Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
ancaman maut


__ADS_3

Dengan heboh, ketiga sahabat Dira meminta bergantian untuk difoto satu-persatu. Defan pun menuruti keinginan ketiga wanita itu. Bahkan, Dira juga merengek agar diperbolehkan ikut berfoto ditepian jurang.


Namun, Defan tak memperbolehkan Dira untuk berfoto seorang diri lantaran sangat berbahaya dan tidak ada yang menjaganya.


"Kenapa nggak tadi sih, sayang. Abang kan bisa menjauh sebentar saat kau berfoto," kilah Defan, saat menolak permintaan istrinya.


"Please, bang! Aku juga pengen foto kayak mereka! Dari tadi foto kita berdua terus," rengek Dira, dengan manja.


"Jangan-jangan! Bahaya loh!" erang Defan tak memperbolehkan permintaan wanitanya.


"Abang di situ aja, kami yang jagain Dira di sini!" teriak Carol agar Dira diperbolehkan mendekati.


Akhirnya, Defan terbujuk juga. Ia memperbolehkan Dira ke sana. Dengan hati-hati Dira berjalan mendekati Jenny, Carol dan Shinta. Bebatuan yang besar pada bukit itu cukup menghalangi jalan.


Perlahan-lahan, Dira akhirnya sampai di tepian, bergabung bersama ketiga sahabatnya. "Bang, buruan foto, aku sendirian dulu!"


Dengan sigap Defan langsung mengambil beberapa foto. Setelah selesai, ia memberi tanda kalau foto sudah tersimpan dengan baik.


"Hati-hati, yang!" teriak Defan memperingati.


Keempat wanita itu sudah selesai berfoto. Dira perlahan-lahan mulai mendekati ketiga sahabatnya yang berjarak dengan dirinya, mereka juga sudah menantikan kedatangannya. Namun, tiba-tiba, kaki Dira tersenggol sebuah batu.


Dengan tubuh bergetar, kaki Dira yang terkena batu merasakan sakit yang luar biasa hingga melemas. Kakinya kehilangan arah, melihat tubuh Dira yang mulai goyang dan tak bisa mengatur keseimbangan, Carol langsung berlari mendekati.


Dira yang hampir terjatuh langsung ditangkap tangannya oleh Carol. Namun, Carol tak kuasa menahan beban tubuh Dira.


Jenny dan Shinta mulai histeris melihat kejadian di depan mata yang begitu menakutkan.


Tubuh Dira sudah terbentang menuju bawah jurang. Orang-orang sekitar pun panik. "Jenny, Shinta cepat bantu aku!" teriak Carol.


Defan langsung terkulai lemas dengan kejadian itu. Tak ia sangka kalau istrinya akan terjatuh ke tepian jurang. Meski masih terkejut dan shock, Defan langsung berlari kencang. Tak peduli seberapa sakit bebatuan menerjang kakinya.


"Dir, tunggu abang! Abang pasti menyelamatkanmu!" teriak Defan berlari dengan histeris. Ingin rasanya ia cepat tiba dan menangkap tubuh Dira, menarik dengan sekuat tenaga agar istrinya tak terjatuh.

__ADS_1


"Carol ... hikss ... aku takut!" lirih Dira, histeris saat melihat ke bawah jurang yang menanti dirinya terjatuh.


"Carol, tarik aku! Aku nggak mau mati!" ringisnya lagi.


"Tenang-tenang! Jangan takut, Dir! Aku juga jadi ketakutan," erang Carol, tak terasa buliran bening sudah membasahi pipinya.


Jenny dan Shinta baru saja tiba di sebelah Carol. Mereka langsung memegang tangan Dira dengan kencang, menarik tangan itu agar tak terlepas dari genggaman.


"Ayo kita coba tarik, Rol, Shin," teriak Jenny mencoba menarik tubuh Dira yang sudah mulai melemas karena tak tahan lagi.


Mereka bertiga terus mencoba menarik tubuh Dira. Namun, usahanya tak berhasil, tubuh mereka malah terperosok semakin ke bawah. Keempat wanita itu malah nangis histeris.


Tidak ada pengunjung yang di dekat mereka mau mencoba menolong. Semuanya takut, mengingat yang dilawan adalah tepian jurang.


Bahkan, jika gagal, mereka justru menghantarkan nyawa sendiri.


