
Halo teman-teman. Maaf sekali dua hari kemarin aku tidak up eps terbaru dikarenakan lagi sakit kepala
uhuk uhukk!!
*Oke ini aku up eps terbaru, jangan lupa supportnya. Thankyouuu**🥰🥰*
Selama satu jam Defan berada didepan pintu, banyak hal yang sudah ia lakukan agar Dira segera membukakan pintu kamarnya. Defan sampai jengah dengan sikap Dira yang begitu membiarkannya berdiri didepan pintu.
"Sial!" gerutu Defan yang semakin suntuk. Ia terus menghubungi ke nomor ponsel Dira, tapi tak ada jawaban. Pesan via watsapp maupun pesan teks biasa juga ia kirimkan, lagi-lagi tak digubris.
Sementara Dira tengah asik ketawa cekikikan didalam kamar. Sebentar-sebentar ia sendu, tiba-tiba cekikikan kembali mengikuti alur film yang ditayangkan. Sampai-sampai ia lupa kalau Defan tidak ada di kamar itu.
Film berakhir dengan happy ending, Dira merasa puas. Ia mematikan tv yang begitu memekakkan telinganya. Tak sadar kalau volume tv itu sangat tinggi sekali.
"Astaga! Sudah jam berapa ini," pekiknya sambil terperanjat diatas kasur. Langsung Dira mengambil ponselnya, melihat sudah jam sebelas malam.
"Arghhh!!!" Dira beranjak dari kasurnya mendapati notifikasi yang sangat banyak. 100 panggilan tak terjawab dari Defan, 10 notifikasi pesan teks, hingga notifikasi di watsapp yang tak terhingga.
Kemudian dia berlari membuka pintu kamarnya. Dengan polosnya ternyata Defan tertidur dengan posisi duduk disamping pintu kamarnya.
Dira panik dan khawatir, pasti ia akan kena semprot semalaman dari paribannya.
"Aduh gimana ini!!!" pekik Dira semakin takut untuk membangunkan Defan yang terlelap dalam tidurnya.
Kepalanya tertunduk, badannya pun ikut membungkuk. Pasti sakit sekali posisi tidur yang tak nyaman itu. Bisa-bisa lehernya akan keram seharian karena tidur dengan gaya yang tak nyaman.
Dira mondar-mandir didepan pintu. Tak mungkinkan ia menggendong suaminya ke kamar. Wow! Bisa tumbang Dira, yang ada lagi-lagi akan kena amukan dari pariban dingin yang arogan seperti Defan.
"Gimana ini," lirih Dira sembari mondar-mandir ketakutan sambil mengigit kukunya karena panik, ia takut sekali membangunkan Defan.
Tidak ada solusi lain untuk memindahkan Defan, kecuali Defan yang berjalan membawa tubuhnya seorang diri keatas ranjang. Dira mengumpulkan keberaniannya, perlahan ia mendekati Defan dan berkongkok didepannya.
Tangannya pun terasa tremor parah ketika ingin menyentuh Defan. Suaranya acap kali menghilang saat ingin memanggil namanya.
__ADS_1
Entah mengapa bibirnya terasa kelu, karena kesalahan fatal yang Dira buat sendiri. Setelah hampir setengah jam Dira membiarkan Defan tidur dengan kepala lunglai berulangkali, kepalanya seakan-akan terjatuh karena tak memiliki sandaran.
Akhirnya Dira kali ini benar-benar yakin ingin membangunkan paribannya.
"Bang!! Abang....!" panggilnya seraya membenarkan posisi kepala Defan yang terhuyung-huyung kebawah.
"Bang bangun!!" lirih Dira kembali, kali ini ia menoel-noel lengan Defan dengan lembut. Sayangnya Defan tak kunjung terbangun, mungkin efek lelah menunggu dua jam didepan pintu.
"Bang bangun!!!" bisik Dira dengan pelan ditelinga Defan.
Mampuslah aku! Mati aku! Nggak mau bangun pula abang ini.
Dira berbicara seorang diri, untungnya saat itu sudah larut malam. Dira beruntung tak ada tamu yang berlalu lalang disepanjang koridor kamar mereka.
"Bang! Please bangun!" pintanya kali ini dengan suara setengah berteriak. Sontak saja Defan terkejut, ia terbangun dari tidurnya.
Matanya yang masih memerah, dengan muka kusut dan rambut serta baju yang tampak acak-acakan khas orang yang baru terbangun dari tidurnya.
