
"Iya, bang! Nanti sore abang pulang jam berapa?" cecar Dira, ia tak ingin sendirian lagi seperti kemarin.
"Semoga pulang tepat waktu, ya, sayang! Nanti abang kabari, soalnya harus bongkar-bongkar barang lagi di kantor. Belum beres semua." Defan dan Dira berjalan beriringan ke arah ruang keluarga.
"Ma, aku berangkat dulu, ya? Santai aja dulu mama di sini! Anggap aja rumah sendiri," lanjut Defan, setelah ia sampai di ruang keluarga, mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
Dira hanya mengantarkan suaminya sampai diambang batas pintu. Keduanya berpisah, satu kecupan lagi mendarat di bibir Dira, sebelum pria itu pergi meninggalkan gadis kecilnya.
"Dir, sini duduk," titah Melva.
Melva dan Anggi masih bersantai di ruang keluarga, waktu yang tersisa hanya tinggal satu jam untuk mereka berangkat ke rumah Dira, menemui kedua orangtuanya.
"Iya, Inang." Dira duduk di samping Melva. Anggi yang sibuk dengan ponselnya, sedangkan Melva melanjutkan obrolan mereka tadi yang belum selesai.
"Udah berani kau pakai lingerie dari, Inang?" Pertanyaan Melva cukup membuat Dira tertegun. Entah mengapa mertuanya itu sangat penasaran dengan semua yang dilakukan oleh sepasangan suami istri yang masih terbilang baru.
"Udah, Inang." Tanpa pikir panjang, Dira menjawab pertanyaan sang mertua. Ia juga tak ingin mengecewakan mertuanya itu, toh yang ditayakan masih hal-hal wajar.
"Awas aja kalau nanya gaya apa yang kami bikin saat pertama kali berhubungan intim," erang Dira dalam batin.
Melva pun hanya tersenyum, ia kembali melontarkan pertanyaan. "Menurutmu, bagaimana suamimu itu? Apa bisa kalian cepat-cepat kasih kami cucu?"
Dira sedikit termenung mendengarkan pertanyaan tersebut. Lalu, ia menjawab dengan sorotan yang cukup tajam. "Bang Defan, biasa aja, Inang. Mudah-mudahan bisa!"
"Jadi, sehari-hari kau masak untuk suamimu?
"Ehmm ... kadang kita beli makanan jadi, Inang. Kalau aku sendiri di rumah, masak yang simpel saja. Mie instant bisa jadi solusi. Atau, kadang juga pesan online. Malamnya, kita makan di luar kalau abang sudah pulang," kata Dira panjang lebar.
"Apa kau perlu pembantu? Biar ku kasih si Nena kerja di sini." Melva terus saja melontarkan pertanyaan dengan lembut, dengan khas senyumannnya pula.
"Ehmm ... boleh saja, Inang. Tapi aku harus tanya Bang Defan dulu. Karena Bang Defan, belum mau ada pembantu di rumah ini."
"Mungkin dia ingin selalu berdua denganmu, tidak mau terusik adanya kehadiran orang lain meski hanya sekedar pembantu," timpal Melva terkekeh geli.
"Bisa jadi, Inang. Maaf, sudah jam setengah 9 pagi, aku siap-siap dulu, ya! Inang sama edak santai saja di sini," pamit Dira.
__ADS_1
"Iya, sayang!" jawab Melva sembari melayangkan senyuman lebar.
Dira melangkah gontai, masuk ke dalam kamar. Setelah itu, ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri agar bisa segera menemui keluarga.
Sementara itu, Melva sibuk menyalakan tv yang ada di hadapan. Anggi masih disibukkan dengan ponselnya.
*******
Defan telah tiba di kantor sejak 15 menit lalu. Disana, sudah ada Juni yang bergegas membuka seluruh box yang mereka packing malam tadi, di ruangan baru yang mulai mereka tempati hari ini.
Sebelum Defan masuk ke ruangan, ia sempat menyapa sang bapak yang pagi-pagi sudah disibukkan dengan berbagai jadwal.
"Pak Defan, sepertinya kita perlu bantuan untuk merapihkan semua barang ini. Butuh satu hari jika hanya kita lakukan berdua saja," ujar Juni, ia pun membuka seluruh berkas, mulai menyusun satu-persatu ke rak serta meja kerja.
