
"Saya pesan sirloin steak, medium well, minumnya jus jeruk saja. Kau apa, Jun?" ujar Defan, menatap lekat asisten yang sedang sibuk membaca buku menu.
"Apa, ya? Samain aja deh, mbak!" tutur Juni, tak ingin membiarkan pelayan menunggu lama karena dirinya.
****
"Argghhh ... nggak tahulah! Aku pusing gara-gara senior gila itu!" Carol mengacak-acak rambutnya lantaran frustasi jika harus memikirkan nasib Jefri yang terang-terangan.
"Kau sendiri suka sama dia? Mau pacaran sama dia? Kelen baru kenal tiga hari loh," imbuh Dira, memberi wejangan pada sahabatnya.
"Coba aja dulu, Rol, siapa tahu orangnya baik, pengertian, ganteng nggak menurutmu?" timpal Shinta, memberi saran sesuai keinginannya.
"Kalau tampang, ya, lumayan gantenglah!" jawab Carol, matanya seakan berbinar, kala mengingat wajah seniornya yang kejam.
"Sikatlah!" sahut Shinta antusias.
"Kau pikir kamar mandi, main sikat-sikat aja! Nggak segampang itu percaya sama orang!" cibir Dira, si gadis kecil yang sudah memiliki pengalaman tentang kisah percintaan dengan suami dinginnya.
"Hehe! Masih cinta monyet kok, nggak usah baperlah! Lagian itung-itung kita belajar pacaran!" bisik Shinta, menutupi mulut agar tak terbaca gerakannya oleh mahasiswa lain yang berada di sana.
Perut Carol berbunyi keroncongan, dia baru ingat belum memesan makanan apapun. Sementara ketiga sahabatnya sudah menghabiskan makan siang mereka.
"Bentar dulu, we! Aku belum makan, bentar lagi lanjut ospek!" sesal Carol, segera berlari mendekati warung kantin yang ia pilih.
Menu rumahan ala warteg menjadi pilihannya lantaran bisa langsung di bawa ke meja. "Bu, saya pesan makan, nasinya sedang saja, pakai lauk ayam goreng dan capcay!" tutur Carol, kemudian bergegas membawa makanannya setelah disajikan ibu kantin.
...****...
Pesanan Defan dan Juni baru saja tiba di meja. Steak daging itu seketika mengingatkan Defan pada istrinya.
Dira sangat suka makan steak ... harusnya aku bawa dia ke sini, bukan Juni!
Defan meracau sendiri dalam pikiran. Namun, karena merasa lapar, akhirnya ia menyantap steak yang dipesan.
Sebelum makan, Juni malah mengabadikan foto makanan yang dihidangkan di meja. Bahkan, ia langsung posting ke media sosialnya, terlihat sisi tangan Defan sebelah kanan di sana, bahkan jam tangannya ikut tersorot.
"Makan, Jun! Tunggu apalagi?" titah Defan, seraya menyantap steak meski masih panas.
"Iya, bos, eh pak maksudnya!" celetuk Juni, spontan.
__ADS_1
...*****...
Carol datang membawa piring berisi makanan, ia membalas perkataan Shinta dengan sinis.
"Aku belum mau belajar pacaran loh, we! Ini masih tahap awal kuliah kita, prosesnya masih panjang! Butuh 4 tahun lagi supaya bisa lulus dari kampus ini! Mana ada waktu untuk cinta-cinta monyet!" kilah Carol, menatap sinis ke arah Shinta.
"Eits, slowlah! Aku kan hanya menyarankan, supaya kita ada pengalaman!" tampik Shinta, seraya terkekeh.
"Yaudah, kau tolak aja dia, Rol!" tambah Dira, seketika ia mendapat tatapan tajam dari ketiga sahabatnya.
"Masalahnya dia nembak di depan umum. Semua anak di kelas kami mengetahuinya. Kalau kutolak, apa nggak malu dia?" beber Carol.
"Astaga, kok rumit kali sih!" gerutu Jenny, serasa Carol malah menambah beban pikiran.
"Entahlah! Makanya aku pusing!" seloroh Carol, membuyarkan pikiran yang menghantui sejak tadi.
Drrtt drttt
Ponsel Dira bergetar terus, tertanda ada panggilan dari suaminya. "Halo, bang?" sapa Dira setelah mengangkat sambungan telepon.
