
Suara musik terdengar dan komedi putar mulai berayun-ayun ke atas dan ke bawah, lalu memutar. Semuanya bergembira saat berada di atas kuda-kuda tersebut.
Drrt ... drt ...
Namun, saat berada di atas komedi putar, ponsel depan tiba-tiba bergetar, ternyata sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari sang mertua.
Saat itu, Defan tidak bisa mengangkat panggilan telepon dari mertuanya lantaran ponsel berada di dalam saku, sementara ia tengah terduduk di komedi putar.
Defan pun menunggu hingga komedi putar berhenti. Tak berselang lama, permainan wahana benar-benar berakhir, Defan bergegas turun mengecek panggilan dari siapa yang menghubunginya saat malam-malam seperti ini.
Malam ini, sudah memasuki tepat pukul 10 malam, Dira bersama sahabatnya masih mengitari pasar malam hanya untuk bersenang-senang. Hingga akhirnya, Defan mengajak Dira dengan terburu-buru untuk pulang.
"Sayang, ayo kita pulang!" tutur Defan, menarik lengan istrinya, saat perempuan itu masih sibuk bersendau gurau dengan teman-temannya.
"Kenapa buru-buru, Bang?" sahut Dira, mengerutkan keningnya.
"Ini Amang dari tadi menghubungiku terus, dan ada satu pesan, katanya amang dan inang ada di rumah kita!" jawab Defan.
Saat Dira bersama suaminya tengah sibuk bersenang-senang di Pasar malam, Rosma dan Sahat datang berkunjung. Namun, saat di depan pintu, tidak ada yang membukakan pintu kondominium itu. Oleh karena itu, Sahat dan Rosma kembali ke lobby dan menunggu pasangan suami istri itu untuk menjemput.
"Kok bapak nggak ngabarin aku!" sergah Dira, sembari mengecek ponsel tapi tidak ada notifikasi sama sekali.
"Nggak tahu, mungkin karena sudah melalui aku jadi nggak ngehubungin kau lagi, Yang! Ayo, pulang soalnya mereka menunggu di lobby!" tambah Defan.
Sementara itu, Dira terdiam menatap teman-temannya karena merasa sungkan untuk berpamitan. Untung saja, teman-temannya malah sangat mengerti dengan kondisi Dira. Teman-temannya pun langsung mengizinkan Dira untuk pergi dan bergegas pulang.
"Yaudah, pulang sana takutnya mereka kelamaan menunggu loh," timpal Carol.
"Iya, kalau kami gampanglah, kami bisa pulang sama bang Jefri atau Diki," sambung Shinta, Jenny pun ikut mengangguk menyetujui.
****
Di lobby kondominium, Rosma dan Sahat tengah menunggu kedatangan anak dan menantunya. Sudah hampir 2 jam mereka menunggu dan tidak ada tanda-tanda kedatangan sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Kedatangan Rosma dan Sahat, yaitu berniat untuk meminta bantuan terkait tentang penipuan yang menjerat keluarga Dira. Oleh karena itu, mereka berdua datang tanpa menghubungi anak dan menantunya.
Mereka tiba-tiba langsung berada di kondominium itu, karena sudah malam hari, kedua orang tua Dira merasa kalau pasangan suami istri itu pasti berada di rumah.
"Pak, apa kita pulang aja?" saran Rosma, menatap suaminya dengan datar karena ia sudah merasa lelah menunggu selama berjam-jam di lobby kondominium, bahkan mereka bolak-balik ke depan rumah Dira hingga kembali lagi ke lobby.
"Tunggu dulu lah sebentar lagi, tadi hela itu sudah membalas pesan dari bapak katanya sedang menuju ke sini! Lagipula, nanggung mau pulang!" desah Sahat, seraya membuang nafas kasar.
"Oh ... yaudahlah, kalau kayak gitu, kita tunggu aja di sini tapi udah kemalaman loh, Pak! Sudah jam 10 malam, entah kita pulang jam berapa lagi!" sesal Rosma.
