
"Nggak kau liat mataku udah terbuka ini," ketus Defan membalas pertanyaan Dira sambil menyingkirkan tangan Dira dari depan wajahnya.
Perlakuan kasarnya pagi itu membuat Dira kecewa. Defan pria yang sudah menjadi suaminya tidak pernah mau bersahabat sama sekali. Perlakuannya masih tetap sama, ketus, dingin dan arogan. Membuat Dira khawatir, kalau ia tidak akan bertahan jika hanya tinggal berdua dengan paribannya itu.
"Jutek amat sih bang! Masih pagi loh," ledek Dira berharap Defan akan luluh serta berbaik hati padanya.
"Gimana kondisimu? Sudah baikan? Lapar?" tanya Defan dengan dingin memastikan kondisi Dira sudah agak membaik sejak kejadian kemarin.
"Lumayan! Cuma aku lapar kali bang. Maklum belum makan seharian," balas Dira dengan senyum polosnya membuat Defan semakin kikuk karena hanya mereka berdua yang ada di kamar itu.
Defan melirik jam tangannya, menandakan sudah jam lima pagi. Ia teringat akan pekerjaannya, harus segera bersiap-siap. Dia tidak ingat kalau sudah mengajukan cuti libur selama seminggu karena pernikahannya dengan Dira.
"Kalau lapar makan sana ke dapur! Udah disiapin pasti sama pembantu disana," ujar Defan sambil beranjak mau meninggalkan Dira.
"Abang mau kemana emangnya," tanya Dira bingung hingga membuatnya menggaruk-garuk tengkuknya.
"Mau kerja," balas Defan singkat.
Baru saja ia berjalan, mau keluar dari kamar pengantin.
"Tunggu!! Loh abang bukannya cuti kerja?" teriak Dira yang bingung melihat suaminya sudah pikun dengan usia yang dianggapnya tua.
"Ya pantaslah pikun! Udah tua sih," singgung Dira dengan keras tanpa malu-malu. "Biarin ku kasarin balik. Kan dia yang mulai duluan ketus," batin Dira dengan kesal.
"Apa kau bilang? Tua? Enak aja! Mana ada tua masih umur 27 tahun," ketus Defan dingin. Ia sebenarnya malu pada Dira, sudah melupakan jadwal cutinya, padahal mereka harus mempersiapkan honeymoon.
Defan termasuk pria yang ambisius dan workaholic. Dia sangat sibuk bekerja, bahkan sering kali melupakan waktu untuk kepentingan pribadinya demi menuntaskan pekerjaannya. Tak heran, jika saat ini yang dia ingat hanyalah bekerja, bekerja dan bekerja.
"Ayo bang. Makan! Temani aku, aku malu kalau makan sendirian. Lagipula aku baru satu hari disini," ucap Fira dengan rasa kesalnya agar Defan mau menemaninya.
Dira turun dari ranjangnya, berjalan keluar melewatkan tubuh Defan yang berdiri kaku karena kepikunannya diejek oleh Dira.
Dari belakang, Defan mengikuti tubuh Dira yang jenjang. Gadis berusia tujuh belas tahun itu terlihat tampak dewasa saat ini.
__ADS_1
Defan terbayang kejadian tadi malam, saat ia mengganti baju istri kecilnya itu. Seluruh isi tubuh Dira sudah Defan lihat. Meski ia tidak bisa menyentuhnya.
Sesuai dengan perjanjian mereka, Defan tidak akan pernah menyentuh tubuh Dira hingga ia lulus dari sekolahnya.
Defan menelan ludahnya, membayangkan lekuk tubuh Dira yang molek dari belakang. "Astaga! Masih pagi pikiran sudah kotor begini," gumamnya sambil menepok jidatnya.
Ia tidak menyangka pikiran kotornya akan menghantuinya ketika masih pagi-pagi begini.
"Bang! Buruan," ketus Dira lagi. Dira meminta agar Defan duduk didepannya, menunggu sarapan disajikan oleh para pembantu di rumah itu.
Pembantu Defan cukup banyak, keluarganya yang kaya raya mulai hari ini akan merubah nasib Dira. Ada 10 pelayan yang siap melayani anggota keluarga Sinaga itu.
Dira sangat terpukau melihat ruang makan yang tergabung dengan dapur mereka sangatlah mewah. Dibandingkan rumahnya? Secuil dari isi rumah Defan bahkan tidak ada.
