
"Sebenarnya maksud bapak memanggilku, apa?" tanya Defan, mengalihkan pembicaraan.
Di dalam ruangan, Defan dan Desman saling menatap. Seorang CEO itu menatapnya lekat, sembari memikirkan jawaban yang hendak dikeluarkan.
"Bapak ada sebuah kasus tapi karena bapak sudah capek menanganinya, bapak akan serahkan padamu!" ucap Desman, menatap lekat anak laki-lakinya.
"Kasus apa, pak?" sahut Defan, menatap penuh selidik.
"Kau mau atau tidak?" cecar Desman, tanpa menyampaikan kasus tersebut.
"Kalau bapak tidak sanggup, serahkan saja padaku!" jawabnya lugas.
"Baiklah, senin nanti kau ke sini lagi! Bapak akan serahkan berkasnya!" imbuh Desman, lalu mengusir anaknya lantaran sudah memasuki jam pulang kerja.
"Kalau gitu, aku pamit dulu, pak!" pamit Defan, tersenyum tipis.
Di sudut ruangan, Juni tengah merapihkan barang-barang. Ia sudah menuntaskan beberapa laporan tentang selesainya sidang perkara yang ditangani. Menyatukan berkas itu dengan berkas yang lainnya.
****
Dira, Jenny dan Carol berjalan bersamaan. Namun, mereka menunggu kedatangan Shinta.
"Rol, serius tadi kau mikirin seniormu kan?" cecar Jenny, menatap tajam.
"Iya, sih! Biar kukasih tahu kelen, aku khawatir si Jefri di hukum!" ucap Carol polos.
"Eciieeeee!" seru Jenny dan Dira sangat kompak.
"Kok kelen malah ngejek aku sih! Aku serius loh," sesal Carol.
Dira dan Jenny saling menatap, mereka malah tertawa cekikikan. Membuat Carol jengah sekaligus kebingungan untuk sementara waktu.
"Kenapa sih?" desak Carol, memicingkan mata saat menatap kedua temannya yang sibuk tertawa.
"Diam-diam kau peduli loh, Rol!" beber Dira, tersenyum lebar.
"Itu tandanya kau sudah suka sama dia!" timpal Jenny, tertawa terbahak-bahak.
"Ah, bukan gitu! Tadi di kelasku, ada anak yang pingsan, makanya aku khawatir sama semua senior. Mereka akan dihukum pasti!" tandas Carol, menjelaskan.
"Ooo... Kenapa dia bisa pingsan?" ujar Jenny.
"Karena kami dijemur di lapangan hampir dua jam!" ungkap Carol.
"Astaga! Kejam kali sih seniormu!" umpat Dira, mengerutkan alisnya. Ia tidak suka mendengar cerita kekejaman senior, meski aktivitas ospek mereka tak ada kesenangan.
"Entahlah, dari awal memang dia begitu!" imbuh Carol, seraya menghembuskan nafas.
__ADS_1
"Argh! Kalau aku yang digitukan, udah kutuntut itu seniormu!" celetuk Shinta dari belakang.
Shinta baru saja tiba, bergabung dengan ketiga temannya untuk pulang bersama.
"Kok lama kali kau?" tanya Jenny, menoleh saat soulmatenya tiba.
"Biasalah, baru beres! Besok aku dapat hukuman pula!" keluh Shinta, menekuk wajah cantiknya.
"Aish! Aku juga besok dapat hukuman." Dira ikut-ikutan menimpali.
"Hah? Tumben di jurusanmu ada hukuman segala!" tutur Shinta, memicingkan mata.
"Entahlah!"
Dira menatap jam yang melingkar di tangan. Mereka masih berjalan melintasi lapangan kampus. Seharusnya, suaminya telah menunggu di tempat biasa.
****
"Jun, ayo pulang!" ajak Defan, setelah buru-buru merapihkan barang-barang.
Ia terlambat 10 menit dari perkiraan untuk menjemput sang istri. Bisa-bisa Dira akan mengomelinya sepanjang jalan kenangan.
"Iya, pak! Saya juga sudah selesai. Bapak duluan saja kalau buru-buru!" jawab Juni, mengedarkan pandangan, memastikan semua berkas tertata rapih.
"Baiklah, saya duluan!" imbuh Defan, berjalan dengan langkah lebar agar segera keluar dari gedung perkantoran S.N.G Lawfirm.
****
Bahkan, ia sudah menelepon berkali-kali, tidak ada jawaban dari pria itu. "We, tunggulah bentar, ya! Suamiku mungkin lagi di jalan, makanya dia nggak angkat teleponku!" desah Dira, menunduk seraya menatap datar ponselnya. Mereka menunggu di pelataran depan kampus.
