
"Ah ... nggak seru! Masa aku ngopi sama kau sih!" gerutu Dania, menatap sinis ke arah Juni.
"Yaudah, kalau ibu mau pulang, silahkan!" Juni langsung berjalan ke arah kasir, hendak memesankan kopi dan dessert yang terpajang di etalase.
"Eh, Jun!" teriak Dania membuat Juni langsung menoleh ke belakang.
*****
Sebelum matahari terbenam, tiga puluh menit yang lalu, Melva dan Anggi berpamitan pulang. Dira sengaja tak ingin pulang bersama mertuanya.
Ia lebih memilih di jemput oleh sang suami. Sebab, ia tahu kalau suaminya itu pulang tepat waktu. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama, Dira langsung menghubungi Defan meminta agar menjemput ke rumah orangtuanya.
Ia langsung mengirimkan lokasi alamat rumah baru milik orangtuanya kepada Defan. Sembari menunggu kedatangan pria itu, Dira pun memilih untuk mandi, tubuhnya berdebu lantaran ikut memindahkan barang-barang.
Maksud itu juga ia lakukan agar suaminya mengetahui rumah baru kedua orang tua Dira. Sehingga, Defan tak perlu bertanya-tanya, apalagi alasan tidak punya waktu untuk berkunjung ke rumah baru itu.
*****
Defan melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ia langsung menuju kediaman terbaru orang tua Dira. Selama perjalanan, arah jalan pulang menjelang malam itu cukup padat. Defan membutuhkan waktu selama tiga puluh menit untuk tiba di rumah itu.
Tok... Tok ...
Setelah tiba, Defan langsung mengetok rumah, dari depan tampak sunyi.
"Coba buka, Dir? Siapa itu yang datang," ujar Rosma setelah mendengar ketukan dari arah depan rumah.
"Bang Defan kayaknya itu, Mak! Bentar aku ke depan." Dira berjalan gontai ke arah daun pintu.
Tak berselang lama, ia sudah melihat sosok pria tampan hadir di rumah itu.
"Sayang." Defan merengkuh pinggang Dira, mendaratkan satu ciuman hangat di bibir wanita itu.
"Ih, abang! Malu tahu, kalau ada yang lihat gimana," keluh Dira, langsung melepaskan tangan yang melingkar di pinggang.
"Nggak ada siapa-siap juga!" sesal Defan lantaran melihat ekspresi sang istri yang tak menyambutnya.
"Yaudah, masuk!" tandas Dira.
__ADS_1
"Loh, emang kita nggak langsung pulang?" Defan mengedarkan pandangan, rumah itu terlihat sunyi.
"Sapa mamak dan bapak dululah, bang! Masa helanya datang, langsung mau pulang!" sindir Dira, berlalu masuk ke dalam, diekori oleh Defan.
"Ehmm ... abang, udah makan?" sambung Dira lagi.
"Belum, sayang." Defan mengedarkan pandangan, mencari sosok kedua mertua yang tak kunjung terlihat.
"Di mana amang sama inang?" lanjut Defan melontarkan pertanyaan.
"Ada di dapur, bang. Mau siap-siap makan."
"Oh ... pantas kok kelihatan sunyi kali rumah ini," timpal Defan.
Defan dan Dira berjalan beriringan, saat menyusuri ruangan, Defan sekilas melirik-lirik rumah baru itu. Ia mengangguk-anggukkan kepala, melihat rumah yang luas, diisi perabotan lama peninggalan sisa rumah lama.
"Horas." Defan menyapa kedua mertua yang baru saja duduk di kursi makan.
"Horas," sahut seluruh anggota keluarga yang ada di ruangan itu.
"Sini, Hela, makan dulu sebelum pulang," ajak Sahat, menarik satu kursi di sebelah, untuk tempat Defan bersandar.
"Makan seadanya lah, Hela! Cuma ini yang ada, maklum baru pindah kami," ucap Rosma, seraya melayangkan senyum tipis di sudut bibir.
"Iya, Inang! Udah banyak kali ini," balas Defan, tersenyum ramah.
