
"Begini, Hela ... jadi kami datang ke sini untuk meminta bantuan!" ujar Sahat, dengan datar.
"Nah, itulah tadi yang aku pikirkan, Amang kenapa tiba-tiba datang ke sini!" sambung Defan, menatap dengan tajam.
"Jadi niat kami ke sini mau meminta pertolongan pada Hela, berapa hari yang lalu Amang kena tipu oleh rekan kerja, hilang 100 juta uang kami!" jelas Sahat.
"Kok bisa sampai sebanyak itu, Amang?Memang Dira sempat mengatakan tapi karena saya belum sempat untuk mempertanyakan pada Amang karena masih sibuk bekerja, kebetulan hari ini sudah selesai kasus yang saya tangani," lanjut Defan.
"Oh pantaslah, memang berharap kali kalau kalian datang ke rumah tapi kalian nggak kunjung datang," sesal Sahat.
"Iya, maaf, Amang! Karena memang belum sempat waktunya dan baru selesai hari ini. Yang pasti, saya akan bantu untuk mencarikan penipu itu. Mau dilaporkan ke polisi atau mencari sendiri dulu?" tawar Defan, menatap penuh selidik.
"Enaknya bagaimana, Hela? Yang penting kami berharap uang itu bisa kembali!" imbuh Sahat.
"Oh, kalau uangnya mau kembali seharusnya kita mencari sendiri dulu. Nanti saya akan minta orang suruhan untuk mencari di mana orang tersebut. Yang pasti saya membutuhkan foto wajah serta informasi biodatanya!" tukas Defan.
Sahat pun mengangguk dengan mantap karena ia telah mempersiapkan apa yang dibutuhkan oleh menantunya. Ia membawa semua kelengkapan untuk mencari pelaku penipu itu.
Sahat kemudian menyodorkan sebuah foto yang terpampang nyata wajah pelaku, lalu ia juga menyerahkan biodata yang diambil dari perusahaan tempat bekerjanya untuk diserahkan pada Defan.
"Ini, Hela! Memang sudah kubawa kian foto dan biodatanya, supaya lebih cepat prosesnya!" tandas Sahat.
Tiba-tiba Dira beranjak, ia mengingat orang tuanya sudah lelah menunggu. Sehingga, ia ingin membersihkan kamar tamu yang akan digunakan sebagai tempat peristirahatan kedua orang tuanya.
Namun, sebelumnya, Dira sudah memperingati sang bapak agar tak lagi berbuat kesalahan seperti yang sudah-sudah.
"Itulah, pak semua berkat kesalahan bapak!" lirih Dira, meski ada suaminya tanpa segan memarahi sang bapak.
Sudah seharusnya, Dira memberikan efek jera pada sang bapak agar segera berubah dan tidak lagi membuat kesalahan.
"Iya, Boru!" jawab Sahat, sembari tertunduk malu.
"Makanya jangan pernah Bapak tergiur sama hal-hal yang tidak dimasuki akal!" sergah Dira, menasehati sang bapak.
__ADS_1
"Iya, ini terakhir kali bapak berbuat seperti itu, bapak janji tidak akan lagi mengecewakan kalian anak-anak Bapak!" sambung Sahat.
"Kalau udah kayak gini barulah bapak menyesal tapi kalau ada lagi yang bujuk dengan berbagai iming-iming pasti mau lagi!" sosor Rosma, ikut memarahi suaminya.
"Jangan mau lagi bapak, bikin ulah tapi semua orang pun repot!" Dira menatap penuh amarah wajah pria paruh baya yang kini tertunduk lesu.
"Iya!" balas Sahat pasrah.
Dira akhirnya berpamitan ke belakang, ia ingin membersihkan kamar tamu untuk ditempati kedua orang tuanya, mengganti sprei yang lama dengan sprei yang baru agar kamar tampak bersih dan bisa digunakan kembali.
"Baiklah kalau begitu nanti saya akan bantu carikan orang ini, yang pasti kita akan kasih pelajaran dulu dan mencari tahu apakah uang itu masih ada atau tidak!" ucap Defan.
Sahat pun mengangguk penuh harap, setidaknya ia memiliki sedikit peluang untuk mendapatkan haknya kembali.
"Baiklah, Amang dan Inang sebaiknya istirahat dulu, saya juga mau pamit istirahat karena sangat lelah hari ini!" tutur Defan.
