Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
ketakutan


__ADS_3

"Ih, Abang apaan sih!" gerutu Carol, seraya menepuk bahu pacarnya.


"Ya, emang kenapa? Kan kau emang sayangku!" tegas Jefri seraya menoel dagu pacarnya dengan lembut.


"Iya deh!" lontar Carol pasrah, akhirnya ia pun menerima panggilan kata sayang yang disematkan oleh Jefri padanya.


Diki akhirnya menggerutu karena tidak ada satu wahana pun yang mereka naiki bersama kedua perempuan yang tengah bersamanya.


Diki udah mengajak berulang kali tapi selalu ditolak oleh Jenny dan Shinta karena mereka lebih sibuk untuk membeli jajanan yang ada di pasar malam.


"Woi, ayolah kita coba dulu wahana yang lain," ucap Diki.


"Nggak ah, malas mau naik yang lain. Mending jajan aja kita. Lagian banyak nih uang yang dikasih Bang Defan untuk kita pakai," sambar Shinta.


"Iya, banyak nih makanan yang harus dicoba, ada mie ayam, bakso dan lain-lain, makanya mending kita makan aja biar kenyang," kata Jenny.


"Yaudah kalian dua aja lah yang jajan, aku mending nyoba permainan yang lain, ada banyak permainan di sana," ujar Diki, kemudian berlalu pergi.


Diki mencoba wahana ombak banyu yang biasanya diputar oleh para petugas sembari menunjukkan atraksinya sendiri, saat menaiki ombak banyu para petugas tampak beratraksi di depan seluruh para pengunjung yang menaiki wahana itu.


Orang-orang berseru sembari berteriak tapi saat wahana berputar suara musik menggelegar semakin membuat suasana kian meriah, menaiki ombak banyu dengan berputar-putar di atas yang dirasakan oleh Diki bagaikan tengah terombang-ambing seperti tengah di atas lautan.


Diki juga merasakan pusing serta mual yang cukup mendera. "Nyesal kali aku naik ini, pusing kali kepalaku," keluh Diki seraya menenangkan pikiran setelah turun dari ombak banyu.


Dengan jalan yang perlahan, akhirnya Diki pun pergi menemui Shinta dan Jenny. Namun saat di tengah perjalanan, ide cemerlang muncul dari dalam pikirannya, saat ia menatap suatu tempat bertuliskan rumah hantu yang tak sengaja ia lintasi.


"Aku harus mengajak Shinta dan Jenny ke tempat ini agar memberi kedua perempuan itu pelajaran karena sudah membuatku mengekori mereka sedari tadi," batin Diki, ingin membuat kedua perempuan itu jera dengan memberi tantangan pada mereka.

__ADS_1


Diki kini, Diki berada di perkumpulan dua wanita yang tengah menyantap bakso di pinggiran tenda. Mereka sangat menikmati santapan itu, tiba-tiba Dicky datang dengan heboh.


"Woi, kelen lihat di sana ada wahana yang baru dibuka, seru kali lah pokoknya, harus kalian coba, yang pasti tempatnya tidak membuat fisik lelah!" imbuh Diki dengan antusias.


Jenny dan Shinta pun dibuat penasaran oleh Diki, mereka ingin mencoba wahana itu karena sedari tadi mereka tidak melakukan apapun. Hanya sibuk membeli jajanan dan memakan makanan yang ada di dalam pasar malam, akhirnya mereka berdua menyetujui ajakan Diki.


"Wahana apa rupanya?" sahut Jenny, semakin penasaran.


"Kayaknya ini baru ada di pasar malam lah," kilah Diki, berpura-pura memberikan pendapat mengenai rumah hantu.


Ia tidak ingin segera mengucap kata rumah hantu karena akan menakuti kedua wanita itu, sehingga nantinya malah gagal mengajak mereka berdua menikmati wahana malam yang akan menakuti mereka.


Namun, saat ketiganya sudah berada di depan wahana rumah hantu, Jenny dan Shinta bergidik ngeri untuk mencobanya, padahal sebelumnya mereka sudah membeli 3 buah tiket untuk memasuki wahana itu.


"Kau gila, ya, Dik ngajak kami ke sini," keluh Shinta, seraya menatap rumah hantu dengan penuh selidik.


