
Kantin itu sangat ramai. Beberapa karyawan makan di tempat. Ada juga yang memesan untuk dibawa ke dalam kantor.
"Ini mbak pesanannya." Wanita paruh baya menyodorkan satu bungkusan plastik besar.
Juni langsung sigap mengeluarkan uang yang diberikan bosnya tadi. Ibu kantin pun langsung memberikan kembalian untuk Juni.
Tok ... Tok ...
Juni sangat bersikap sopan. Ia tetap meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan itu. "Pak, saya bingung mau belikan bapak apa. Jadi bapak tinggal pilih saja antara dua ini. Kalau saya, apa saja kok dimakan," tutur Juni dengan lembut.
"Terimakasih!" Defan mengecek isi makanan, akhirnya ia mengambil satu bungkusan chicken cordon blue yang dibawakan oleh Juni.
******
Dania langsung berdiri ketika melihat sosok mama Defan di depan pintu rumah. Ia mencium punggung tangannya, lalu menangis histeris didekapan Melva.
"Yang sabar, Dania! Semua pasti akan berpulang ke yang di Atas! Termasuk kita," ucap Melva menenangkan seraya menepuk punggung Dania dengan lembut.
Dania pun mengendurkan pelukannya. Lalu, Niar juga menyampaikan belasungkawanya. Mereka bersalaman bahkan berpelukan. Dania kemudian mempersilahkan Melva dan Niar untuk melihat mayat mamaknya yang berada di dalam peti mati.
*********
Satu Hari Berlalu ...
Hari ini adalah hari pemakaman ibunya Dania. Semua telah hadir dalam acara pesta kematian tersebut terkecuali Dira karena ia bersekolah. Tampak runtutan acara dimulai. Dania bersama kedua adiknya berada di samping mayat sang mama.
Ibadah penghantaran mayat pun sudah berlangsung sejak pukul 9 pagi. Mereka langsung membawa mayat menggunakan ambulance menuju tempat pemakaman.
Mata Dania sangat membengkak lantaran tiga hari menangis, belum merelakan kepergian satu-satunya orang tua yang dimiliki. Defan pun berada paling depan menghantarkan mayat untuk memasukkan ke dalam kubur.
Proses pemakaman berlangsung khidmat. Akhirnya, Dania merelakan kepergian itu. Pemakaman pun tuntas hingga pukul 3 sore. Defan sempat mengantarkan Dania beserta adiknya ke rumah mereka.
*****
__ADS_1
"Bang, gimana acara pemakaman mamaknya Dania?" tanya Dira saat sebelum mereka tidur.
Keduanya duduk diatas ranjang, Dira begitu penasaran dengan moment kepergian ibunya Dania.
"Biasa saja! Kayak acara kematian orang-orang," jawab Defan datar.
"Yang jelas kek!" gerutu Dira.
"Ya gitulah pokoknya, namanya juga kematian. Mau diceritain kayak mana lagi?" Defan segera menarik selimutnya, bersiap-siap menuju alam mimpi.
*******
Satu Tahun Empat Bulan Kemudian ...
Dira bersama ketiga sahabatnya sedang berkumpul di aula sekolah. Mereka akan menerima piagam atas kelulusan dari sekolah. Seluruh siswa termasuk orang tua siswa pun turut hadir memeriahkan acara kelulusan itu.
Dira di dampingi oleh kedua orang tua dan sang suami sudah tak sabar untuk mengikuti acara ini. Defan tampak senyum-senyum sendiri melihat kecantikan paripurna istrinya.
Hubungan mereka masih biasa saja. Namun, benih-benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya. Saling cemburu, rindu, serta rumah tangga mereka pun diisi pertengkaran kecil.
Hari ini, tepatnya Dira sudah lulus dari SMA. Defan orang pertama yang sangat antusias untuk menyambut kelulusan sang istri. Apalagi, ia sudah diperbolehkan untuk menyentuh Dira setelah lulus dari masa sekolah. Tepat diusia 18 tahun, Dira lulus dengan prestasi yang cukup memukau.
Ia bahkan sudah masuk ke universitas negeri terfavorit di medan. Anehnya, ia tak mengambil jurusan yang disukai yaitu dibidang fashion. Dira malah beralih mengambil pendidikan dokter. Suaminya sangat mendukung pilihan untuk menjadi seorang dokter.