"Kok lama kali sih buka pintunya? Dari tadi ngapain aja," keluh Defan dengan nada penuh penekanan akibat kesal pada istrinya.
"Ehhmmm.. Ehmmm," gumamnya kebingungan menjawab pertanyaan Defan.
"Minggir, aku mau masuk dan tidur," ketusnya dengan dingin membuat suasana semakin menegang. Dira semakin khawatir malah ia akan diusir dari kamar malam itu sebagai pembalasan dendam suaminya.
Dira mengekori Defan dari belakang, mengikuti pria itu masuk ke dalam kamarnya.
"Abang maaf ya, aku nggak tahu abang sudah didepan pintu. Tadi aku ke asikan nonton tv, swear, nggak kedengaran sama sekali," akunya dengan jujur agar Defan mengerti.
Namun kemarahan Defan kian memuncak. "Kau sengaja ya mengurungku diluar," amuknya dengan kemarahan tingkat tinggi.
Dira tertunduk lesu, padahal dia tak ada niatan sama sekali untuk membiarkan Defan diluar. "Nggak gitu loh bang, jujur aku nggak tahu kalau abang udah balik kesini. Aku kira masih asik nongkrong di Lounge," ujarnya dengan lesu.
"Kan tadi aku bilang, tunggu di Hotel sampai aku pulang," kesalnya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Iya bang, Dira tahu. Tadi Dira terlalu asik nonton tv. Maafin Dira bang," ucapnya memelas.
Namun Defan tak mau memaafkan paribannya, ia memilih untuk membaringkan tubuhnya yang serasa keram karena tidur terduduk. Ia meregangkan otot-otonya dengan merebahkan diri diatas kasur. Sekaligus sengaja acuh pada Dira sebagai pembalasannya.
Setelah merasa tubuhnya agak enakan, Defan memiringkan tubuhnya kesamping. sebelumnya posisi tidur sengaja terlentang agar tubuhnya semakin rileks karena leher yang kaku dan kakinya terasa keram.
"Bang maafin aku ya, aku yang salah," sesal Dira karena perbuatannya malam ini. Tapi lagi-lagi ia tak mendapat respon dari suaminya yang kini sudah memunggunginya dalam keadaan tidur.
"Abang perlu apa? Perlu ganti baju nggak? Biar aku ambilkan," ucap Dira tertegun menunggu jawaban pasti.
Tapi Defan tak kunjung menjawab, akhirnya Dira memberanikan diri untuk memastikan kalau Defan sudah tertidur diatas ranjang.
"Ah sial, capek kali aku minta maaf rupanya dia udah melanjutkan tidurnya," sesal Dira. Dengan berat hati Dira pun ikut membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Memejamkan kedua matanya karena sudah terasa sangat berat.
"Besok lagi aja minta maafnya," batinnya seraya dengan mata terpejam.
Pagi-pagi, kamar Defan dan Dira sudah diributkan dengan nada dering ponsel Defan yang aneh. Lagu khas anak-anak itu terus berbunyi, membuat tidur Defan dan Dira terganggu.
Defan yang baru bangun tidur meraih ponselnya yang ternyata masih didalam kantongnya. Karena ia ketiduran, tak sempat untuk merapihkan diri bahkan hanya sekedar berganti baju dan meletakkan ponsel diatas nakas.
"Ck," decaknya dengan sebal.
"Siapa sih pagi-pagi gini udah ribut," lirih Defan dengan muka awut-awutan dengan mata masih terpejam. Ia mengambil ponsel dari kantongnya tanpa memeriksa siapa penelepon yang mengusik tidur paginya.
Sedangkan Dira dengan cueknya tak peduli, melanjutkan tidur nyenyaknya kembali ke alam mimpi.
"Bapak dimana?" tanya seorang pria dari seberang telepon.
Defan kebingungan, pertanyaan macam apa itu, pagi-pagi begini, tidak ada sapaan, ujug-ujug mempertanyakan posisinya.
"Ini siapa?" tanyanya dengan linglung tanpa memeriksa layar ponselnya.
"Maaf pak, ini saya sopir travel kemarin yang menjemput pak Defan dan bu Dira," balasnya dengan tegas karena sebelumnya Defan sudah mengetahui kalau hari ini mereka mulai tour kebeberapa tempat.
__ADS_1
"Ah, saya masih di Hotel pak. Ada apa?" tanya dengan suara parau bahkan masih setengah sadar. Defan lupa kalau jadwal mereka mulai hari ini adalah honeymoon hari pertama sesuai jadwal yang disiapkan pihak travel.