Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
si malin


__ADS_3

"Ada! Sebentar aku ambilkan!" jawab Judika, semangat 45 saat adanya pengusulan kegiatan hiburan di saat ospek terakhir.


Judika berjalan gontai, keluar dari ruang kelas juniornya. Lalu, berlari menuju aula, di mana gitarnya tersimpan dengan aman.


Setelah berhasil mengambil gitar, ia kembali lagi ke kelas.


****


Di ruang kelas jurusan kedokteran, Dira telah menanti hukuman yang akan ia terima dari seniornya. Rasa deg-degan mulai menghantui.


"Siapa yang kemarin akan dihukum?" celetuk Tika, memasang raut wajah yang galak.


"Ehm ... saya, kak!" jawab Dira dengan cepat.


"Maju!" titah Tika, menatap sinis.


"Kemarin kenapa dia harus dihukum?" tanya Gamal, menatap teman seangkatannya.


"Karena terlambat mengumpulkan tugas!" jawab Tika, lugas .


"Oh! Jadi cocoknya harus dikasih hukuman apa?" ujar Gamal, menatap lekat temannya.


Tika berdecak sembari memikirkan hukuman apa yang pantas diterima Dira. Namun, sepintas melihat fisik Dira yang sehat, ia mulai berpikiran untuk memberikan hukuman fisik.


"Gimana kalau hari terakhir ospek ini kita adakan di luar kelas, Mal?" tanya Tika, menatap Gamal seraya memicingkan mata.


"Hmm, boleh saja!" timpal Gamal. Namun, seorang senior lagi tidak setuju. Wati menginginkan agar ospek terakhir berada di kelas saja.


Menyelenggarakan ospek terakhir di kelas justru lebih baik, daripada ketimbang panas-panasan di lapangan.


"Janganlah, Tik! Bagusnya di dalam kelas, lagian kita harus mengadakan acara perpisahan," tolak Tika, menatap penuh kecemasan.


"Ah, nggak seru kau, Wati," hardik Tika, mencebikkan bibirnya lantaran kesal tawaran itu di tolak.


"Memang lebih bagus di kelas kak, kemarin anak jurusan arsitektur ada yang pingsan loh! Jangan sampai kakak sok keras kasih hukuman, malah mencelakai kami," seloroh seorang maba.


"Iya, betul tuh! Lagian kasianlah sama kami, kak! Kemarin kami sudah mengerjakan tugas seharian. Malah ada yang kena hukuman pula," sahut maba lainnya.

__ADS_1


"Sstt! Jangan berisik," titah Gamal, menempelkan jari telunjuk ke tengah bibir.


Alhasil, seluruh mahasiswa terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain. Begitu juga dengan Dira dan Jenny, mereka saling melirik tetapi tak bisa mengobrol karena jarak memisahkan.


"Jadi aku dihukum apa, kak?" imbuh Dira, menunggu keputusan seniornya.


"Kau mendongeng aja!" celetuk Tika, mengubah hukuman, yang awalnya ingin Dira berjalan merangkak di kubangan lumpur yang ada di lapangan.


Kebetulan sekali, tadi malam hujan sehingga lapangan becek dan kotor. Namun, karena banyak mahasiswa yang protes tentang aksi ospek terakhir di luar kelas, akhirnya Tika mengurungkan niat tersebut.


"Tapi dongeng cerita rakyat yang sudah di luar kepala! Jangan lupa dengan ekspresinya harus sesuai!" tutur Tika lagi.


Dira pun maju ke depan, memenuhi permintaan Tika sebagai seniornya. Satu cerita rakyat yang selalu dikenang di kepala yakni kisah si malin kundang.


Cerita rakyat yang sejak duduk di bangku SD itu sudah melekat di pikiran Dira. Oleh karena itu, ia mulai mendongeng di depan disaksikan oleh penonton yang merupakan teman sekelasnya sendiri.


"Teman-teman, saya ingin mendongengkan kisah si malin kundang. Pria yang dikutuk jadi batu oleh ibunya sendiri karena menjadi anak durhaka!" jelas Dira, memulai hukuman yang diberikan oleh seniornya.


Ketiga senior itu duduk berbaris di depan Dira, bergabung dengan maba sebagai penonton. Semuanya menatap lekat si pendongeng dengan serius.


