Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
merajuk edak itu


__ADS_3

"Pas kali dak! Aku juga pengennya nyari kaos sama jeans," kekeh Dira menggandeng tangan iparnya itu. Mereka menyusuri satu butik yang paling terkenal di mall itu.


Sementara Defan lebih memilih menunggu di sofa yang telah disiapkan oleh pihak butik. Ia hanya memandang istri dan adiknya yang sibuk memilih-milih baju di dalam butik.


Sesekali ia tersenyum melihat istrinya yang semakin candu untuk dipandang. Kecantikan, gerak-gerik, tawa, senyumnya semuanya semakin candu bagi Defan.


Huffft


Defan membuang nafas kasarnya saat melihat kebersamaan Dira dan Anggi yang semakin akrab. Dimoment ini, akhirnya ia tak menyesali kepergiannya bersama kedua perempuan yang sangat ia sayangi.


Defan mengambil ponsel miliknya di dalam saku. Menatap lekat layar ponsel dengan background pernikahannya yang baru ia ganti saat di kamar mandi tadi sore.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Defan saat membuang hajat sekaligus sibuk memainkan ponselnya di dalam kamar mandi. Karena sedang melihat-lihat foto pernikahannya, ia jadi berniat untuk memajang foto itu di dalam ponselnya.


Tak lupa, ia juga menggantikan pasword ponselnya. Tanggal pernikahannya itu ingin terus melekat dipikirannya.


Dira dan Anggi sedang sibuk memilih-milih baju yang ada di sana. Anggi sudah memegang 5 potong baju serta 2 jeans yang telah dicobanya. Itu akan dia beli karena ditraktir oleh iparnya.


Sedangkan Dira sudah memegang 2 kaos dan 1 jeans. Belum ada lagi yang disukainya, baru itu saja. Dira dan Anggi terpisah. Dira sibuk memilih-milih dibagian dress, sedangkan Anggi sibuk mencari kaos-kaos incarannya.


Bugh!


Anggi terjatuh karena tiba-tiba ada yang menyenggolnya.


"Kalau jalan tuh liat—."


"Sorry," potong perempuan yang menyenggol Anggi. Ia menoleh kebawah, sementara Anggi ternyata sudah menatap perempuan yang ingin dimaki-makinya.


Namun, ia mengurungkan niatnya untuk memaki perempuan itu karena dia adalah sahabat abangnya.


"Loh, Anggi?" Dania menujuk wajah Anggi memastikan kalau yang disenggolnya adalah adik sahabatnya.


"Kak Dania? Ngapain disini?" tutur Anggi. Seketika Dania mengulurkan tangannya, langsung diraih oleh Anggi. Dania membantu Anggi untuk berdiri.


Kemudian, Dania juga memunguti kaos-kaos dan jeans yang berjatuhan di lantai.

__ADS_1


"Ini punyamu kan?" Dania menyodorkan baju-baju yang telah dia ambil dari atas lantai.


Anggi tersenyum ramah pada wanita yang kerap sekali datang ke rumah mereka. Bahkan Anggi dulu mengira kalau Dania adalah calon iparnya. Karena terlalu sering berkunjung ke rumah bahkan jalan bersama Defan.


Dania juga mampu mengakrabkan diri pada Niar dan Anggi. Sayangnya, prediksi Anggi tak sesuai ekpektasinya. Dania hanyalah sahabat bagi Defan. Tidak lebih!


Dira yang melihat Anggi sedang ngobrol dengan seorang perempuan langsung menghampiri. "Kenapa dak?" tanya Dira yang belum melihat wajah wanita yang paling tidak disukainya itu.


"Ini dak, ada kak—."


"Hai Dir," potong Dania melambaikan tangannya pada Dira lalu menatap Dira seraya tersenyum.


Dira terkejut melihat kedatangan wanita itu. Namun, satu hal yang langsung ia lakukan adalah mengedarkan pandangan di sekitarnya. Mencari sosok lelaki yang telah menjadi suaminya.


Ternyata, suaminya tidak sadar. Bahkan sedang asik memainkan ponselnya tanpa menatap ke arahnya.


"Oh! hai kak Dania," sapa Dira menunjukkan senyum sinisnya.


Dengan ulasan senyum itu, Dania tahu kalau Dira tak menyukainya ada di sini. "Nggi lagi ngapain? Sama siapa kesininya?" cecar Dania karena belum melihat sosok sahabatnya di sekitarnya.


Anggi menggeleng. Namun, mulutnya tetap bungkam. Ia tak mau gagal belanja hanya karena kehadiran Dania. Jadi dia memilih bungkam sampai Dira yang beralih menjawabnya.


