Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
ramuan turun-temurun


__ADS_3

Desman tampak berpikir sejenak. Ia memamg memikirkan nasib menantunya tetapi soal pekerjaan justru nomor satu baginya.


Desman tak mau anaknya dicap sebagai pengacara tak becus lantaran mengabaikan pekerjaan yang telah ia tangani sejak awal. Dengan hati-hati, Desman memperingati putranya yang tengah diselimuti rasa kalut.


"Biarlah Dira dirawat oleh mamamu. Soal pekerjaan jangan sampai kita abaikan. Kasus itu sudah kau tangani sejak awal, kau tetap harus turun menuntaskan. Cukup datang dipersidangan, setelah sidang selesai kau bisa kembali lagi ke rumah."


Defan yang mendengar pendapat sang bapak ikut kembali memikirkan kasus judi online yang prosesnya sangat panjang. Bahkan, ia menjadi pesimis untuk memenangkan kasus tersebut.


"Kalau kau alihkan kasus itu pada orang lain, klienmu tidak akan mempercayaimu lagi," lanjut Desman, memberikan pendapat.


*****


"Kayak mana kondisimu? Sudah baikan? Inang bikinkan ramuan turun-temurun untuk membersihkan rahim, ya!" ucap Melva, menatap dalam menantu kesayangannya.


"Aku merasa baik-baik saja, Inang. Ramuan apa?" balas Dira, menatap nanar wajah mertuanya yang begitu peduli.


"Ramuan kayak jamu gitu, sayang! Rasanya enak, tidak pahit! Sebentar, ya! Kau sudah makan?" sambung Melva, sebelum beranjak ia ingin mendengarkan jawaban menantunya.


"Belum Inang, terasa agak lapar juga perutku hehe," kata Dira, sedikit mencairkan suasana ketegangan yang baru mereka alami.


"Yaudah, sebentar! Istirahat saja dulu!" tandas Melva, lalu beranjak pergi meninggalkan Dira seorang diri di dalam kamar.


Dira kembali memejamkan mata, mengistirahatkan kembali tubuhnya.


Di dapur, Melva sibuk dibantu oleh pembantunya. Nena yang sigap membantu sang nyonya untuk meracik ramuan, mempersiapkan segala rempah-rempah.


"Na, lihat rempahnya lengkap nggak? Saya butuh jahe, kunyit, asam jawa, gula merah," ucap Melva, memberikan perintah.


Nena langsung mencari rempah yang dimaksud. Namun, tak ada satupun yang tersedia di dapur Dira. "Nggak ada, nyonya," sahut Nena, setelah memeriksa.


"Astaga! Berarti jarang masak si Dira. Yaudah, ayo kita ke pajak terdekat!" titah Melva.


Nena langsung bersiap, sementara Melva menghampiri Defan dan suaminya. "Ada yang bisa antar mama? Mau ke pajak!" tuturnya, menoleh bergantian menatap suami dan anaknya.


"Udah bapak aja! Biar Defan yang jagain istrinya. Si Anggi tinggal aja, jangan ikut sama kita," papar Desman, beranjak dari sofa.


"Yaudah, situ aja kau, Nggi! Kawani abangmu," tambah Melva.

__ADS_1


Defan dan Anggi mengangguk bersamaan. Setelah Melva, Desman dan Nena berangkat, Defan langsung menuju kamar, mencari istrinya.


"Nggi, terserahmu lah mau ngapain, abang ke kamar dulu, ya!" pamit Defan, Anggi pun hanya manggut-manggut tanpa mengeluarkan suara.


Defan berjalan gontai, menuju kamar, ia melihat Dira tengah memejamkan mata. "Sayang, maafin abang!" kata Defan dengan lirih.


"Kenapa, bang?" sahut Dira, setelah membulatkan bola matanya.


"Abang tadi lihat kau kok, sedang memperhatikan abang menangis dipelukan mama. Maafin abang nggak bisa menahan kesedihan itu," ungkap Defan, menundukkan kepala.


"Iya, abang, jangan dipendam sendirian! Lebih sakit, bagus kalau diluapkan, kita harus menceritakan ke orang terdekat agar lebih plong," tandas Dira, sedikit menenangkan hati suaminya.


"Iya, sayang. Maaf, abang bukan suami sempurna, belum bisa menjaga kau dengan baik. Maafin abang!" ucapnya dengan lirih.


Dira mengusap wajah suaminya. Lalu, memberikan satu kecupan dibibir itu dengan kasih sayang. Tangannya tetap berpangku pada wajah Defan seraya mengatakan sesuatu.


