
"Udahlah, berkali-kali aku bilang dari kemarin, kalau aku sudah tidak mau dijemput lagi. Lagian ribet kalau mau jemput gitu, apalagi kalau aku mau jalan dengan teman-temanku. Tidak ada kendaraan lain yang bisa ditumpangi," jawab Carol dengan jutek.
Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Jefri mengalah karena Carol sudah memasuki kelas. Sebab, dosennya akan masuk sebentar lagi, ia tidak mau terlambat padahal sudah datang sejak tadi.
Sementara itu, Jefri menunggu di kantin karena jadwal kuliahnya sudah selesai, ia hanya memiliki jadwal pagi untuk dua mata kuliah.
Jefri berniat menunggu sampai Carol selesai kuliah. Tapi entah mengapa terasa lama. Bahkan, ia merasa bosan menunggu terus-menerus.
Karena semakin merasa frustasi menunggu hingga pacarnya selesai kuliah, akhirnya Jefri memilih untuk meninggalkan kampus. Ia ingin berkumpul bersama teman-teman karena tadi teman-temannya mengajak untuk bermain futsal.
Tanpa meminta izin pada Carol ataupun mengabari pada pacarnya, akhirnya Jefri pergi bermain futsal. Bahkan ia sengaja mematikan ponsel untuk mencari ketenangan sementara waktu.
Padahal, baru beberapa hari pacaran tetapi keduanya sudah mulai marah-marahan dan ambek-ambekan. Di sisi lain, Carol masih sibuk belajar untuk mengamati penjelasan dosen yang ada di depan kelas.
Kemudian, ia diberikan tugas yang menumpuk untuk praktek menggambar ilustrasi desain rumah. Itu adalah tugas pertama yang diberikan dosen, bahkan mereka hanya diberikan waktu selama 1 minggu saja.
Sepertinya, Carol tidak akan memiliki waktu lagi untuk bermain-main karena tugas itu sangat berat baginya. Ia harus benar-benar memiliki nilai yang bagus untuk gambar ilustrasi desain rumah yang diminta oleh dosen.
Selama beberapa jam mengikuti jadwal kuliah, Carol merasa aneh karena Jefri tidak menghubunginya. Biasanya lelaki itu selalu saja mengirimkan pesan apapun meskipun tidak penting dan tidak ditanggapi oleh Carol.
Ia curiga bahwa pacarnya itu tengah melakukan kegiatan lain, bahkan sengaja tidak mengabari dirinya. Sebenarnya, Carol pun semakin berang pada pacarnya. Ia semakin berniat untuk merajuk dan tidak akan mau menghubungi Jefri untuk pertama kalinya.
***
Di kelas jurusan hukum, kali itu Shinta sedang mendapat tugas untuk mengadakan percobaan sidang. Shinta pun diminta menjadi seorang Hakim.
__ADS_1
Ia duduk di depan menjadi hakim ketua, duduk di tengah-tengah diantara dua hakim lain. Sementara teman-teman lainnya ada yang menjadi pengacara, jaksa, korban, saksi, terdakwa dan tamu persidangan.
Mereka melakukan reka ulang persidangan untuk kasus yang pernah ditampilkan di televisi. Yang tengah viral yaitu kasus pembunuhan antara pihak kepolisian dengan anggotanya.
Shinta sebagai hakim ketua sangat tegas, ia menunjukkan sisi yang berbeda dari dirinya. Oleh karena itu, Shinta pun diancungi jempol oleh dosennya karena ia bisa mengikuti persidangan dengan baik bahkan Shinta memberikan vonis sesuai hukuman kepada terdakwa yang ada di dalam persidangan tersebut.
Oleh sebab itu, Shinta merasa tertarik saat ia tengah menjadi seorang hakim, apalagi Hakim perempuan masih jarang ditemui di negara ini. Ternyata, walaupun lulusan hukum, masih banyak profesi lain yang menarik minat mereka sebagai mahasiswa selain pengacara.
"Sepertinya seru juga jadi Hakim daripada jadi pengacara. Apa lebih baik aku akan melanjutkan pendidikan menjadi hakim saja?" batin Shinta, saat berada di reka ulang persidangan.