"Nanti akan saya panggilkan beberapa orang OB untuk ikut membantu." Defan pun menelepon bagian personalia kantor, meminta agar OB di arahkan ke ruangan, membantu menyusun barang-barang kepindahan.
Tak membutuhkan waktu lama, tiga orang OB sudah berada di dalam ruangan Defan. Mereka membantu Juni menyusun berkas. Sementara Defan pun ikut membantu, lebih banyak bala bantuan justru akan mempercepat pekerjaan mereka.
"Pak, saya juga tetap di ruangan ini?" imbuh Juni, ia hanya melihat satu meja yang ada di dalam ruangan itu, tentunya meja itu adalah milik Defan.
"Meja untuk saya apakah harus dipindahkan dari kantor lama kita, pak?"
Mendengar pertanyaan Juni, Defan langsung mengedarkan padangan. Ia baru ingat kalau memang meja untuk Juni tidak ada. Sejak awal, bahkan CEO S.N.G Lawfirm hanya menginginkan agar Defan yang menempati ruangan itu seorang diri.
"Pak, nanti tolong bawakan satu meja dan kursi dari kantor lama saya. Taro disitu." Defan menunjuk ke arah sudut ruangan yang ada di depan meja kerjanya.
"Baik, pak," tandas seorang OB.
Drrrtt drrttt
Ponsel Defan berbunyi, ada satu panggilan dari Dira di sana. "Halo, sayang. Kenapa?"
Defan sedikit lupa tentang rencana kepergian Dira ke rumah mertuanya. Itu terjadi karena kesibukannya dengan proses merapihkan seluruh barang-barang yang ada.
"Bang, aku mau pamit. Kami berangkat ke rumah bapak sama Inang dan edak," jelas Dira melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Iya, sayang! Hati-hati, kabari abang kalau sudah sampai," balas Defan, kemudian ia mematikan sambungan telepon tersebut. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Dua OB baru saja meninggalkan ruangan untuk mengambil meja kerja Juni. Sementara, Juni dan Defan, serta satu OB lagi masih disibukkan dengan berkas yang ada.
******
"Horas." Melva, Anggi dan Dira baru sampai di depan rumah Dira.
Keluarga Dira pun sampai terkejut dengan kedatangan besan mereka. "Horas." Rosma dan Sahat menjawab kompak.
"Loh, darimana rupanya edak? Kok bisa datang kesini?" tanya Rosma setelah membukakan pintu rumah dengan lebar.
"Tadi aku berkunjung ke rumah Dira, padahal mau santai di sana seharian. Tapi katanya edak dan ito mau pindah. Jadi ikutlah kami," tandas Melva, mengedarkan pemandangan. Seluruh barang yang ada di rumah itu sudah dikemasi, tinggal diangkut saja.
"Iya, kami mau pindah edak. Ini udah siap semua barang-barangnya. Tinggal menunggu supir truk untuk mengakut semua barang ini," jawab Rosma.
Ia pun tidak bisa menyajikan teh untuk besannya, lantaran semua peralatan dapur sudah di kemas.
"Edak, maaflah ya, nggak bisa kami suguhkan apa-apa," kata Rosma kemudian.
Namun, rosma meminta salah satu anaknya untuk membelikan minuman dingin di warung terdekat.
"Nggak usah repot-repotlah edak, kalian juga lagi repot. Aku juga penasaran bagaimana rumah baru kalian, makanya aku sengaja ikut," papar Melva terus terang.
Parulian—Adik kedua dira membawa bungkusan plastik. Ia memberikan pada rosma. Tak berselang lama, sembari menunggu kedatangan truk pengangkut barang, Rosma langsung menyajikan minuman botol tersebut.
"Silahkan diminum edak dan Anggi," ucap Rosma.
"Makasih Edak." Melva langsung membuka botol minuman, menghilangkan dahaga yang sempat mengeringkan tenggorokan. Begitu juga dengan Anggi, melakukan hal yang sama dengan sang mama.
Dira
Bang, aku udah sampai di rumah bapak ya. Satu hari ini mungkin sibuk bantu-bantu pindahan.
Dira mengirimkan pesan pada Defan. Namun, pesan dari Dira itupun tak sempat dibalas oleh suaminya, pria itu juga sibuk mengurusi kantor baru.
__ADS_1