Interior dalam ruangan itu sangat cantik dan elegan. "Dapurnya saja pakai marmer! Kurang mewah apalagi rumahnya ini," batin Dira sambil menggeleng-geleng kecil kepalanya karena sangat terpukau dengan isi ruangan tersebut.
Dua pelayan menghampiri Dira dan Defan. Membawakan sarapan yang telah dimasak sejak jam empat pagi. Para pembantu itu sudah sibuk didapur meski masih subuh.
"Waww enak semua ya makanannya," ucap Dira dengan semangatnya melihat sajian makanan yang dibawa para pelayan.
Makanan lokal khas masakan Indonesia sudah memenuhi meja makan. Sajian nasi goreng, roti dengan selainya, bahkan ada sereal dan susu hingga jus jeruk sudah memenuhi isi meja.
"Buruan makan! Biar kenyang! Bukan diliatin doang," ketus Defan yang bingung melihat Dira seperti baru pertama kali melihat sajian makanan tersebut.
Padahal makanan yang disajikan adalah menu-menu biasa bahkan mungkin sering dimakan oleh Dira. Tapi mengapa ia setakjub itu?
"Anak yang aneh," sindir Defan dengan kecut.
"Aku nggak aneh bang. Aku heran aja kenapa pagi-pagi banyak kali makanannya. Apa semua ini akan habis? Terus pelayannya kenapa banyak sekali? Padahal isi orang di rumah ini cuma lima orang sebelum ada aku ya," jelas Dira dengan ocehannya.
"Ssttt jangan bilang gitu! Dimarahin nanti kau sama mamaku," balas Defan.
"Aku cuma nanya bang! Karena aku belum pernah ngerasain kaya gini. Baru kali ini," ucap Dira dengan polos.
__ADS_1
Ia mengambil beberapa sendok nasi goreng dan memasukkannya ke atas piringnya. Ia malah menjadi sedih saat menyendoki nasi. Memikirkan keluarganya yang sudah terpisah padahal baru saja sehari.
"Mamak sama bapak udah makan belum ya? Sama adik-adikku juga," lirihnya sendu.
Ia teringat setiap paginya sudah disiapkan sarapan oleh mamaknya sendiri. "Jadi rindu sama mamak," batinnya.
"Eh kok bengong! Cepat makan! Biar mandi, nggak enak kalau ketemu mama sama bapakku loh! Apalagi ada edamu," kata Defan sinis.
Defan memilih sarapannya. Ia hanya menyantap jus jeruk serta roti dengan selai coklatnya.
"Tumben nih lumayan enak rotinya. Beda dari biasanya" gumam Defan dengan santai. Roti yang ia makan terasa lembut, berbeda dari biasa yang ia santap.
Apa karena ia sedang bersama Dira, sehingga roti itu terasa nikmat saat menyantapnya. "Bu roti merk apa ini? Tumben beda," ucap Defan pada salah satu pembantunya.
"Iya roti yang biasa kosong tuan. Jadinya beli roti yang ada dijual disana. Roti merk Khong tuan" balas pembantunya.
"Ohhh enak yang ini. Besok-besok beli yang ini saja," perintah Defan dibalas dengan anggukan oleh pembantunya.
"Bang-bang, roti aja bisa abang bedakan rasanya," kekeh Dira.
"Baguslah! Berarti indra perasa saya bekerja dengan baik! Yang enak harus dipertahankan," singgung Defan dengan bahasa formalnya.
Dira dan Defan menyelesaikan sarapan paginya. Baru keduanya mau berdiri, tiba-tiba kedua ipar Dira, adiknya Defan baru saja datang. Mereka berdua sudah berpakaian rapih, yang satunya mau berangkat ke sekolah dan satunya lagi mau ke kampus.
"Yaampun eda! Kok belum mandi sudah sarapan. Abang juga sama. Ihhhh," ketus Niar adik pertamanya Defan.
Hehehe
Suara tawaan Dira membuat Niar dan Anggi terheran. Mereka memang sering bertemu saat pertemuan keluarga besar, tapi Niar dan Anggi tidak pernah akrab dengan Dira.
Dira juga sadar diri, tidak bisa bergaul dengan sepupunya yang kaya raya itu. Niar dan Anggi malah lebih sering sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tak pernah menyapa Dira sekalipun.
"Aku lapar kali da! Maklum semalaman pingsan karena kelelahan. Jadinya aku makan duluan sebelum mandi," gurau Dira yang sebenarnya merasa tak enak hati pada dua iparnya yang sudah bersih dan rapih tersebut.
__ADS_1