Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
permintaan sang ratu


__ADS_3

Rosma langsung membangunkan anak lelaki beserta suaminya. Sudah terlalu lama para pria itu tidur siang.


"Pak, bangun! Cepat bereskan semua, malam ini biar lega dan kita bisa tidur!" tegas Rosma.


Sahat dan ke lima anak lelakinya langsung bangun mendengar racauan Rosma. Sontak mereka semua terbangun, hari pun sudah sangat siang.


"Iya, iya," jawab Sahat, ia langsung mendudukkan tubuhnya.


"Nggak enak loh sama edak itu. Bapak sama anak-anak malah tidur, mereka bantu-bantu beresin barang," cetus Rosma.


Semua langsung beranjak, meminum air mineral untuk menetralkan tubuh yang kehilangan kendali saat tidur. Melepaskan dahaga siang itu.


Ditengah kesibukan menata seluruh barang sesuai tempat, Melva, Anggi dan Dira turut membantu hingga menjelang sore. Tak ada rasa lelah bagi mereka. Bahkan, Rosma sampai merasa tak enak lantaran besannya itu meluangkan waktu seharian di rumah baru mereka.


******


Defan akhirnya membawa berkas untuk lanjut dipelajari saat di rumah nanti. Hari sudah menjelang sore, ruangan barunya sudah tertata rapih.


Sore itu, mereka bisa pulang tepat waktu. Namun, karena Dira sudah mengabari kalau pulang saat malam, Defan pun mengajak Juni untuk makan bersama.


Merayakan kepindahan mereka ke ruangan yang lebih besar. Tentu saja, Juni dengan gembira menyambut ajakan bos idaman tersebut. Makan berdua adalah hal yang sulit untuk dilakukan sebab Defan selalu sibuk bekerja.


"Makan di mana kita, pak?" tanya Juni, dengan semangat ia menata barang bawaan serta penampilannya yang tampak lusuh karena seharian membereskan ruangan.


"Kau mau makan di mana?" tawar Defan, ingin mendengar pendapat dari asistennya itu.


"Nggak jauh dari kantor, ada cafe baru buka pak. Bagus kayaknya untuk ngopi," sahut Juni.


"Yasudah, di sana saja!" Defan merapihkan tas dan jas, dibawa saat hendak keluar kantor.


"Mau jalan kaki apa langsung naik mobil, pak?" usul Juni.


"Naik mobil saja! Saya sekalian pulang ke rumah." Defan pun berjalan gontai, menyusuri ruangan.


Juni mengekori dari belakang, ia tak berani berjalan beriringan dengan bos, takut dirumorkan oleh pegawai lainnya. Mereka berdua masuk ke dalam lift, saat berada di lantai bawah, Defan dan Juni bertemu dengan Dania.


"Eh, Def, mau pulang?" seloroh Dania basa-basi.

__ADS_1


"Enggak, aku mau ngajak Juni ngopi di seberang kantor," jelas Defan to the point.


Sontak, mendengar penuturan pria itu, jiwa pengganggu Dania langsung memberontak. "Ikutlah aku, kok nggak ngajakin sih," timpal Dania terkekeh.


"Ayo!" kata Defan.


Juni langsung menatap sinis ke arah Dania seraya mencibir wanita itu. "Dasar pengganggu."


Kedua bola mata wanita itu saling beradu. Dania seolah-olah mengejek Juni, sementara Juni seolah-olah memaki Dania lantaran ingin menyingkirkan wanita itu dari hadapan.


"Dalam rangka apa nih acara ngopi-ngopi," celetuk Dania, tertawa penuh kemenangan lantaran Defan tak menolak permintaannya.


"Perayaan kantor baru," sambar Juni dengan jutek.


"Oh, bagus dong kalau gitu. Lain kali, ajak-ajak akulah. Coba kalau kita nggak ketemu di sini, otomatis aku nggak diajak deh!" sesal Dania pura-pura kecewa.


"Biasa aja lah, Dan. Ini juga mendadak karena istriku lagi nggak di rumah," sambar Defan acuh.


"Hah? Ke mana rupanya si Dira, Def?" tanya Dania seolah terkejut.


"Lagi di rumah orangtuanya. Bantu-bantu di sana. Makanya aku agak santai lah hari ini. Kebetulan kami juga lagi pulang tepat waktu," balas Defan.


"Hmmm ..." Defan bergumam.