"Ayo, makan-makan," titah Sahat. Semua langsung makan yang dimasak oleh Rosma.
Beruntung, di sebelah rumah mereka ada penjual sayur, Dira dan Rosma sempat berbelanja membeli ikan dan sayur untuk makan malam, dibandingkan harus membeli makanan matang yang terlalu mahal untuk penghuni rumah yang banyak itu.
Dira menyendoki nasi ke dalam piring Defan. Tanpa rasa sungkan, Defan langsung mengambil beberapa lauk yang cukup menggiurkan. Meski hanya ada ikan goreng, tempe tahu sambal, ikan asin, dan udang goreng tepung.
Makanan itu cukup menggiurkan bagi Defan. Bahkan, untuk pertama kalinya Defan mencoba mencicipi ikan asin. Ternyata, rasanya begitu nikmat saat di padukan dengan sambal goreng serta sayuran kuah bening.
Ia menikmati makan malam dengan keluarga yang cukup harmonis. Meja makan di rumah Dira pun sangat besar lantaran Dira memiliki adik yang banyak.
"Tambah lagi, hela," desak Rosma, membuat Defan merasa tak enak hati. Alhasil, ia menerima satu sendok nasi ke dalam piring yang diberikan dari sang istri.
__ADS_1
"Iya, Inang." Defan menambah lagi lauk ikan goreng dan tahu tempe sambal. Tampilannya sederhana tapi terasa mewah dan sangat nikmat.
Tak pernah ia cicipi dengan rasa istimewa seperti itu, sepanjang hidup di rumah orangtuanya. "Enak juga!" lirihnya setelah piringnya terlihat licin.
"Lapar kali rupanya, Hela ini," canda Sahat terkekeh.
"Iya, Amang. Tadi nggak sempat makan, saat pulang kerja langsung ditelepon Dira, minta jemput. Padahal aku tadi lagi mampir di cafe."
Dira langsung melirik suaminya dengan rasa kesal. Pria itu tak pernah mengabari sebelum bertindak lebih jauh. Rencana ke cafe pun tak ada ia ucapkan pada sang istri. Apalagi jika Dira mengetahui, dengan siapa suaminya itu pergi ke cafe, akan membuat Dira semakin berang.
Defan langsung kikuk setelah mendapatkan tatapan tajam dari sang istri. "Gawat! Lupa aku, malah keceplosan," gumam Defan, bergidik ngeri.
*****
Di Cafe, Dania dan Juni akhirnya memilih berdamai sementara waktu selama menikmati kopi dan dessert mereka. Namun, tak ada obrolan dari kedua perempuan itu.
Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Dengan kesempatan yang ada, 30 menit yang lalu, Dania meminta agar Juni memesankan kopi dan dessert yang berbeda dengan pesanan Juni.
Flashback On
"Eh, Jun!" teriak Dania, Juni langsung menoleh ke belakang.
Dania menganggukkan tangan, memberi perintah agar Juni segera mendekat.
"Kenapa, bu?" tanya Juni setelah berada di hadapan Dania.
"Pesankan aku, kopi dan cake yang berbeda dari pesananmu. Terserah apa saja, yang paling best seller di cafe ini, ya!" tegas Dania.
Juni langsung mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Dania di kursi. Saat di kasir, Juni memesankan creamy latte dan hazelnut. Sementara untuk cakenya, Juni memesankan red velvet dan tiramisu.
Tak lama kemudian, ia melakukan pembayaran dengan credit card yang diberikan oleh sang bos. Lalu, menunggu pesanan itu dibuatkan oleh barista.
Satu nampan berisi pesanan Juni tiba, ia langsung membawa nampan itu, memberikan creamy latte dan red velvet pada Dania.
"Aku yang tiramisu ajalah, tiramisu ini kan?" Dania menunjuk ke arah kue yang masih di atas nampan.
"Iya, bu." Juni mengalah lagi dari perempuan itu, ia memberikan cake tiramisu pada Dania.
__ADS_1
Keduanya duduk dengan tenang dalam keheningan. Tak ada yang memulai pembicaraan, mereka sibuk menyesap kopi serta memakan potongan cake yang telah dibeli.