
"Ehm ... di rumahmu aja gimana?" celetuk Dira, mendapat tatapan tajam dari sahabatnya.
Angga pun terdiam tak berkutik, sebenarnya ia ingin mengusulkan di rumah Dira. Namun, Dira sudah lebih dulu membuat usulan agar di kerjakan di kediamannya sendiri.
Dira memberi kode pada Jenny agar ikut menyetujui usulan Dira. "Iya, Ngga, di rumahmu ajalah!" sambung Jenny, tersenyum tipis.
"Hah? Di rumahku?" ujar Angga, terdiam sejenak memikirkan usulan itu, hingga akhirnya menyetujui pendapat dua orang teman kelompoknya.
****
Carol dan Shinta layak mahasiswa lainnya. Kelas mereka pun tak berurutan, pagi itu Carol hanya menunggu di kantin karena dosen sudah mengabarkan tidak akan masuk kelas.
Para mahasiswa diminta mengerjakan tugas yang harus dikirim ke email sang dosen. Sedangkan Shinta, ia mengikuti kelas pagi. Pelajarannya pun biasa saja, tidak ada tugas, hanya dosen menerangkan tentang pelajaran hukum.
****
Usai kelas pertama, semua siswa berbondong-bondong ke kantin. Dira dan ketiga sahabatnya juga sudah janjian berkumpul di sana.
Namun, saat Carol menunggu ketiga temannya, tiba-tiba Jefri menghampiri. "Tumben sendirian?" tanya Jefri, menyerobot duduk di samping Carol.
Carol hanya diam saja, menatap Jefri dengan tatapan yang aneh. Sesekali ia menyeruput es jeruk yang ada di depannya.
"Jalan, yuk!" goda Jefri, tapi dihiraukan oleh perempuan itu.
"Masih ada kelas nanti?" Jefri tak kehabisan akal untuk terus bertanya meski tidak ada jawaban dari Carol.
"Rol, saya bicara sama kau loh!" gerutu Jefri, semakin kesal melihat Carol yang cuek dan tak memperdulikannya.
Berbagai pertanyaan Jefri tak digubris oleh Carol, bahkan ia memalingkan wajah agar tak lagi memandangi wajah lelaki itu. Dengan tangan yang dilipat di dada, Carol menatap ke arah pintu utama saat mahasiswa berdatangan menuju ke kantin.
"Helo ... apa ada orang di sini?" racau Jefri, tak pantang menyerah.
Carol kembali menyeruput es jeruknya, tiba-tiba Jefri memegang lengan Carol yang ingin meletakkan gelas di meja. Sontak saja, air jeruk yang masih berada di kerongkongan itu mencuat keluar.
Ia tersedak lantaran terkejut karena Jefri berani memegang tangannya.
Uhuk ... uhuk ...
Carol langsung menarik tangannya, melepaskan dari genggaman tangan Jefri. Ia menepuk-nepuk dadanya. Namun, semakin kaget lagi saat Jefri berani-beraninya menepuk punggung Carol.
Sontak saja, Carol terjingkat dari tempat itu. Dengan raut wajah yang kesal, ia memarahi Jefri hingga orang-orang sekitar menatap mereka berdua.
"Ganggu kali sih! Ada apa sih bang masih aja deketin saya!" sungut Carol dengan tangan yang bertolak pinggang.
__ADS_1
"Loh ... dari tadi saya kan bertanya baik-baik. Kau saja yang pura-pura tak dengar bahkan tidak menjawabnya!" sesal Jefri, bernada lembut meski aslinya ia juga marah pada Carol.
"Saya udah berkali-kali bilang, Bang! Jangan ganggu saya!" pesan Carol.
Saat ingin pergi dari tempat itu, ketiga temannya baru saja tiba.
"Ada apa nih?" tanya Shinta, menatap sengit pria yang tengah beradu pada sahabatnya.
"Abang apain Carol?" timpal Jenny, tak ingin ketinggalan.
Jefri berdiri, lalu menjawab pertanyaan teman-teman Carol dengan baik dan ramah. "Saya cuma mau ajak dia jalan. Tapi dianya langsung sewot kali!" ungkap Jefri, menatap ketiga sahabat Carol secara bergantian.
Carol sengaja membelakangi Jefri, hanya menatap ketiga temannya saja.
"Rol, benar?" tanya Dira.
"Hmm ... tapi aku sudah berkali-kali mengingatkan agar abang itu nggak usah dekatin aku lagi!" tandas Carol, dengan ketus.
