Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Nasib dia


__ADS_3

"Mama sok tahu, udahlah kalau gitu Mama lanjut lagi di sana. Aku mau mandi dulu," pamit Anggi seraya memutus sambungan telepon itu.


****


Di rumah, Melva bergeleng-geleng kepala sembari tersenyum-senyum kecil sendiri mengingat jika anak bungsuya sudah memiliki seorang pacar.


Melva berkeyakinan kalau ternyata hidup Anggi sudah berubah semenjak menjadi anak rantau.


"Dasar si Anggi, ngaku aja kenapa sih kalau dia punya pacar," gerutu Melva, meski masih sibuk memasak makanan kesukaan keluarga untuk hidangan malam ini.


"Kenapa, Nyonya?" tanya Nena penasaran, karena majikannya dari tadi senyum-senyum sendiri saat masih menggerakkan sutil di atas wajan.


"Itu si Anggi, kayaknya dia udah punya pacar," jawab Melva sembari terkekeh.


Melva ternyata sangat senang jika mendengar kabar bahwa Anggi sudah memiliki seorang pacar.


"Akhirnya nyonya bisa menambah satu menantu lagi nih di rumah, pasti akan semakin ramai. Tinggal Nona Niar yang bakal ditunggu-tunggu calonnya," ucap Nena.


"Kalau si Niar jangan diharapkan. Yang penting dia bisa menyelesaikan dulu pekerjaannya karena dia kayak nggak ada tanda-tanda mau memiliki pasangan hidup," terang Melva asal.


****


Defan mengikuti jalan Rudy bersama mertuanya untuk menemui penipu itu. Hingga akhirnya, kini mereka berdiri di depan sang penipu yang bernama Reza.


Sahat hanya menatap dengan datar saat Reza menatapnya, pria itu tadinya tertunduk dengan mulut tersumpal lakban tetapi melihat kedatangan Sahat, ia langsung menoleh.


Pria itu mengerang memberontak, meminta dilepaskan, saat ia mengenali wajah seseorang yang berada di hadapannya.

__ADS_1


"Loh, kenapa muka dia ini, Bang?" tanya Defan karena melihat wajah penipu itu babak belur bahkan membiru, sementara Rudi pun tertawa terbahak-bahak karena itu adalah hal biasa jika berurusan dengan seorang preman sepertinya.


"Ya, biasalah kalau kami lagi mencari seorang penipu seperti ini, pasti ada saja yang terjadi karena dia memberontak. Jadi dia dihabisi oleh anak buah saya," jelas Rudi seraya tertawa terbahak-bahak yang membuat Defan dan Sahat keheranan.


"Itu kayaknya karma buat dia karena sudah berani melakukan perbuatan sekeji ini," sambar Sahat dengan ketus.


"Bukakan saja lakbannya, Bang," titah Defan, karena penipu itu dari tadi memberontak dan ingin mengatakan sesuatu.


Rudy pun melaksanakan perintah dari Defan, ia menarik dengan kencang lakban yang menempel di bibir pria itu. Sontak, pria itu mengerang kesakitan saat lakban tertarik begitu saja.


"Aawww!" pekik Reza, saat merasakan kesakitan dibibir bekas lakban yang menempel erat.


Reza menatap sengit wajah Sahat dengan tatapan penuh nanar tapi mulutnya tiba-tiba bersuara memohon pertolongan agar ikatannya dilepaskan dan membicarakan persoalan ini dengan baik-baik.


"Kita ini kan teman tolong lepaskan aku," rintih Reza.


Sahat hanya terdiam, tak menanggapi pria itu. Bahkan yang ia nantikan adalah momen di mana uangnya kembali. Sementara Defan sudah mengerti apa yang ada di dalam pikiran mertuanya, ia langsung menanyakan keberadaan uang yang dibawa oleh penipu tersebut.


"Bang, mana uang bawaan Bapak ini?" tanya Defan, menatap lekat wajah Rudy.


Rudy langsung berjalan mendekati brankas yang berbentuk sama seperti pintu besi miliknya. Ia membuka sandi dan mengambil 2 buah tas dari dalam sana.