"Bertiga! Sama bang Defan tuh disana." Dira menunjuk wajah Defan yang masih asik memainkan ponselnya.


"Oh ada Defan juga! Eh lagi belanja apa aja nih?" celetuk Dania basa-basi. Berharap ia diajak belanja bersama sehingga bisa akrab dengan istrinya Defan.


"Ehmm ... maaf, aku pamit dulu mau bayar belajaan," seloroh Dira berjalan menuju kasir.


"Dak aku ikut!" teriak Anggi berlari membawa belanjaannya. Ia memilih mengekori Dira daripada harus mengobrol dengan orang luar walaupun statusnya adalah sahabat abangnya.


Dania semakin kesal pada Dira. Ia tahu kalau Dira sengaja menghindar dan pergi begitu saja. Karena rasa jengkelnya, ia menghentak-hentakkan kakinya, jengah pada perempuan yang berhasil menjadi pendamping sahabatnya.


Akhirnya Dania pergi menyambangi Defan. Ia berjalan gontai mendekati tempat dimana pria itu sedang asik memainkan ponselnya.


"Hai Def," ucap Dania seraya melambaikan tangannya di hadapan Defan.

__ADS_1


Defan langsung mencari sumber suara. Ia menghadap ke depan, dimana Dania sedang berdiri melambaikan tangannya.


"Loh, kau ngapain disini Dan?" imbuh Defan menatap serius wajah perempuan yang berbalut penuh senyum itu.


"Belanjalah Def! Masa disini mau nyanyi hahaha," canda Dania dengan guyonan recehnya.


"Ehm ... sama siapa?" Defan mengedarkan pandangannya, mencari sosok istrinya. Ia tak ingin ketahuan sedang berduaan dengan sahabatnya itu. Defan sedikit lega karena Dira dan adiknya masih melakukan pembayaran di kasir.


"Aku sendiri! Lagi ngemall aja! Kan kau udah nggak bisa diajak kemana-mana lagi!" racau Dania membuat Dira yang baru hadir memasang wajah masamnya.


"Eh Dira ... udah beres bayarnya?" lanjut Dania.


"Udah!" jawab Dira singkat berwajah masam. Ia malas sekali bertemu dengan wanita yang terus ada disisi suaminya.


"Ayo bang pulang," titah Anggi yang mengerti keadaan Dira. Anggi menyadari kalau Dira tak menyukai sahabat abangnya.


Defan mengangguk patuh. Ia juga tak ingin membuat suasana semakin mencekam. Kehadiran Dania memperkeruh suasana malam ini.


"Dan, balik duluan ya!" ujar Defan menggulum senyumnya. Namun, Defan langsung ditarik oleh Anggi karena Dira sudah berjalan agak jauh meninggalkan mereka tanpa berpamitan.


"Abang ini nggak sadar apa? Lihat edak itu, udah ngambek," omel Anggi karena melihat abangnya yang tidak peka.


"Abang tahu, makanya abang nggak lama kok ngobrol sama dia," hardik Defan berjalan cepat mengejar keberadaan Dira.


"Abang gausah dekat-dekat kak Dania lagi. Lagian abang juga udah nikah! Nggak pantas laki-laki dan perempuan sahabatan," berang Anggi.


Untungnya, Anggi sudah mulai membela iparnya. Bukan karena ia tidak menyukai Dania tetapi ia ingin bersifat netral. Membela iparnya yang sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.


Sedangkan Dania? Wanita itu hanyalah orang luar. Bukan merupakan kerabat ataupun keluarga bagi Anggi. Ternyata Anggi sudah bersikap cukup dewasa juga bisa menempatkan posisinya.


"Bang! Udah merajuk edak itu! Cepat luluhkan hatinya! Gandeng tangannya!" Anggi mendorong tubuh Defan agar berada disamping Dira yang menggerutu seorang diri dari tadi.


Defan bahkan hampir terjatuh saat didorong oleh Anggi. Namun, ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Ia mengikuti arahan dari adiknya. Dengan cepat, Defan menautkan tangannya ke jari-jemari Dira. Menggandengnya dengan erat.


Sontak saja, Dira terkejut. Ia menoleh pada orang yang menggenggam tangannya. Namun, tiba-tiba Anggi dari sisi kiri Dira juga menautkan jari-jemarinya ke tangan Dira. Mengeratkan genggamannya sembari tersenyum lebar saat Dira menoleh padanya.

__ADS_1


Kakak beradik itu menggandeng Dira disisi kanan dan kiri. Membuat Dira semakin malu karena telah merajuk tidak jelas akibat kehadiran Dania.


__ADS_2