Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
KB Suntik


__ADS_3

"Maaaakkk!! Mak'eee.....,"teriak Dira dari depan pintu rumahnya.


Dira berlari masuk ke dalam rumah, ia mencari sosok dimana perempuan yang telah melahirkannya.


"Udah datang kau?" ucap Rosma muncul dari dapur rumah mereka.


"Hayo! Kok mamak nggak siap-siap sih?" gerutu Dira karena melihat sang ibu masih memakai daster.


"Udah mandi aku! Tinggal ganti baju saja! Tunggu bentar ya," seloroh Rosma meninggalkan Dira, masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Dira juga masuk ke dalam kamarnya yang sudah terisi barang-barang milik adiknya. Ia hempaskan tubuh rampingnya diatas ranjang, menatap langit-langit dengan senyum tipisnya.


"Ahhh aku rindu kamar ini," batin Dira, bola matanya memutar menyelidik setiap isi ruangan. Kamar itu sudah tak lagi menjadi miliknya.


*****


Defan menggerutu sepanjang sore karena video rekamannya menghilang. Entah apa yang terjadi, mengapa file itu bisa sampai hilang atau mungkin Dania memang tidak merekam kejadian itu?


Defan mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya, menengadahkan kepalanya keatas menyandar pada kursinya.


"Shitt! Kalau besok merekamnya lagi apakah akan sama seperti kemarin?" Defan memikirkan persoalannya yang semakin rumit. Konflik pelik dalam kasusnya. Esok ia akan berjumpa lagi dengan korban tersebut, tetapi apakah mungkin hasil rekamannya akan sama?


Sulit rasanya meminta pengakuan hal sensitif seperti itu. Apalagi pengalaman itu meninggalkan sisa trauma mendalam bagi sang korban.


Ia menatap jam ditangannya, selama dua jam ia melamun memikirkan nasib barang bukti yang telah hilang. Sesekali Defan menyugar rambutnya ke belakang karena frustasi yang ia rasakan.


"Dania! Begok!" maki Defan seraya memijit-mijit pelipisnya karena terasa pusing. Ia tak segan-segan memaki sahabatnya itu apabila berhubungan dengan pekerjaannya.


Defan menatap jam ditangannya, saat itu sudah hampir jam lima sore. Sepertinya ia harus pulang, mulai memikirkan strategi untuk persiapan kemenangan sidangnya.


Jika ia tiba di rumah, tentunya akan membuat pikirannya semakin tenang. Apalagi jika ketemu dengan soulmatenya, alias teman berdebatnya. Siapa lagi kalau bukan sang istri.


Defan bergegas merapihkan barang-barang miliknya, ia memilih untuk pulang ke rumah saja daripada pusing memikirkan pekerjaannya yang menumpuk.


******


"Ayo boru." Rosma baru saja keluar dari kamarnya, sudah menggunakan pakaian yang sangat rapih.


Dira keluar dari kamarnya, menyusul sang ibu yang sudah ada di ruang tamu. Disana adik-adik Dira berkumpul sedang asik bermain game di ponsel masing-masing.

__ADS_1


Dira melekatkan genggamannya pada lengan Rosma. Sesekali tersenyum tipis pada mamaknya yang sangat menyayanginya.


"Mak naik apa kita?" ucap Dira menatap lekat manik mata indah milik mamaknya.


"Jalan kaki sajalah. Dekat kok, di gang sebelah bidannya," sahut Rosma berjalan gontai menuju rumah Bidan.


"Kaya mana hubunganmu sama suamimu?" lontar Rosma penasaran.


"Kaya anjing sama kucing mak," jawab Dira menyengir, gigi putih itu berderet rapih di mulutnya.


"Hush! Nggak boleh gitu! Makanya baik-baik kau sama suamimu! Jangan melawan dan susah diatur. Ambil hati suamimu itu, biar dia bisa jatuh cinta samamu," tegas Rosma.


"Gimana mau ambil hatinya mak, orangnya aja nggak terbuka! Terus-terusan buat aku jengkel! Lagian nggak palaku pikirkan itu mak. Masih lama perjalananku," sambung Dira mengikuti langkah kaki mamaknya.


"Lamapun perjalananmu, kita nggak ada yang tahu kedepannya akan bagaimana. Termasuk untuk hal yang sekarang kita lakukan. Mertuamu udah tahu kan kau jadi KB hari ini?"


