
Defan baru saja mengantarkan Shinta dan Jenny hingga ke depan rumahnya. Tinggal lah Dira dan Defan berdua di dalam mobil. Dira pun mulai melontarkan hal yang tak diduga oleh suaminya itu.
"Abang kenapa sih suka kali jalan sama si Dania, Dania itu," lontar Dira dengan kesalnya. Mulutnya tak bisa lagi ditahan. Ingin ia mengomeli suaminya.
"Tadi Dania yang ajak abang, Dir," balas Defan semakin takut akan dimarahi oleh istrinya. Tak biasanya Dira meracau dan mempermasalahkan kebersamaan mereka.
"Terus kalau abang diajak mau aja gitu?" ucap Dira bernada tinggi, naik satu oktaf dari nada biasanya ia bicara. Membuat Defan semakin deg-degan.
"Namanya juga rekan kerja. Lagian tadi juga untuk merayakan kemenangan sidang abang kok," jawabnya datar tanpa berani melirik istrinya.
"Rekan kerja berkedok TTM ya hahaha," ledek Dira semakin berang.
"Apa tuh TTM?" sahut Defan dengan polosnya.
"Teman Tapi Mesra." Dira menatap suaminya dengan tatapan yang begitu tajam. Ingin saja ia menerkam suaminya itu.
"Oh." Defan hanya menjawab singkat tanpa memperpanjang pendapatnya.
"Aku nggak suka abang dekat-dekat sama Dania," lirih Dira terus saja menyorot Defan dengan tatapan nanarnya. Berharap tatapannya itupun akan dibalas. Tapi Defan sengaja menghindarinya.
"Kenapa nggak suka? Sebelum kau jadi istriku, dia sudah menemaniku lebih dulu. Dia sahabatku," terang Defan merasa tak bersalah.
Hah? Apa maksudnya? Jadi dia mau terus-terusan dekat-dekat si Dania BODAT itu?
Dira bergumam dalam pikirannya. Memaki sahabat suaminya lantaran merasa jengkel.
"Oh ... yaudah, lebih baik jadikan si Dania itu istri abang! Ngapain abang terima perjodohan ini!" keluh Dania dengan ketusnya.
"Perjodohan nggak bisa ditolak. Itu sudah keputusan orang tua kita," hardik Defan bernada dingin. Laki-laki itu semakin bersikap dingin pada istrinya. Mempersalahkan hal yang menurutnya tak penting untuk memulai pertengkaran yang sangat ia benci.
"Yaudah! Terserah abang saja! Kalau abang mau dekat terus sama sahabat abang itu. Sana kejar aja dia! Anggap aku tidak ada," timpal Dira memalingkan wajahnya. Kini ia menatap jalanan melalui jendela sampingnya.
"Kenapa abang harus anggap kau tidak ada? Buktinya kau ada disini sekarang," ucap Defan dengan santai. Entah mengapa, Defan justru memperkeruh suasana dengan jawaban yang berkelit-kelit.
"TERSERAH!" seloroh Dira penuh penekanan.
Sampai Defan memarkirkan mobilnya, Dira tak mau melihat wajah suaminya itu. Dira bahkan buru-buru keluar setelah Defan membuka kunci mobilnya.
__ADS_1
Ia berlari menuju kamar suaminya di lantai 2. Bahkan tak ada sapaan untuk mertuanya yang sedang asik menonton tv.
"Dir?" panggil Melva dari ruang keluarga. Tapi Dira menghiraukannya. Ia langsung masuk ke kamar.
"Kenapa si Dira, Def?" ucap Melva ketika melihat sosok anaknya yang baru saja muncul berjalan gontai ke arahnya.
Defan mencium punggung tangan sang mama dengan lembut. Ia pun segera menjawab pertanyaannya.
"Lagi merajuk kayaknya ma," jawab Defan mengambil alih posisinya, duduk disebelah sang mama.
"Merajuk kenapa?" timpal Melva.
"Gara-gara Dania. Mungkin dia cemburu."
"Emangnya kau ngapain sama Dania?"
"Tadi karokean berdua. Dipergoki sama Dira. Dia juga karokean sama teman-temannya."
"Hah? Kau karokean sama Dania? Pantaslah dia ngamuk." Melva menangkup pipi anaknya dengan lembut.
