
Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu memecahkan keheningan ruangan Defan. "Buka, Jun," titah Defan.
Juni pun melangkah gontai ke arah depan pintu, ia langsung menarik daun pintu tersebut. Sorot matanya mulai berubah ketika satu perempuan yang tak asing baginya berdiri di hadapan.
"Masuk bu." Juni langsung berjalan gontai, kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Def, sibuk?" tanya Dania, mendekati Defan yang masih fokus merapihkan seluruh berkas sesuai urutan.
"Sibuk." Defan tak menoleh sedikitpun pada Dania.
"Kok nggak bilang-bilang kalau hari ini udah pindah. Ada yang perlu dibantu?" sahut Dania, ia pun mencoba mengangkat beberapa berkas, niat hati untuk membantu sahabatnya. Namun, tiba-tiba Juni memarahinya.
"Bu, maaf, jangan sembarangan angkat berkasnya. Kita harus menyusun sesuai tahun perkara berkas itu," kata Juni memperingati.
Sontak saja, Dania berang dengan kata-kata Juni yang dianggap sok tahu. Bahkan, ia memelototi Juni, dengan rasa kesal yang menyelimuti di hati.
"Iya, jangan asal kau letakkan itu, Dan! Ada aturannya," timpal Defan seraya meletakkan berkas ke dalam rak.
Akhirnya, Dania pun menuruti kata-kata Defan. Padahal, ia sempat mengabaikan kata-kata Juni.
Dengan rasa kesal, Dania memilih duduk di kursi tamu. Memperhatikan, Juni, Defan serta seorang OB melakukan pekerjaan di dalam ruangan itu.
Karena tidak ada yang memperdulikannya, Dania pun pergi dengan rasa hampa. Bahkan, kepergiannya juga tak diketahui oleh Defan. Hanya Juni yang memperhatikan wanita itu meninggalkan ruangan.
Tak ada kata pamit juga dari Dania. Ia menyelonong pergi begitu saja. Bahkan, Juni juga enggan menanyakan kepergian wanita itu.
"Emangnya enak dicuekin pak bos!" tandas Juni penuh kemenangan, meski hal itu diungkap dalam batin saja. Ia tersenyum lebar saat perempuan itu menggerutu meninggalkan kantor baru mereka.
****
Dari luar pintu, Dania kesal, menggerutu seorang diri. Menghentak-hentakkan kakinya dan memaki-maki Juni dengan lirih.
"Itu asisten si Defan kok sok kali orangnya! Berani dia, ya, samaku! Gara-gara dia, si Defan udah nggak peduli lagi samaku!" lirih Dania merasa frustasi.
Semenjak kehadiran Juni, Dania merasa kalau kedekatannya dan Defan sudah menghilang. Bahkan, Defan tak lagi mau menyapa kalau tidak ia duluan yang menyapa.
"Dan, ngapain kau di situ?" ujar Desman, saat keluar dari ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Defan. Desman pun di dampingi oleh sekretaris dan asisten.
__ADS_1
"Pak, ayo! Nanti kita terlambat meeting," kata asisten Desman.
"Amangboru, aku baru ngecek kantor baru Defan. Lagi sibuk dia beresin semua berkas," jawab Dania tertunduk malu. Ia takut ditertawai oleh dua karyawan bawahan Desman, yang dikira sempat memperhatikannya saat menggerutu tadi.
"Yaudahlah, ya! Amangboru ada rapat." Desman pun pergi meninggalkan lantai teratas itu bersama kedua karyawan.
Sementara, Dania memukuli kepalanya dengan pelan, lantaran ia malu karena aksinya tadi dipergoki oleh CEO mereka serta dua karyawan yang mendampingi.
"Aduh, bodoh-bodoh! Nggak ingat kali aku kalau itu ruangan pak bos." Dania pun berjalan gontai, menuju lift untuk kembali ke ruangannya.
*****
"Angkat semua pak!" teriak Sahat, setelah supir dan seorang keneknya turun dari truk yang sudah terparkir rapih di depan halaman rumah Dira.
"Kalian ikut di mobil kami aja," ajak Melva, ia begitu sesak melihat truk yang dipenuhi barang-barang rumah tangga.
Sudah tidak ada tempat lagi untuk keluarga Dira, jika mereka memaksakan diri tetap menaiki truk tersebut. Bahkan, truk terisi penuh dengan barang-barang perabotan.