"Tuh, Bang dengar apa yang dia bilang? Sepertinya abang harus lebih keras dan perhatian lagi!" canda Dira, mencairkan suasana.
"Haha ... tuh, temanmu saja mendukung saya! Walaupun kau cuekin saya terus tapi saya akan tetap berusaha semaksimal mungkin. Berusaha merayu dan memikat hatimu!" seloroh Jefri, menggerlingkan mata, lalu melambaikan tangan kepada tiga teman Carol dan tersenyum penuh kemenangan.
Meski mengetahui wajah Carol terlihat kesal tapi Dira tetap mencairkan suasana. Ia mendudukkan Carol di kursi yang berada di belakang tubuhnya.
Jenny dan Shinta bergegas memesankan makanan. Lalu kembali lagi bergabung dengan dua sahabatnya.
"Iya, Rol! Kasihan tahu abang itu, nggak kau lihat mukanya tadi? Kayaknya dia memang suka samamu!" beber Jenny, setelah menelisik kesungguhan Jefri.
"Halah ... laki-laki kayak gitu banyak, bisa aja dia cuma mau main-main. Apalagi karena aku tolak berkali-kali, dia jadi makin penasaran mau mendekatiku!" jelas Carol, berpikiran negatif pada seniornya.
"Enggaklah! Dia itu beneran suka samamu. Aku bisa lihat dari tatapannya, dia lelaki baik-baik sih menurutku!" tambah Shinta, mengompori agar Carol semakin luluh.
"Dicoba saja dulu dekat perlahan. Kalau tidak cocok baru bisa menjauh lagi!" sahut Dira, menatap lekat sahabatnya.
"Entahlah! Malas aku!" kilah Carol, memutar bola matanya lantaran jengah dengan pembahasan tentang seniornya.
****
Di kantor S.N.G Lawfirm, Defan tengah sibuk mempersiapkan sidang perkara kasus yang dilimpahkan oleh CEO.
"Jun, bukti sudah lengkap?" tanya Defan, membaca kembali berkas tersebut.
Sebab, dua hari lagi, ia akan mengikuti sidang perdana tentang kasus pedopil yang menyekap dan menyukai anak sejenisnya.
__ADS_1
"Lengkap, Pak!" jawab Juni, lugas.
Flashback!
Seminggu kemarin, Defan mengikuti tiga sidang sekaligus. Lanjutan kasus judi online yang masih berujung belum mendapat penjelasan. Sehingga sidang pun masih berlanjut.
Kemudian, kasus korupsi yang akhirnya Defan sukses mendapatkan vonis hukuman ringan pada kliennya yang hanya dijatuhi hukuman kurungan selama satu tahun tanpa denda.
Sementara, kasus penyerobotan tanah dimenangkan telak oleh Defan. Dengan berbagai bukti serta hasil pengukuran BPN, kliennya kembali mendapatkan hak tanah miliknya.
Bahkan, bangunan yang sudah berdiri kokoh di atas lahannya berhasil dihancurkan oleh pihak pemerintah. Sementara, terdakwa dalam kasus penyerobotan tanah itu hanya dikenakan kasus perdata alias hanya diberi sanksi denda.
Flashback Off!
"Pak, ini kasusnya mirip kasus si Shaira, ya?" tanya Juni, setelah membaca tentang perkara tersebut.
"Mirip tapi berbeda. Pelakunya ini penyuka sesama jenis. Bahkan, dia sengaja menyekap korban, melampiaskan hawa nafsunya pada anak sekecil itu!" ketus Defan, lantaran geram pada pelaku tersebut.
"Astaga! Kok ada orang sekejam itu sih!" gerutu Juni, seraya mengumpulkan seluruh bukti dalam satu tas.
"Ya, ada! Dia buktinya!" ucap Defan, sembari sibuk membaca kasus lainnya.
ting ...
Satu pesan di terima oleh Defan. Ia bergegas membaca pesan dari sang istri.
Dira
Abang, aku mau main ke mall sama teman-teman, boleh nggak?
Defan langsung membalas pesan tersebut tanpa pikir panjang. Ia juga tak ingin mengekang masa muda istrinya.
****
Dira langsung berteriak kegirangan saat membaca balasan pesan dari suaminya.
Suamiku ...
Boleh! Asal pulangnya tepat waktu! Jangan malam-malam!
Beberapa menit yang lalu ...
Dira dan ketiga sahabatnya memang sudah tidak ada kelas lagi. Oleh karena itu, mereka mengusulkan untuk bermain-main hari ini.
__ADS_1