
Pagi itu, Defan menuruti kemauan istrinya. Membeli lontong medan di pinggiran jalan. Salah satu lontong medan yang paling terkenal dan terenak di kota itu, walaupun hanya berjualan di pinggir jalan.
"Silahkan, kak," kata Ibu Pedagang, saat memberikan dua piring lontong medan ke meja mereka.
"Makasih, Bu," balas Dira seraya membuat lengkungan lebar di sudut bibir.
Tatapan mata Dira berubah, kala ia melihat makanan yang menggiurkan di depannya. Betapa menggiurkan lontong medan itu, lontong yang di taburi bihun serta mie lidi goreng, ditambah adanya telor bulat balado, di siram kuah santan serta tauco sayur buncis tempe di akhir.
Tak lupa, pedagang itu juga memberikan kentang mustofa dan kerupuk berwarna merah putih yang hanya di produksi di Sumatera.
Glek
Dira meneran air liurnya, entah mengapa ia tak bisa lagi menahan rasa lapar. Pagi itu, Dira menyantap lontong medan dengan lahap. Dalam waktu lima menit, lontong medan itu telah ludes.
"Satu lagi, Bu," teriak Dira, meminta nambah satu porsi.
Defan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan istrinya yang baginya sangat menggemaskan.
"Duh, lama kali sih," gerutu Dira, tak sabar menyantap satu tambahan porsi lagi.
"Ini punya, abang, makan aja kalau buru-buru!" titah Defan, menyodorkan piring yang isinya tinggal setengah.
"Nggak mau ah, udah tinggal dikit." Dira menatap ke arah ibu penjual lontong medan, berharap ibu itu segera mengantarkan makanan.
"Nih, kak! Lapar kali kayaknya kaka," ucap Ibu Pedagang.
"Hehe." Dira hanya tertawa kecil, meraih piring tambahan yang diberikan pedagang tersebut.
Dira menyantap satu porsi lagi, dalam sekejap makanan itu ludes. Mengalahkan porsi makan Defan, bahkan makanan suaminya itu saja belum habis.
Namun, Dira sudah mengalahkan untuk kedua kalinya. "Astaga, kau kelaparan atau kesetanan sih. Dua piring habis sekejap," seloroh Defan sembari menggelengkan kepala.
"Hehe! Lapar kali aku bang, maklum kalau dihitung-hitung, empat ronde kita bang," papar Dira, mengingat-ingat momen hubungan intim mereka.
"Hush! Jangan besar-besar bicaranya! Nanti ke dengaran orang lain." Defan menyumpal mulut Dira yang begitu polos tanpa memerhatikan sekitar.
"Ih, abang, apaan sih! Buruan makannya! Katanya mau kerja." Dira melepaskan bungkaman tangan Defan, menghempaskan tangan itu dengan cepat.
"Iya!" Defan langsung melanjutkan sarapan, menghabiskan lontong medan yang tersisa.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanan dan melakukan pembayaran, Defan langsung mengantarkan Dira kembali ke kondominium milik mereka. Defan menurunkan istrinya di depan lobi gedung.
Sebelum keluar mobil, seperti biasa rutinitas kedua pasangan suami istri itu berpamitan. Defan mengulurkan tangan, diraih oleh Dira. Lalu, ia mencium punggung tangan itu dengan mesra sekaligus mengelus-elusnya.
Tak hanya itu, Defan juga mengecup singkat bibir tipis milik istrinya. Lalu, mereka berdua saling melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan.
"Hati-hati, ya, Bang!" Dira melambaikan tangan sembari melayangkan senyum lebar.
"Ingat, kalau ke mana-mana, kabari dulu sama abang," sergah Defan menatap sinis.
"Abang, juga ingat! Kalau ke mana-mana juga bilang sama aku," protes Dira tak mau kalah.
"Iya, istriku!" jawab Defan singkat, kemudian ia menginjakkan pedal gas, menjalankan mobil itu dengan laju sedang.
Dira langsung berjalan ke arah lift. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pria dari kejauhan yang tak asing di pengkihatannya. Sialnya, Dira kembali bertemu dengan Angga—Teman sekelasnya.
"Eh, Dir! Sini, ngapain kau malah mundur lagi," ujar Angga, saat melihat Dira yang hendak mendekat tetapi ingin menjauh lagi.