"Kau adalah suami terbaik yang pernah kumiliki." Dira kembali mengecup benda kenyal milik suaminya.


Defan langsung memeluk tubuh mungil Dira, mendekap erat tubuh gadis kecilnya. Terkikis jarak diantara mereka, rasa haru mulai menggeluti keduanya.


"Abang akan berusaha lebih keras lagi. Abang berjanji, hal seperti itu tidak akan terjadi lagi!" seloroh Defan, menyanggahkan kepala ke pundak Dira.


"Nanti kita buat lagi, ya!" bisik Dira, dengan sedikit nada menggoda.


Defan langsung mengedurkan pelukan, memegang kedua pundak Dira, menatap wanitanya begitu dalam.


"Tunggu pulih dulu, ya, sayang! Jangan sekarang! Rahimnya perlu pemulihan," sahut Defan, tersenyum tipis.


"Oh, ya, besok abang boleh masuk kerja? Mungkin cuma sampai siang kok, kau sama mama dulu, ya! Abang besok ada sidang, ya!" kata Defan, meminta izin dari sang istri.


"Iya, bang! Lagian aku sudah sehat kok." Dira mengangkat tangan, menunjukkan otot di lengan, pertanda kalau ia baik-baik saja.


Defan yang gemas melihat istrinya langsung mengacak-acak rambut gadis itu. Mereka berdua terkekeh.


"Kok sepi, bang? Udah pulang Inang?" celetuk Dira, mengedarkan pandangan, menangkap kesunyian ruangan.


"Lagi ke pajak dulu, ada yang mau dibeli katanya." Defan berbaring di sebelah Dira, memeluk istrinya penuh kehangatan.

__ADS_1


*****


Di ruang keluarga, Anggi uring-uringan sendiri. Ia menyesal sudah mengikuti mamanya ke rumah Defan. Sebab, ia menjadi sendirian, tidak ada teman dan sibuk nggak jelas.


"Ih, tahu gitu aku di rumah sama kak Niar. Di sini grogi mau ngapain, abang sibuk sama edak, mama malah pergi ke pajak," keluh Anggi, membolak-balikkan tubuhnya dalam pembaringan di atas sofa.


Dengan rasa kesal, ia sibuk menatap layar ponsel. Melihat tanggal di layar, sebentar lagi ia akan pergi ke perantauan, mulai mengarungi kota baru untuk menempuh pendidikan.


*****


Melva dan Nena menyusuri pasar terdekat dari kondominium milik Defan dan Dira. Ia mencari berbagai jenis rempah-rempahan sekaligus membeli daging-dagingan untuk dimasak.


"Na, bisa kau bawa semua itu?" Melva sibuk membawa beberapa kantong, dibantu oleh Nena.


Belanjaannya sangat banyak, entah untuk beberapa hari. Ia memborong semua sayur, ikan dan daging-dagingan untuk memenuhi gizi Dira selama pemulihan berlangsung.


"Bisa, Nyonya!" Nena membawa tumpukan kantong plastik, ia sudah terbiasa dengan majikannya yang hobi berbelanja bahan masakan.


Keduanya langsung ke parkiran, mencari mobil sang suami. Tak berselang lama, belanjaan itu sudah berada di dalam bagasi.


"Cepat, pak! Kasian Dira menunggu kelamaan. Mama mau masak dan buatkan ramuan jamu."


Desman menginjakkan pedal gas, bergegas meninggalkan kepadatan pasar dengan pengunjung yang membludak. Hari minggu, banyak orang-orang yang memilih berbelanja di Pasar dibandingkan harus ke minimarket.


Selain harganya murah, kualitas bahannya juga segar. Tak heran, jika Melva lebih memilih berdesak-desakan di pasar dari pada mengeluarkan uang banyak demi kenyamanan hanya untuk beberlanja di minimarket.


*****


"Ma, kok lama kali sih?" gerutu Anggi, merasa bosan di rumah Defan sendiri.


"Kau lihatlah itu belanjaan mama! Banyak kayak gitu! Udah bantuin mamak siapin semua bahan untuk masak! Tanya-tanya mbak Nena, apa aja yang perlu di bantu!" titah Melva.


****


Dari dalam kamar, Dira yang mendengar suara riuh-riuh sehingga dirinya hendak beranjak. Namun, dicegah oleh suaminya.


"Mau ke mana?" tanya Defan, menatap tajam sang istri.

__ADS_1


"Mau bantu inang! Kasian kerepotan," tutur Dira masuk duduk di tepi ranjang.


"Jangan, biarkan saja! Ada mbak nena dan anggi yang bantu!"


__ADS_2