"Selamat, ya, sayang! Semoga ilmumu bermanfaat untuk bangsa dan negara! Dan kau bisa segera meraih impian menjadi seorang dokter." Defan menciumi pipi Dira dengan gemas dan memberikan sebuket bunga. Tak ada penolakan dari wanita itu.
Semenjak ia libur usai mengikuti ujian akhir sekolah, waktunya lebih banyak berduaan dengan Defan. Alhasil, benih-benih cinta terus bermunculan. Walau mereka belum melakukan malam pertama yang sesungguhnya.
"Makasih bang sudah dukung aku sampai detik ini!" Dira membalas ciuman Defan dengan pelukan hangat. Meskipun ada kedua orang tuanya, semua yang mereka lakukan tidak mendapatkan protes. Dimata kedua orang tua Dira, hal itu pantas saja dilakukan oleh pasangan suami istri.
Dira juga memeluk erat mamak dan bapaknya di hari kelulusan ini. Tak lupa, ia mengabadikan moment penting dengan berfoto bersama keluarga dan suaminya. Keluarga Defan memang tidak hadir karena Dira tak ingin terlalu banyak yang berkumpul di sekolah sebagai perwakilan keluarga.
"Dir, ayo foto bersama," ucap Carol mengangkat tangannya dari jauh.
__ADS_1
Dira mengangguk patuh. Menghampiri Carol beserta Jenny dan Shinta. Sebelum datang ke sana, ia menarik lengan suaminya agar ikut menemani.
"Ayo, kumpul!" teriak Dira memberi aba-aba.
"Bang, tolong fotoin kita ya!" pinta Dira seraya tersenyum lebar.
Defan langsung menuruti kemauan istrinya. Ia mengabadikan momen bersama keempat wanita itu. Mereka terlihat bahagia tanpa beban. Hidup mereka berempat dimulai dengan kisah baru sebagai mahasiswi di kampus yang sama.
Yap, mereka akan menimba ilmu di universitas yang sama, Universitas Sumatera Utara (USU). Masing-masing berbeda jurusan.
Kalau Dira sudah diterima untuk pendidikan kedokteran, lain halnya dengan Carol. Ia mengambil jurusan arsitek, sedangkan Shinta memilih masuk ke jurusan Ilmu Hukum, dan Jenny yang sangat tidak di sangka-sangka. Ia berhasil masuk ke jurusan yang sama dengan Dira.
1... 2 ... 3 ...
Jepret jepret jepret
Sebanyak 3 foto berhasil diabadikan oleh Defan di halaman sekolah. Setelah mengikuti acara perpisahan tadi, mereka semua keluar aula untuk melanjutkan moment foto bersama.
Defan memberikan ponsel itu pada Dira. Lalu ia pergi meninggalkan keempat wanita yang bersahabat itu untuk memberi ruang dan waktu diakhir pertemuan mereka. Sebab, waktu libur mereka masih sangat lama sebelum masuk kuliah.
"Cieee ... hari ini kayaknya akan ada yang malam pertama," ledek Jenny sembari menyenggol lengan Dira.
"Hampir dua tahun coy, penantian bang Defan. Kurang sabar apalagi dia," celetuk Shinta.
"Hussh apasih kelen sok tau! Perjalanan masih panjang nih! Kita masih lanjut kuliah loh. Masa udah mikirin anu-anu!" desah Dira dengan sebalnya mendengar topik pembicaraan yang tak penting itu.
"Halahh, masa selama dua tahun kau nggak tergoda sama suami ganteng kayak gitu sih. Kalau aku, mungkin saat malam pertama setelah menikah sudah gaspol," tutur Jenny tanpa filter.
"Apasih gaspol-gaspol. Hey! Umur kita masih 18, dunia remaja yang belum boleh memikirkan hal-hal jorok," timpal Dira sok polos.
"Dir, aku penasaran, emang beneran kau nggak pernah anu-anu sama suamimu? Kelen tidur berdua beneran kan?" cecar Carol memicingkan mata.
"Beneran loh we! Nggak pernah kami! Cuma ... kiss aja, itupun sekali saat di kamar mandi. Kalau diingat-ingat, ya, setahun yang lalulah," cerita Dira tetapi tak ada satupun yang mempercayai.
__ADS_1