****
Defan akhirnya tiba di depan kampus Dira. Ia memarkirkan mobil itu sembarangan di pinggir jalan. Saat mengambil ponsel dari dalam saku, terlihat ada 5 panggilan tak terjawab dari sang istri.
Dira 5 Missed Call ...
Defan langsung menghubungi Dira, untuk mengabari bahwa dirinya sudah tiba di depan gerbang kampus.
****
Lima menit yang lalu ...
"Eh, itu mobil suamiku!" ungkap Dira, menunjuk mobil audi milik suaminya terpakir secara sembarangan.
"Syukurlah, kami udah bisa pulangkan?" tukas Carol, mengambil kunci mobil di dalam saku.
"Hu'uh, hati-hati kelen, ya! Makasih udah nemanin aku!" pamit Dira, melambaikan tangan, berpisah dengan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Carol, Jenny dan Shinta pulang bersama menaiki mobil yang dikendarai oleh Carol. Sementara Dira, berjalan dengan riang hendak bertemu sang suami.
"Duaaaaar!" teriak Dira mengagetkan Defan dari belakang, sontak laki-laki itu tersentak kaget.
"Ck!" decak Defan, menatap Dira dari spion mobil, lantaran perempuan itu muncul dari belakang mobilnya.
"Abang, kok lama sih?" protes Dira, mode merajuk.
"Maaf, yang, tadi abang dipanggil bapak! Jadinya agak terlambat!" beber Defan, meraih tangan istrinya lalu menciumnya dengan lembut, dan bergantian, Dira juga mencium punggung tangan suaminya.
"Oooh! Yaudah, aku masuk dulu." Dira mengitari mobil Defan, kemudian duduk di kursi sebelah suaminya.
"Bang, kita pulang dulu, ya? Kalau dinner, penampilan harus kece dong!" seloroh Dira, mengerling lalu tersenyum lebar.
"Iya, sayang!" Defan melajukan mobil, meninggalkan kampus Dira, menyongsong kepadatan kendaraan sore itu.
Mobil berjalan dengan kecepatan laju yang sedang. Berselang 15 menit, mereka sudah memasuki area kondominium, lalu menyusuri lantai basement.
"Ada acara apa sih, bang? Sampai kita harus makan di resto?" tanya Dira, menengadahkan kepalanya agar bisa menatap suaminya yang tinggi tersebut saat berjalan gontai menuju lift.
"Dalam rangka biar rumah tangga kita makin mesra dan harmonis!" bisik Defan, di dekat telinga Dira. Gadis itu berdesir saat mendengar sayup-sayup suara suaminya dari sisi telinga.
"Hemm ... Kirain gara-gara apa!" sergah Dira, menatap, lalu menggosok lengannya lantaran bulu kuduknya meremang akibat bisikan sang suami.
Tubuhnya sedikit sensitif, sudah hampir satu bulan tidak mendapatkan sentuhan yang mendalam.
Keduanya berjalan gontai, memasuki lift dengan santainya. Tiba di rumah, Dira buru-buru merebahkan diri di atas ranjang. Tubuhnya remuk dan tangannya pegal-pegal seharian membuat tas dari hasil daur ulang plastik.
"Bang, jam berapa dinnernya?" cecar Dira, merehatkan tubuhnya di atas ranjang.
"Jam 7, yang!" imbuh Defan, mendelik ke arah jam di dinding.
"Yaudah, masih lama kok. Aku rebahan bentar, ya?" pinta Dira, sembari memejamkan mata.
"Iya, yang. Abang mandi duluan deh! Biar nanti nggak buru-buru," sambung Defan, bergegas mandi.
Dira tertidur sejenak, sementara suaminya asik melakukan ritual pemandian. Bahkan, saat istrinya tertidur hingga 30 menit, Defan belum keluar dari kamar mandi.
***
Drrt ... drt ...
Ponsel Desman bergetar, ia masih diluar melanjutkan meeting bersama rekan bisnis yang menjadi penanam saham terbesar di perusahaan.
"Maaf, pak, saya izin sebentar!" pinta Desman, pamit keluar ruangan untuk menjawab telepon masuk yang dianggapnya sangat penting.
"Halo, ma? Bagaimana keadaan mama di sana?" sapa Desman, sekaligus menanyakan kabar sang istri.
__ADS_1
Melva masih terdiam mendengarkan pertanyaan suaminya. Sore itu, Anggi juga tengah mandi, sudah pulang dari kampus. Karena merasa kesepian, Melva sengaja menghubungi suaminya.
"Halo, pak! Sehat mama di sini, kalau bapak? Sedang apa?" jawab Melva, meski sedang bertelepon, ia tetap dengan posisi rebahan di atas ranjang karena tidak ada pekerjaan apapun yang harus dilakukan.