Sahat hanya mengangguk, Rosma juga hanya duduk terdiam, akhirnya mereka menunggu kedatangan Dira untuk mengantarkan ke kamar yang bisa mereka tiduri.
"Mamak sama Bapak, mau ganti baju nggak?" tanya Dira, saat berjalan mengajak kedua orang tuanya menuju kamar.
Rosma dan Sahat menghempaskan tubuh ke atas ranjang, sedangkan Dira kembali ke kamar, lalu mengambilkan satu pasang piyama untuk kedua orang tuanya.
Kebetulan, proporsi tubuh Dira dan sang mamak tidak jauh berbeda. Begitupula dengan Defan dan Sahat, tubuh mereka hampir memiliki besar yang sama, hanya saja Defan bertubuh gagah.
Setelah mengambilkan sepasang baju piyama, Dira kembali lagi ke kamar kedua orang tuanya.
Tok ... Tok ...
Dira berdiri di ambang batas pintu, lalu berteriak. "Ini Pak, Mak, ganti dulu bajunya."
Rosma keluar dari kamar, membukakan pintu dan mengambil baju pemberian boru panggoarannya.
***
__ADS_1
Pagi itu, Rosma sudah sibuk memasak sarapan di dapur. Ia menyiapkan berbagai makanan untuk sarapan. Sementara Dira dan suaminya masih tertidur lelap dan baru saja terbangun saat tepat pukul 6 pagi.
Sreng ... Sreng ...
Dari dalam kamar, Dira mendengar suara sutil yang terus beradu dengan wajan. Oleh karena itu, ia segera menuju dapur, mencari tahu apa yang terjadi di sana. Ternyata dugaannya benar, kalau sang Mamak sedang sibuk memasak untuk sarapan mereka.
Selain itu, Dira langsung menghampiri sang mamak dan ikut-ikutan sibuk membantu. Ia dengan cepat menanyakan pada sang mamak. "Masak apa, Mak? Pagi-pagi udah repot kali!"
"Ya, masak bahan-bahan yang ada di kulkas aja lah, kebetulan ada daging dan sayur yang bisa ditumis. Simple tapi enak, lumayan dimakan pagi-pagi begini untuk mengganjal perut," tutur Rosma panjang lebar, sembari sibuk memasak.
"Oh ... sini kubantu!" ucap Dira, berdiri di samping sama mamak, menatap sekitar tetapi semua makanan sudah selesai hanya tinggal dihidangkan.
"Apalagi yang mau kau bantu, sudah beres kok. Bawa aja itu ke meja! Mamak udah masak dari pagi makanya sudah beres jam segini. Cepat bawakan, nanti suamimu udah siap-siap!" sahut Rosma.
"Iya, Bang Defan lagi mandi kayaknya. Kalau aku memang kebetulan masuk siang hari ini jadi agak santai," imbuh Dira.
"Jadi enaklah kau, nanti antarkan mamak, ya? Soalnya bapakmu mau langsung berangkat kerja!" seloroh Rosma, menatap lekat boru panggoarannya.
"Iya, nanti kuantarkan Mamak ke rumah!" Dira akhirnya mengangkut piring makanan satu-persatu.
"Baguslah kalau begitu, lumayan kita masih bisa ngobrol dulu di sini!" jawab Rosma.
Dira membawakan semua makanan ke meja makan, tak lupa ia menyeduhkan teh, kopi dan jus jeruk untuk suami dan bapaknya.
Pagi itu, Sahat pun sudah datang ke meja makan dengan pakaian yang rapi, ia mengenakan pakaian kemarin untuk dipakai bekerja karena sudah tidak sempat lagi pulang ke rumah sekedar mengambil baju baru.
Untung saja, saat mengunjungi rumah Dira, dirinya memakai kemeja sehingga masih bisa dipakai untuk bekerja.
"Bapak langsung berangkat ke pabrik, ya?" ucap Dira, dan mendapat anggukan dari Sahat.
"Iya, Boru soalnya bapak masuk pagi!" jelas Sahat.
"Yaudah, sarapan dulu lah Pak!"
__ADS_1
"Hela, mana? Kok belum kelihatan?" cecar Sahat, menoleh ke kanan dan ke kiri mencari menantunya.