Dira menggelengkan kepalanya setelah mendengarkan pertanyaan dari ibunya.


"Loh kenapa? Katanya kemarin juga dia mau ikut?" lanjut Rosma meneruskan pertanyaannya.


"Inang bilang nggak usah KB mak, kalau aku belum siap. Mamak aja yang heboh kali suruh aku pasang sekarang," ketus Dira.


Tak terasa setelah berjalan hampir 10 menit, Dira bersama sang ibu sudah sampai di rumah Bidan tujuan mereka.


*******


Defan berjalan gontai memasuki rumahnya setelah selesai memarkirkan mobil audinya di dalam garasi.


Sosok pertama yang ia cari adalah istrinya. Sebelum masuk ke kamar, Defan menemui mamanga yang masih asik menonton acara tv program favoritnya.


"Mam! Aku pulang." Defan meraih tangan mamanya lalu mencium punggung tangan tersebut.


"Kok cepat kali pulangnya?" celetuk Melva dengan tatapan menyelidik. Baru kali ini ia lihat anaknya pulang dengan semangat. Dengan waktu yang sangat cepat.


Bisanya jika pekerjaan Defan menumpuk, ia fokus mengerjakannya hingga lembur. Bahkan terkadang sampai tak pulang ke rumah, menginap di kantor adalah pilihan yang tepat baginya.


"Iya dong! Capek kerja terus," balas Defan tersenyum lebar.


"Loh ada apa nih? Tumben-tumbenan girang kali," cecar Melva semakin penasaran.

__ADS_1


"Biasa aja ah! Aku mau masuk ke kamar dulu," kilah Defan, kemudian berjalan sambil mengalihkan pandangan mencari sosok istrinya.


"Eh Def," teriak Melva yang melihat anaknya berjalan penuh semangat.


"Apalagi ma?" Defan menoleh ke arah sang mama. Menunggu ucapan yang ingin diucapkan wanita paruh baya itu.


"Itu! Istrimu tadi keluar rumah. Katanya mau ke rumah mertuamu. Tadi udah izin ke mama," timpal Melva seraya mengalihkan pandangannya lagi ke arah tv.


Wajah Defan seketika masam mendengar ucapan sang mama. Apalagi istrinya tak memberi kabar tentang kepergiannya ke rumah kedua orangtuanya.


Ia langsung mengambil ponsel di sakunya mengirimkan satu pesan untuk Dira.


Defan


Dimana? Kok nggak ngabarin kalau pergi ke rumah inang?


Di tempat yang lain, ponsel Dira tiba-tiba berdering, bunyi sebuah notifikasi yang masuk ke ponselnya.


Ting


Tapi Dira menghiraukan pesan itu. Matanya tertuju pada Bidan yang sedang mempertanyakan persiapan KBnya.


"Kenapa anak ibu masih semuda ini disuruh KB?" cecar Bidan tersebut.


"Dia udah nikah bu Bidan, saya nggak mau kalau dia sampai hamil. Sementara sekolahnya masih lama selesai," jawab Rosma.


"Baiklah, silahkan adik di timbang dan tensi dulu ya," ucap Bidan dengan ramahnya.


Dira menimbang berat badannya. Untuk tubuh Dira yang ramping dengan berat 55kg, setelah mengukur tensinya pun ternyata masih diambang batas normal diangka 110.


"Mau coba KB apa bu?" tanya Bidan menunggu kepastian Rosma.


"Kalau disini ada pil KB, setiap hari harus diminum. Ada KB suntik yang 1 bulan dan 3 bulan. Ada KB IUD yang ditanam di dalam rahim, apa anaknya masih perawan?" lontarnya lagi.


Dira mengangguk pelan menjawab pertanyaan Bidan tersebut. "Kalau masih perawan tidak bisa KB IUD ya, kalau yang lain bisa. Ada juga KB implan yang ditanam di lengan. Tapi tidak boleh angkat yang berat-berat."


"Apa jadinya mak?" tanya Dira memerhatikan wajah mamaknya yang tampak sedang merenung dan berpikir.


"KB suntik aja bu bidan. Yang 1 bulan, kita mau lihat cocok nggak si Dira pakai KB itu. Kalau yg 3 bulan nanti malah dianya nggak jelas mesntruasinya," sahut Rosma dengan mantap penuh keyakinan untuk pilihan itu.

__ADS_1


__ADS_2