Mereka bertiga langsung menuju perpakiran. Saat tiba di sana, Juni dan Dania kebingungan, dua-duanya tetap ingin duduk di samping Defan.


Juni langsung menyerobot pintu samping bosnya tapi Dania pura-pura tak melihat wanita itu telah berdiri di pintu samping. Dania lebih dulu menarik handel pintu mobil, membuka pintu dengan lebar.


Tubuhnya menyorobot masuk ke dalam. Alhasil, Juni pun meracau dalam batin. "Ih, nggak tahu diri kali perempuan ini. Padahal dia juga cuma kebetulan diajak, malah nyerobot pula itu."


Terpaksa Juni langsung duduk di belakang. Sementara, Dania dengan wajah picik tertawa kegirangan meski hanya dalam batin saja. Ia menertawai Juni yang kalah telak bersaing untuk memperebutkan kursi di samping pria itu. Padahal pria itupun sudah ada yang punya tapi keduanya seakan-akan tak peduli.


Defan yang memperhatikan gelagat kedua wanita itupun semakin yakin kalau mereka tampak bermusuhan. Tiba-tiba saja ia menginjakkan pedal gas dengan kecepatan tinggi saat keluar dari perpakiran.


Dania dan Juni memekik ketakutan lantaran tubuh mereka terdorong ke depan karena laju cepat yang mendadak. "


"Pelan-pelan aja, Def!" sindir Dania, menahan tubuh dengan tangan yang berpangku pada dashboard.

__ADS_1


Sementara, Juni tak berani berkata demikian. Ia lebih memilih bungkam, memperhatikan Dania yang berani menegur bos besarnya.


Defan langsung menurunkan kecepatan mobil. Ia mengendarai dengan santai. Tak berselang lama, Defan memasuki parkir di gedung cafe baru yang ada di seberang kantor.


Ketiganya langsung turun, memasuki cafe bergedung dua lantai itu. Di dalam juga sangat ramai, banyak pengunjung yang ingin mencicipi kopi viral dari cafe itu.


"Kok ramai kalilah cafe ini, Jun?" protes Defan, setelah melihat seisi gedung dengan tatapan kecewa.


"Iya, pak, kopi di sini katanya enak dan viral kali. Makanya kusarankan ke sini. Banyak dessert cake juga," jelas Juni.


"Kau nggak tahu ya, Jun? Kalau si Defan ini nggak suka keramaian. Salah pilih cafe kau ini." Dania memanasi keadaan.


"Yaudahlah, ayo kita masuk!" titah Defan, lantaran sudah kepalang berada di dalam cafe.


Kedua wanita itu mengekori Defan dari belakang. Dania berkomat-kamit memarahi Juni, sedangkan Juni hanya berjalan menunduk, malas melihat wanita yang sok tahu tersebut.


Drrttt Drrrtt


Ponsel Defan bergetar setelah mereka duduk di salah satu kursi untuk pengunjung.


"Iya, sayang?" jawab Defan saat mengangkat telepon dari sang istri.


"Abang, jemput aku ke rumah mamak sekarang. Inang sama edak udah pulang tadi. Soalnya udah mulai gelap, aku masih di rumah mamak," tutur Dira melalui sambungan telepon.


Defan hanya terdiam memikirkan kedua perempuan yang ada di hadapan. Ia baru saja tiba, lalu sudah diminta untuk pergi dari tempat itu.


Namun, yang meminta adalah ratunya, tak mungkin Defan memilih mengecewakan permintaan sang ratu dibandingkan dengan dua perempuan yang berupa dayang-dayang semata.


"Iya, sayang. Share lokasinya ya, abang ke sana sekarang," ujar Defan, mematikan sambungan telepon itu.


Dania dan Juni langsung menatap tajam ke arah Defan setelah mendengar ucapan pria itu. "Loh, kau mau pergi, Def?" sambar Dania.


"Iya, aku mau jemput istriku. Dia udah ditinggal tadi, jadi harus dijemput ke rumah orangtuanya," balas Defan.


"Yah, jadi gimana acara ngopi kita, pak?" tambah Juni tertegun.


"Hmmm ... kalian berdua saja, ya? Ini kartunya, Jun. Pakai saja, besok kembalikan pada saya." Defan mengeluarkan kredit card miliknya.

__ADS_1


Ia pun beranjak dari kursi, Dania dan Juni hanya menatap punggung Defan yang semakin jauh dari penglihatan.


__ADS_2