
"Ssstt!! Itu seniorku! Yang sering kuceritakan itu," bisik Shinta.
Panja tak menyadari keberadaan junior yang terus menatapnya. Shinta pun cepat-cepat mengalihkan pandangan, ia tak mau ketahuan terus memelototi pria tampan yang ada di hadapannya.
Setelah menyelesaikan urusan di kantin, Panja bergegas pergi. Namun, baru berada di pintu keluar, seorang wanita cantik menyapanya. Tak hanya itu, wanita cantik itu juga menggenggam tangan Panja sangat erat serta berjalan di depannya sembari senyum yang lebar.
"Hah? Siapa dia? Apa dia pacarnya?" kata Shinta, sedikit mendengus karena kesal melihat momen yang tidak terduga pagi ini.
"Pacarnya mungkin!" sahut Carol, cuek sembari meneguk jeruk hangat.
"Iya, semesra itu pasti pacarnya sih!" kata Jenny ikut memanasi keadaan.
"Udah lupakan aja, Shin. Lagian kelen terhalang agama, itu suatu hal yang mustahil!" beber Dira, menangkup wajah Shinta, sehingga sahabatnya langsung menatap sinis.
"Ck!" decak Shinta kesal.
"Yaudah, ayo, kita bubar!" ajak Carol, setelah menghabiskan jeruk hangat.
Dira juga telah menghabiskan lontong sayur. Meski masih kekenyangan, ia juga tak ingin terlambat masuk ke kelas.
"Cabs!" teriak Dira lantang, setelah melepaskan tangan dari wajah Shinta.
Keempat remaja itu langsung melakukan pembayaran pada ibu kantin kampus. Tak berselang lama, mereka berjalan menyusuri kampus, berpisah saat sudah sampai di lorong karena mulai berlainan arah untuk menuju kelas masing-masing.
"Nanti ketemu lagi pas jam istirahat!" tegas Shinta, melambaikan tangan pada ketiga sahabatnya.
Shinta buru-buru memasuki ruang kelas, di dalam sudah terlihat Panja beserta senior lain yang baru datang. Shinta hanya mengangguk sopan saat bertemu ketiga seniornya.
****
Jenny dan Dira baru saja terpisah dengan Carol. Keduanya duduk di kursi belajar masing-masing, masih mengobrol lantaran belum ada tanda-tanda kedatangan seniornya.
Di ruang lain, Carol yang datang sudah disambut wajah sinis Jefri and the genk. Carol hanya tersenyum saat melihat tiga senior berwajah masam tersebut.
__ADS_1
****
Di ruang sidang, Defan masih menunggu kedatangan Hakim Ketua bersama majelis hakim. Sementara, kliennya sudah diantarkan sipir penjara dan duduk di kursi sebagai seorang terdakwa.
Lima menit kemudian, sidang akan segera digelar setelah ketiga hakim menempati tempat duduk, usai menyanyikan lagu kebangsaan.
"Sidang pengadilan negeri kota Medan, yang memeriksa perkara pidana nomor 123.456.799 atas nama Pramuyadi pada hari Rabu tanggal 14 Juni dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum!" ucap Hakim Ketua seraya mengetok palu sebanyak tiga kali.
Seketika, ruangan hening, semua tamu persidangan yang menyaksikan tengah menonton dengan tertib.
Defan yang duduk di samping Yadi, menunggu perintah Hakim Ketua untuk penyerahan bukti baru.
"Ada tambahan bukti? Atau tambahan saksi?" tanya Hakim Ketua.
Defan langsung berdiri, mengangkat bolpoin yang ia dapatkan dari istri Yadi. "Saya ingin menyerahkan bolpoin ini, Yang Mulia. Di sini, isinya rekaman percakapan antara klien saya dengan dalang dibalik kasus ini," tegas Defan, seketika ruangan mulai ricuh, banyak yang ketar-ketir lantaran tamu persidangan yang menyaksikan adalah rekan kerja Yadi.
"Tenang! Harap tenang!" imbuh Hakim Ketua, seraya mengetok palu agar tamu persidangan tetap tertib.
"Silahkan serahkan bolpoinnya pada panitera persidangan!" tandas Hakim Ketua.
"Baiklah, kalau begitu, silahkan Jaksa Penuntut Umum memberikan penjelasan mengenai kasus ini." Hakim Ketua menyerahkan pembukaan kasus pada Jaksa yang bertugas.
"Yang Mulia, kami berada dipihak terdakwa, kami juga menemukan bukti baru!" tandas Jaksa Penuntut Umum.
