
Hingga ending film, keempat remaja itu terus saja terisak-isak. Pipi mereka telah basah, tisu pun berserakan di lantai. Mata mereka berempat memerah meski film telah usai.
Ending dalam film yang berakhir bahagia saat sang anak membersihkan nama ayahnya. Anak itu membela sang ayah sebagai seorang pengacara yang mewakili. Hal itulah membuat mereka berempat semakin terharu. "Aduh, aku jadi ingat bapakku," lontar Shinta menyesali selama ini telah bersikap tak memerdulikan bapaknya.
"Sama! Akupun juga hiks hiks," timpal Jenny masih terisak.
"Udahlah we! Hiks hiks, tenangkan dulu diri kelen. Salah kali aku nyetel film ini. Jadi banjir rumahku! hiks," keluh Dira berurai air mata.
"Ah, sial! umpat Carol memindahkan cairan ingus ke dalam tisu.
"Bangcat jugalah film ini. Bisa dia mengaduk-aduk emosi kita," tandas Shinta masih terisak.
Dira pun beranjak, merefill teko yang telah habis, air mineral di dalamnya telah tandas. Ia mengambil lagi dari dalam kulkas, air dingin untuk mendinginkan kepala mereka yang tampak mengebul.
"Makjang, kok bisa sutradaranya bikin film gitu. Dapat kali feelnya bah!" gerutu Carol.
****
Defan masih disibukkan dengan beberapa kasus yang membuat kepalanya pening. Ia menyandarkan kepala, seraya memijit dahi lebar miliknya. Menatap ke langit-langit, memikirkan istrinya yang sedang berkumpul bersama para sahabat.
Memikirkan tubuh ramping istrinya yang sudah berhasil ia tatap tanpa memakai sehelai benang, pikiran Defan pun tersita. Ia merasa rindu pada wanita itu.
Hufft
Defan menarik nafas, memburu oksigen sekitar. Pikirannya mulai tak tenang tatkala tengah memikirkan tubuh yang telah berhasil ia sentuh. Rasa kemenangan itu melucuti di dalam diri. Namun, ia ingin lagi, dan lagi mencoba tubuh itu.
Kenapa waktu berjalan lama sekali? Berkas-berkas inipun tak kunjung berkurang.
Defan bergumam dalam pikiran sendiri. Ingin sekali ia sudah berada di rumah, memeluk tubuh ramping sang istri dengan hangat. Atau, sekedar hanya bercanda gurau dengan perempuan itu.
Defan melirik jam tangan, butuh beberapa jam lagi agar jam kerja berakhir. Defan menyingkirkan beberapa berkas dari pandangan, ia berdiri, mulai menyadarkan diri agar sejenak melupakan sang istri.
Namun, lagi-lagi pandangannya beralih ke arah ponsel. Tak ada satupun notifikasi yang diterima dari gadis kecil itu. Apa dia sedang sibuk? Atau dia tak merindukan Defan?
"Pak, saya sudah selesai," ujar Juni membuyarkan lamunan Defan saat itu juga. Juni memberikan berkas-berkas yang sudah ia kaji ulang. Mencatat semua bukti yang diperlukan serta para saksi yang harus ditemui.
"Ini juga catatannya pak." Juni lalu kembali lagi ke tempat. Ia mengedarkan pandangan, dari kejauhan, berkas Defan pun tak berkurang.
__ADS_1
"Pak, apa berkas-berkas itu belum dipelajari?" tanya Juni mebelalakkan mata, menatap berkas itu dari kejauhan.
"Belum!" Defan pun kembali duduk dihadapan berkasnya. Ia meletakkan berkas hasil pengkajian Juni diatas meja kerja.
Lalu, ia lanjut mulai membuka lembaran demi lembaran berkas yang tertumpuk itu.
Huaaah
Defan mengeluarkan nafas berat saat kasus itu dirasa sangat berat. Rasa pening kembali menyelimuti di kepala. Namun, ia tetap memfokuskan diri untuk terus membaca berkas tersebut.
"Obat satu-satunya cuma Dira kesayangku," batin Defan yang serasa terus dihantui keinginan untuk pulang.
"Kenapa pak?" tanya Juni yang pandangannya tersita pada Defan sedaritadi.
"Kerja lagi saja," titah Defan menghiraukan pertanyaan itu.
Juni pun menunduk, ia tak berani protes ataupun menyanggah ucapan bosnya.
******
Suara telepon kantor pun berbunyi, memecahkan lamunan Defan. "Halo," jawab Defan dari sambungan telepon.