Kisah si malin kundang yang dulunya selalu diceritakan dari mulut ke mulut akan didongengkan oleh Dira. Cerita rakyat yang dipercayai benar-benar pernah terjadi. Terlebih, bukti nyata sebuah batu di tepian pantai di daerah Padang, bisa dilihat oleh para wisatawan jika berkunjung ke sana.


"Tahu!!" teriak seluruh penonton dengan kompak.


"Karena semua sudah tahu, aku nggak jadi deh menceritakan kisah ini," canda Dira, terkekeh. Semua penonton pun ikut tertawa dengan aksinya untuk mencairkan suasana.


"Kisah lain dong!"


"Lanjut ... lanjut."


Teriakan-teriakan itu lantas tak membuat Dira bergeming. Ia tetap melanjutkan dongeng kisah si malin kundang.


"Kisah ini dimulai dari seorang pemuda yang merantau ke kota. Ia bekerja pada saudagar kaya yang memiliki anak perempuan cantik." Dira menggambarkan seorang pemuda yang bertemu dengan lelaki tua di papan tulis.


Kisah dongeng yang diceritakannya ini didramatisir dengan gambar-gambar yang sesuai dengan latar cerita. Untung saja, Dira ahli menggambar karena sejak awal dia bercita-cita sebagai fashion designer.


Dira kembali melanjutkan ceritanya, pemuda yang bernama si malin kundang itu memiliki wajah yang rupawan. Alhasil, anak saudagar kaya tersebut terpikat.

__ADS_1


Hingga akhirnya, perempuan itu menikahi si malin kundang. Namun, saat ditanyakan tentang status kedua orang tua Malin, dirinya berdalih bahwa ia hanyalah seorang anak yatim piatu.


"Wooo!!" teriak seorang maba, memecahkan keheningan kelas.


"Yang di sana? Apa kau si malin? Makanya protes?" teriak Dira, seraya menunjuk lelaki yang berteriak, sontak semua mahasiswa dan senior malah tertawa.


Dira kembali melanjutkan kisah si malin kundang. Ia menjelaskan, hingga akhirnya anak saudagar kaya tersebut menikah dengan si malin kundang.


Selama beberapa tahun, kata Dira, kehidupan pernikahan malin kundang dan istrinya berjalan dengan sempurna. Lalu, sang istri mengajak agar suaminya memperkenalkan kampung halamannya.


"Lalu endingnya bagaimana?" celetuk seseorang dari sudut ruangan.


"Sabar! Apa kau mau dikutuk jadi batu? Kan sudah tahu endingnya jadi batu! Yang kalian harus tahu, progres saat ia menjadi sebuah batu" kekeh Dira, yang lain pun tertawa terbahak-bahak.


Dira kembali bercerita, Malin pun mengajak istrinya ke kampung halaman. Seorang wanita tua, mendengar kabar kalau anaknya sudah pulang membawa istri yang cantik dengan kehidupan yang mewah dan menjadi orang kaya di perantauan.


Hingga akhirnya, wanita tua itu mencari jejak anaknya. Ia berjalan menuju pelabuhan, di mana kapal bermuara.


Malin dan istrinya turun dengan gaya yang angkuh. Menatap sekitar sekaligus Malin bernostalgia pada kampung halamannya. Ia masih berada di tepi pantai, terlihaf banyak kapal-kapal yang bermuara.


"Kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi?" tanya Dira pada penonton.


"Ibunya datang!" sambung teman Dira.


"Yap, benar sekali!" ucap Dira.


Dira kembali menjelaskan kisah si malin kundang. Suatu waktu, perempuan tua yang lusuh, datang menghampiri si malin yang baru saja turun dari kapal bersama istrinya.


Betapa bahagianya perempuan itu, kala melihat anak lelakinya sudah pulang ke kampung menggandeng seorang istri dengan kehidupan yang berbeda. Sang ibu, sudah menunggu sejak lama kepulangan anaknya.


Sayang, si Malin Kundang anak yang tak tahu diri. Ia malah tak pernah mengabari ibunya melalui sepucuk surat pun.


"Malin, kau sudah pulang, nak!" ucap Dira, sembari menirukan gaya bicara perempuan tua dengan suara paraunya.


"Siapa dia, malin?" tanya istri malin, lantaran mengingat kalau si malin adalah anak yatim piatu, apalagi wanita yang menghampiri sangat lusuh dan jelek.


"Aku tidak mengenalnya!" jawab Malin, seraya memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Terus, dia langsung dikutuk?" kata mahasiswa lain, ditengah-tengah cerita Dira.


__ADS_2