Ia juga memberi tanda pada sahabatnya agar tetap diam dan tidak berisik sehingga suara Defan terdengar jelas.
"Sudah, bang! Ini masih di kantin sih!" jawab Dira, santai menyandarkan punggung pada kursi.
"Abang lagi di resto dekat kantor. Kebetulan menu utamanya steak kesukaanmu, yang! Apa kau mau dibungkuskan?" tawar Defan.
"Hmm ... ini kan masih siang, bang! Nggak enak dong rasanya kalau kelamaan, aku pulangnya juga sore!" terang Dira, sebenarnya menolak tawaran suaminya karena waktu masih panjang, rasa steak pun akan berbeda jika dibiarkan terlalu lama.
"Oh ... gitu ya, jadi nggak usah abang pesankan? Kalau nggak nanti malam, abang ajak makan steak aja! Gimana?"
"Lihat nanti deh, bang! Jangan lupa jemput aku loh nanti sore!" sosor Dira, mengingatkan.
"Iya, sayang, yaudah abang mau ke kantor lagi! Love You!"
"Love you too!" Dira mematikan sambungan telepon tersebut.
"Cieee ... makin mesra! Enak, ya, kalau udah suami istri," ledek Jenny, diiringi gelak tawa dari kedua sahabatnya yang lain.
"Hush! Jangan berisik!" racau Dira, tak ingin statusnya diketahui khalayak ramai.
__ADS_1
*****
"Sorry, Jun, tadi saya telepon istri dulu. Makanan ini favoritnya," celetuk Defan, kembali duduk di kursi.
uhuk ... uhuk ....
Alhasil, mendengar pernyataan bosnya, Juni terbatuk hampir tersedak. Ia sangka memang sengaja dibawa ke resto mewah ini lantaran mengapresiasi kinerjanya selama ini.
Nyatanya, Defan justru terbayang-bayang pada istrinya lantaran menu utama yang dihidangkan oleh pihak resto adalah menu favorit istrinya, dan itu terpampang di banner depan resto yang tak sengaja Defan lihat saat mengendarai mobil.
"Kenapa, Jun? Sudah selesai? Sebaiknya kita harus segera ke kantor lagi! Banyak pekerjaan yang menanti!" sergah Defan, lalu beranjak ke kasir, melakukan pembayaran.
"Terima kasih, pak, bu! Ditunggu kedatangannya kembali!" Pelayan menunduk penuh hormat untuk menyapa tamu yang beranjak pergi dari restoran.
Defan dan Juni, mengangguk kompak seraya melayangkan senyuman khas. "Makanannya, enak!" puji Defan, mengacungkan dua jempol pada pelayan tersebut.
Padahal, ia memang tak sengaja mampir di resto karena posisinya sangat dekat dengan kantor. Hal itu malah membuat Juni berbunga-bunga dan diberikan harapan penuh.
Namun, setelah mendengar ucapan Defan hari ini, harapan itu seketika menghilang. Pria itu tidak bisa lepas dari bayang-bayang sang istri.
Saat tiba di S.N.G Lawfirm, keduanya langsung masuk ke dalam lift, menunju lantai teratas.
"Pak, makasih sudah ajak saya makan siang!" kata Juni, seraya menunduk penuh hormat karena dikasih kesempatan untuk makan berdua dengan bos tampan seperti Defan.
"Sama-sama! Kalau nggak ada kau justru saya akan kesulitan menyelesaikan semua pekerjaan ini," berang Defan, menatap berkas yang menumpuk tidak ada habisnya.
***
Sepanjang hari, Carol masih terbayang- bayang wajah Sendu Jefri. "Ayo, we, bubar! Udah mulai kelas lagi" ujar Carol.
Keempat gadis itu melakukan pembayaran makan siang. Lalu, segera pergi ke kelas masing-masing.
*****
Sore itu, Defan sudah menanti sang istri di depan gerbang kampus. Banyak mahasiswa yang sudah berpulangan. Defan mencari-cari keberadaan Dira yang tak kunjung terlihat.
Tak berselang lama, ia menelepon istrinya untuk memberi kabar sudah tiba di kampus. Namun, tiba-tiba seorang lelaki mendekatinya, menatap serius, menyanggah kedua tangannya ke jendela kaca mobil Defan.
Bahkan, kepalanya menerobos masuk ke jendela kaca mobil.
__ADS_1