Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
jalan sendiri-sendiri


__ADS_3

"Sampai saat ini, aku belum di karuniai anak, itu membuatku semakin stress. Beda dengan soal kuliah, aku justru tidak terlalu memusingkannya!" seloroh Dira, mengusap wajahnya.


"Hahaha ... kau ini ada-ada saja pikiranmu, malah melantur kemana-mana," protes Jenny.


"Begitulah kalau banyak yang mendesak agar aku segera memiliki anak apalagi mertuaku sudah tidak sabar ingin memiliki cucu. Bahkan suamiku juga sempat mengatakan hal yang sama," tukas Dira.


"Wajarlah kalau orang tua menginginkan cucu apalagi kau sudah menikah selama 2 tahun, tidak mungkin rasanya mereka tidak mengharapkan kehadiran cucu. Mereka pasti ingin menimang cucu tapi kau harus bersabar. Karena membuat anak tidak semudah membuat adonan kue, tidak semua dikaruniai anak dengan waktu yang cepat!" sindir Jenny dengan lugas.


"Iya, tapi aku takut kalau tidak bisa hamil lagi," hardik Dira, semakin merasa khawatir.


"Ah, tidak usah terlalu melantur ke mana-mana, sekarang intinya jalani saja dulu rumah tanggamu dan senang-senang saja dulu berdua dengan suamimu. Karena saat kau sudah memiliki anak pasti kau akan merasa lebih kesulitan untuk mengurusnya," papr Jenny.


"Hm ... sok tahu kau, emangnya kau pernah memiliki anak!" kekeh Dira, menertawai Jenny yang merasa sok bijak.


"Kenyataannya seperti itu kok, kalau dalam cerita film dan tayangan sinetron di TV," ungkap Jenny.


"Kau terlalu menjadi korban sinetron sama kayak mertuaku," sindir Dira.


"Eh, kau samakan pula aku sama mertuamu. Bedalah, mertuamu kelahiran berapa aku generasi milenial," tampik Jenny.


"Iya, milenial tapi pikiranmu masih sama seperti pikiran mamak-mamak," kekeh Dira sembari menertawai sahabatnya.


Keduanya pun malah tertawa terbahak-bahak, lalu mereka semakin sibuk untuk menyantap makanan yang baru saja tiba. Dira baru memesankan lontong Medan kesukaannya. Sementara Jenny memesankan mie gomak goreng di kantin karena itu menu baru dari salah seorang penjual di sana.


Setelah menghabiskan makanan, mereka melanjutkan untuk adanya jadwal kelas ketiga. Dira dan Jenny kembali masuk ke dalam kelas, mereka menunggu kedatangan dosen yang akan mengajar pagi menjelang siang itu.


"Pagi!" sapa seorang dosen pria paruh baya, hari itu ia akan mengajar di kelas.


Namun karena dosen itu seorang pemalas, alhasil ia datang hanya memberikan tugas, lalu kembali meninggalkan kelas tersebut.


Sehingga, Dira dan Jenny merasa bebas padahal itu adalah kelas terakhir mereka. "Dir, jadi nggak ngemall? Udah nggak ada alasan lagi loh," ajak Jenny.


"Bolehlah, kita gas aja sekarang tapi aku minta izin sama suami dulu, ya," sahut Dira.

__ADS_1


"Hubungin aja dulu Bang Defan, nggak mungkin nanti aku disangka menculik kau, kan!" ledek Jenny.


Dira akhirnya menghubungi suaminya, langsung melakukan panggilan telepon tanpa butuh waktu lama. Di dalam kelas, Dira berbicara dengan berbisik-bisik untuk mengobrol dengan suaminya menyampaikan bahwa hari ini ia akan pergi bersama Jenny ke mall.


"Bang, aku mau minta izin, sekarang kelasku sudah berakhir jadi aku dan Jenny mau pergi jalan-jalan ke mall, boleh nggak?" kata Dira, menunggu jawaban suaminya.


"Iya, boleh, Yang tapi nanti pulangnya jangan ke sorean, harus tepat waktu. Nanti abang jemput deh ke sana!" imbuh Defan.