"Kok pantas ma?"
"Dania kan hanya sahabat ma? Apa yang perlu dipeributkan? Lagipula aku hanya berkaraoke, tidak mengerjakan hal lain!" Defan pun menatap wajah mamanya dengan serius.
"Walaupun dia sahabatmu. Kau harus bisa menjaga perasaan istrimu, nak. Mungkin Dira bisa menganggap hal biasa tapi kalau keseringan tentu dia akan mengamuk. Lihat tuh bapakmu! Terlalu setia, tidak pernah ada wanita di sampingnya."
"Ada kok, Dania sering menemaninya!"
"Itu lain hal ceritanya! Maksud mama semasa mama memulai biduk rumah tangga ini. Kami pun juga dijodohkan oleh orang tua kami seperti kalian. Tapi bapakmu selalu menjaga perasaan mama. Walau saat itu ia belum mencintai mama."
"Defan juga baru kali ini jalan sama Dania lagi ma. Lagian aku juga menjaga perasaan Dania. Semenjak aku menikah, aku tak pernah lagi mau diajak jalan bersama. Tadi karena kebetulan perayaan yang sudah sering kami lakukan. Aku hanya menghormati ajakannya saja."
Defan terus menatap lekat wajah mamahnya yang tengah protes atas tindakannya. Begitu pula dengan Melva, ia menatap sengit putranya. Sudah dinasehati malah bebal.
"Apa kau memberi kabar ke istrimu saat jalan sama sahabatmu?"
Defan menggelengkan kepalanya. Memang ia urungkan niatnya tadi saat mau melakukan hal itu.
__ADS_1
"Itulah salahnya! Kau tidak meminta izin istrimu dulu. Membuat Dira merasa diacuhkan, tidak dianggap sebagai seorang istri."
"Dia juga tak bilang kalau mau karaoke. Dia hanya bilang jalan sama teman-temannya." Defan dan Melva terus berdebat.
"Dira kan jalan sama perempuan. Bukan sama laki-laki sayang! Harusnya kau mengerti apa maksud percakapan mama dari tadi. Intinya kau harus lebih perhatian pada istrimu, mengabarinya sebelum jalan dengan perempuan lain. Agar dia pun mengerti," jelas Melva panjang lebar.
Defan pun semakin jengah dengan nasehat mamanya. "Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang ma?" sahut Defan ingin mengakhiri nasehat dari mamanya.
"Minta maaflah padanya!" Melva mengelus rambut putranya seperti layaknya anak kecil.
"Terus?" kata Defan.
"Berjanjilah tidak akan bersama Dania selain untuk hal pekerjaan," tegas Melva.
Defan pun mengangguk, menuruti keinginan mamanya daripada harus mendengarkan nasehat yang entah kemana-mana alurnya.
"Kalau gitu aku ke atas dulu ma." Defan berjalan gontai meninggalkan Melva yang masih melanjutkan tontonan tvnya. Ia menaiki anak tangga sekaligus melamun.
Entah kata apa yang pantas ia ucapkan sebagai permintaan maaf pada Dira. Ia mulai memikirkan kata-kata yang cocok diungkapkan pada istrinya.
Pusing sama perempuan. Ini salah, itu salah, semuanya serba salah! Yang penting kan lakinya nggak selingkuh.
Defan larut dalam pikirannya hingga anak tangga teratas ia lintasi. Kini, ia sudah berada didepan kamar mereka. Bersiap untuk mendorong daun pintu.
"Bang, kenapa?" tanya Anggi penasaran, dia baru keluar dari kamarnya.
Tadi sebelumnya pun, Anggi sempat memergoki raut wajah Dira penuh amarah dan amukan. Namun, Dira masih menjawab pertanyaan Anggi sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Flasback!
"Dak, baru pulang?" ucap Anggi basa-basi.
Dira pun mengangguk, seketika ia merubah ekspresinya hanya dengan tatapan datar.
"Kok sore kali?" balas Anggi.
"Tadi abis jalan sama teman. Aku permisi dulu ya dak," tandas Dira mengakhiri percakapan mereka.
__ADS_1
Anggi pun mengangguk, ia tadi keluar ingin mengambil minuman. Ternyata berpapasan dengan iparnya itu.
Flashback OFF!