"Aaaa .... Aku udah nggak kuat lagi! Sakit kali tanganku!" desah Dira menangis histeris.


Entah mengapa, langkah kaki Defan begitu lama. Ia merasa tak sampai-sampai ke ujung perbukitan. Defan sangat takut kalau istrinya akan terjatuh ke dalam jurang.


"Sial! Kenapa nggak sampai-sampai!" umpat Defan kesal.


Ia berlari sekuat tenaga agar sampai ke tempat di mana istrinya berada. Matanya sudah memerah, tak kuasa menahan tangis saat istrinya berjuang melawan maut yang ada di depan mata.


Kalau saja dia mendengarkanku tadi, hal ini tidak akan terjadi!


Defan terus larut dalam pikiran saat ia terus berlari menghampiri istri dan ketiga sahabat istrinya.


****


"Dir, berdoa kau! Supaya kita berempat baik-baik aja," kata Carol, ikut menenangkan.


Namun, Jenny semakin histeris saat Dira sudah tak kuat lagi menahan tubuhnya. Pergelangan tangannya sudah memerah akibat tarikan dari ketiga tangan sahabatnya.

__ADS_1


Beberapa pengunjung sudah menghubungi dan meminta pertolongan kepada perangkat setempat, kalau ada seorang pengunjung yang akan terjatuh ke jurang.


"Aaaa! Aku udah nggak kuat!" pekik Dira kesakitan, bajunya bahkan sampai terkoyak saat terkena sayatan dari bebatuan di tepi jurang.


"Tunggu, Dir! Bentar lagi, ya! Sabar!" lirih Carol yang mulai kelelahan menahan tangan Dira dengan genggaman.


Dira hanya mengangguk patuh, raut wajahnya sangat menyedihkan. Begitu juga dengan ketiga sahabatnya. Jenny bahkan sudah menangis terisak-isak seraya memegangi tangan Dira.


Sementara, Shinta menutupi kesedihan dan ketakutannya agar situasi tampak tenang. Ia tak ingin membuat Dira semakin goyah dengan pertahanannya.


"Maafin aku ya, we! Kalau ada salahku! hiks ... hiks ... aku nggak nyangka kalau ini bisa jadi pertemuan terakhir kita! Harusnya tadi aku dengarkan apa yang dibilang sama bang defan! Hiksss ... hikss ... udah sakit kali tanganku," cerocos Dira.


"Dira! Sadar! Ada kami di sini yang menjaga kau! Bentar lagi bantuan datang! Pokoknya kita harus sama-sama tenang! Jangan ada yang panik, kalau kita panik malah kita semua ikutan jatuh!" ungkap Carol, mencoba terus menenangkan seluruh teman-temannya.


"Hiks ... hikss ..." Jenny hanya bisa menangis, seraya menguatkan genggaman


"Jen! Kau jangan nangis aja, tarik yang kuat si Dira, kau nggak mau kan, kita semua jatuh!" murka Shinta, tak tahan melihat Jenny terisak-isak karena memperkeruh suasana.


"Ayo, 1, 2, 3 kita coba tarik si Dira! Usaha kita. Mulai ya!" teriak Carol memberi aba-aba.


Ketiganya berusaha kembali menarik tubuh Dira agar segera terangkat ke atas. Namun, tetap tak berhasil.


Tak berselang lama, Defan akhirnya tiba di ujung bukit. "Pegang yang kuat si Dira ya, biar abang coba angkat!" kata Defan sebelum bertindak.


Ketiga wanita itu hanya mengangguk, menguatkan genggaman mereka sebelum Defan mulai menarik. Defan langsung menggenggam tangan Dira, kakinya sebagai kuda-kuda menahan tarikan tersebut.


Dengan penuh keyakinan, ia akan berhasil menarik tubuh sang istri. "Ayo, tarik sama-sama! 1,2,3!" lanjut Defan memberikan aba-aba.


Mereka berempat langsung menarik tangan Dira, sedikit ada kemajuan saat tubuh itu mulai terangkat ke atas. Namun, tarikan pertama belum berhasil menyelamatkan Dira dari ancaman maut.


"Ayo sekali lagi!"


Mereka kembali menarik tangan Dira yang sudah melemas. Tubuh Dira pun sudah terkaku, tatapan matanya penuh nanar, tak ada lagi harapan untuk ia bisa naik ke atas sana, berkumpul dengan suami dan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2