Kemudian, Rudy memberikan pada Defan, lalu meletakkan dua buah tas berat itu di atas lantai. Ia ingin agar Defan memastikan bahwa uang itu asli, sesuai dengan jumlah yang awalnya dibawa oleh penipu tersebut.


"Itu, bapak buka saja isinya, pastikan uangnya sesuai dengan jumlah yang dibawa oleh dia," kata Rudi seraya menunjuk lelaki yang terkulai lemas duduk meratapi nasibnya.


Defan membuka dua tas, lalu ngecek isi dari dalam tas. Ternyata uangnya sangat banyak, lalu ia memerintahkan mertuanya untuk mengecek kembali.

__ADS_1


Meski tentunya akan sulit untuk menghitung langsung uangnya di tempat ini karena nominal uang itu sangatlah banyak tetapi Defan meminta agar mertuanya memastikan jumlah uang yang diberikan oleh para korban sesuai dengan muatan dalam tas.


"Coba dicek dulu uangnya, Amang. Apakah sudah benar sesuai dengan jumlahnya? Kan dulu waktu Amang mengumpulkan dengan korban lain, pasti terprediksi sampai berapa banyak isi tas yang dipakai untuk menyimpan uang itu," tutur Defan.


Sahat bersama teman-temannya memang menyerahkan uang itu secara cash kepada Reza. Itupun berdasarkan permintaan sang penipu. Oleh karena itu, saat memprediksi memang uang itu sesuai dengan jumlah yang mereka berikan karena waktu itu sang penipu sudah langsung memasukkan ke dalam tas yang sama seperti dilihatnya sekarang ini.


"Sudah sesuai, Hela cocoklah tinggal kita bawa pulang dan bagikan pada para korban," papar Sahat.


Namun tiba-tiba, sang penipu itu memberontak meminta ingin dilepaskan.


"Bukanlah ikatanku Sahat, bukannya uang yang kau inginkan sudah kembali? Aku minta tolong agar kau bisa membebaskanku, aku sangat tersiksa berada di sini," ungkap Reza, seraya merintih kesakitan.


Lagi-lagi, Sahat hanya menatap datar temannya itu. Ia juga menunggu keputusan menantunya yang hanya terdiam sejenak. Tak berselang lama, Defan mengambil beberapa gepok uang dari dalam tas untuk diserahkan pada sang preman.


"Ambillah ini untuk, Abang sebagai balas budi. Hanya ini yang bisa saya berikan. Terima kasih banyak sudah membantu saya mencari penipu ini," tegas Defan, menyodorkan gepokan uang pada preman tersebut.


Namun, preman itu malah menolak mentah-mentah. "Tidak perlulah, Pak saya sangat senang bisa membantu bapak mengingat dulu jasa bapak kepada saya. Saya merasa terbantu sekali saat itu ," ucap Rudy, menepuk bahu Defan dengan keras.


Defan tetap menyodorkan gepokan uang itu pada Rudy. Tapi preman itu menolak dengan tegas, sebab uang yang diberikan oleh Defan sangat tidak berarti justru ia sangat menghargai permintaan Defan karena janjinya dulu saat mendapat bantuan dari pengacara itu.


Bahkan, Rudy menganggap Defan seperti seorang teman. "Uang itu kembalikan kepada para korban saja. Saya tidak perlu mendapatkan bagian dari uang itu, dengan membantu bapak saja, saya sudah merasa dihargai sekali. Artinya saya memang diperlukan oleh pengacara terkenal seperti bapak," tukas Rudy.


"Ah, Abang ini bisa saja bercanda." Defan terkekeh lalu ia kembali memasukkan uang gepokan itu ke dalam tas karena niat baiknya sudah ditolak.


Tidak etis rasanya jika memaksa Rudy untuk menerima uang tersebut. Akhirnya, Defan pun berjalan menenteng membawa dua tas bersama mertuanya.


Sampai-sampai mereka lupa dengan nasib penipu yang masih terpenjara di dalam ruangan pribadi milik Rudy. Saat melihat kepergian dua orang itu, Rudy memanggil lagi dengan keras.

__ADS_1


"Bagaimana nasib dia?" tanya Rudy, menghentikan langkah kaki Sahat dan Defan, saat itu juga mereka menoleh ke belakang.


__ADS_2