Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kuis dadakan


__ADS_3

"Kau sudah mengucapkan janji sumpah tadi sebelum memulai kesaksian ini dimulai jadi bila kau berbohong, tentu saja kau akan menyusul terdakwa ke dalam penjara," kecam Hakim Ketua, memperingati saksi yang masih duduk dan bersikukuh dengan perkataannya


Saksi itu pun seketika terdiam kaku, ia menjadi takut jika terancam juga masuk ke dalam penjara sama seperti pelaku yang memanfaatkannya untuk memberikan kesaksian palsu.


Namun, meski sudah diperingati, saksi itu tetap memberikan penjelasan untuk memperkuat pendapatnya. Tetap saja dia tak kunjung mengaku meski hakim ketua sudah mendesaknya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Yang Mulia, kami ada bukti kalau saksi sudah menerima uang dari pengacara terdakwa dalam rekamanan CCTV di sebuah Cafe," ungkap Jaksa Penuntut Umum.


Jaksa Penuntut Umum memang ingin sekali memenjarakan terdakwa karena tindakannya sangat tidak manusiawi.


"Mari kita tayangkan hasil penampakan CCTV yang berhasil diamankan oleh jaksa penuntut umum!" beber Hakim Ketua, mempersilahkan rekaman itu ditayangkan pada seluruh tamu persidangan.


Saat itu, semua tamu undangan tampak terkejut termasuk saksi setelah menyaksikan bukti yang terekam pada CCTV. Bahkan, saksi tak bisa menyangkal jika wajahnya terekam jelas dalam bukti tersebut.


"Sial!" umpat Saksi, seketika ia bergidik ngeri ketika akan dituntut oleh Hakim Ketua untuk dijebloskan ke dalam penjara.


"Bagaimana saksi? Setelah melihat tayangan itu berarti kau menerima sogokan dari terdakwa," sanggah Hakim Ketua.


Akhirnya saksi pun mengaku, ia seketika membuat Fransisko tampak kesal hingga sang terdakwa memukul meja dengan kencang dan membuat kegaduhan.


"Tenang semuanya!" Hakim Ketua mengetuk palunya hingga tiga kali, karena riuh suara tamu undangan serta tindakan terdakwa.


*****


Pagi itu, Dira dan Jeni bersama-sama ke tukang fotocopy lagi, hendak mengambil hasil print makalah. Sebelumnya, Dira menantakan tentang makalah itu pada Jenny yang terus saja sibuk mengunyah santapan gorengan.


"Udah kau ambil makalah kita, Jen?" tanya Dira, menatap lekat sahabatnya.


"Karyawannya belum datang tadi, aku udah nunggu lama. Eh malah diajak ngobrol sama pemilik fotocopyan itu, malah ceritanya pun ngalur ngidul lagi!" keluh Jenny, merasa kesal saat mengingat obrolannya dengan pemilik fotocopy.


"Jadi kapan bisa diambil? Besok kita harus menyerahkan makalah itu pada dosen jadi kita harus mengecek kesalahannya dulu, sebelum menyerahkan sehingga bisa diperbaiki lagi!" sela Dira.

__ADS_1


"Sekarang aja, mau nggak?" tawar Jenny.


"Setengah jam lagi kita harus masuk kelas, apakah cukup waktunya?" sergah Dira, menatap jam yang melingkar di tangan.


"Sepertinya sih cukup saja, Dir atau nanti setelah selesai kelas, kita ke sana?" balas Jenny, memberi tawaran lain.


"Sekarang sajalah, lumayan masih ada setengah jam waktu yang tersisa!" sahut Dira, mulai beranjak dari kursi.


Dia dan Jenny berjalan gontai keluar dari kampus, mereka langsung menuju tempat fotocopyan. Ternyata prediksi Jenny sangat tepat, bahwa karyawan yang dimaksud oleh pemilik tukang fotocopy sudah datang.


"Bang, kami mau ambil makalah yang tadi malam diserahkan bahannya," ujar Jenny, saling menatap dengan karyawan fotocopyan tersebut.


"Iya, tunggu, Dek!" jawabnya singkat.


Karyawan itu mencari makalah yang dimaksud. Melihat wajah Dira dan Jenny, ia langsung mengingat nama makalah itu, ternyata makalahnya langsung ditemukan. Tak berselang lama, ia menyerahkan makalah itu pada Dira, lalu Dira melakukan pembayaran.