"Emangnya ada apa?" Dira kebingungan setelah mendengar suaminya sudah memiliki rencana agenda lain.


"Tadi mama menghubungiku, katanya kita harus makan di sana. Dan kalau bisa sih menginap juga sekaligus," akunya.


"Oh, memangnya ada acara apa?" Dira berpikiran sama dengan Defan, jika diundang datang ke rumah mertuanya pasti menganggap bahwa ada acara di dalam rumah tersebut.


"Nggak ada acara apa-apa sih, cuma katanya mama rindu sama kau."


"Bisa saja Inang itu!" seloroh Dira, terkekeh kecil.


"Boleh, hati-hati di jalan, nanti kabari kalau misalnya sudah selesai, abang jemput ke sana!" pesan Defan.


Kemudian, Dira memutus sambungan telepon itu, lalu mengajak Jenny untuk segera berangkat ke mall berdua. Dua perempuan itu melenggang dari kampus.


Namun, tiba-tiba saat di depan pintu gerbang, mereka bertemu dengan Shinta yang baru saja turun dari angkutan umum.


"Eh, kalian berdua mau ke mana?" teriak Shinta, saat keduanya asik berbincang seraya berjalan beriringan bahkan Dira dan Jenny tak menyadari kalau Shinta berada di sana.


"Astaga kau, Shin kok siang kali sih datangnya?" sambar Jenny, sembari menoleh pada sahabatnya.


"Iya jadwal kelasku memang siang, nggak ada kelas pagi," sahut Shinta.


Mereka bertiga berhenti sejenak di depan kampus, lalu mereka mengobrol sebentar. Tak lama, tiba-tiba Carol yang baru saja turun dari mobil di parkiran menuju halaman kampus melihat kekompakan tiga orang tersebut.


"Ngapain kalian di sini?" tegur Carol dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


"Ini kami tadi jumpa sama si Shinta, padahal sebenarnya kita mau ke mall cum karena ketemu Shinta malah jadi ngobrol dulu sebentar," beber Dira.


"Wah, jalan sendiri-sendiri sekarang, udah nggak mau bareng-bareng lagi," ketus Carol, menatap penuh selidik.


"Bukannya gitu tapi kan kalian memang nggak ada kelas dari pagi, sedangkan kami berdua kelasnya dari pagi. Dan jalan berdua ini pun dadakan!" kilah Dira.


"Tapi kan bisa berkabar dulu kalau mau ngajak-ngajak, setidaknya ngasih tahu kek kalau kalian mau jalan-jalan," timpal Shinta, menatap sini sengit kedua orang itu.


"Iya, namanya juga dadakan, kita juga nggak niat kok. Cuma karena lagi stres dan suntuk aja makanya kita berdua mau ngemall. Yaudah, kalau kalian mau ikut tahu aja," sela Dira.


"Aku baru ada kelas loh ijam segini!" sosor Carol.


"Sama aku juga!" Shinta ikut menimpali.


"Yaudah, lebih baik kalian kuliah dulu daripada nanti sicariin dosen," sambung Jenny.


"Iya, sana masuk aja deh." Dira mengusir kedua temannya.


"Iya, kalian pergi aja soalnya aku masih ada dua kelas lagi mulai siang," seloroh Carol.


"Aku malah tiga kelas sampai sore," ucap Shinta.


Shinta berjalan bersama-sama dengan Carol memasuki area kampus. Sedangkan Jenny dan Dira juga akhirnya menaiki kendaraan umum menuju mall yang akan mereka datangi.


****


Sebelum memasuki kelas, Jefri mencegat Carol saat berada di depan ambang batas pintu. Jefri meminta kejelasan agar Carol tetap mau dijemput setiap berangkat ke kampus.


"Sayang, masa aku harus berangkat sendirian terus sih. Udahlah kau akan aku jemput lagi saja," rengek Jefri, sembari menggenggam tangan Carol.


"Abang, lagian kan jadwal kita juga berbeda, kadang aku masuk pagi, kadang Abang siang, masa harus sama-sama terus?" Carol menatap datar pria itu.


"Nggak papa lah, itu artinya aku selalu siaga padamu," sanggah Jefri.

__ADS_1


__ADS_2