"Ya, nginap aja lah di sini!" Sahat memberikan solusi terakhir untuk mereka saat ini.
"Terus, gimana anak-anak kita? Bagaimana mereka tidur berlima di rumah tanpa didampingi oleh orang tuanya?" Rosma semakin larut dalam pikirannya.
"Nggak papalah, kan ada si parulian, anak paling besar, masa nggak bisa jaga adek-adeknya!" sanggah Sahat.
****
Apalagi, mengingat pesan yang masuk di dalam ponsel, sudah 2 jam lamanya, Defan bahkan tidak sadar kalau ada sebuah pesan yang masuk hingga beberapa panggilan tidak terjawab.
Itu terjadi lantaran Defan bersama istrinya tengah sibuk bermain di pasar malam, sehingga tidak sempat melihat ponsel.
"Coba telepon Amang. Siapa tahu mereka masih menunggu atau malah udah pulang!" titah Defan, tetap fokus mengemudikan stir dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Dira pun mengangguk, ia menghubungi ke ponsel sang bapak. Panggilan itu bahkan langsung segera diterima.
"Halo ... Boru, kau sudah di mana?" tanya Sahat, masih duduk bersantai di lobby, suasana tampak sepi karena memang penghuni kondominium hanya memiliki dua pemilik rumah yang ada di sana.
Namun, kondominium dijaga dengan ketat oleh beberapa security sehingga keamanannya terjamin.
"Kami lagi di jalan, Pak! Sekarang bapak masih di sana kan?" tanya Dira memastikan.
"Iya, kami nunggu di lobby!" terang Sahat, dengan nada yang lesu.
__ADS_1
"Oh, yaudah, tunggu aja bentar lagi, kami udah mau sampai kok!" sahut Dira.
"Iya, Boru hati-hati lah!" papar Sahat, mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Sahat dan Rosma dengan sabar menunggu kedatangan anak dan menantunya. Tidak berselang lama, sepasang suami istri itu datang dengan tergesa-gesa.
"Maaf, Amang kami nggak tahu Amang sudah di sini. Dari tadi kami lagi di pasar malam, makanya nggak sempat mengecek ponsel," ungkap Defan, tertunduk penuh sesal.
"Iya, nggak papa lah, kami yang salah karena memang kami datang tiba-tiba tanpa memberi kabar!" jawab Sahat.
Mereka segera ke dalam rumah, Defan pun mengajak mertua dan istrinya untuk menaiki lift yang hanya berjarak satu lantai, hingga akhirnya tiba di lantai 2, dimana Kondominium Defan berada.
Pria itu bergegas membuka smart lock rumah, Defan menggiring mertuanya untuk masuk ke dalam.
Sementara Dira, buru-buru menyiapkan minuman untuk kedua orang tuanya karena sudah lama menunggu di lobby hingga berjam-jam lamanya.
"Kok nggak Bapak kabari kami sebelum mau ke sini?" ucap Dira,
"Kami kira kalian ada di rumah, makanya kami langsung datang aja!" jelas Sahat, sebelum anaknya berlalu pergi menuju dapur.
Dira membuatkan minuman, lalu segera kembali lagi, duduk bersama kedua orang tuanya.
"Naik apa Bapak sama Mamak?" tanya Dira, menatap penuh selidik.
"Naik kereta lah, orang cuma berdua kok!" sahut Rosma.
"Oh ... ini udah malam kali loh, mamak sama bapak nginap di sini aja!" tawar Dira, sebab tak ingin membuat kedua orang tuanya harus melalui jalanan malam yang menyeramkan karena rumah keluarga Dira berada di pinggiran kota.
"Iya, memang niatnya gitu karena kau lama kali datang!" hardik Rosma.
Sementara, Defan baru saja kembali setelah tadi berpamitan untuk mengganti baju. Rasanya sangat penat seharian menggunakan pakaian kerja.
Kini, Defan sudah memakai baju rumahan, ia pun duduk bersama mertuanya di ruang keluarga. Tak menunggu waktu lama, Sahat langsung menyampaikan niat kedatangan mereka.
__ADS_1