ke kampus, sebelumnya Dira sudah menghubungi suaminya memberi kabar bahwa dia mengantarkan sang Mamak ke rumah lalu berangkat menuju kampus.
Kabar itu dikirimkan Dira melalui pesan singkatnya kepada sang suami. Setelah memberi kabar agar tidak mendapatkan amukan sang suami, akhirnya Dira langsung berangkat dan meminta super taksi online mengarahkan kendaraan ke jalanan menuju kampus.
"Hati-hati ya, Boru!" pesan Rosma, saat ia berdiri di halaman rumah menantikan mobil itu melaju meninggalkan halaman.
Tak lupa, Rosma juga melambaikan tangan pada anaknya dan menampilkan senyum merekah. Lalu, setelah memastikan kepergian Dira yang semakin jauh dan tak terlihat lagi, akhirnya Rosma masuk ke dalam rumah.
Tadi malam anak-anaknya memberi kabar kalau saat berangkat ke sekolah mereka akan menitipkan si bungsu pada tetangga sebelah rumah.
"Permisi, Eda ... aku mau ngambil siapudan kami!" teriak Rosma, saat mengetuk pintu depan dengan keras.
Tok ... Tok ...
Rosma berkali-kali mengetuk pintu dan akhirnya ada seseorang keluar dari arah dapur. Sebab, pintu depan rumah tetangganya memang dibuka dengan lebar, hanya saja Rosma meminta izin dulu daripada harus menyelonong masuk dan dianggap tidak sopan.
"Udah pulang kau, Dak? Itu si siapudanmu ada di belakang lagi main sama anakku!" jelas tetangga Rosma.
Rosma melangkah kan kaki, mengikuti sang empunya rumah. Lalu ia bertemu dengan anak bungsunya. Untung saja tetangganya mau dimintai pertolongan untuk menjaga anak itu untuk beberapa jam.
"Dari mana rupanya, Eda?" tanya tetangga, penasaran.
"Dari rumah anak siangkanganku, memang ada perlu kali kami semalam jadi harus nginap disana karena nggak sempat lagi mau pulang soalnya udah terlalu malam," beber Rosma.
__ADS_1
"Oh ... iyalah, apa terkait kasus penipuan itu?" celetuk tetangga dengan asal.
Rosma pun menggangguk, sebab kabarnya sudah santer terdengar pada setiap tetangga karena suaminya yang memiliki mulut yang berkoar-koar pada tetangga mereka, akhirnya para tetangga pun tahu atas kasus yang menimpa keluarga Dira.
"Iya, Edak! Dari mana rupanya, Edak tahu kabar itu?" ucap Rosma, menatap penuh selidik.
"Tahulah ... kan amangbao itu yang cerita sendiri! Dia cerita sama semua orang!" jelas tetangganya.
"Astaga, jabir kali memang bapak si Dira ini, malah dia ceritakan ke orang lain kasus yang menimpanya, apa nggak malu!" batin Rosma memberontak.
Rosma bergumam sendiri sembari merutukki kebodohan suaminya. Sebab, dia tak suka jika suaminya terlalu menyebarkan aib rumah tangga mereka.
Tak lama, anak siapudannya berhenti bermain dan menghampiri sang mamak. Rosma pun hanya tersenyum saat melihat anaknya semakin mendekat. Apalagi merunut cerita anak keduanya, adik mereka paling kecil itu sulit sekali tidur malam karena tidak bersama sang Mamak semalaman.
"Kita pulang, yuk!" ajak Rosma saat anak kecil itu sudah berlari mendekatinya
Rosma langsung memeluk anaknya, menangkup dan menggendong anak mungil itu di dalam dekapan, lalu mencium kedua pipinya dengan lembut.
"Rindu kali Mamak lah samamu," lirih Rosma, menciumi anaknya dengan gemas, anak lelaki itu hanya terkekeh kegelian.
"Udah lah, Dak aku pamit dulu. Makasih udah mau menjaga anakku!" pamit Rosma pada tetangganya.
"Iya, Dak nggak apa-apa lah, sekali-kali nggak apa-apa, asal jangan terus-terusan!" canda perempuan itu, terkekeh kecil.
"Tenanglah, Eda ngapain juga aku tiap hari nginep di rumah anak siangkanganku!" kilah Rosma, menyematkan candaan dalam obrolan mereka.
"Iya, Eda siapa tahu, kan!" kekeh tetangganya.
Akhirnya Rosma beranjak dan pergi dari rumah itu, ia menggendong anak siapudannya lalu kembali ke rumah. Saat sudah berada di dalam, Rosma melihat kondisi rumah tampak seperti kapal pecah. Semua barang-barang berantakan mungkin karena anak-anaknya terus saja bermain karena tidak ada yang mengawasi.
__ADS_1