Ia melangkah kedepan, menyerahkan satu bukti rekaman CCTV yang menangkap pertemuan Yadi dengan Gubernur yang bertugas saat itu. Yadi yang dijadikan 'tameng' untuk menyelamatkan gubernur itu memang menyesali perbuatannya sendiri.
Ia memang tidak bisa menolak atasannya meski sejujurnya ia tak ingin melakukan penyuapan. Melihat jaksa yang juga ikut mendukung dirinya, Yadi semakin terharu bahwa ia akan terselamatkan dari kasus ini.
CCTV pun ditayangkan di masa sidang, meski tidak ada suara dari CCTV tersebut. Namun, saat itu, Gubernur menyerahkan berkas yang menunjukkan tentang pihak ketiga yang menerima uang suap tersebut.
"Silahkan dilihat, jelas terlihat berkas tentang pihak ketiga yang diserahkan oleh gubernur itu. Artinya, penyuapan memang sudah diketahui dan direncanakan oleh atasan terdakwa, Yang Mulia," jelas Jaksa.
"Bagaimana terdakwa, apakah anda mengakui kalau memang itu berdasarkan suruhan atasan anda?" desak Jaksa yang menatap Yadi dengan sengit.
__ADS_1
"Benar sekali, Yang Mulia, saya terpaksa melakukan itu atas perintah atasan. Saya tidak bisa menolak dengan alasan itu sudah menjadi tugas dan pekerjaan saya," terang Yadi.
"Kalau begitu, saya minta dipanggilkan saksi, Yang Mulia. Orang yang berperan besar dalam kasus ini, kebetulan sekali beliau datang dan hadir bersama kita. Saya minta pak gubernur duduk di kursi sebagai saksi," imbuh Jaksa, membuat seluruh tamu persidangan semakin ricuh.
Gubernur tersebut berdiri, melangkah gontai dengan angkuh dan duduk di kursi sebagai seorang saksi, berhadapan langsung dengan Hakim Ketua.
"Apa benar saudara yang memerintahkan terdakwa untuk melakukan penyuapan?" tanya Jaksa Penuntut Umum.
Gubernur itu membantah terang-terangan meski hasil CCTV telah ditayangkan. "Tidak benar, Yang Mulia! Saya tidak tahu kalau terdakwa melakukan penyuapan. Dia tidak pernah meminta izin saya," bantah Gubernur.
Yadi mendelik kesal melihat atasannya membantah tentang perintah yang ia buat sendiri. "Sanggah, Yang Mulia, saya ingin segera rekaman di bolpoin diputar dalam persidangan ini ,agar bukti semakin kuat!" tandas Defan saat berdiri menyanggah pernyataan saksi.
"Baiklah, panitera silahkan putar isi rekaman pada bukti yang baru diserahkan!" ucap Hakim Ketua.
Panitera memutar rekaman tersebut, terdengar jelas perintah atasannya agar Yadi segera menyerahkan uang pada pihak ketiga untuk mendapatkan penilaian kinerja pemerintah di masa jabatannya.
Isi rekaman ...
Gubernur : Penilaian kinerja pemerintah bergantung pada auditor BPK.
Yadi : Lalu, apa yang harus dilakukan, Pak?
Gubernur : Ini berkas penilaian pertama untuk kinerja pemerintah dibawah pengawasan saya. Dan penilaian pertama saja sudah buruk *Plak* Gubernur melempar berkas ke hadapan Yadi.
Yadi : suara hening, lalu terdengar suara lembaran berkas yang dibolak-balikkan. Sepertinya sulit untuk merubah putusan ini, Pak!!
Gubernur : Berikan uang 1milyar pada auditor BPK, agar hasil penilaian segera diubah.
Yadi: Tapi, pak ...
Gubernur: Tidak ada tapi-tapian, saya tidak mau dicap sebagai Gubernur yang tidak memiliki kinerja di masa pertama jabatan saya! Kamu harus tuntaskan persoalan ini. Pakai uang khas daerah untuk menutupinya.
Yadi : Baik, Pak! Dengan terpaksa ia mengangguk menuruti permintaan atasan, lalu pergi keluar lantaran terdengar tarikan pintu tak lama setelah pembicaraan berakhir.
__ADS_1
Istri Yadi menangis histeris mendengar percakapan tentang atasan dan suaminya. Namun, Hakim meminta semua tamu persidangan tetap diam agar sidang yang berlangsung tenang.
"Saksi, apa anda mengakuinya?" tanya Hakim Ketua.