"Maaf, Bang flashdisknya mana?" tanya Dira, karena hanya menerima bentukan makalah saja.


Namun, setelah melihat ke CPU ternyata tidak ada flashdisk yang menempel sama sekali. Ia menjadi kelimpungan, lalu mengedarkan pandangan mencari di mana jejak flashdisk itu tersimpan sembari mengingat-ingat apakah salah menyimpan di tempat lain.


"Flashdisknya nggak ada nih, kayaknya disimpan sama bos deh!" timpal karyawan fotocopyan.


"Bosnya, Abang yang tadi pagi jagain fotocopyan ini?" sambar Jenny.


Karyawan itu mengangguk. "Ya, biasanya sebelum saya datang, dia yang jaga dulu. Setelah saya datang, barulah dia pulang lagi. Kayaknya sih dia yang nyimpan. Mungkin nanti kalian bisa datang lagi atau besok pagi," imbuh karyawan itu.


"Bang, kalau misalnya ada yang salah sama makalah kami, gimana? Kan kami harus memperbaikinya!" ujar Dira, menatap sengit karyawan fotocopyan.


"Nggak papa, dek datang ke sini lagi aja. Nanti saya perbaiki hasil revisinya. Kalau misalnya memang ada yang salah, akan segera diperbaiki. Mungkin nanti malam Pak Bos datang ke sini lagi!" lontar karyawan itu.


"Baiklah!" kata Dira pasrah, akhirnya keduanya bergegas meninggalkan fotocopyan dan kembali ke kampus.

__ADS_1


Tiba di kampus keduanya langsung menuju kelas, kebetulan sebelum 5 menit lagi, kelas akan segera dimulai, tiba-tiba saja seorang dosen juga telah datang pagi itu. Mereka kembali diajarkan oleh dosen Maudy.


"Pagi!" sapa Maudy, berjalan gontai, lalu duduk di kursi tempat mengajarnya.


"Pagi, Bu!" jawab Mahasiswa dengan kompak.


Setelah Maudy memasuki ruangan kelas, netranya menangkap wajah Angga yang berada di sudut ruangan paling belakang. Maudy tersenyum tipis saat Angga pun menatap wajahnya. Keduanya saling menatap satu sama lain. Namun mahasiswa lain merasakan keanehan antara Maudy dan Angga, mereka juga mencari tujuan sorot mata Maudy mengarah ke mana.


"Itu dosen Maudy kenal sama si Angga, ya? Kok dia ngeliatin si Angga terus sih!" bisik Jenny pada Dira.


"Kau tanya aja langsung sama si Angga, kan dia teman satu kelompok kita, mungkin mereka ada hubungan," ucap Dira asal.


"Kelas akan kita mulai, kita melaksanakan kuis dadakan!" beber Maudy, membuat teriakan para mahasiswanya.


Seketika, semua mahasiswa berteriak menyoraki dosennya karena mereka tak ada persiapan apapun.


"Waduh gimana nih, Dir kok tiba-tiba malah ada kuis dadakan sih!" sungut Jenny.


"Nggak tahulah, aku juga belum belajar!" kilah Dira.


Maudy segera membacakan soal-soal yang akan dijawab oleh seluruh mahasiswa dalam kuis dadakan tersebut. Bahkan, soal yang diberikan sangat sulit membuat seluruh mahasiswa merasa pusing dan tak bisa menjawabnya.


Beberapa jam berlalu ...


Maudy beranjak dari kursi. "Waktu kalian satu jam sudah berakhir, silakan dikumpulkan kuisnya ke depan. Satu orang perwakilan, ya, Angga silakan kumpulkan lembar jawaban anak-anak!" titah Maudy, dengan suara keras.


Semua mahasiswa menatap Angga dengan tatapan penuh selidik. Mereka semakin merasa penasaran tentang hubungan Maudy dan Angga. Padahal baru beberapa kali Maudy mengajar di kelas itu.


Namun sepertinya Maudy sudah mengenal dekat, salah satu mahasiswanya yakni Angga. Tak ada rasa sungkan, Maudy menyuruh mahasiswanya untuk mengumpulkan semua jawaban kuis di depan seluruh mahasiswa yang lain.


Dengan malas, Angga beranjak, ia mengumpulkan semua kuis lembaran yang diberikan oleh para mahasiswa, lalu menyodorkan lembaran jawaban itu pada dosennya dengan tatapan sinis.

__ADS_1


__ADS_2