Shinta menatap teman-temannya yang lain, saat tengah sibuk untuk melakoni peran sesuai dengan perintah dosennya. Mereka sangat antusias saat diadakan persidangan walaupun hanya untuk sekedar mengisi jadwal mata kuliah saja.
****
Jenny dan Dira baru saja sampai di mall tapi Dira sudah mengurungkan niat untuk tidak berbelanja kali ini. Bahkan dia tidak ingin menghabiskan uang suaminya yang ada di dalam ATM meski berada ditangannya.
Lagi-lagi pikiran Dira menyangka pasti dirinya akan dicecar oleh mertuanya tentang kehadiran cucu di antara mereka. Karena itu, Dira semakin merasa getir dan khawatir untuk datang ke rumah mertuanya.
Dira dan Jenny berkeliling mall tapi pikiran Dira sudah ke mana-mana. Ia jadi tak bisa fokus saat sedang berjalan-jalan.
Niat hati ingin menghilangkan stres, malah Dira semakin stres setelah mendengar kabar dari suaminya harus bertemu sang mertua.
"Kau kenapa sih, Dir kok bengong aja dari tadi," tegur Jenny seraya menatap lekat sahabatnya.
"Entahlah, makin pusing aku malahan, nanti disuruh datang ke rumah mertuaku," ujar Dira seraya tertunduk lesu.
__ADS_1
"Ngapain datang ke sana?" sahut Jenny, tak mengalihkan pandangan sedikitpun.
Ia tetap berjalan beriringan dengan Dira bersama-sama menyusuri mall. Sesekali ia melirik ke butik berharap bisa membeli baju-baju yang terpajang di sana.
"Disuruh makan malam dan menginap di sana tapi aku khawatir kalau mertuaku akan menanyakan tentang kehamilanku yang tak kunjung ada," ucap Dira.
"Udahlah jangan terlalu dipikirkan, kalau kau pikirkan terus tentang kehamilan justru nantinya kau akan semakin stres, jadi tak kunjung hamil-hamil," ungkap Jenny sok tahu.
"Ah, kau mendoakan aku yang buruk-buruk, ya!" timpal Dira menggerutu
"Bukan gitu, cuma kan kebanyakan orang-orang bilang kayak gitu. Kalau semakin dipikirkan justru semakin nggak terwujud keinginannya," tandas Jenny.
"Halah, aku jadi pusing, kenapa kemarin itu aku keguguran. Andai saja aku tidak keguguran, mungkin anak itu sebentar lagi akan lahir," seloroh Dira.
"Doakan saja dia di sana pasti sudah tenang, kalau sudah waktunya pasti akan akan mendapat penggantinya," balas Jenny.
"Aku selalu berdoa berkali-kali untuknya dan berharap akan segera diberikan penggantinya. Kau juga doakan aku lah, Jen biar cepat hamil," pinta Dira.
Memang semenjak beberapa hari terakhir, pikiran Dira merasa khawatir kalau ia tidak bisa hamil lagi pasca keguguran. Meskipun masih perasaan saja, namun dia tetap berkeinginan bisa cepat-cepat hamil apalagi suaminya juga sering bertanya dan menginginkan seorang anak hadir di tengah-tengah mereka.
Selain itu, Dira juga tetap ingin menyelesaikan kuliah sesuai dengan tenggat waktu, ia bahkan tidak ingin molor dari jadwal waktu wisuda yang sudah ditetapkan.
"Apa menurutmu aku lebih baik promil saja?" tanya Dira pada Jenny.
Sebab, Defan beberapa waktu yang lalu sempat mengatakan dan mengajak Dira untuk melakukan program hamil.
__ADS_1
"Untuk apa? Buktinya kan kau sudah pernah hamil itu artinya kau masih tetap bisa hamil secara alami tidak perlu promil-promil, lagi pula kita masih sibuk kuliah jangan terlalu memikirkan hal itu nanti bisa-bisa kalau kau tiba-tiba hamil otomatis kuliahmu akan terbengkalai," kata Jenny mengingatkan.