"Hehe ..." Dira terkekeh kecil.
"Mau bertamu lagi, ya?" seloroh Angga sangat polos.
"Oh, aku mau pulang. Habis nginap di rumah orangtuaku," imbuhnya terus terang.
"Hah? di rumah orangtuamu?" Pikiran Dira belum mengarah kalau Angga saat ini tinggal seorang diri.
"Iya!" jawab Angga singkat.
"Loh, jadi kau di sini tinggal sama siapa?" cecar Dira penasaran.
"Sendiri."
Angga dan Dira melangkah masuk ke dalam lift, saat lift itu terbuka. Kebetulan, Angga tak mengendarai mobilnya sendiri. Ia malah diantarkan oleh papinya ke kediaman pribadi sehingga di turunkan di depan lobi sama seperti Dira.
"Hah? Berani kau tinggal sendiri?" Dira masih tak percaya dengan ucapan pria yang berusia sama dengannya.
"Iyah, sendiri." Angga cukup tertutup mengenai keluarganya. Namun, saat Dira bertanya, entah mengapa mulutnya secara spontan menjawab semua pertanyaan tersebut.
Ting
__ADS_1
Suara pintu lift terbuka setelah tiba di lantai 2. Pandangan Dira langsung teralihkan, ia berpamitan pada teman sekelasnya itu.
"Angga, aku duluan, ya!" Dira langsung keluar dari dalam lift, menatap penuh selidik ke arah Angga. Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Dira.
Namun, ia sangat segan untuk mempertanyakan kehidupan pribadi teman sekelasnya itu. Oleh karena itu, Dira mengurungkan niat untuk mengorek tentang keluarga Angga.
"Ah, sudahlah! Apa urusanku." Dira langsung berjalan gontai ke arah daun pintu rumah.
Menekan pasword rumah itu di smart lock yang tertempel di handle daun pintu. Tak berselang lama, kunci pintu pun terbuka.
*****
Defan yang baru saja tiba di kantor, langsung menatap berkas-berkas yang menumpuk. Satu berkas yang ia ambil dari tas kerja, langsung kembali dipelajari.
Sebab, tadi malam ia tak sempat menyentuh berkas tentang perkara judi online tersebut. Sia-sia usahanya membawa pulang berkas itu, pada akhirnya pekerjaannya akan kalah dengan aktivitas intim yang lebih memabukkan serta menggiurkan baginya.
"Pagi, pak!" sapa Juni, ia justru lebih terlambat datang daripada sang bos.
"Pagi." Defan tetap fokus membaca berkas yang ada di tangan tanpa menoleh ke arah Juni.
Kemudian, Juni tiba-tiba mendekatinya sehingga menyita perhatian pria itu. "Ada apa?"
Juni menyodorkan kartu kredit yang semalam dipinjamkan oleh Defan. "Terima kasih, pak! Berkat bapak saya bisa makan enak dan ngopi enak juga."
"Sama-sama." Defan langsung mengalihkan lagi pandangan ke arah berkas. Sementara, Juni langsung kembali ke kursi kerjanya.
"Apa ada yang kurang dari kasus yang Senin digelar sidangnya, pak?" Juni menatap ke arah Defan dengan serius. Sebab, ia sempat melihat berkas yang dipelajari oleh bosnya itu.
"Hmm ... belum ada, tapi saksi sudah kau hubungi?" timpal Defan.
"Sudah pak, beliau juga mau datang ke sini hari ini. Katanya mau langsung bicara dengan bapak." Juni berdiri, mengambil beberapa berkas yang harus dicek.
"Baiklah, kabari saya jika dia sudah berada di sini." Defan tak menoleh sedikitpun ke arah Juni, ia melanjutkan pekerjaannya.
*******
Dira baru saja merebahkan diri di atas ranjang. Tiba-tiba, ponselnya berdering sangat kencang. Ia langsung mengangkat sambungan telepon dari Jenny. Sahabatnya itu menghubungi, Dira pun akhirnya dibuat penasaran.
"Halo," sapa Dira dari seberang telepon.
__ADS_1
"Dir, kayak mana liburan kita? Udah kau tanya sama bang defan?" tanya Jenny dengan lugas.