"Eh biar kalian tahu ini cuman uji mental aja, kita cuma uji nyali sembari latihan vokal pas udah di dalam. Pokoknya bedalah, lebih seru dibandingkan naik bianglala tadi. Pokoknya kalian pasti histeris dan heboh lah," tandas Diki seraya memicingkan mata.


"Ah gila kau, bisa-bisa jantungku copot kalau masuk ke rumah hantu itu," timpal Jenny menggerutu.


Namun, dengan terpaksa Jenny dan Shinta akhirnya menerima ajakan Diki untuk masuk ke dalam rumah hantu karena pria itu sudah menyerahkan 3 tiket yang dibeli kepada petugas yang menjaga rumah hantu tersebut.


Di ambang batas pintu saja, sudah terdengar suara cekikikan-cekikikan beberapa orang yang merubah penampilannya seperti sosok hantu yang menakutkan.


Ketiga orang itu masuk, Diki yang berada di tengah-tengah pun memanfaatkan situasi. Baru saja masuk, kedua perempuan itu tampak menjerit dan histeris saat sosok perempuan tiba-tiba muncul, perempuan yang berambut panjang menggunakan jubah putih, wajahnya tertutup oleh rambut tapi di area tangan seperti ada lumuran darah.


Tiba-tiba, hantu perempuan itu menyeka rambutnya dan wajahnya pun seketika terlihat menakutkan, wajah berwarna putih pucat dan ada seperti bekas luka di kedua pipinya.

__ADS_1


"Huaaaa..." teriak hantu wanita itu, untuk menakut-nakuti.


"Awwwww!" jerit Jenny dan Shinta dengan kompak, keduanya menjerit lantaran terkejut, bahkan tak tahan dengan suasana yang menakutkan di dalam ruangan sangat gelap.


Tak hanya itu, suasana horor melengkapi keadaan di dalam rumah hantu itu. Diki, Jenny dan Shinta sampai tidak melihat lorong jalanan yang dilintasi karena suasana yang gelap.


Berbagai pernak-pernik untuk mendukung suasana yang membuat semakin menyeramkan, ada pula berbagai pajangan patung-patung yang seram serta orang-orang yang bersembunyi dengan kostum sebagai sosok hantu.


"Aduh, nggak kuat aku, mending kita mundur!" pinta Jenny, lantaran tubuhnya sudah bergidik ngeri.


"Sabar, maju aja terus, bentar lagi kita udah sampai di depan," sahut Diki.


Jenny dan Shinta akhirnya luluh kembali dan mereka berjalan sembari mengalungkan kedua tangan di lengan Diki. Pria itu hanya tersenyum tipis menatap kedua perempuan yang terus merasa ketakutan.


"Ck!" decak Diki, seraya tertawa penuh kemenangan.


"Emang enak kalian kukerjain!" gumam Diki, lalu tersenyum tipis.


Ketiganya melanjutkan langkah kaki agar segera bisa keluar dari rumah hantu. Namun, suara deru langkah kaki yang semakin mengencang hingga menghentikan jalan ketiga orang itu, tiba-tiba sosok seperti begu ganjang muncul di hadapan mereka.


Pria yang tinggi hingga mencapai 2 meter, berjubah hitam dengan mata melotot, bibir berwarna hitam serta kulit yang memutih. Begu ganjang itu membelalakkan mata, menatap Jenny, Shinta dan Diki dengan sangat tajam.


"Awww! Ahh! Sial!" jerit Jenny, seraya memeluk Diki dengan erat karena ia memang sangat takut dengan sosok hantu yang sering ditonton di tv ataupun bioskop.


"Agh! Mamak! Mati lah aku!" pekik Shinta menjerit, dia juga tak tahan dengan kejutan hantu itu hingga membuat ketakutan, lalu memeluk lengan Diki juga dengan erat.


"Tenang-tenang, ada aku disini, nggak usah takut kelen. Itu cuma manusia kayak kita, mereka hanya pakai kostum hantu!" sosor Diki, menenangkan kedua perempuan itu meski terkekeh kecil karena merasa lucu melihat tingkah dua perempuan itu ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2