"Iya, iya! Nggak ngerepotin kan, dak?" tanya Rosma.
"Enggaklah, santai saja edak! Mobil kami luas kok, cukuplah untuk semua," terang Melva.
"Udah semua pak?" tanya Sahat memastikan.
"Aman, pak! Untung muat sekali angkut!" kata supir tersebut.
"Kalau gitu, aku ikut di truk ini. Mengarahkan jalan." Sahat pun mendekati keluarganya, mengatakan kalau dirinya ikut dengan supir truk tersebut.
"Edak sama yang lain langsung masuk ke mobil saja," papar Melva mengarahkan.
Rosma pun meminta seluruh anaknya untuk masuk ke mobil besannya. Sementara Melva duduk di samping supir, Anggi duduk bersama Dira dan Rosma.
Perjalanan cukup lama, sekitar dua puluh menit menempuh perjalanan, mereka tiba di rumah baru Dira.
Melva cukup takjub melihat luas rumah serta konsep rumah yang cukup unik. Bahkan, rumah bergaya klasik itu terlihat sangat mewah. Namun, Melva tak berani mengomentarinya.
Tapi, kalau Dira langsung saja menanyakan hal itu pada kedua orangtuanya. "Kok besar kali rumah ini mak, apa nggak mahal?" Dira menatap lekat Rosma, diikuti oleh Melva yang ikut menoleh.
"Kebetulan ada yang jual butuh, dijualnya murah rumah ini. Lagian ini di pinggiran, cukup jauh dari kota. Itulah alasannya kenapa harganya bisa murah." Rosma pun mulai turun dari mobil mewah besannya.
__ADS_1
"Berapa rupanya edak beli rumah ini?" tambah Melva menimpali.
"Hmmm ... sekitar 200 juta, edak!" Rosma tersenyum tipis saat menjawab pertanyaan tersebut.
"Waw, pantaslah cantik rumahnya. Cuma memang terlalu jauh dari kota," sergah Melva, ia menatap sekitar rumah itu.
Halaman yang luas, konsep rumah klasik, serta tetangga dengan rumah sederhana. Ia berpikiran kalau dulunya yang menempati rumah itu adalah seorang pejabat, yang memiliki nilai seni yang tinggi.
Rumah itu memang klasik tapi konsepnya sangat unik. Warna cat putih membuat rumah tampak semakin mewah dan netral.
"Bagus kali rumahnya mak, ada berapa kamar itu?" tanya Dira, ia bahkan senang dengan kemajuan keluarganya.
Dengan keberhasilan membeli sebuah rumah, ia semakin yakin kalau bapaknya sudah berubah. Tak lagi hobi bermain judi, togel atau semacamnya.
Sebab, keluarganya masih bisa menyimpan sisa sinamot yang diberikan oleh keluarga Defan.
"Banyak kamarnya boru, nanti kau lihat sendirilah ke dalam." Rosma langsung membukakan pintu rumah dengan kunci yang sudah ia simpan sejak tadi.
Melva, Dira, Anggi mengekori Rosma dari belakang. Melihat ke kanan dan ke kiri. Mereka mengamati rumah kosong masih dengan sentuhan gedung baru.
"Loh, udah berapa lama rupanya rumah ini di bangun, dak? Kok kayaknya masih baru kali rumah ini," cetus Melva.
"Ehmm ... katanya sih baru dibangun setahun lalu, dak. Sudah sempat ditempati setengah tahun tapi langsung mereka jual!"
Rosma membuka pintu kamar utama yang sangat luas. Ketiga perempuan lainnya pun melihat kamar itu.
"Enaklah mamak, ya? Rumah baru, luas kali. Nggak sesak lagi kayak rumah lama kita!" celetuk Dira.
"Disyukuri ajalah boru, ini semua kan karena kau juga," timpal Rosma.
"Loh, kok karena si Dira, Dak?" sanggah Melva.
"Iya lah, Dak. Ini hasil sisa sinamot yang edak kasih."
"Oooooh." Melva membuka mulut dengan lebar tetapi kedua tangannya langsung menutupi.
Mereka semua pun berjalan ke arah kamar berikutnya. Kamar yang akan ditempati oleh adik-adik dira.
"Satu kamar dua orang tapi khusus kamar si parulian lah, dia sendiri," jelas Melva saat membuka ruangan kamar lain.
__ADS_1
"Udahlah, cocok itu mak!" sahut Dira ketika mendengar penjelasan Rosma.