Defan pun beranjak dari kursi. Merapihkan kemeja yang sempat semerawut saat ia bergeser kesana-kemari.
"Jun, tuntaskan berkas yang ada di meja saya. Saya ke ruangan pak bos dulu," kata Defan meninggalkan Juni di ruangan itu seorang diri.
Saat Juni hendak mengambil berkas, ia melihat ponsel Defan yang tergeletak di atas meja kerja.
"Pak—" Ucapan Juni terhenti saat pria itu sudah menutup daun pintu ruangan.
"Yah, ponselnya ketinggalan," gumam Juni, lalu ia membiarkan ponsel itu berada di atas meja. Juni pun mengambil berkas yang belum sempat ditangani oleh Defan.
Juni kembali lagi ke tempatnya untuk melanjutkan pekerjaan.
******
"Ada apa pak?" jawab Defan saat ia sudah menyelonong masuk tanpa permisi pada sang empunya ruangan.
__ADS_1
"Oh, udah datang kau? Sini, duduk dulu," ajak Desman yang bergerak mendekati putranya. Mereka berdua duduk di sofa panjang tempat biasa penerima tamu.
"Kenapa pak?" tanya Defan menatap lekat pria paruh baya itu.
"Bapak sudah siapkan satu ruangan, di sebelah bapak. Itu masih kosong! Pakai saja, sudah dibersihkan oleh OB kantor," jelas Desman tanpa basa-basi.
"Nggal salah bapak? Bukannya ruangan itu untuk orang nomor dua di perusahaan ini?" Defan sontak terkejut dengan permintaan Desman.
"Selagi kosong, lagipula Direktur yang dulu sudah mengundurkan diri. Dan belum ada penggantinya sampai detik ini." Desman pun beranjak menuju laci meja kerja, mengambil kunci lalu menyerahkan pada anaknya.
"Mulai besok, pindahlah kesana!"
"Apa aku mengganti kan posisi Direktur itu?" Defan mulai curiga pada sang bapak yang ingin menyerahkan jabatan itu padanya.
"Belum! Tidak segampang itu, kualifikasimu belum mumpuni," ledek Desman memicingkan mata.
"Ah, suka gitu bapak! Bukankan sudah cukup? Aku satu-satunya pengacara dengan penghasilan tertinggi di perusahaan ini?" Defan berlagak bangga di depan bapaknya sendiri.
"Bukan soal penghasilan saja tapi kinerjamu juga harus mumpuni. Seorang Direktur S.N.G Lawfirm tidak bisa dipilih sembarangan. Harus melalui pemilihan suara dari anggota Direksi lain dan pemegang saham," jelas Desman panjang lebar.
Defan pun hanya manggut-manggut mendengarkan penuturan sang bapak. "Baiklah, aku akan manfaatkan ruangan itu," ucap Defan mengerling.
"Satu lagi, asistenmu bekerja di ruangan sebelah. Jangan satu ruangan denganmu." Desman memberikan perintah, sontak membuat Defan tak setuju dengan pendapat pria itu.
"Tidak! Dia kerja sangat bagus, mengapa harus dipindah? Aku tidak bisa berjauhan dengannya. Kerjanya sangat kompeten dan cepat!" tegas Defan menolak permintaan itu.
"Bukan itu maksud bapak, ruangan kalian yang harus di pisah! Bukan dia dipindahkan pekerjaannya."
"Sama saja pak! Juni harus ada di ruangan yang sama. Lebih gampang kalau aku menyuruhnya. Lagipula, masa magangnya hanya tinggal beberapa bulan lagi," terang Defan menegaskan kembali.
"Yasudah, kau atur sajalah! Yang penting, mulai besok kau sudah menempati ruangan itu!" Desman pun kembali menduduki kursi kebesaran miliknya.
"Udah sana, tunggu apalagi?" usir Desman seraya mengibaskan telapak tangan.
"Iya! Makasih pak," jawab Defan lugas, ia pun keluar dari ruangan besar yang luasnya 4 kali lipat dari ruangan miliknya.
Defan mengayun-ayunkan kunci yang ia pegang, sebelum ia menuju lift, ia mampir ke ruangan sebelah tepat di samping ruangan CEO S.N.G Lawfirm, Desman Sinaga.
__ADS_1
Begitu takjubnya, ruangan itu sangat luas. Tiga kali lebih luas dari ruangan miliknya. Meski lebih kecil dari ruangan milik Desman. Bahkan, Defan sudah tak sabar untuk menempati dan memindahkan barang-barangnya.